
Arsenio melihat ke arah yang ditunjuk oleh rekannya. Dia kaget melihat istrinya yang benar-benar sudah berada di sana.
Arsenio segera berjalan mendekati istrinya seraya berkata,
"Sayang, kamu beneran datang ke sini?"
Laura memberikan senyuman manisnya pada suaminya dan mengulurkan tangannya memberikan box makanan yang dibawanya seraya berkata,
"Aku mengantarkan makan siang untukmu Mas."
Mata Arsenio berbinar sambil menerima box makanan tersebut. Dia bergerak cepat memeluk tubuh Laura dan mencium pucuk kepala istrinya itu.
Diurainya sedikit pelukannya itu dan dilihatnya dengan intens manik mata istrinya seraya berkata,
"Terima kasih sayang."
Entah mengapa hati Laura merasa senang dengan perlakuan dari suaminya. Dia teringat akan masa-masa awal mereka menikah, di mana sikap Arsenio selalu manis dan tidak pernah merepotkannya.
Kini, sikap Arsenio selalu menjengkelkan bagi Laura, hingga dia ada pada titik ingin bercerai dari suaminya. Sayangnya keinginan Laura tidak terjadi, karena kini dia terikat oleh sistem yang mengharuskannya mempertahankan rumah tangganya.
Laura tersenyum manis dan menganggukkan kepalanya pada suaminya untuk menanggapi ucapan terima kasih pada suaminya.
Tiba-tiba Laura teringat akan janjinya pada sutradaranya. Dia mengurai sedikit pelukan suaminya dan melihat jam yang melilit di tangan kanannya. Kemudian dia berkata,
"Aku harus pergi sekarang."
Arsenio mengernyitkan dahinya, dia merasa heran dengan kedatangan istrinya yang mendadak dan pulang setelah memberikan makanan padanya.
"Sekarang?" tanya Arsenio dengan tatapan herannya.
"Iya, sekarang. Aku sedang syuting di dekat sini. Jadi aku akan menginap di sini dan pulang besok," jawab Laura yang terlihat tergesa-gesa.
"Tunggu, aku akan mengantarmu," sahut Arsenio menghentikan langkah Laura.
Sudah tidak ada waktu, lebih baik aku mau saja diantar olehnya, Laura berkata dalam hatinya.
"Ayo Mas, buruan. Aku sudah telat. Waktuku sudah hampir habis," ucap Laura dengan terburu-buru.
Arsenio pun mengangguk. Dia menoleh ke rekan-rekannya dan berseru,
"Aku tinggal sebentar!"
Laura menaiki mobil suaminya dan diantarkan ke lokasi syuting dengan berbekal gps.
Sesampainya di lokasi syuting tersebut, Laura segera berlari setelah mengucapkan terima kasih pada suaminya.
__ADS_1
"Sayang, hubungi aku nanti!" seru Arsenio mengiringi langkah Laura yang sudah berlari menjauhinya.
Tanpa menjawab seruan suaminya, Laura tetap saja berlari menuju tempat sutradaranya berada saat ini.
Laura menghadap sutradaranya dengan nafas yang terengah-engah dan keringat yang bercucuran pada wajah dan badannya.
Bahkan rambutnya yang tadinya sudah tertata rapi, kini menjadi kusut dan berantakan karena terkena angin pada saat Laura menaiki ojek beberapa kali tadi.
"Kamu sudah datang?" tanya sutradara tersebut setelah melihat Laura di hadapannya.
Laura menganggukkan kepalanya sambil menormalkan kembali nafasnya yang terengah-engah seraya berkata,
"Sudah Pak. Maaf jika saya terlambat sedikit."
Anto memperhatikan Laura dari atas hingga bawah. Dia menggelengkan kepalanya seolah tidak menyukai penampilan Laura saat ini.
"Benahi penampilannya dan segera kita mulai syutingnya," seru Anto, sang sutradara pada Deborah, si makeup artist yang sedang duduk tidak jauh darinya.
Laura menunduk mengucapkan terima kasih pada sutradaranya. Setelah itu dengan segera dia mendatangi Deborah yang sudah siap meriasnya kembali.
Arsenio melihat istrinya yang terlihat ketakutan dan menunduk pada sutradaranya. Dia tidak suka melihat hal itu. Baginya tidak ada yang boleh untuk memarahi istrinya.
Dia akan turun untuk menemui istrinya dan menanyakan hal tersebut, sayangnya suara dering telepon dari ponselnya membuatnya mengurungkan niatnya untuk mendatangi istrinya.
Dia segera mengangkat panggilan telepon tersebut yang berasal dari rekan kerjanya.
Segeralah kembali Pak, kita akan segera memulai meeting nya, terdengar suara laki-laki dari seberang sana.
"Baiklah, aku akan segera ke sana sekarang juga," ujar Arsenio pada rekan kerjanya yang ada di lain tempat.
Setelah itu dia mengakhiri panggilan teleponnya dan segera melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu untuk menuju tempatnya semula.
Laura benar-benar sangat kelelahan saat ini. Dia harus tetap tersenyum dan terlihat segar di hadapan kamera.
Lelah, letih dan capek yang dirasakannya tidak menghalanginya untuk tetap menjalankan kewajibannya untuk melakukan apa yang diperintahkan oleh sutradaranya.
Bahkan betis dan telapak kakinya seperti mati rasa karena aktivitasnya yang terlalu berlebihan hari ini.
Laura memukuli betisnya saat sedang duduk beristirahat sore itu. Dia menghela nafasnya yang seolah ada rasa sesak menghimpit dadanya.
"Kenapa? Capek?" tanya Anto yang sudah duduk di dekat Laura sambil menikmati segelas kopi dalam gelas sekali pakai.
Dengan tangan yang masih memukul-mukul betisnya, Laura tersenyum menanggapi pertanyaan sutradaranya itu.
"Sepertinya kamu sudah harus beristirahat. Usia kamu sudah tidak lagi muda. Sedangkan kita membutuhkan presenter yang energik dan bisa apa saja," ucap Anto yang terdengar tidak nyaman di telinga Laura.
__ADS_1
Kenapa dia selalu menyuruhku untuk berhenti? Pasti dia ingin menggantikan aku dengan presenter yang lebih muda dariku, Laura berkata dalam hatinya.
Laura tersenyum manis pada sutradaranya tanpa memperlihatkan kekesalannya pada sutradara tersebut dan berkata,
"Saya masih kuat kok Pak. Saya juga masih muda dan bisa melakukan apa saja. Bapak tenang saja, saya pasti akan berusaha melakukan yang terbaik untuk acara kita. Jangan khawatir Pak, saya janji."
Anto menghela nafasnya mendengar ucapan Laura yang sangat antusias dan bersemangat. Tanpa berkomentar apa pun, Anto beranjak dari duduknya dan meninggalkan Laura yang masih duduk di sana.
Dia memandangi langit malam yang terbentang luas di bumi perkemahan itu. Syuting acara mereka kali ini memang sangat menyenangkan karena diadakan di luar studio dan tema kali ini mengusung acara camping yang sangat seru dengan menghadirkan beberapa artis yang ikut dalam kegiatan camping tersebut.
Laura menghela nafasnya sambil memandangi bintang yang berkelip dengan indahnya.
Sedari tadi dia duduk di depan tendanya sambil menyaksikan langit sore yang berubah menjadi gelapnya malam.
Tiba-tiba saja ada suara dering telepon yang berasal dari ponselnya. Dengan segera dia mengangkat telepon tersebut karena takut telepon itu menyangkut pekerjaannya.
Dia menghela nafas lega ketika melihat nama suaminya yang tertera pada layar ponselnya sebagai si penelepon.
Untung saja bukan mereka. Aku bisa santai sejenak sebelum syuting dimulai kembali, Laura berkata dalam hatinya sambil tangannya menekan tombol hijau pada layar ponselnya.
"Halo," sapa Laura yang sudah meletakkan ponselnya pada telinganya.
Kamu sedang apa Sayang? tanya Arsenio melalui telepon.
"Aku sedang melihat bintang di langit malam," jawab Laura sambil tersenyum menikmati indahnya bintang yang berkelip di hamparan langit malam yang gelap.
Apa kita bisa bertemu? Aku rindu padamu, ucap Arsenio dari seberang sana.
Seketika jantung Laura berdebar dengan kencang mendengar kata rindu yang terucap dari mulut suaminya. Dia teringat akan masa-masa pada saat mereka awal menjalin kasih hingga awal mereka menikah. Kini rasa itu kembali dirasakannya.
"Emmm… apa Mas Arsen belum pulang?" tanya Laura dengan sedikit gugup merasakan debaran jantungnya yang bertambah kencang.
Aku sengaja menunggumu untuk pulang bersama besok. Aku menginap tidak jauh dari tempatmu. Apa aku bisa menjemputmu sekarang? tanya Arsenio yang terdengar malu-malu di telepon.
Seketika hati Laura merasa sangat bahagia layaknya bunga-bunga bermekaran di sana. Bahkan perutnya terasa geli seperti banyak kupu-kupu yang berterbangan di sana.
"Baiklah, akan aku tunggu," jawab Laura sambil tersenyum malu.
Setelah dia mengakhiri panggilan telepon tersebut. Tiba-tiba ada notifikasi masuk yang terdengar dari ponselnya.
Mata Laura terbelalak ketika melihat nominal angka yang masuk dalam rekeningnya.
"Aku benar-benar mendapatkan bonus dari misiku hari ini. Jika aku selalu mendapatkan bonus, maka aku akan lebih cepat membayar hutang-hutang ibuku," gumam Laura sambil tersenyum bahagia.
Dia beranjak dari duduknya untuk menunggu suaminya di pintu masuk tempat tersebut.
__ADS_1
Tiba-tiba langkah kakinya berhenti. Kemudian dia berkata,
"Kira-kira… apa misi selanjutnya?"