
Kecurigaan Arsenio bertambah ketika melihat istrinya bersama dengan Ryan, bos yang satu ruangan kerja bersamanya.
"Mau ke mana mereka?" ucap Arsenio sambil menatap lekat ke arah mereka seolah tidak mau kehilangan momen apa pun.
Beberapa detik kemudian, mobil mewah yang dinaiki oleh Ryan dan Laura perlahan meninggalkan depan kantor tersebut.
Arsenio semakin penasaran dengan hubungan istrinya dan bosnya itu. Dia mengikuti mobil tersebut dengan jarak yang tidak dicurigai.
"Mau ke mana sebenarnya mereka? Kenapa mereka bisa hanya berdua saja? Kenapa tidak membawa sekretarisnya saja?" gerutu Arsenio sambil mengemudikan mobilnya.
Setelah beberapa menit, mobil yang dikemudikan oleh sopir Ryan itu berbelok ke restoran mewah yang mempunyai bintang tiga dari Michelin.
Arsenio menghentikan mobilnya. Dia tidak masuk ke dalam parkiran restoran tersebut. Dia hanya melihat dari dalam mobilnya yang diberhentikan di sekitar luar restoran tersebut.
Dari tempatnya kini berada, dia bisa melihat dengan jelas istrinya bersama bosnya yang keluar dari mobil tersebut. Kemudian mereka berjalan berdampingan masuk ke dalam restoran itu.
"Sepertinya mereka hanya makan siang bersama. Sebaiknya aku kembali ke kantor saja," ucap Arsenio sambil mengemudikan mobilnya meninggalkan tempat tersebut.
Selama perjalanannya kembali ke kantor, Arsenio masih saja tidak tenang. Dia masih saja memikirkan istrinya.
"Seandainya aku tidak tertipu, aku tidak akan membutuhkan uang yang sangat banyak untuk membayar hutang-hutang di bank itu. Dan aku juga tidak akan menerima syarat Pak Alberto untuk mengusahakan kerja sama dengan perusahaan RAZ itu. Pastinya aku juga tidak akan membiarkan Laura untuk bekerja di sana demi membantuku untuk mendapatkan kerja sama dengan perusahaan RAZ itu," ucap Arsenio yang berkeluh kesah dengan keadaannya.
Semua yang diketahuinya tentang istrinya membuat Arsenio semakin penasaran dan curiga. Kenyataan yang harus dihadapinya itu membuatnya sangat frustasi. Hingga dia ingin mengajak istrinya lari ke suatu tempat yang tenang dan tidak diketahui orang agar terbebas dari semuanya.
Namun, itu semua tidak mungkin dilakukannya. Dia tidak mungkin meninggalkan pekerjaan dan kehidupannya saat ini. Apa lagi tidak dengan berbekal uang yang lebih dari cukup. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupannya kelak tanpa uang, pekerjaan yang layak dan sebagainya.
Sesampainya di kantor, Arsenio masih saja tidak bisa fokus pada pekerjaannya. Dia mengambil alat yang dibelinya tadi dari dalam tasnya seraya berkata,
__ADS_1
"Tidak, aku harus bisa bertahan dan harus cepat menyelesaikan semua ini. Pokoknya malam ini aku harus bisa memasang benda ini."
Dengan berbekal keinginannya yang sangat kuat untuk menyelesaikan semua pekerjaannya hari ini, Arsenio segera mengerjakan pekerjaannya. Dia ingin cepat pulang ke rumah dan bertemu dengan istrinya.
Setelah beberapa jam, akhirnya Arsenio bisa bernafas dengan lega. Seperti yang ditargetkan olehnya tadi, semua pekerjaannya telah selesai dalam waktu yang sudah ditentukannya.
"Sekarang waktunya pulang. Aku akan membeli makanan untuk kita makan bersama malam ini. Pasti Laura akan senang," ucap Arsenio sambil tersenyum lebar.
Dia sudah merencanakan semuanya. Bahkan dalam bayangannya, kini dia sedang menjalankan rencananya dan berhasil melakukannya tanpa ketahuan oleh istrinya.
Bayangan dalam pikirannya itu terasa nyata. Arsenio mempercepat laju kendaraannya agar cepat sampai di rumahnya.
Benar saja, kini dia lebih dulu sampai di rumah daripada istrinya. Bibirnya melengkung ke atas membayangkan reaksi istrinya yang sangat bahagia melihat semua makanan kesukaannya sudah tersaji di atas meja makan.
Namun, seketika senyuman Arsenio lenyap ketika dia dengan mudahnya bisa membuka pintu rumahnya tanpa membuka kuncinya terlebih dahulu.
"Sial! Kenapa aku bisa lupa mengunci pintunya tadi pagi? Untung saja Laura belum datang. Jika tidak, pasti aku akan habis olehnya," sambung Arsenio ketika dia sudah mengingat apa yang dilakukannya tadi pagi.
Dengan segera dia masuk ke dalam rumahnya berharapan tidak ada orang yang masuk ke dalam rumah itu dan dia juga berharap jika semua barangnya masih lengkap semua tanpa ada yang hilang satu pun.
Langkahnya sangat hati-hati sekali ketika masuk ke dalam rumahnya. Dalam hatinya dia merapal doa agar tidak terjadi apa-apa dalam rumah tersebut.
Kini dia bernafas dengan lega ketika melihat seisi rumahnya baik-baik saja. Senyumannya kembali menghiasi bibirnya. Kemudian dia berkata,
"Aku akan mandi terlebih dahulu dan mempersiapkan semuanya."
Dia meletakkan beberapa kantong plastik yang dibawanya di atas meja makan. Setelah itu dia berjalan masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Hanya beberapa menit saja dia menghabiskan waktu di dalam kamar mandi. Dia tidak mau menghabiskan waktu terlalu banyak di sana karena sesuai dengan rencananya, dia ingin menyambut istrinya yang baru pulang bekerja dengan beberapa makanan kesukaannya.
Setelah membersihkan badannya, dia segera mengatur makanan yang dibelinya tadi dalam perjalanan pulang ke rumah. Semua makanan tersebut dibelinya di tempat favorit Laura dengan tujuan untuk mengesankannya.
Beberapa menit berlalu, dia menatap jam yang tergantung pada dinding yang ada di ruangan tersebut. Kemudian dia menatap semua makanan yang sudah terhidang di meja makan itu. Bahkan makanan tadi pagi pun masih ada di meja makan tersebut.
"Lama sekali dia? Sudah jam segini, kenapa dia belum juga pulang? Ke mana dia?" gerutu Arsenio diiringi helaan nafasnya.
Diambilnya ponsel yang tergeletak di atas meja tersebut. Segera dihubunginya nomor ponsel istrinya. Satu kali, dua kali, hingga lebih dari sepuluh kali panggilannya itu tidak dijawab oleh Laura.
Kini pikirannya semakin kalut. Ada rasa khawatir yang menyelimuti perasaannya saat ini. Akan tetapi, rasa curiganya kembali hadir menyertai rasa khawatirnya itu.
"Apa jangan-jangan… Tidak. Tidak mungkin Laura melakukan itu. Aku harus percaya padanya," ucap Arsenio untuk meyakinkan dirinya.
Tidak hanya itu saja. Kini dia mengirim pesan pada Laura. Dan pesan yang dikirimkannya itu tidak hanya sekali. Berulang kali pesan itu terkirim dengan isi pesan yang berbeda-beda.
Namun, tetap saja tidak ada balasan dari istrinya itu. Bahkan pesan itu belum dibacanya.
Tanpa disadarinya, kini dia merasakan apa yang biasanya dirasakan oleh Laura. Kerap sekali istrinya itu menunggunya berjam-jam hanya untuk bisa makan malam bersamanya. Dan itu tidak hanya sekali saja. Bahkan hampir setiap hari Laura menunggunya.
Tidak lama setelah itu terdengar suara deru mobil yang masuk ke dalam halaman rumahnya. Dan beberapa saat kemudian pintu rumah itu pun terbuka.
Arsenio sudah siap menyambut kedatangan istrinya. Dia berdiri di dekat meja makan dan memasang senyum manisnya ketika istrinya masuk ke dalam rumahnya.
Laura menoleh ke arah ruang makan. Dia mendapati suaminya yang terlihat aneh menurutnya.
Pandangan mata Laura tertuju pada beberapa makanan yang ada di atas meja makan. Kemudian dia melihat suaminya yang tersenyum manis padanya. Tentu saja dia bingung dan heran melihat apa yang sedang terjadi, karena apa yang dilihatnya itu tidak pernah terjadi selama ini.
__ADS_1
"Ada acara apa Mas?"