
Malam itu pun berulang. Arsenio gagal makan malam bersama dengan istrinya. Dan penyebabnya pun sama.
Ryan, CEO dari perusahaan RAZ. Nama itu membuat hati Arsenio meradang. Ingin sekali dia menghajarnya dan memperingatkannya agar tidak mendekati istrinya.
Namun, semua itu hanya bisa dilakukannya dalam angan-angannya saja. Dia tidak bisa melakukannya karena uang.
Uang lah yang menjadi sumber bencana keutuhan rumah tangganya saat ini. Karena uang, Laura haus bekerja. Dan karena uang, Arsenio harus merelakan istrinya untuk mendekati Ryan agar bisa membujuknya bekerja sama dengannya.
"Uang, uang, uang… semua ini karena uang!" ucap Arsenio dengan suara marahnya yang tertahan dan mengepalkan kedua tangannya untuk menahan amarahnya.
Marah, hanya itu yang bisa dilakukannya. Dia tidak berhak marah pada keadaan yang semuanya bersumber pada kesalahannya.
Arsenio menutup wajahnya dengan menggunakan kedua telapak tangannya dan mengusap-usapnya dengan kasar seraya berkata,
"Seandainya saat itu aku tidak egois. Seandainya saat itu aku melakukan seperti yang diinginkan Laura, pasti semua ini tidak akan terjadi. Aku memang bodoh. Aku egois. Semua ini karena kesalahanku."
Semua yang dia lakukan saat ini dan semua yang dikatakannya menjadi percuma. Waktu tidak bisa dirubah dan dia tidak bisa mengubah semua yang sudah terjadi.
Arsenio menghela nafasnya yang terdengar sangat lelah. Dia memang lelah dengan apa yang dihadapinya, tapi dia juga tidak ingin menyerah begitu saja.
Dia beranjak dari tempatnya ingin menemui istrinya. Dia tidak ingin hubungan mereka menjadi hancur karena permasalahan ini.
Ditatapnya pintu kamar mereka yang tertutup rapat itu. Dia kembali menghela nafasnya ketika tangannya sudah memegang handle pintu tersebut. Dia takut pada kenyataan jika pintu itu terkunci dari dalam dan dia tidak bisa masuk ke dalam kamar tersebut.
Namun, ketakutan itu musnah sudah ketika pintu itu terbuka saat handle pintu tersebut digerakkan. Dia bernafas lega dan senyumnya sedikit menghiasi bibirnya.
Masuklah dia ke dalam kamar. Dengan langkah yang berhati-hati dan sangat pelan dia memasuki kamarnya.
Laura tidak ada di tempat tidurnya. Dia mendengar suara gemericik air shower dari dalam kamar mandinya.
Duduklah Arsenio di sofa yang ada dalam kamar tersebut. Dia memegang perutnya yang tiba-tiba bersuara karena lapar yang tertahan sedari tadi.
Beberapa detik kemudian terbukalah pintu kamar mandi tersebut dan keluarlah Laura dari dalamnya dengan memakai piyama panjang serta rambut yang terbungkus handuk putih melilit di kepalanya.
Semua itu seperti dejavu bagi Arsenio. Malam kemarin yang terulang kembali. Dia hanya bisa menatap istrinya yang sedang sibuk menyisir rambutnya.
"Sayang, temani aku makan ya," ucap Arsenio dengan hati-hati.
__ADS_1
Laura melirik suaminya dari cermin yang ada di hadapannya. Dia menatap iba pada suaminya. Sebenarnya dia merasa kasihan pada suaminya, tapi dia masih merasa sakit hati dengan kata-kata dan kecurigaan suaminya padanya.
Dia merasa lelah dan pengorbanannya itu seperti tidak dihargai oleh suaminya. Dia ingin memberi pelajaran pada suaminya itu dengan mengabaikannya.
Namun, saat itu juga Laura melihat panel yang memperingatkannya. Benda tersebut menyala dengan terang sehingga tulisan dengan huruf kapital pada layar tersebut bisa dengan mudah dibaca olehnya.
'WARNING!'
Laura menggigit bibir bawahnya. Dia merasa kembali kalah dengan suaminya. Helaan nafasnya pun terdengar sangat berat di telinganya.
"Cepat siapkan makanannya. Aku lelah dan ingin cepat beristirahat," ucap Laura dengan menahan kekesalannya.
Seketika Arsenio beranjak dari duduknya. Dengan senyumnya yang menyuarakan rasa senangnya itu dia keluar dari kamar tersebut.
Laura hanya menatap suaminya itu dengan helaan nafasnya yang mengisyaratkan kelelahannya.
"Sampai kapan aku merasakan ini semua?" gerutu Laura disertai helaan nafasnya.
Namun, dia kembali menghela nafasnya ketika melihat panel tersebut masih saja menyala dengan terang seolah sedang memperingatkannya.
"Oke… oke… aku akan ikhlas menjalaninya. Aku akan berusaha memperbaiki hubungan kami," ucap Laura seolah menjawab peringatan dari benda tersebut.
Mata Laura terbelalak melihat semua yang ada di atas meja makan.
"Apa semua ini Mas?" tanya Laura sambil menunjuk semua makanan tersebut.
Arsenio tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya. Dia pun berkata,
"Ini lauk yang aku siapkan kemarin. Aku tidak bisa memakan semuanya kemarin. Jadi aku simpan di dalam lemari es."
Laura kembali menghela nafasnya. Dia duduk dengan lemas di kursi makan yang ada di hadapannya. Kemudian dia berkata,
"Kenapa tidak dihangatkan dulu? Lalu… mana nasinya? Apa Mas Arsen hanya makan lauk saja?"
Seketika senyum Arsenio lenyap. Dia lupa jika tidak memiliki nasi. Dan dia tidak tahu apa pun untuk menghangatkan makanan.
"Aku belum memasak nasi Sayang. Aku tidak tau caranya memasak nasi. Dan aku juga tidak tau bagaimana menghangatkan makanan yang benar. Biasanya kan kamu yang memasak dan menyiapkan makanan," jawab Arsenio dengan wajah memelasnya agar dimaafkan oleh istrinya.
__ADS_1
Laura memejamkan matanya disertai helaan nafasnya yang terasa berat di dadanya. Dia baru sadar jika perannya selama ini di rumah itu bukan hanya sebagai istri, tapi juga sebagai pembantu rumah tangga.
Setelah beberapa detik, dia membuka matanya dan berkata,
"Mau aku masakkan nasi dan menghangatkan semua makanan ini atau mau delivery saja?"
Sejenak Arsenio berpikir. Kemudian dia tersenyum lebar dan berkata,
"Kalau memasak sepertinya harus menunggu lama. Lebih baik kita delivery saja. Aku sudah sangat lapar."
Laura pun setuju. Dia merasa lelah dan tidak ingin memasak. Dia pun menganggukkan kepalanya dan berkata,
"Pesanlah makanan."
Dengan segera Arsenio memesan makanan melalui ponselnya. Sedangkan Laura, dengan badannya yang lelah itu dia membereskan makanan-makanan di atas meja makan tersebut dengan memasukkan kembali semuanya ke dalam lemari es.
Selang beberapa menit, berbunyilah bel rumah mereka. Dengan segera Arsenio beranjak dari duduknya dan berkata,
"Biar aku saja yang membukanya. Pasti itu makanan pesanan kita."
Laura pun beranjak mengambil peralatan makanan di dapurnya. Dengan membawa piring serta sendok dan garpu dia berjalan menuju meja makan seraya berkata,
"Hanya butuh piring, sendok dan garpu saja kan?"
Namun, matanya seketika terbelalak mendapati berbagai macam makanan di atas meja makan tersebut.
"Apa ini Mas? Kenapa membeli sebanyak ini?" tanya Laura yang seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Aku bingung memilihnya, jadi aku pesan saja semuanya," jawab Arsenio dengan entengnya, tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Apa?!" seru Laura dengan ekspresi kagetnya mendengar jawaban dari suaminya.
Arsenio hanya tersenyum lebar seolah tidak melakukan kesalahan apa pun.
"Meskipun kamu sedang bingung, jangan pesan semuanya. Makanan yang kemarin saja belum habis dan masih tersimpan di lemari es. Kenapa kamu memesan sebanyak ini Mas? Memangnya kamu bisa menghabiskan semua makanan ini?" tanya Laura dengan kesalnya.
Arsenio hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum lebar. Dia tidak mengatakan apa pun untuk menjawab pertanyaan yang diajukan istrinya padanya.
__ADS_1
Laura menghela nafasnya dan duduk dengan lemas, seolah tidak bertenaga. Kemudian dia berkata,
"Lalu, ini semua akan mubazir. Sama seperti makanan di lemari es tadi. Dan yang terpenting… Kamu menghambur-hamburkan uang Mas. Kapan kamu bisa membayar semua hutang-hutangmu jika sikapmu tetap saja tidak peduli dengan keadaan? Seperti saat ini."