System Lady Rich

System Lady Rich
Bab 37 : Kejutan


__ADS_3

Hati Arsenio sangatlah senang. Dia mendapatkan semua yang diinginkannya dari istrinya.


Sedangkan Laura, dia memang merasa sedikit terpaksa melakukan semuanya karena rasa kesal dan amarahnya masih tersemat di dadanya.


Namun, Laura sadar jika dia juga ingin sekali memiliki keturunan. Dan dia tidak menampik perasaannya itu. 


Kini mereka berdua tidur dengan saling memeluk setelah aktivitas mereka yang sangat luar biasa.


Mereka berdua puas dan berharap akan segera hadir buah hati mereka di tengah-tengah keluarga kecil ini.


Tok… tok… tok… 


"Arsenio…! Arsenio…! Buka pintunya!"


Terdengar suara teriakan dari luar pintu kamar mereka disertai ketukan pintu kamar tersebut.


Suara teriakan dan ketukan pintu itu mampu membuat Arsenio dan Laura terbangun dari tidurnya.


Perlahan mata mereka terbuka. Mereka saling menatap seolah bertanya melalui mata mereka. Sayangnya suara teriakan dan ketukan pintu dari luar itu membuat mereka kembali terkejut dan seketika duduk dari tidurnya.


"Ada apa Mas? Siapa yang mengetuk pintu dan memanggilmu?" tanya Laura dengan penuh curiga pada suaminya.


Arsenio terlihat gugup. Dia menggelengkan kepalanya menanggapi pertanyaan dari istrinya.


Ketukan pintu dan suara teriakan yang memanggil Arsenio untuk membukakan pintu kamar itu pun kembali terdengar seolah memancing keributan di luar sana.


"Cepat buka pintunya Mas. Malu jika tamu yang lainnya menegur kita," perintah Laura pada suaminya.


"Pakai bajunya dulu Sayang. Aku tidak mau ada orang yang melihat tubuh molekmu selain aku," ujar Arsenio sambil memungut baju Laura yang berceceran di lantai dan memberikan padanya.


Laura menerima pakaiannya dan memakainya. Begitu pula dengan Arsenio yang tergesa-gesa memakai pakaiannya setelah memungutnya dari lantai.


Setelah Arsenio dan Laura memakai pakaian mereka, Arsenio membuka pintu kamar tersebut yang masih saja diketuk disertai teriakan dari suara seorang perempuan yang memanggil nama Arsenio.


Mata Arsenio terbelalak ketika melihat seorang perempuan yang dikenalinya sedang berdiri di depan pintu kamarnya.


"Ada apa? Kenapa kamu bisa ke sini? Sudah ku bilang, jangan pernah menggangu ku dan mengganggu rumah tanggaku!" seru Arsenio dengan kemarahannya.


Mendengar apa yang diucapkan oleh suaminya, Laura beranjak dari duduknya. Dia berjalan ke arah pintu seraya berkata,


"Siapa Mas?"


Betapa terkejutnya Laura ketika melihat seorang perempuan yang dikenalinya itu dengan tidak tahu dirinya memeluk Arsenio.

__ADS_1


Terlihat Arsenio sedang berusaha menjauhkan tubuh perempuan tersebut dari tubuhnya. Sayangnya perempuan tersebut semakin erat memeluk Arsenio.


Langkah kaki Laura terhenti ketika melihat dengan jelas apa yang sedang dilakukan suaminya dengan perempuan tersebut.


Matanya kembali berkaca-kaca dan giginya saling mengerat, serta kedua tangannya mengepal mengisyaratkan akan apa yang dirasakannya saat ini. Dia marah, kesal dan sedih melihat pemandangan yang tersuguh di hadapannya saat ini.


Arsenio menoleh ke arah belakang. Dia terkejut melihat Laura yang sudah berdiri dan terlihat sedang menahan amarahnya saat ini.


Dengan tenaganya, Arsenio berhasil menghempaskan perempuan tersebut jatuh terduduk di lantai.


"Sayang," ucap Arsenio seraya berjalan menghampiri istrinya.


Laura masih tertegun, hanya saja tatapan matanya mengikuti ke mana suaminya bergerak.


Arsenio menghampirinya dan mengambil kedua tangan Laura seraya berkata,


"Jangan salah paham. Aku mohon. Aku tidak tau kenapa dia bisa ada di tempat ini. Bahkan aku tidak tau bagaimana caranya dia bisa tau persis letak kamar kita."


Laura hanya mendengarkan saja suaminya menjelaskan. Dia sibuk dengan perasaannya. Perasaan kesal, marah dan kecewa pada suaminya. Bahkan matanya yang berkaca-kaca itu, kini meneteskan air matanya.


Arsenio segera mengusap lembut air mata istrinya. Dia merasa sangat bersalah pada istrinya.


"Sayang, jangan menangis," ucap Arsenio dengan tatapan sedihnya.


"Sayang… aku akan menginap di kamar ini. Semua kamar di resort ini sudah penuh. Selain itu aku juga ingin kamu memenuhi janjimu untuk bersamaku di tempat ini tanpa gangguan dari siapa pun." 


Sontak saja Laura menghempaskan kedua tangan suaminya yang sedang menggenggam tangannya. Dia melangkah mundur untuk menjauh dari suaminya.


Tatapan Laura penuh dengan kebencian dan kekecewaan pada suaminya. Dan air matanya pun kembali menetes melihat mantan pacar Arsenio yang bernama Kessy itu kembali menempel padanya.


Arsenio menggelengkan kepalanya melihat tatapan istrinya yang sangat menyakitkan hatinya. Dia kembali menghempaskan tubuh Kessy hingga perempuan itu kembali terjatuh di lantai.


"Dasar perempuan tidak tau diri! Cepat keluar dari kamar ini! Aku tidak ada urusan denganmu. Dan tolong jangan memfitnahku dengan dalih janji-janjiku. Aku tidak pernah mengatakan itu padamu!" tegas Arsenio dengan ekspresi kemarahannya pada Kessy.


Laura sudah tidak tahan lagi. Dia mengambil koper miliknya yang untungnya masih belum dibongkarnya.


"Sayang, mau ke mana? Jangan pergi hanya karena perempuan sialan ini. Aku benar-benar tidak memberitahunya ataupun mengundangnya ke sini. Aku bersumpah," ujar Arsenio yang tangannya sedang memegang tangan Laura untuk menghentikannya.


Melihat mata Arsenio yang terlihat bersungguh-sungguh, Laura sedikit percaya padanya. Bukan karena perasaan cintanya pada suaminya, Laura mengerti betul jika saat ini suaminya tidak berbohong. Hidup bersama dengan suaminya selama lima tahun membuat Laura sangat mengenal suaminya.


"Jika dia tidak mau pergi dari kamar ini, lebih baik kita yang pergi dari tempat ini," tutur Laura sambil menatap tajam pada Kessy.


Arsenio menghela nafasnya. Dalam hatinya dia mengutuk Kessy yang telah mengacaukan liburannya bersama dengan istrinya.

__ADS_1


Dengan segera Arsenio mengambil tas dan ponselnya. Dia mengambil alih koper yang dibawa oleh Laura dan menggandeng erat tangan istrinya itu berjalan keluar kamar tersebut.


"Arsenio! Tunggu! Kamu jahat! Aku jauh-jauh ke sini demi kamu!" seru Kessy yang masih duduk di lantai.


Arsenio tidak menggubris ocehan Kessy. Dia mengambil kunci dari pintu tersebut dan mengunci pintu itu dari luar.


"Mas, apa tidak akan terjadi sesuatu jika  menguncinya dari luar?" tanya Laura yang sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan oleh suaminya.


Samar-samar terdengar suara teriakan dari dalam kamar tersebut disertai pukulan pada pintu itu dari dalam.


Arsenio tersenyum pada istrinya yang terlihat khawatir dan berkata,


"Jangan pikirkan dia. Pasti dia punya cara untuk keluar dari kamar ini. Lagi pula aku tidak mau dia kembali mengganggu acara kita."


Arsenio mendatangi resepsionis untuk mengembalikan kunci kamarnya. Dan dia kembali menyewa kamar lainnya. 


Namun, mereka berdua dikejutkan dengan jawaban dari resepsionis tersebut. Persis seperti yang dikatakan oleh Kessy. Semua kamar di resort tersebut telah penuh.


Aneh memang karena saat ini bukan weekend ataupun hari libur. Yang paling mengejutkan adalah resepsionis tersebut mengatakan jika memang benar kamar mereka telah disewa oleh satu orang, jadi meskipun bukan weekend ataupun hari libur, semua kamar telah terisi. Dan yang menyewanya adalah Kessy.


"Sial! Keterlaluan sekali dia!" gerutu Arsenio ketika berada di dalam mobil bersama dengan Laura.


"Sudahlah Mas, kita mengalah saja daripada dia mengganggu kita," tutur Laura sambil mengusap lembut pundak suaminya, berusaha untuk menenangkannya.


Arsenio menghela nafasnya. Dia menoleh ke arah samping di mana istrinya duduk di sampingnya. Dia mengambil tangan istrinya yang ada di pundaknya dan mencium tangan istrinya itu. Kemudian dia berkata,


"Dia mengacaukan rencana malam kita Sayang. Bukankah kita berencana untuk menghabiskan malam di sana?" 


"Tapi tadi kan sud–"


Seketika Laura teringat jika keinginan suaminya adalah menghabiskan malam bersamanya di tempat yang indah, sehingga dia tidak bisa meneruskan perkataannya.


Ternyata aku yang keliru. Berarti tadi itu aku belum menjalankan misiku, Laura berkata dalam hatinya.


Arsenio menatap Laura seolah menunggu istrinya itu untuk meneruskan perkataannya. Karena Laura tidak kunjung meneruskan ucapannya, dia pun berkata,


"Lalu, kita akan mencari tempat di mana lagi untuk menginap? Langit sudah mulai gelap. Dan satu-satunya tempat menginap paling indah hanya di resort ini. Dari kamar kita saja bisa melihat pemandangan indah yang disuguhkan secara langsung. Kita tidak bisa mendapatkannya di tempat lain."


Laura menatap sekelilingnya. Mereka kini berada tepat di depan pantai yang sangat indah dan sudah pasti sepi di malam hari. Dengan sangat antusias dia mengatakan,


"Kita bermalam saja di dalam mobil. Bukankah pemandangan di depan kita ini lebih indah jika dilihat dari dekat?"


"Lalu, kita?" tanya Arsenio seolah memberi kode dengan pertanyaannya.

__ADS_1


Laura tersenyum dan menganggukkan kepalanya sambil menunjuk tempat mereka kini berada. Di dalam mobil.


__ADS_2