System Lady Rich

System Lady Rich
Bab 11 : Demensia


__ADS_3

Dalam taksi, Laura hanya terdiam. Ibu mertuanya itu dalam hitungan menit kadang berubah ingatan. Laura mencoba menjawab dengan hati-hati agar tidak menyinggungnya.


Taksi yang mereka naiki berhenti tepat di depan rumah sakit. Ibu mertua Laura tertegun melihat bangunan besar yang terdapat tulisan rumah sakit di sana.


"Mengapa kita datang ke tempat ini?" tanya ibu Arsenio yang terlihat bingung.


Laura melingkarkan tangannya pada lengan ibu mertuanya dan mengajaknya untuk berjalan masuk ke dalam bangunan tersebut seraya berkata,


"Kita akan bertemu dengan seseorang Bu."


Ibu Arsenio menoleh ke arah Laura dan mengernyitkan dahinya seraya berkata,


"Apa kita akan bertemu dengan sepupuku yang dioperasi kemarin?" 


Laura tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dia menyetujui saja semua yang dikatakan oleh ibu mertuanya karena dia yakin jika sebentar lagi ibu mertuanya itu akan berubah ingatan kembali.


Beruntungnya, setelah mendaftar mereka bisa langsung bertemu dengan dokter karena dokter tersebut sudah tidak memiliki pasien.


Ibu mertua Laura tampak bingung ketika berada di ruangan dokter tersebut. Seorang laki-laki yang seumuran dengan Arsenio itu memakai jas putih dan mengajak ibu mertua Laura untuk diperiksa.


Ibu mertua Laura menurut saja. Bahkan dia terlihat sangat bingung saat ini.


"Maaf Bu, sepertinya pasien harus dirawat di rumah sakit. Untuk lebih jelasnya kita harus memeriksanya lebih detail lagi. Karena itu kami menyarankan untuk dirawat selama pemeriksaan berlangsung," ucap dokter tersebut.


Tanpa berpikir panjang lagi, Laura menyetujuinya. Dia berpikir jika lebih baik ibu mertuanya itu dirawat di rumah sakit daripada nantinya kembali membuat resah dengan penyakitnya itu.


Ibu mertua Laura segera dipindahkan ke kamar inap. Laura pun berusaha menjadi menantu yang baik dengan menemani ibu mertuanya itu di rumah sakit.


Dokter melakukan berbagai pemeriksaan dengan menggunakan alat, sehingga Laura hanya bisa menunggu di luar ruangan pemeriksaan tersebut.


Setelah beberapa saat, hasil pemeriksaan pun keluar. Dokter menjelaskan pada Laura dengan sangat serius.


Tampak ibu mertua Laura memperhatikan mereka dengan seksama. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat itu. Dia hanya memandang tanpa mengatakan apa pun pada mereka.


Selang beberapa menit, Arsenio datang dengan tergesa-gesa. Dia menerima kabar dari Laura ketika ibunya sedang berada dalam ruang pemeriksaan tadi.


Arsenio melihat ibunya yang sedang tertidur. Dia tidak ingin membangunkannya. Sedangkan Laura yang sedang duduk di sofa, segera menghampiri suaminya dengan membawa amplop hasil pemeriksaan dokter yang diberikan padanya.


  


"Mas, ini hasil pemeriksaan Ibu," ucap Laura sambil memberikan amplop yang berisi hasil pemeriksaan tadi pada Arsenio.


Arsenio menerima amplop tersebut dan membacanya. Kemudian dia memasukkan kembali hasil pemeriksaan tersebut. Dia menatap lekat pada istrinya seraya berkata,


"Jelaskan, bagaimana hasil pemeriksaan keseluruhannya."


Laura menghela nafasnya dan mengatakan semua yang dikatakan dokter padanya. Dia juga menceritakan kejadian di rumah ibu mertuanya tadi.


"Sepertinya Mas harus segera membersihkan halaman rumah Ibu. Jika Mas ke sana pasti akan tau bagaimana keadaan rumah Ibu sekarang ini. Bahkan dalam rumahnya pun ada barang-barang rongsokan seperti yang ada di depan rumah," tutur Laura disertai helaan nafasnya yang terdengar sangat lelah.

__ADS_1


Tiba-tiba saja terdengar suara ibunya yang menyela pembicaraan mereka.


"Arsenio?! Kapan kamu datang? " tanya ibu Arsenio ketika baru saja terbangun dari tidurnya.


"Baru saja Bu," jawab Arsenio sambil berjalan mendekati ibunya.


"Duduklah sini, Ibu ingin bicara," ucap ibu Arsenio sambil menepuk tempat tidur di sebelahnya.


Arsenio pun segera duduk di sebelah ibunya. Kemudian dia berkata,


"Ada apa Bu?" 


Ibu Arsenio memandang Laura tanpa berkedip dan berkata,


"Laura, tolong belikan minum. Pasti Arsenio haus."


Laura pun menurut. Dia mengambil tas miliknya dan berjalan keluar untuk membelikan suaminya minuman.


"Ada apa Bu?" tanya Arsenio kembali.


Ibu Arsenio menatap iba pada putranya dan menghela nafasnya. Kemudian dia berkata,


"Apa kamu tau jika istrimu berselingkuh?"


Seketika mata Arsenio terbelalak mendengar pertanyaan dari ibunya. Pikiran Arsenio sedang kalut saat ini. Dia tidak bisa berpikir jernih mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya.


"Berselingkuh? Apa maksud Ibu Laura berselingkuh?" tanya Arsenio yang terlihat sedang bingung saat ini.


"Tadi dia berbicara sangat dekat dan serius dengan laki-laki seusia kamu di sofa itu."


Sontak saja tangan Arsenio mengepal. Dia paling tidak bisa menerima pengkhianatan. Apalagi dari istrinya.


"Apa Ibu yakin?" tanya Arsenio dengan menahan amarahnya.


Ibu Arsenio menatap putranya itu seraya berkata,


"Apa kamu meragukan ibumu ini?"


Arsenio menatap manik mata ibunya yang terlihat jujur. Dia pun tersenyum untuk melegakan ibunya yang curiga padanya karena mengira jika dia tidak percaya pada ibunya.


Tepat pada saat itu Laura berada di depan pintu. Dia kembali berhadapan dengan panel mengambang yang selama beberapa hari ini selalu memberikan misi padanya.


Laura menoleh ke kiri dan ke kanan sebelum membaca tulisan yang terdapat pada layar panel tersebut.


Dia tersenyum getir menyadari kebodohannya. Sejenak dia lupa jika panel tersebut tidak dapat dilihat ataupun disentuh oleh orang lain.


Laura kembali melihat panel tersebut dan membacanya dengan seksama dalam hatinya.


Misi tambahan untuk kali ini adalah mengembalikan kepercayaan suami dengan memuaskannya dan tidak lagi mempermasalahkan tentang kabar yang diberikan ibunya.

__ADS_1


Seketika dahi Laura mengernyit. Dia bertanya-tanya dalam hatinya tentang misinya kali ini. Dia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang dimaksudkan oleh misinya kali ini. 


Kenapa aku harus melakukan itu? Memangnya apa yang sedang terjadi? Kenapa membawa-bawa nama ibu?


Dia menghela nafasnya dan segera membuka handle pintu kamar tersebut dengan melewati panel yang masih terlihat di sana.


Laura masuk ke dalam kamar tersebut dengan mengembangkan senyumnya. Dia memberikan sebotol minuman isotonik dingin pada Arsenio seraya berkata,


"Minumlah Mas."


Arsenio menatap lekat pada istrinya dengan tatapan yang penuh dengan kekesalan sambil meraih botol minuman tersebut. Kemudian dia meminumnya dengan sekali teguk hingga habis.


Setelah itu dia beranjak dari duduknya dan berjalan menjauhi ibunya seraya berkata,


"Ayo keluar. Aku ingin bicara."


Seketika perasaan Laura menjadi tidak nyaman. Dengan langkah beratnya dia mengikuti suaminya keluar dari kamar tersebut.


Kini, mereka duduk di taman rumah sakit. Arsenio menatap sekeliling taman tersebut. Merasa tidak ada orang lain selain mereka, dia mulai berbicara pada istrinya.


"Siapa laki-laki yang kamu ajak ke kamar ibu?" tanya Arsenio dengan menatap lurus ke depan, tanpa melihat ke arah istrinya yang ada di sampingnya.


"Laki-laki? Siapa? Aku tidak membawa siapa pun ke kamar Ibu. Bahkan tidak ada yang berkunjung ke kamar Ibu," jawab Laura yang sedang bingung mendengar pertanyaan dari suaminya.


Mendengar jawaban dari istrinya yang sama sekali tidak mengaku, Arsenio menoleh ke arahnya dan berkata,


"Ibu yang mengatakan padaku. Kamu berbicara serius dan terlihat dekat dengan seorang laki-laki. Kalian duduk di sofa tanpa malu pada Ibu."


Laura menghela nafasnya dan wajahnya terlihat sangat lelah. Kemudian dia berkata,


"Setahuku yang berbicara denganku hanya dokter yang menangani Ibu. Kami memang duduk di sofa membicarakan kondisi Ibu dan hasil pemeriksaan Ibu. Kamu tau sendiri kan jika Ibu mengidap demensia yang semakin parah? Harusnya kamu tidak memakan mentah-mentah apa yang dikatakan oleh Ibu."


Arsenio masih menatap istrinya dengan tatapan tidak percaya. Dia masih ragu dengan jawaban istrinya.


Laura kembali menghela nafasnya dan menatap lekat manik mata suaminya seraya berkata,


"Jika tidak percaya, ayo kita tanyakan pada dokternya agar kamu bisa menilai sendiri kejujuranku."


Arsenio tidak menjawab, dia ragu akan perkataan ibunya. Tapi dia juga tidak bisa begitu saja percaya dengan istrinya.


Laura beranjak dari duduknya dan menarik tangan suaminya untuk menemui dokter tersebut.


Kebetulan sekali mereka berpapasan dengan dokter laki-laki yang menangani ibu Arsenio. 


"Maaf dok, bisa kita berbicara sebentar?" tanya Laura pada dokter tersebut.


Dokter tersebut mengangguk dan membawa mereka ke dalam ruangannya.


Laura menceritakan apa yang dikatakan oleh ibu mertuanya pada Arsenio. Dan dokter itu pun terkekeh mendengar apa yang disampaikan oleh Laura.

__ADS_1


"Apa anda percaya Pak seandainya saya memang mempunyai hubungan dengan istri Bapak?" 


__ADS_2