
Tanpa disangka, saat itu ada rekan setim Arsenio yang berniat akan pergi ke toilet. Tidak sengaja dia melihat seorang perempuan dan laki-laki yang terlihat sangat dekat dan dia menduga bahwa mereka akan berbuat mesum di sana.
Dia mendekatinya dan bersembunyi di balik tembok untuk melihat apa yang terjadi. Tiba-tiba matanya terbelalak ketika menyadari bahwa perempuan tersebut adalah Laura, istri dari Arsenio, pimpinan di timnya. Dan dia juga menyadari jika laki-laki tersebut adalah asisten ketua dari tim lain yang sedang makan seruangan bersama dengan mereka.
Setelah mendapatkan botol yang diincarnya, Laura menghentikan kegiatan merayunya dan mengakhirinya dengan sangat baik agar laki-laki tersebut tidak curiga padanya.
"Sepertinya kita tidak bisa berbicara terlalu lama. Aku sudah harus kembali. Lain kali kita akan bertemu lagi," ucap Laura dengan memberi kerlingan matanya sebelum pergi meninggalkan laki-laki itu.
Melihat Laura yang akan pergi dari tempat itu, dengan segera Rendi, rekan kerja Arsenio yang sedang bersembunyi itu segera berjalan meninggalkan tempat persembunyiannya untuk kembali ke ruangannya.
"Sepertinya aku harus mengatakannya pada Pak Arsenio," gumam Rendi sambil berjalan menuju ruangannya.
Sedangkan di tempat tadi, ketika Laura akan meninggalkan laki-laki itu, langkahnya terhenti saat laki-laki tersebut menghentikannya dengan bertanya padanya,
"Tunggu! Siapa namamu?"
Laura menoleh dan tersenyum manis padanya. Kemudian dia berkata,
"Cepat lambat kamu pasti akan tau namaku."
Setelah itu Laura berjalan meninggalkan tempat itu dan terdengar kekehan dari laki-laki tersebut setelah mendengar jawaban dari Laura.
Pada saat itu Arsenio yang hendak pergi ke toilet bertemu dengan Rendi di jalan menuju toilet.
"Eh Pak, mau ke mana?" tanya Rendi ketika terkejut melihat Arsenio berjalan ke arahnya.
"Ke toilet. Ada apa? Kamu mau bareng?" tanya Arsenio setelah menjawab pertanyaan Rendi.
Rendi terlihat gugup, bahkan dia menggaruk-garuk rambutnya dan juga panik saat itu.
"Kenapa Ren? Ada sesuatu di sana?" tanya Arsenio sambil mengernyitkan dahinya.
Rendi enggan mengatakannya, tapi dia tidak bisa membiarkan Arsenio dikhianati oleh istrinya dan rekan dari tim lainnya.
Laura yang sedang berjalan untuk kembali ke ruangannya, tiba-tiba dia mendengar suara suaminya. Dia tidak bisa menemui suaminya karena takut nantinya akan bertemu dengan laki-laki yang digodanya tadi.
Laura pun memutuskan untuk bersembunyi di tempat yang aman dan tidak terlihat oleh siapa pun.
Dia mendengarkan percakapan antara Arsenio dengan Rendi. Betapa terkejutnya dia mendengar Rendi mengatakan pada Arsenio tentang Laura dan laki-laki yang merupakan asisten dari ketua tim lainnya itu.
__ADS_1
Rendi mengatakan semua yang dilihatnya. Bahkan dia mengatakan jika Laura dan laki-laki tersebut sudah berbuat mesum di tempat yang dilihatnya tadi.
Memang dari arah Rendi melihat, seakan Laura dan laki-laki tadi sedang berbuat mesum dan mereka terlihat sangat menikmatinya.
Mata Laura berkaca-kaca dan tangannya menutup mulutnya mendengar apa yang dibicarakan oleh Rendi mengenai dirinya. Dia melihat wajah Arsenio yang sedang diliputi kemarahannya sehingga membuat Laura yakin jika akan sangat sulit menjelaskan padanya.
Aku harus menjelaskan padanya agar dia tidak terhasut oleh berita itu. Dan aku harus bisa membuatnya percaya lagi padaku, Laura berkata dalam hatinya.
Namun, saat itu juga ponselnya bergetar. Segera diambil dari sakunya ponsel tersebut dan dilihatnya.
Laura menghela nafasnya setelah membaca pesan yang berasal dari Dani, si asisten sutradara.
Kenapa hidupku berkutat dengan mereka saja? Rasanya setiap hari aku selalu berlari untuk memenuhi keinginan mereka, Laura kembali berkata dalam hatinya disertai helan nafasnya yang terdengar sangat lelah.
Beberapa detik sebelum dia membalas pesan tersebut, Laura kembali mendapatkan pesan dari rekan-rekannya. Mereka mengatakan bahwa Anto, sang sutradara sedang mencarinya.
Helaan nafas Laura terdengar sangat berat. Bahkan semangatnya yang baru saja didapatnya seperti hilang seketika.
Dia bingung saat ini. Dia tidak tahu harus bagaimana. Pilihan yang sangat sulit sekali untuknya.
Di satu sisi dia harus mengembalikan kepercayaan suaminya dan di sisi lain dia juga harus mematuhi perintah sutradaranya.
Arsenio terlihat sangat marah. Dia benar-benar meradang saat ini setelah mendengar cerita dari Rendi. Dia benar-benar tidak bisa memaafkan jika Laura bermain api dengan laki-laki lain. Apalagi laki-laki itu dikenalnya.
Laura tidak bisa mengikuti suaminya, dia hanya bisa mengintip dari tempat persembunyiannya saat ini.
Arsenio berjalan penuh dengan kemarahannya menuju tempat yang diceritakan oleh Rendi. Sayangnya di tempat tersebut sudah tidak ada siapa-siapa.
Arsenio menoleh ke arah Rendi seolah bertanya di mana Laura dan laki-laki tersebut. Sayangnya Rendi tidak tahu. Dia hanya bisa menggelengkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan Arsenio yang diberikan lewat tatapan matanya.
Terlihat jelas Arsenio sangat frustasi saat ini. Dia sangat ingin tahu sekali dengan kebenaran berita yang diberikan oleh Rendi padanya.
Setelah beberapa saat, terdengar suara pintu toilet terbuka. Keluarlah laki-laki yang bersama dengan Laura tadi. Laki-laki tersebut tersenyum pada Arsenio yang terlihat seperti mengejek bagi Arsenio dan Rendi.
Melihat laki-laki tersebut keluar dari toilet, Laura segera keluar dari persembunyiannya dengan hati-hati. Setelah dirasa aman, dia berlari cepat menuju ruangannya.
"Ada apa?" tanya laki-laki tersebut pada Arsenio yang menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Tidak. Aku hanya akan ke toilet," jawab Arsenio dengan wajah datarnya.
__ADS_1
"Kenapa tidak masuk? Di dalam sepi, tidak ada orang sama sekali. Kenapa harus menunggu di situ?" tanya laki-laki tersebut dengan tatapan herannya.
"Aku baru akan masuk," ucap Arsenio sambil berjalan masuk ke dalam toilet.
Laki-laki tersebut menyeringai dan menggelengkan kepalanya seolah menertawakan keanehan Arsenio.
Rendi masih berdiri di tempat itu sambil menatap laki-laki tersebut dengan tatapan yang aneh menurut laki-laki tersebut. Tentu saja Rendi memperhatikan laki-laki tersebut untuk meyakinkan apa yang dilihatnya tadi.
Dan dia tidak menemukan kesalahan dalam penglihatannya. Memang benar, laki-laki tersebut adalah laki-laki yang dilihat olehnya tadi sedang bermesraan dengan Laura.
Laki-laki itu tidak mau ambil pusing dengan tatapan Rendi yang benar-benar aneh menurutnya. Dia berjalan melewatinya tanpa berkata apa pun padanya.
Langkah kaki laki-laki tersebut sangat riang. Bahkan dia bersiul seiring langkah kakinya meninggalkan toilet tersebut.
Setelah beberapa detik, Arsenio keluar dari toilet tersebut. Dia menoleh ke semua arah. Pandangan matanya menjelajah area tersebut untuk mencari sosok istrinya yang dicarinya semenjak tadi.
"Apa kamu melihat istriku?" tanya Arsenio seraya berjalan menghampiri Rendi.
"Tidak Pak," jawab Rendi dengan sungkan.
"Apa dia tidak keluar dari toilet?" tanya Arsenio kembali seolah mencari tahu kebenarannya.
Rendi menggelengkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan Arsenio.
Arsenio menghela nafasnya seraya matanya terus mencari istrinya di area tersebut. Kemudian dia berkata,
"Lalu di mana dia?"
Rendi merasa bersalah pada Arsenio. Pasalnya ceritanya itu tidak terbukti. Bahkan Laura tidak tampak di mana pun. Mereka tidak melihat Laura melewati jalan yang mereka lalui sebagai tempat bicara semenjak tadi.
Akhirnya Arsenio dan Rendi kembali ke dalam ruangan mereka. Di sana sudah ada laki-laki yang bertemu dengan mereka di toilet tadi.
Laki-laki tersebut tersenyum pada Arsenio yang sedang duduk di tempatnya semula.
Laki-laki tersebut memberikan segelas minuman pada laki-laki yang menjadi atasannya itu melalui bawah meja.
Laki-laki pertama yang mempunyai rencana buruk pada Arsenio itu memberikan segelas minuman berwarna pada Arsenio seraya berkata,
"Ku persembahkan minuman ini untuk anda Tuan Arsenio."
__ADS_1