System Lady Rich

System Lady Rich
Bab 69 : Kenangan di pantai


__ADS_3

Pagi itu Laura dan Ryan tidak bekerja di kantor. Setelah mereka menyiapkan bahan untuk pertemuan dengan perusahaan Starlight, Ryan dan Laura segera pergi ke hotel yang biasanya mereka kunjungi untuk pertemuan mereka dengan Renaldi, CEO dari perusahaan Starlight.


Seperti biasanya juga, mereka mengadakan pertemuan di kamar VVIP untuk membahas kerja sama mereka. Selama berjam-jam mereka membicarakan tentang proyek kerja sama mereka dengan serius. 


"Pak Ryan, lebih baik jika kita langsung meninjau lokasinya saja. Kebetulan sekali sekarang weekend, jadi lebih pas jika Pak Ryan mengetahui situasinya di sana," tutur Renaldi pada Ryan.


"Baiklah Pak. Saya rasa juga begitu. Jika kita melihat langsung keadaan di sana pada saat high season, pasti akan lebih gampang untuk merencanakan proyeknya," ujar Ryan menyetujui ajakan Renaldi.


Apa itu berarti kita akan pergi ke sana sekarang? Alamat tidak ada libur buatku, Laura berkata dalam hatinya disertai helaan nafasnya.


Ryan menoleh pada Laura, dia pun berkata,


"Ada apa Laura?"


Laura tersenyum kikuk dan menggelengkan kepalanya seraya berkata,


"Tidak ada apa-apa Pak."


"Baiklah, lebih baik kita berangkat sekarang juga," tukas Renaldi pada Ryan dan Laura.


"Baik Pak," jawab Ryan dengan tegas.


Berangkatlah mereka menuju lokasi proyek untuk kerja sama mereka. Laura bertambah cemas ketika mobil yang ditumpanginya bersama dengan Ryan keluar dari kota tersebut.


Sepertinya proyeknya ada di luar kota. Kira-kira nanti akan pulang jam berapa ya? Aku belum memberitahu Mas Arsenio. Kasihan dia jika menungguku seperti kemarin, Laura berkata dalam hatinya sambil melihat jalanan yang dilaluinya dari dalam mobil yang dinaikinya bersama dengan Ryan.


Laura duduk di kursi penumpang yang ada di samping pengemudi. Dia menoleh ke arah pengemudi dan berkata dalam hatinya,


Pantas saja dia tidak memperbolehkan aku untuk mengemudi, ternyata memang tempatnya sejauh ini.


 


Kali ini Ryan yang mengambil alih kemudinya. Dia mengatakan pada Laura jika dia yang akan mengemudikan mobilnya. Tentu saja Laura harus menurut dan tidak berani bertanya. Dia hanya menganggukkan kepalanya untuk menyetujui perintah Ryan.


Mata Laura berbinar ketika mobil mereka memasuki wilayah resort yang dikelilingi pantai dengan suasana alam yang memukau.


Benar-benar di luar ekspektasi ku. Aku kira tempatnya seperti resort yang aku datangi dengan Mas Arsenio, ternyata resort ini lebih mewah dan sangat indah pemandangannya, Laura berkata dalam hatinya dengan wajahnya yang terlihat senang melihat suasana sekitarnya.

__ADS_1


"Mari Pak Ryan kita berkeliling terlebih dahulu agar Bapak mengetahui lokasi ini," ajak Renaldi sambil berjalan di sebelah Ryan.


Renaldi yang juga didampingi oleh sekretarisnya berjalan bersama dengan Ryan dan Laura. Mereka berjalan mengelilingi wilayah resort tersebut sambil membicarakan proyek mereka.


Setelah berkeliling resort itu, mereka diajak oleh Renaldi untuk makan bersamanya. 


"Pak Ryan, saya sudah mempersiapkan kamar untuk Bapak Ryan dan untuk Ibu Laura. Jika Bapak ingin beristirahat, saya persilahkan terlebih dahulu. Atau mau jalan-jalan lagi mungkin. Nanti malam kita akan kembali membahas proyek kerja sama kita setelah makan malam," tutur Renaldi setelah meneguk minumannya.


"Wah… saya seperti tamu agung saja dijamu di tempat yang indah ini," tukas Ryan sambil terkekeh.


Renaldi ikut terkekeh mendengar perkataan Ryan. Kemudian dia pun berkata,


"Harus dong. Pak Ryan merupakan tamu agung kami. Jadi kami harus menjamu Bapak Ryan sebaik mungkin."


"Wah… saya jadi merasa tersanjung Pak," ucap Ryan kembali terkekeh.


Setelah mereka berbasa-basi, Renaldi mengantarkan Ryan dan Laura menuju kamar mereka.


Di dalam kamarnya, Laura memandang takjub pada suasana di dalam dan luar kamar tersebut. Tiba-tiba saja dia teringat sesuatu,


"Oh iya aku lupa. Aku harus memberi kabar pada Mas Arsenio jika aku tidak bisa pulang malam ini."


Setelah membaca semua pesan-pesan tersebut, Laura segera menghubungi suaminya. Sayangnya, nomor suaminya itu tidak bisa dihubunginya.


"Ke mana sih Mas Arsenio? Kenapa HP nya malah mati sih?" gerutu Laura sambil menghubungi kembali nomor ponsel suaminya.


Setelah berkali-kali dicobanya, tetap saja nomor ponsel Arsenio tidak bisa dihubunginya.


Tiba-tiba Laura teringat akan Kessy yang bekerja bersama dengan suaminya.


"Sudahlah, mungkin dia sedang sibuk dengan wanita itu, sehingga tidak mau diganggu," gerutu kembali Laura sambil meletakkan ponselnya di atas meja.


Membayangkan suaminya sedang bersama dengan Kessy membuat dadanya bergemuruh. Rasa sakit dalam hatinya kembali terasa. 


Segera dia berjalan menuju balkon dan berdiri di sana untuk menghilangkan rasa sesak yang ada dalam hatinya. Dipandanginya seluruh pemandangan yang indah dan birunya air di pantai yang terlihat dari balkon kamarnya.


Ombak yang bergulung seolah sedang menari-nari itu membuat Laura tersenyum. Dan suara deburan ombak yang didengarnya itu membuat hatinya merasa tenang.

__ADS_1


Namun, hatinya seperti dicubit tatkala mengingat kembali saat dia menghabiskan malam bersama dengan suaminya di dalam mobil yang diparkirkan tepat di pinggir pantai.


Hatinya sungguh sakit. Dia merasa ingin menjerit untuk melepaskan semuanya. Sayangnya dia tidak bisa melakukan itu. Ada sesuatu yang menahannya agar Laura tidak melakukan hal itu.


Entahlah, dia juga tidak tahu apa yang menahannya sehingga dia tidak bisa berteriak untuk meredakan rasa sakit dalam hatinya atau pun memaki suaminya.


"Sangat indah bukan?" 


Suara laki-laki terdengar familiar di indera pendengaran Laura. 


Laura menoleh ke arah sumber suara. Dia kaget melihat Ryan yang juga sedang berdiri di balkon sebelah kamarnya. Dan Laura lupa jika kamar bosnya itu berada di dekat kamarnya.


Laura kembali menatap ke depan di mana terlihat pantai yang sedari tadi menyita perhatiannya. Kemudian dia berkata,


"Sangat… sangat indah. Bahkan sangat indah sekali."


Ryan tersenyum melihat Laura yang menatap kagum pada pantai dan sekitarnya. Dia pun berkata,


"Apa kamu mau berjalan-jalan di sekitar pantai dengan saya?" 


Seketika Laura menoleh ke arah Ryan. Dia menatap tidak percaya pada Ryan seraya berkata,


"Maksud Bapak kita berjalan-jalan di sekitar pantai sekarang?" 


Ryan menganggukkan kepalanya membenarkan pertanyaan Laura. 


"Berdua?" tanya Laura kembali dengan ragu.


Ryan kembali menganggukkan kepalanya membenarkan pertanyaan Laura yang lagi-lagi seperti tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Tapi Pak, bukannya Pak Renaldi menyarankan Bapak untuk beristirahat?" tanya Laura yang seolah menolak ajakan Ryan.


Ryan tersenyum mendengar pertanyaan yang diajukan Laura padanya. Kemudian dia menjawab,


"Bukankah Pak Renaldi juga menyarankan kita untuk berjalan-jalan di pantai dan sekitarnya?"


Iya sih. Tapi kan kita bukan pasangan Pak. Di tempat seperti ini seharusnya berjalan-jalan bersama pasangan kita, Laura berkata dalam hatinya.

__ADS_1


Ryan menatap curiga pada Laura yang tiba-tiba diam saja seolah sedang memikirkan sesuatu. Di pun bertanya,


"Kenapa Laura? Apa ada yang terjadi?"


__ADS_2