System Lady Rich

System Lady Rich
Bab 53 : Melacak


__ADS_3

Laura menatap heran pada Arsenio yang berlaku tidak seperti biasanya. Kemudian dia pun bertanya,


"Ada acara apa Mas?" 


Arsenio mendekati Laura. Dia menarik tangan istrinya itu dan membawanya duduk di kursi makan yang biasanya didudukinya.


"Ayo kita makan bersama. Aku sudah menyiapkan semua makanan kesukaanmu ini," ucap Arsenio lirih yang berada di belakang Laura sambil mendekatkan bibirnya di telinganya.


"Maaf Mas, barusan saja aku sudah makan sebelum pulang ke rumah," tukas Laura dengan memperlihatkan wajah menyesalnya.


Seketika senyum Arsenio yang sedari tadi mengembang, kini sirna setelah mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya.


"Kamu sudah makan? Kenapa tidak makan di rumah? Biasanya kita makan malam bersama di rumah," tanya Arsenio seolah tidak terima dengan apa yang didengarnya.


Laura menghela nafasnya. Kemudian dia menyeringai mendengar ucapan suaminya yang merupakan suara hatinya sejak dulu dan ingin ditanyakannya pada suaminya itu.


"Aku menemani Pak Ryan makan sebelum kami pulang. Dan asalkan Mas tau, selama ini aku juga sering kecewa karena menunggu mu makan malam bersama di rumah. Tapi apa? Mas sudah makan bersama dengan yang lainnya. Sering juga Mas terlambat pulang dan akhirnya aku makan malam sendiri di rumah," tukas Laura tanpa memandang ke arah suaminya.


Setelah itu dia beranjak dari duduknya dan menatap suaminya dengan tatapan penuh kekecewaan.


"Juga… pertanyaan-pertanyaan yang tadi Mas tanyakan, sering sekali aku ingin menanyakan padamu Mas, jika aku menunggu mu terlalu lama untuk makan malam bersamamu. Tapi semua itu tidak pernah aku tanyakan karena aku menahannya. Semuanya aku tahan dalam hatiku, meskipun akhirnya sakit di sini," ujar Laura sambil menunjuk dadanya.


Kaki Arsenio terasa lemas. Dia tidak mengira jika apa yang dialaminya saat ini kerap sekali dirasakan oleh istrinya.


Dia menoleh ke arah makanan yang telah terhidang di atas meja makan. Semua makanan itu masih utuh dan belum sedikit pun tersentuh. Kemudian dia berkata,


"Maafkan aku Sayang. Aku selama ini tidak mengira jika kesibukanku sangat melukaimu. Aku janji tidak akan melakukan itu lagi."


Laura hanya diam tidak bergeming. Entah mengapa dia merasa sakit hati dan ingin menangis. Tapi, dia menahannya sekuat tenaga agar air matanya tidak menetes di pipinya.


"Sekarang… kita makan dulu ya. Semua makanan ini aku siapkan untukmu," ucap Arsenio sambil membimbing istrinya untuk kembali duduk di kursinya.


Sayangnya Laura tidak mau duduk di kursi tersebut. Dia menatap enggan pada semua makanan yang ada di atas meja tersebut dan berkata,

__ADS_1


"Aku sudah kenyang dan aku sangat lelah sekali. Aku akan beristirahat sekarang."


Laura menghempaskan tangan suaminya dan dia berjalan masuk ke dalam kamarnya.


Arsenio menatap nanar punggung istrinya yang semakin menjauh dan hilang dari penglihatannya. Kemudian pandangan matanya beralih menatap semua makanan yang ada di atas mejanya. Dia menghela nafasnya yang sangat menyesakkan dadanya.


Ternyata semenyakitkan ini rasanya. Pantas saja jika Laura sering marah padaku, Arsenio berkata dalam hatinya.


Dia memegang perutnya yang kini berbunyi seolah meronta untuk meminta diberi makan.


Duduklah Arsenio di kursi yang biasanya ditempatinya. Ditatapnya semua makanan yang ada di hadapannya itu. Dia kembali menghela nafasnya seraya berkata,


"Ternyata semua ini sia-sia. Apa aku harus memakannya sendirian? Meskipun perutku selapar ini, aku tidak yakin bisa menghabiskan semuanya."


Ketika dia akan mengambil salah satu dari makanan yang dibelinya, dia melihat masakan istrinya yang sejak pagi tadi berada di meja makan tersebut. Kemudian dia berkata,


"Sepertinya sudah basi. Aku harus membuangnya sebelum Laura tau dan kembali marah padaku karena aku lupa menyimpannya."


Setelah itu dia memakan makanan yang dibelinya dan menyimpan sisanya di lemari es. Semua peralatan makan yang dipakainya pun dibersihkannya, sehingga meja makan sudah kembali terlihat bersih.


Seketika Arsenio teringat akan rencananya. Dengan tergesa-gesa dia segera masuk ke dalam kamarnya untuk menjalankan rencana yang sudah dibuatnya.


Dengan sangat berhati-hati sekali dia membuka pintu kamarnya. Dia menghela nafasnya dengan lega ketika tidak melihat istrinya di dalam kamar tersebut.


Sepertinya dia masih berada di dalam kamar mandi, Arsenio berkata dalam hatinya.


Dan benar saja. Saat ini Laura masih berendam di dalam bathtub. Arsenio tahu akan kebiasaan istrinya yang selalu berendam jika merasa badannya sangat lelah.


Segera diambilnya sesuatu dari dalam tasnya. Dengan berjalan mengendap-endap, Arsenio meletakkan sebuah benda kecil di dalam tas istrinya pada bagian yang hampir tidak pernah dijangkau olehnya.


Alat ini pasti akan membantuku. Aku harap Laura tidak akan menemukannya, Arsenio berkata dalam hatinya ketika memasukkan alat tersebut ke dalam tas istrinya.


Setelah itu dia mengambil ponselnya dan mencoba melihat alat tersebut melalui ponselnya.

__ADS_1


Bibirnya melengkung ke atas ketika melihat layar ponselnya benar-benar memperlihatkan keberadaan alat tersebut.


Benar saja, alat pelacak yang diletakkan dalam tas Laura bisa terlihat dengan jelas keberadaannya.


Setelah ini aku pasti bisa memantaunya, Arsenio berkata dalam hatinya sambil menyunggingkan senyumnya melihat layar ponselnya.


Terdengar suara gerakan dari dalam kamar mandi, membuat Arsenio berpura-pura duduk di sofa sambil mengutak-atik ponselnya.


Laura yang masih memakai bathrobe dengan handuk yang terlilit di kepalanya, terkejut ketika keluar dari kamar mandi melihat suaminya sudah berada di dalam kamar itu. Dengan segera dia mengambil piyamanya dari dalam lemari dan kembali masuk ke dalam kamar mandi.


Malam ini dia sengaja memakai piyama, tidak seperti biasanya yang selalu memakai lingerie atau pun baju tidur yang berenda ketika tidur. Dan tidak seperti biasanya juga, Laura berganti pakaian di kamar mandi. Biasanya dia berganti di dalam kamar tersebut meskipun ada Arsenio di sana.


Bukannya Laura mengubah kebiasaannya dan tidak mau memperlihatkan kemolekan tubuhnya di hadapan suaminya, dia hanya sedang lelah dan tidak ingin membuat suaminya menginginkannya malam ini.


Arsenio menatap kecewa pada istrinya yang masuk kembali ke dalam kamar mandi untuk berganti pakaian. Apa lagi ketika istrinya itu keluar dari dalam kamar mandi dengan berbalut piyama panjang yang menutupi seluruh tubuhnya. Hal itu membuat Arsenio bertambah kecewa.


Pikiran buruk tentang hubungan Laura bersama dengan Ryan pun kembali terlintas di benaknya.


Kenapa sikap dan kebiasaannya jadi berubah? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa ini ada hubungannya dengan bosnya itu? Arsenio berkata dalam hatinya.


Setelah keluar dari dalam kamar mandi, Laura menyisir rambutnya. Dia sekilas melirik suaminya yang sedang melihatnya dari cermin yang ada di hadapannya.


Wajah cantik Laura terlihat sangat lelah di cermin. Bahkan dia malas untuk memakai produk kecantikannya sebelum beranjak tidur.


Langkah kaki Laura membawanya ke tempat tidurnya. Dia berbaring dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut sebatas lehernya.


Kesepian, sangat terasa di hati Arsenio saat ini. Dia merasa kehilangan sosok istrinya yang sangat dicintainya.


Hanya dengan diacuhkan seperti itu saja membuat Arsenio sangat kehilangannya. Apa lagi jika Laura meninggalkannya, mungkin dunia Arsenio akan hancur seketika.


Arsenio menghela nafasnya. Dia tidak berkomentar apa pun. Dia segera beranjak dari duduknya dan mengikuti istrinya dengan berbaring di sampingnya.


Tangannya hendak merangkul istrinya, sayangnya Laura bergerak seolah tahu jika dia akan dipeluk oleh suaminya.

__ADS_1


Arsenio menatap nanar istrinya seraya berkata dalam hatinya,


Apa dia tidak mau aku peluk? 


__ADS_2