
Arsenio hanya diam saja. Dia mengacuhkan wanita yang datang mengkhawatirkannya. Bahkan dia enggan untuk melihat ke arahnya. Dia lebih menikmati kekecewaannya saat ini, penyesalan yang sedang menggerogoti hatinya.
"Sayang, apa yang terjadi? Kenapa jadi seperti ini?" tanya perempuan tersebut ketika sudah berada di dekat Arsenio.
"Jangan ganggu aku. Aku sedang pusing," sahut Arsenio tanpa menoleh ke arah perempuan tersebut.
Perempuan tersebut kini meletakkan kedua tangannya pada kedua pipi Arsenio dan menggerakkannya agar melihat ke arahnya. Kemudian dia berkata,
"Ada apa? Apa ada yang mengganggumu?"
Arsenio melepaskan tangan perempuan tersebut seraya berkata,
"Jangan ganggu aku Kessy. Gara-gara kamu, sekarang Laura ingin menceraikan ku."
Sontak saja bibir Kessy melengkung ke atas mendengar perkataan Arsenio mengenai keinginan Laura tentang perceraian mereka.
"Benarkah kalian akan bercerai?" tanya Kessy dengan mata yang berbinar.
Arsenio menghela nafasnya yang terdengar sangat berat. Dia enggan menjawab pertanyaan Kessy. Dia memilih untuk diam dan kembali berbaring di tempat tidurnya serta memejamkan matanya.
Tanpa menjawab pertanyaannya pun Kessy sudah tau jika Arsenio saat ini benar-benar bersedih dengan perceraiannya.
Kessy duduk di tempat tidur tersebut berniat untuk memanjakan Arsenio dan menghiburnya. Sayangnya Arsenio menghadap ke arah lainnya sehingga memunggungi Kessy.
Namun, Kessy tidak begitu saja pantang menyerah. Dia berbaring di belakang Arsenio dan melingkarkan tangannya pada pinggang Arsenio sehingga tubuh bagian depannya menempel dengan erat pada punggung Arsenio.
"Sayang… Kalau kamu sudah bercerai, kita menikah yuk," ajak Kessy dengan suara manjanya.
Sontak saja mata Arsenio terbuka mendengar ajakan nikah dari Kessy. Masih dengan posisi yang sama Arsenio pun berkata,
__ADS_1
"Aku tidak akan segila itu Kessy. Sudahlah. Pergilah dari sini. Aku ingin sendiri."
Penolakan untuk yang kesekian kalinya dari Arsenio ketika Kessy mengajaknya menikah. Dia merasa terabaikan dan sakit hati atas penolakan itu. Dalam hatinya berkata,
Lihat saja Arsenio, aku akan menaklukan kamu. Aku akan membuatmu menikahi ku.
Merasa percuma dan buang-buang energi, Arsenio tidak lagi mengusir Kessy. Dia kembali memejamkan matanya tanpa menghiraukan kehadiran Kessy yang ada di tempat tidur dengannya.
Dengan kekesalan hatinya itu Kessy memeluk erat tubuh Arsenio dan memikirkan cara untuk membuat Arsenio menikahinya.
...----------------...
Selang beberapa hari, perceraian mereka pun sudah terdaftar dan mereka mendapatkan surat panggilan dari pengadilan agama yang mengurusi perceraian mereka.
Beberapa hari sebelum panggilan tersebut, Laura sudah keluar dari rumah sakit. Begitu pula dengan Arsenio.
Hidup Arsenio kini tidak lagi seindah sebelumnya. Selain dia kehilangan rumahnya, dia juga kehilangan mobilnya yang rusak parah di bagian depannya.
Dia sengaja membiarkan terlebih dahulu mobil tersebut karena tidak ada biaya yang digunakan untuk membiayainya.
Entah mengapa kini Arsenio tidak bisa dengan mudahnya melepaskan uang untuk hal yang menurutnya tidak terlalu penting. Dia sudah mendapatkan banyak pelajaran hidup yang membuatnya gagal dan kehilangan istri yang dicintainya.
Sedangkan Laura, dia juga tidak tinggal di rumah yang sudah berganti nama sebagai pemiliknya. Dia tidak mau larut dalam kenangan buruknya bersama dengan Arsenio. Dan dia pun meminta tolong pada Ryan untuk merobohkan rumah tersebut dan membangun ulang rumah itu sesuai dengan keinginannya.
Untuk rumah ibunya, Laura terpaksa harus menjualnya waktu itu untuk menutupi hutang-hutang ibunya pada rentenir yang semakin menjulang tinggi bunga hutangnya.
Kini dia tinggal di rumah Ryan sesuai dengan instruksi Ryan dengan alasan sebagai asisten pribadinya.
Laura tidak menolaknya karena dia juga membutuhkan tempat tinggal. Dan alasan yang paling tepat menurutnya adalah agar dia tidak terlalu capek pulang pergi untuk menjemput dan mengantar pulang Ryan. Selain itu dia juga bisa menghemat waktunya ketika Ryan memintanya bekerja lembur dengannya di rumah tersebut seperti biasanya.
__ADS_1
...****************...
Hari ini pun tiba, setelah proses persidangan untuk yang kesekian kalinya, saat ini pengadilan akan memutuskan perceraian mereka.
Sidang perceraian pun berjalan dengan lancar. Tidak ada harta gono gini dan anak yang mereka ributkan. Kini perceraian itu sudah diputuskan. Laura dan Arsenio dinyatakan resmi bercerai.
Hati Laura terasa sakit mendengar putusan sidang yang dibacakan dengan kerasnya dalam ruangan sidang tersebut. Air matanya terasa ingin menetes saat ini. Pernikahan yang menuju enam tahun itu sudah berakhir saat ini.
Tidak ada yang bisa disesalinya. Bahkan dia meyakinkan dirinya agar bisa tetap bahagia menjalani hidupnya yang kini sudah bebas dari segala tekanan.
Dengan sekuat tenaga Laura menghalangi air matanya yang terkumpul di pelupuk matanya agar tidak menetes di pipinya.
Arsenio berjalan menghampiri Laura. Dia mengulurkan tangannya sebagai ucapan perpisahan. Dengan mata yang sedikit berkaca-kaca Laura menjabat tangan tersebut.
"Selamat atas kebebasanmu. Aku harap kamu bahagia dengan keputusanmu untuk meninggalkanku," ucap Arsenio ketika tangannya sudah dijabat oleh Laura.
Tiba-tiba saja Kessy berada di samping Arsenio dan bergelayut manja pada lengannya seraya berkata,
"Sayang, ayo kita pulang."
Laura menyeringai melihat Kessy yang benar-benar tidak tahu malu di hadapannya. Kemudian dia berkata,
"Selamat sudah menjadi duda. Semoga kalian bahagia."
Setelah mengatakan itu, Laura dengan segera meninggalkan Arsenio yang sedang terperangah setelah mendengar ucapan perpisahan dari Laura.
Ryan yang sedari tadi berada di samping Laura, kini dia berjalan melewati Arsenio dan menyeringai padanya seraya berkata,
"Terima kasih sudah melepaskan bidadari tercantik untukku. Dan selamat telah mendapatkan wanita hina sebagai pasanganmu."
__ADS_1