
Arsenio meminjam charger ponsel pada perawat yang berjaga di dekat kamar inap ibunya. Terlihat jelas sekali jika dia sedang cemas saat ini. Bagaimana tidak, dia ingin segera mengetahui keberadaan istrinya saat ini.
Selama beberapa saat ponselnya baru bisa dinyalakannya. Dia terkejut mendapatkan panggilan tak terjawab yang berasal dari istrinya.
"Laura?! Sial! Harusnya HP ku tadi tidak dalam keadaan mati. Pasti dia melihat semua panggilan dan pesan-pesan yang aku kirimkan padanya. Tapi kenapa dia tidak mengirimkan pesan jika aku tidak mengangkat teleponnya? Lebih baik aku hubungi dia sekarang," ucap Arsenio lirih sambil memperhatikan layar ponselnya.
Dihubunginya kembali nomor ponsel Laura. Sayangnya hingga dering terakhir pun tidak diangkat oleh istrinya itu. Ada rasa kesal yang menyelimutinya saat ini. Hingga dia kembali menghubungi nomor ponsel istrinya dan tetap saja tidak ada jawaban darinya.
"Di mana dia? Kenapa tidak menjawab teleponku?" gerutu Arsenio dengan rasa kesalnya yang semakin besar.
Dilihatnya kembali titik lokasi keberadaan istrinya. Dia memperhatikan secara seksama di mana istrinya kini berada.
"Sial! Kenapa dia masih berada di resort itu? Apa yang sebenarnya dia lakukan di sana?" tanya Arsenio lirih dengan penuh emosi.
Arsenio menoleh ke arah ibunya yang sedang asyik merajut benang menjadi sebuah syal. Dia menghela nafasnya karena tidak bisa meninggalkan ibunya itu seorang diri untuk saat ini.
"Sudah sore begini mereka masih di resort itu. Apa jangan-jangan mereka berniat akan menginap di sana?" tanya Arsenio yang bermonolog diiringi amarahnya.
"Apa aku harus ke sana untuk menjemputnya? Tapi bagaimana dengan Ibu? Ibu tidak mau aku tinggalkan sedari tadi," sambung Arsenio kembali.
Dia mencoba menghubungi Laura kembali, sayangnya panggilan teleponnya itu lagi-lagi hanya menjadi panggilan tak terjawab.
Di tempat lain, Laura sedang berjalan-jalan bersama dengan Ryan menyusuri pantai yang begitu indah dengan angin sepoi-sepoi yang menerpa pakaian serta rambut mereka.
Mereka berdua berjalan beriringan sambil berbicara dan bercanda di sepanjang tepi pantai. Mereka tidak kalah serasi dengan pasangan lain yang sedang berada di pantai tersebut.
Orang asing yang tidak mengerti hubungan mereka, pasti akan mengira jika mereka berdua merupakan pasangan, meskipun mereka berjalan tidak dengan berpegangan tangan.
Laura merogoh saku dress yang sedang dipakainya. Dia terlihat panik ketika sedang mencari sesuatu di sakunya. Beberapa detik kemudian dia menghela nafasnya karena teringat akan ponselnya yang diletakkannya di atas meja dalam kamar resort yang dihuninya saat ini.
"Kenapa Laura? Sepertinya kamu sedang mencari sesuatu," tanya Ryan sambil mengernyitkan dahinya melihat Laura yang sedang panik merogoh sakunya.
Laura tersenyum kikuk mendengar pertanyaan yang diajukan Ryan padanya. Kemudian dia berkata,
"Emmm itu Pak. HP saya sepertinya tertinggal di kamar resort tadi."
"Oooh… Bukan hal yang penting. Saya kira ada apa," ucap Ryan sambil terkekeh.
__ADS_1
"Tidak penting bagaimana Pak? Saya kan mau ambil foto," ceplos Laura tanpa sadar.
Seketika Arsenio tertawa setelah mendengar ucapan Laura. Dia memandang Laura seraya berkata,
"Kamu mau foto? Sini saya fotokan, pakai HP saya saja."
Laura membelalakkan matanya seraya berkata,
"A-apa Pak? Bapak yang foto saya?"
Ryan tersenyum dan menganggukkan kepalanya menanggapi pertanyaan Laura.
"Pakai HP Bapak?" tanya Laura kembali seolah tidak percaya pada pendengarannya.
Ryan terkekeh sambil menganggukkan kembali kepalanya dan berkata,
"Iya. Saya yang foto kamu pakai HP saya. Masih kurang jelas?"
"Tapi Pak, itu kan HP Bapak," sahut Laura seolah menolak apa yang dikatakan oleh Ryan.
"Ya memang ini HP saya. Apa kamu mau HP saya juga?" tanya Ryan sambil terkekeh dan memperlihatkan ponsel miliknya pada Laura.
Ryan pun ikut terkekeh mendengar jawaban dari Laura. Kemudian dia berkata,
"Kamu pikir saya akan menyimpan foto kamu? Nanti setelah saya kirim semua fotonya ke kamu, pasti akan saya hapus semua fotonya. Jangan khawatirkan itu."
Laura tersenyum lebar mendengar perkataan Ryan. Dan itu membuat Ryan bertambah kagum pada sosok Laura.
Laura berlari kecil menuju tepi pantai. Dia pun berseru pada Ryan.
"Sebelah sini Pak."
Ryan terkekeh melihat tingkah Laura. Dia pun berlari menghampirinya dan bersiap untuk mengambil fotonya.
"Tolong foto yang bagus ya Pak," ujar Laura sambil tersenyum dan bergaya untuk siap difoto.
Ryan pun menuruti kemauan Laura. Gaya demi gaya diperlihatkan Laura. Dari tempat satu ke tempat lainnya Ryan mengambil foto Laura. Hingga sudah beberapa gambar Laura yang diabadikan oleh Ryan.
__ADS_1
Dia tersenyum manis pada Laura seraya berkata,
"Coba kamu lihat dulu hasilnya."
Laura pun berlari ke arah Ryan. Dengan antusiasnya dia melihat hasil foto dirinya yang diambil oleh Ryan.
Dia tersenyum lebar melihat semua hasil foto dirinya yang dilihatnya pada layar ponsel Ryan.
Tatapan mata Ryan tidak lepas dari wajah cantik Laura yang sedang tersenyum padanya. Semakin hari dia semakin kagum pada Laura. Kegigihannya dalam bekerja, sikap baiknya, kesetiaannya dan pengorbanan untuk keluarganya. Semua itu menjadi daya tarik dari Laura di mata Ryan.
Namun, Ryan hanya sekedar mengaguminya saja. Dia sadar jika Laura sudah mempunyai suami dan dia bukan tipe laki-laki yang merebut pasangan orang lain.
Dia hanya bisa membantu Laura saja. Dan dia berusaha untuk menjaganya dengan caranya sendiri.
Matahari pun kembali di peraduan. Pandangan yang sangat mempesona itu tidak bisa begitu saja dilewatkan oleh Laura. Dia mengajak Ryan untuk menikmati indahnya matahari terbenam yang berada di pantai tersebut.
Mereka berdua duduk di tepi pantai menikmati pemandangan yang mempesona itu. Sinar matahari yang terbenam itu membuat suasana menjadi romantis bagi mereka yang melihatnya.
Tidak dipungkiri oleh Ryan dan Laura. Mereka berdua sama-sama berkeinginan untuk melihat matahari terbenam bersama dengan pasangan mereka masing-masing.
"Laura, sebentar lagi kita akan makan malam dengan Pak Renaldi. Lebih baik kita kembali ke resort sekarang," ajak Ryan sambil mengulurkan tangan pada Laura untuk membantunya berdiri dari duduknya.
Laura menerima uluran tangan dari bosnya itu. Mereka berjalan beriringan menuju resort tempat mereka menginap malam ini.
Tiba-tiba mereka berdua terkejut melihat seorang perempuan yang dikenali mereka sebagai sekretaris dari Renaldi. Perempuan tersebut sedang berdiri di antara depan pintu kamar Ryan dan Laura.
"Maaf Pak, Bu. Bapak Renaldi sudah menyiapkan baju untuk kalian," ucap sekretaris Renaldi sambil mengulurkan dua buah paper bag pada Ryan dan Laura.
"Wah… Pak Renaldi benar-benar menjamu kita. Sampaikan terima kasih kami untuk beliau," ujar Ryan pada sekretaris Renaldi.
"Baik Pak, akan saya sampaikan. Jangan lupa untuk makan malam bersama Pak Renaldi. Beliau akan menunggu di tempat spesial yang ada di luar," tukas sekretaris Renaldi sambil sedikit menundukkan kepalanya di akhir perkataannya sebagai tanda penghormatan sebelum dia meninggalkan mereka.
Setelah kepergian sekretaris Renaldi dari hadapan mereka, Laura dan Ryan masuk ke dalam kamar masing-masing. Mereka bersiap-siap untuk makan malam bersama Renaldi sambil membicarakan kembali tentang kerja sama mereka.
Mata Ryan tidak berkedip melihat Laura yang memakai dress pemberian dari Renaldi. Dress hitam yang terlihat sangat pas di badan Laura membuat lekukan tubuhnya terlihat sangat indah. Kulit putih mulus Laura terlihat sangat kontras dengan warna dress tersebut. Dan Laura kini terlihat sangat anggun di hadapan Ryan.
Seandainya dia bisa menjadi milikku, pasti aku akan sangat bahagia, Ryan berkata dalam hatinya.
__ADS_1
Laura menatap dirinya dari bawah hingga atas karena Ryan yang tiba-tiba saja diam ketika melihatnya. Kemudian dia menggerak-gerakkan tangannya tepat di depan wajah Ryan seraya berkata,
"Pak… Pak Ryan… Ada apa Pak? Apa ada yang salah dengan penampilan saya?"