
"Bukalah dan tolong tanda tangani sekarang juga," perintah Laura dengan tegas.
Arsenio mengambil amplop coklat yang ada di tangan Laura. Entah mengapa hatinya enggan sekali membuka amplop tersebut. Hanya saja Laura menatapnya seolah dia memerintahkannya untuk segera membukanya.
Dengan berat hati Arsenio membuka amplop tersebut dan mengambil kertas-kertas yang berada dalam amplop tersebut.
Matanya terbelalak ketika membaca tulisan pada kertas-kertas yang ada di tangannya. Sedetik kemudian, mata itu menjadi berkaca-kaca membaca lembaran demi lembaran kertas tersebut. Lidahnya kelu sehingga dia tidak bisa berkata-kata.
"Tanda tanganilah sekarang juga Mas. Ini bolpoinnya," perintah Laura sambil memberikan bolpoin yang sudah disediakan olehnya.
Arsenio melihat ke arah Laura. Dia mencoba menggerakkan lidahnya yang kelu dan bibirnya yang bergetar itu agar bisa mengatakan keinginannya.
"Sayang… Maafkan aku. Semua pengorbananmu selama ini baru saja aku ketahui dari pesan yang ada di HP mu ini. Aku sangat menyesal dan aku harap kita akan bisa membangun kembali keluarga kita bersama dengan anak kita," ucap Arsenio dengan suara yang bergetar sambil memperlihatkan ponsel Laura yang diambilnya dari dalam tas istrinya yang dibawanya dari rumah.
Hati Laura terasa sakit mendengar perkataan suaminya. Dia kembali teringat akan pengorbanannya selama ini. Dan semua itu merupakan alasan baginya untuk bercerai dari suaminya.
"Maaf, aku tidak bisa," ucap Laura dengan suara yang bergetar.
Laura segera menghirup udara dalam-dalam dan melepaskan udara tersebut agar tidak terasa sesak dalam dadanya.
"Tanda tanganilah sekarang Mas," perintah Laura dengan bibir yang bergetar.
"Tidak… Tidak… Aku mohon jangan lakukan itu Sayang. Aku sudah menyesal dan aku janji akan memperbaiki semuanya agar rumah tangga kita kembali bahagia seperti dulu," pinta Arsenio sambil berlutut di hadapan istrinya dan menatap penuh harap pada istrinya.
"Aku tidak bisa. Dan aku harap kamu segera melakukannya. Tanda tanganilah surat perceraian itu dan segera pergilah dari rumah itu," perintah Laura dengan memandang ke arah lainnya.
"Tidak Sayang. Aku tidak akan menceraikan mu. Aku–"
__ADS_1
"Apa Mas lupa jika berjanji akan menuruti semua keinginanku jika aku berhasil membantumu untuk bekerja sama dengan perusahaan RAZ? Sekaranglah saatnya. Tepati janjimu dan aku harap kamu akan melepaskan aku dengan ikhlas," sahut Laura tanpa ragu-ragu dan menatap serius pada suaminya.
Hati Arsenio terasa perih mendengar perkataan istrinya. Kini dia tidak bisa lagi mengelaknya. Dia juga tidak bisa menolak kemauan istrinya. Semua ini salahnya dan dia telah menyadari kebodohannya.
Ryan yang tadinya duduk dengan tenang di sofa, kini dia berjalan mendekat ke arah Laura dan Arsenio.
"Tanda tanganilah surat perceraian itu Pak Arsenio agar Laura tidak bersedih lagi. Bebaskan dia dari penderitaan yang dirasakannya selama ini agar dia bisa bahagia dengan kehidupannya sendiri. Bapak tenang saja karena saya tidak akan membatalkan atau meminta ganti rugi atas kerja sama kita. Dan kebetulan sekali kerja sama kita sudah berakhir. Jadi… bisakah anda dengan ikhlas melepaskan Laura untuk kebahagiaannya?" tanya Ryan sambil memberikan bolpoin berlapis emas miliknya di hadapan Arsenio agar segera menandatangani berkas perceraian tersebut.
Bagai tersambar petir Arsenio mendengar permintaan Ryan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan rumah tangganya. Dalam hatinya sangat marah dan terluka. Apa lagi Ryan menyodorkan bolpoin berlapis emas tersebut padanya untuk memerintahkannya segera menandatangani berkas-berkas perceraian tersebut.
"Kenapa anda mencampuri masalah kami? Dan kenapa anda selalu ada di sini? Sebenarnya apa hubungan kalian? Apa karena anda, Laura ingin bercerai dengan saya?" tanya Arsenio menyelidik dan menatap penuh kebencian pada Ryan.
"Mas! Jangan kamu sangkut pautkan Pak Ryan dengan masalah kita! Dia hanya menolongku saja. Dan kami tidak memiliki hubungan lain kecuali atasan dan bawahan. Jadi tolong jaga ucapanmu!" sahut Laura dengan tatapan tidak terima pada suaminya.
Ryan menyeringai mendengar pertanyaan dari Arsenio yang ditujukan padanya. Kemudian dia berkata,
Perkataan Ryan membuat Arsenio semakin meradang. Dia mengepalkan kedua tangannya dan menatap Ryan dengan tatapan penuh permusuhan.
Bukan hanya Arsenio yang kaget mendengarnya. Laura pun sangat terkejut mendengar perkataan Ryan tentang dirinya. Akan tetapi dia yakin jika Ryan hanya menggertak Arsenio saja. Dia tidak mau ambil pusing dengan perkataan bosnya itu.
"Cepat tanda tangani Mas. Karena itu janjimu padaku," tukas Laura dengan air matanya yang menetes di pipinya.
"Tapi Sayang, aku…–"
"Selama ini aku yang selalu berjuang. Seolah aku yang lari ke sana kemari untuk mempertahankan rumah tangga kita. Aku lelah dan aku ingin menyudahi semuanya. Tolong bebaskan aku Mas. Lepaskan aku. Tanda tanganilah berkas-berkas perceraian itu," sahut Laura dengan suara yang bergetar dan tatapan yang mengiba pada suaminya.
Runtuh sudah harapan Arsenio. Dia tidak bisa membujuk istrinya lagi. Semua yang dikatakan oleh istrinya terasa sangat menusuk dalam hatinya. Semua perkataan istrinya benar adanya sehingga membuatnya merasa sangat bersalah padanya.
__ADS_1
Dengan tangan yang bergetar Arsenio menandatangani berkas-berkas perceraian tersebut menggunakan bolpoin yang diberikan oleh Laura padanya. Dia mengabaikan Ryan dengan bolpoin emasnya itu. Dia enggan melihat wajah senang dan senyum kemenangan dari Ryan.
Tanpa berkata-kata, Arsenio segera berjalan keluar dari ruangan tersebut dengan hati yang hancur. Dunianya benar-benar sudah hancur saat ini. Bahkan langkah kakinya sangat berat untuk melangkah.
Penyesalan kembali datang dalam diri Arsenio. Dia semakin menyesali semua yang terjadi dalam hidupnya. Bahkan dia enggan berbuat apa-apa saat ini.
Dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi seolah melampiaskan semua kemarahannya pada jalanan.
Braaaaak!
Mobil Arsenio menabrak trotoar pinggir jalan sehingga bagian depan mobilnya hancur dan sebagian mobilnya naik di atas trotoar tersebut.
Beruntungnya kepalanya bisa terselamatkan oleh airbag yang masih berfungsi dengan sangat bagus. Dia masih sadar, hanya saja dia mengalami syok, sehingga dia hanya berdiam diri menunggu pertolongan dari orang lain.
Banyak orang berkerumun untuk memberi pertolongan pada Arsenio. Mereka berhasil membawa tubuh Arsenio keluar dari dalam mobil dan dilarikan ke sebuah klinik yang kebetulan berada di dekat tempat kecelakaan itu terjadi.
Tidak ada yang bisa membuat hatinya kembali bahagia. Apa yang terjadi dalam hidupnya kini seolah datang bertubi-tubi padanya.
Arsenio berhasil diselamatkan dan tidak ada luka serius yang dialaminya. Kini dia terbaring di tempat tidur pasien dan menatap langit-langit kamar tersebut dengan perasaan hampa.
Tiba-tiba pintu kamar tersebut terbuka dan masuklah seorang wanita seraya berkata,
"Sayang… Apa kamu baik-baik saja? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa bisa seperti ini?"
__ADS_1