
Setelah Laura makan siang bersama dengan Ryan di dalam ruangan kantornya, mereka berdua dibantu oleh Rendra mempersiapkan semua hal yang akan digunakan untuk pertemuan mereka sore ini.
Laura sangat senang dan bersemangat dalam pekerjaannya kali ini. Pekerjaannya kali ini jauh berbeda dengan pekerjaannya yang dulu. Dan dia sangat menikmati pekerjaannya saat ini.
Ternyata tidak buruk juga menjadi asisten pribadi Ryan Arion Syahreza. Tadinya aku kira akan sangat melelahkan menjadi asisten pribadinya, ternyata aku banyak belajar di sini, Laura berkata dalam hatinya sambil tersenyum melirik Ryan yang sedang serius berbicara dengan Rendra mengenai proyek mereka.
Rendra melihat jam yang melingkar di tangan kanannya, kemudian dia berkata,
"Saya rasa sudah waktunya kita berangkat Pak."
Ryan pun melihat jam yang melingkar di tangan kanannya. Kemudian dia mengangguk setuju dengan ucapan Rendra dan berkata,
"Baiklah, kita berangkat sekarang."
Laura pun segera beranjak dari duduknya. Dia membawa tas miliknya dan beberapa berkas yang dibutuhkan Ryan dalam pertemuan tersebut.
Mereka berjalan beriringan bertiga dengan Laura berada di sisi kanan Ryan dan Rendra berada di sisi kiri Ryan.
Kini Laura masuk dalam jajaran orang yang dihormati oleh semua orang ketika berjalan bersama dengan Ryan dan juga Rendra. Mereka semua memberi salam dan menunduk hormat pada Ryan.
Dalam waktu beberapa saat saja, kini mereka sudah berada di suatu hotel berbintang lima yang sangat mewah untuk bertemu dengan orang yang akan bekerja sama dengan perusahaan mereka.
Mereka mengadakan pertemuan khusus di ruang tertutup, yaitu di kamar VVIP dari hotel tersebut.
Pembicaraan mereka berjalan dengan sangat baik selama beberapa jam. Apa yang ditawarkan oleh Ryan sangat diminati oleh pihak yang akan bekerja sama dengannya.
Bahkan mereka sangat kagum dengan pemikiran Ryan. Semua rencana yang dijabarkannya membuat mereka semua takjub padanya.
"Sepertinya kami tidak salah memilih perusahaan RAZ untuk bekerja sama dengan kami. Semua rencana dan pemikiran anda sangat sempurna Pak Ryan. Kami akan terima tawaran dari anda," ucap Renaldi, CEO dari perusahaan Starlight sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Ryan.
Ryan tersenyum dan menerima jabatan tangan Renaldi seraya berkata,
"Terima kasih Pak. Kami akan berusaha sebaik mungkin agar tidak mengecewakan anda dan perusahaan Starlight.
Rendra dan Laura pun tersenyum bangga. Dalam hati mereka mengakui kinerja Ryan yang sangat luar biasa.
Renaldi tersenyum dan menganggukkan kepalanya menanggapi perkataan Ryan. Kemudian pandangannya mengarah pada Laura yang sedang duduk di samping Ryan.
"Bukankah ini Laura Veronica?" tanya Renaldi yang sedang menatap Laura.
Laura tersenyum manis pada Renaldi seraya berkata,
"Benar Pak, Saya Laura Veronica."
Senyuman Laura tidak menunjukkan apa yang dirasakannya saat ini. Dalam hatinya saat ini sangat cemas. Dia takut jika Renaldi telah mendengar gosip di luaran sana yang menyebutkan bahwa dirinya mempunyai skandal dengan produsernya. Yang dia takutkan bukan nama baiknya, melainkan dia takut jika Renaldi akan membatalkan kerjasamanya dengan perusahaan RAZ hanya karena gosip tersebut.
__ADS_1
"Bapak kenal juga dengan Laura?" tanya Ryan pada Renaldi sambil terkekeh.
"Benar. Saya sering menonton acaranya. Ternyata seorang Laura Veronica lebih cantik dilihat secara langsung daripada di televisi," jawab Renaldi disertai kekehannya.
Ryan menoleh ke arah samping kanannya, di mana Laura duduk di sana. Dia tersenyum menatap Laura. Dari tatapan matanya itu Laura menangkap sesuatu hal yang membuatnya tersipu malu. Bahkan wajah Laura sedikit merona saat ini.
"Terima kasih atas pujiannya Pak. Saya rasa Bapak hanya ingin menyenangkan hati saya saja," ucap Laura sambil tersenyum menanggapi ucapan Renaldi.
"Tidak. Apa yang saya katakan memang benar. Jika tidak percaya, tanyakan saja pada Bapak Ryan. Benar kan Pak Ryan?" Renaldi menyanggah ucapan Laura tentang dirinya.
"Tentu saja Pak. Saya tidak akan mengingkari jika penilaian Bapak Renaldi selalu tepat," tukas Ryan menanggapi ucapan Renaldi.
Perbincangan antara dua CEO dari perusahaan besar itu membuat Laura menjadi tersanjung. Dia merasa malu karena dipuji oleh mereka berdua.
Rendra hanya menyimak obrolan mereka. Dia tersenyum memperhatikan Ryan dan Laura. Dalam hati dia berkata,
Sepertinya akan sangat menarik.
Setelah itu mereka makan bersama dan dilanjutkan kembali dengan perbincangan mereka.
Tiba-tiba ponsel Rendra bergetar. Dia segera mengambil ponsel dalam sakunya dan membaca pesan yang baru saja diterimanya.
Rendra mendekat ke arah Ryan dan berbisik di telinganya.
Ryan menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan Rendra. Dia mengijinkan Rendra untuk kembali ke kantor terlebih dahulu tanpa menunggu dirinya dan juga Laura.
"Maaf Pak Renaldi, saya harus kembali terlebih dahulu," ucap Rendra dengan hormat pada Renaldi.
Renaldi tersenyum menanggapi ucapan Rendra padanya dan berkata,
"Silahkan Pak. Lagi pula saya rasa pembicaraan kita sudah selesai. Hanya saja saya masih ingin mengobrol dengan Pak Ryan. Apa Pak Ryan keberatan?"
"Tidak Pak. Silahkan saja. Saya masih punya banyak waktu untuk mengobrol dengan Bapak," sahut Ryan sambil terkekeh.
Rendra pun meninggalkan ruangan tersebut dengan membawa semua berkas-berkas yang tadinya mereka bawa sebagai bahan kerjasama mereka.
Tinggallah Laura, Ryan, Renaldi beserta sekretaris wanitanya yang sedari tadi hanya diam, mendengarkan pembicaraan mereka dan melakukan tugasnya sebagai sekretaris Renaldi.
Setelah beberapa saat, Renaldi mengakhiri obrolan mereka. Dia pun berkata,
"Saya rasa sampai di sini dulu obrolan kita. Sepertinya saya sudah banyak menyita waktu anda Pak Ryan."
Ryan terkekeh mendengar ucapan Renaldi. Dia mengulurkan tangannya seraya berkata,
"Saya akan luangkan banyak waktu untuk anda Pak Renaldi. Jangan sungkan."
__ADS_1
Setelah mereka berjabat tangan, Laura dan Ryan keluar terlebih dahulu dari ruangan tersebut. Mereka berjalan beriringan hanya berdua saja.
Di sisi lain, Arsenio bersama dengan Kessy sedang duduk di sebuah restoran mewah hotel berbintang lima dan berhadapan dengan pihak dari perusahaan Gemilang Sejahtera yang akan bekerja sama dengan perusahaannya.
Arsenio didampingi dengan Kessy menjelaskan tentang rencana kerja sama mereka dengan perusahaan tersebut.
Terlihat sekali jika Arsenio sangat berusaha keras agar mendapatkan kepercayaan dari pihak perusahaan tersebut.
Namun, Devan, seorang yang dipercaya oleh CEO dari perusahaan Gemilang Sejahtera itu terlihat biasa saja melihat rancangan kerja sama yang diberikan oleh Arsenio padanya.
"Maaf Pak Arsenio, saya rasa apa yang Bapak tawarkan ini biasa saja. Saya akan memikirkannya nanti," ucap Devan sambil meletakkan berkas yang diberikan Arsenio di atas meja.
"Tapi Pak, apa Bapak bisa mengatakan pada saya, di bagian mana Bapak tidak merasa puas dengan apa yang kami tawarkan?" tanya Arsenio yang berusaha meyakinkan Devan.
"Saya rasa–"
Tiba-tiba ponsel Devan bergetar. Dia segera mengambil ponsel dari sakunya seraya berkata,
"Maaf, sebentar."
Dahi Devan mengernyit membaca pesan yang baru saja diterimanya. Setelah itu dia melihat ke arah Kessy yang sedang duduk dengan menyilangkan kakinya dan mengedipkan sebelah matanya pada Devan.
Devan menatap Kessy dengan penuh minat. Dan dia tersenyum seraya berkata,
"Akan saya pertimbangkan kembali jika tawaran yang diberikan sepadan dengan yang kami dapatkan."
Devan membalas pesan tersebut dan mengirimkan balasan pesan itu kepada pengirimnya.
Tepat saat itu juga, ponsel Kessy bergetar. Dia segera mengambil ponselnya dan tersenyum membaca pesan yang didapatnya. Dengan cepatnya dia membalas pesan tersebut seraya menatap Devan dan tersenyum manis padanya.
"Baik Pak, saya akan tunggu kabar baiknya," ucap Arsenio sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Devan.
Devan pun menerima uluran tangan Arsenio seraya berkata,
"Akan saya kabari secepatnya."
Setelah itu Arsenio dan Kessy meninggalkan Devan dan sekretarisnya yang masih berada di sana.
Tiba-tiba langkah kaki Arsenio terhenti ketika melihat Laura yang keluar dari lift bersama dengan Ryan.
Mereka saling terkejut. Dalam posisi yang berhadapan dan saling menatap itu, mereka hanya bisa berkata dalam hatinya.
Kenapa Laura bisa keluar dari lift bersama dengannya? Apa yang mereka lakukan?
Kenapa Mas Arsenio bisa bersama dengan Kessy? Mengapa mereka berada di hotel ini?
__ADS_1