
Di kantor Arsenio, dia telah menerima transferan uang dari Alberto. Bibirnya melengkung ke atas ketika melihat notifikasi pesan dari bank yang menjadi tujuan transfer dari Alberto untuknya.
Namun, seketika senyum itu surna ketika dia membuka notifikasi tersebut. Jumlah nominal yang tertera di sana hanya sepuluh persen dari jumlah yang diajukannya pada Alberto.
Merasa tidak percaya dengan notifikasi tersebut, Arsenio segera mengeceknya pada M-Banking miliknya. Dia menghela nafasnya dan duduk lemas melihat nominal yang tertera pada akun M-Banking miliknya.
Memang benar adanya, Alberto hanya mentransfer padanya sejumlah sepuluh persen dari jumlah yang diinginkannya saja.
"Huuufffttt… Kapan semua hutang-hutang itu akan lunas?" gerutu Arsenio diiringi helaan nafasnya yang lemas.
"Sebaiknya aku tanyakan pada Pak Alberto saja. Mungkin saja dia kurang memberikan nol nya ketika menuliskan nominalnya," gumam Arsenio sambil beranjak dari duduknya.
Segera Arsenio keluar dari ruangannya. Dia bergegas menuju ruangan Alberto.
Tok… tok… tok…
Dengan perasaan cemas, Arsenio berdiri di depan pintu ruangan Alberto dan mengetuk pintu tersebut.
"Masuk!" seru Alberto dari dalam ruangan tersebut.
Arsenio menghirup udara dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan untuk menenangkan hatinya sebelum dia masuk ke dalam ruangan tersebut.
Dia pun masuk ke dalam ruangan tersebut dan berusaha menetralkan wajahnya yang terlihat cemas saat ini.
Mata Arsenio terbelalak ketika masuk ke dalam ruangan tersebut dan mendapati sosok perempuan yang sangat dihindarinya.
Kessy tersenyum melihat Arsenio masuk ke dalam ruangan tersebut, seolah dia sedang menunggu kedatangan Arsenio di sana.
Arsenio mencoba mengacuhkan kehadiran Kessy di ruangan tersebut. Dia tidak menyapanya ataupun melihat ke arahnya. Bahkan dia merasa terganggu dengan adanya Kessy di sana.
"Ada apa Pak Arsenio?" tanya Alberto seolah menyambut kedatangan Arsenio yang masuk ke dalam ruangannya.
"Maaf Pak, saya tidak tau jika Bapak sedang ada tamu sekarang ini. Saya akan kembali nanti. Permisi," ucap Arsenio dengan sungkan pada Alberto dan dia bersiap pergi dari ruangan tersebut.
__ADS_1
"Tunggu! Silahkan berbicara berdua. Aku akan duduk di sofa itu dan tidak akan mengganggu kalian," sahut Kessy sambil menunjuk sofa yang ada di dalam ruangan tersebut, seolah tidak mau Arsenio keluar dari ruangan itu.
"Tidak, saya tidak mau mengganggu. Lebih baik saya akan kembali lagi nanti," tukas Arsenio dengan tegas menolak permintaan Kessy.
Seketika Kessy terlihat kecewa. Dia menoleh ke arah Alberto dan menatapnya seolah meminta bantuannya.
Alberto mengerti akan tatapan mata Kessy padanya. Dengan segera dia menghentikan Arsenio yang hendak meninggalkan ruangan tersebut.
"Katakan saja sekarang. Belum tentu saya ada di kantor nanti. Dan kamu tidak perlu khawatir tentang Kessy. Dia tidak akan mengganggu kita. Jadi, ada apa anda datang ke ruangan saya Pak Arsenio?" tanya Alberto yang memaksa Arsenio untuk tetap berada di ruangannya dan memaksanya berbicara.
Arsenio menghela nafasnya. Dia keberatan dan merasa malu jika ada Kessy yang mendengarkan pembicaraan mereka. Terlebih lagi dia akan membicarakan tentang transferan uang tersebut.
Namun, dia tidak bisa menundanya lagi. Dia harus segera menanyakannya pada Alberto dan segera membayarkan pada pihak Bank yang meminjamkan uang padanya.
"Maaf Pak, apa Bapak tidak salah menuliskan jumlah pada transferan uang Bapak ke rekening yang saya berikan kemarin?" tanya Arsenio ragu-ragu.
Alberto terkekeh mendengar pertanyaan yang membuat Arsenio tiba-tiba datang ke ruangannya untuk berbicara padanya. Kemudian dia berkata,
"Jumlah yang kamu ajukan pada saya terlalu besar. Untuk saat ini saya hanya bisa membantu segitu saja. Tapi, jika tugas yang saya berikan pada anda kemarin bisa terlaksana, saya pasti akan memberikan sisanya."
Menunggu hingga perusahaan RAZ bekerja sama dengan perusahaan ini? Pasti akan lama sekali. Bahkan aku tidak tau kapan kita bisa bekerja sama dengan mereka. Satu-satunya cara mempercepatnya hanya dengan meminta bantuan Laura.
"Ada lagi yang mau anda sampaikan pada saya Pak Arsenio?" tanya Alberto pada Arsenio yang sedang terlihat melamun.
Arsenio tersadar dari lamunannya ketika dia mendengar pertanyaan dari Alberto. Kemudian dia berkata,
"Tidak Pak. Saya akan berusaha keras untuk melakukan tugas yang Bapak berikan. Saya permisi dulu Pak."
Langkah kaki Arsenio begitu berat keluar dari ruangan tersebut. Dia merasa bingung dan frustasi dengan keadaannya saat ini.
Dia merasa malu pada istrinya atas perkataannya semalam yang mengatakan akan melunasi hutang-hutang tersebut dalam waktu dekat ini. Nyatanya hanya sepuluh persennya saja yang bisa dibayarkannya sekarang.
Arsenio berjalan lemas menuju ruangannya. Bahkan dia tidak memperhatikan siapa saja yang telah menyapanya. Hingga dia masuk ke dalam ruangannya seolah tidak ada semangat untuk memulai pekerjaannya.
Tiba-tiba Arsenio terkejut ketika melihat Kessy masuk ke dalam ruangannya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
__ADS_1
Arsenio menghela nafasnya melihat Kessy yang masih saja mengganggunya. Dia merasa ingin marah karena memperparah mood nya yang sudah memburuk.
"Sebaiknya ketuk pintu dulu sebelum masuk," ujar Arsenio dengan berpura-pura membaca berkas-berkas yang ada di mejanya.
"Sayang, aku ingin membantumu," ucap Kessy dengan manjanya sambil berjalan mendekati Arsenio.
Arsenio menatap tajam pada Kessy yang semakin mendekat padanya dan dia berkata,
"Maaf, saya sedang sibuk. Dan tolong jangan panggil aku dengan panggilan seperti itu."
"Aku akan memberikan uang dengan jumlah yang kamu inginkan," sahut Kessy dengan bangganya dan tersenyum manis pada Arsenio.
Arsenio menyeringai mendengar perkataan Kessy yang sudah berdiri di hadapannya. Kemudian dia berkata,
"Jangan mengada-ada. Sudahlah, jangan ganggu aku.Lebih baik kamu segera keluar dari ruangan ini. Dan jangan menggangguku lagi. Aku sedang sibuk saat ini."
Kessy mengambil sesuatu dari tasnya. Kemudian dia meletakkan benda tersebut di atas meja, tepat di hadapan Arsenio.
Arsenio mengernyitkan dahinya melihat benda tersebut. Selembar cek kosong yang ada di hadapannya. Dia pun menatap bingung pada Kessy yang sedang tersenyum manis padanya.
"Isilah sendiri nominal yang kamu inginkan pada cek kosong itu," ucap Kessy dengan menyertakan senyuman manisnya.
Arsenio menyeringai pada Kessy dan dia pun berkata,
"Apa maksudmu?"
Kessy berjalan mendekati Arsenio yang sedang duduk di kursinya. Dia duduk di meja, tepat di hadapan Arsenio dengan rok pendeknya yang terangkat naik sehingga memperlihatkan pahanya yang putih mulus ketika dia duduk di meja kerja Arsenio.
Arsenio hanya duduk di kursinya dan memperhatikan apa yang sedang dilakukan Kessy saat ini.
Perlahan Kessy mendekatkan wajahnya pada wajah Arsenio dan melingkarkan kedua tangannya pada leher Arsenio.
"Akan ku berikan berapa pun yang kamu inginkan asal kamu mau mengabulkan permintaanku," ucap Kessy sambil mengedipkan sebelah matanya.
Arsenio melepaskan tangan Kessy dari lehernya seraya berkata,
__ADS_1
"Apa maumu?"