System Lady Rich

System Lady Rich
Bab 78 : Pelindung Laura


__ADS_3

Arsenio meninggalkan Kessy untuk mengejar istrinya yang sudah dibawa oleh Ryan ke rumah sakit.


"Sial! Mobilku masih tertinggal di kantor!" seru Arsenio yang sedang berdiri di depan pintu rumahnya.


"Ayo aku antar ke rumah sakit," ajak Kessy sambil melingkarkan tangannya pada Arsenio dan menariknya untuk berjalan menuju mobilnya.


Arsenio menggapai pintu rumahnya dan menutup pintunya serta menguncinya. Setelah itu tangannya kembali ditarik oleh Kessy untuk berjalan menuju mobilnya.


Kessy duduk di kursi pengemudi dan Arsenio duduk di sampingnya. Kessy tersenyum tipis penuh kemenangan atas apa yang terjadi saat ini.


Baginya saat ini jalan menuju kemenangan semakin terbuka lebar. Seperti keinginannya, dia ingin memenangkan Arsenio kembali karena merasa Arsenio tidak lagi mencintainya seperti dulu.


"Cepatlah! Aku pasti akan sangat menyesal jika sampai terjadi apa-apa dengan istriku," perintah Arsenio pada Kessy yang mengemudikan mobilnya dengan sangat santai.


"Dia sudah punya pelindung sekarang ini. Kamu tidak perlu khawatir lagi padanya," sahut Kessy sambil menyeringai.


Arsenio menoleh ke arah samping di mana Kessy masih fokus pada kemudinya. Dia menatap tajam pada Kessy dan berkata,


"Ini semua gara-gara kamu."


"Hei… come on Baby… Kamu sangat menikmatinya. Dan kamu tidak perlu munafik begitu. Katakan saja kamu ingin melakukannya lagi denganku," sahut Kessy tidak terima dengan Arsenio yang menyalahkannya.


Arsenio tidak menjawabnya. Dia hanya melihat ke arah luar jendela kaca mobil yang ada di sisinya. Saat ini dia merasa sangat khawatir pada istrinya. Dan tentunya dalam hati dia menyalahkan dirinya sendiri atas kebodohannya dan kecewa pada dirinya sendiri yang bisa begitu saja dengan mudahnya terpancing untuk melakukan hal itu bersama dengan Kessy di rumahnya sendiri.


Selang beberapa saat, mobil yang dikemudikan oleh Kessy sampai di rumah sakit. Arsenio segera berlari menuju ruang IGD untuk mencari keberadaan istrinya.


"Di mana Laura? Bagaimana keadaannya?" tanya Arsenio pada Ryan yang sedang berdiri di depan pintu ruang IGD.


Ryan menoleh ke arah Arsenio yang baru saja datang dan terlihat ngos-ngosan saat ini. Dia menatap dingin pada Arsenio dan berkata,


"Bagaimana anda bisa tega pada wanita yang baik dan setia seperti Laura? Jika anda tidak bisa membahagiakannya, lebih baik tinggalkan saja dia. Biarkan dia hidup sendiri untuk mendapatkan kebahagiaannya dan tidak tersiksa seperti ini."


"Tidak. Saya tidak bisa melepaskannya. Dia istri saya dan akan selamanya menjadi istri saya," ujar Arsenio tanpa menoleh ke arah Ryan, pandangan matanya masih saja mengarah pada ruangan IGD.

__ADS_1


Ryan menyeringai melihat Arsenio yang terlihat cemas saat ini. Kemudian dia menoleh ke arah ruang IGD dan teringat akan sesuatu. Dalam hatinya berkata,


Jika ada Arsenio di sini, pasti keadaan Laura akan kembali memburuk. Sebaiknya aku jauhkan Arsenio dari sini sekarang juga.


"Bagaimana dengan kerja sama kita? Apa sudah ada perkembangan?" tanya Ryan dengan serius sambil menatap Arsenio.


Arsenio mengalihkan perhatiannya pada Ryan. Dia menatap Ryan dengan serius dan berkata,


"Sedang saya kerjakan Pak. Bapak tenang saja karena saya tidak akan mengecewakan Bapak."


"Apa bisa saya melihat hasilnya hari ini? Karena saya akan memperlihatkannya besok pada pertemuan para direksi," ucap Ryan dengan serius.


Arsenio tampak berpikir. Dia bisa saja mengerjakannya saat ini juga. Hanya saja keadaan Laura membuatnya cemas dan tidak bisa meninggalkannya sebelum melihat keadaan istrinya itu.


"Tapi Pak, apa tidak bisa jika besok saja saya memberikan hasilnya?" tanya Arsenio yang mencoba bernegosiasi dengan Ryan.


"Seperti yang saya bilang tadi. Besok akan ada pertemuan dengan dewan direksi. Jika memang anda tidak bisa mengerjakannya, lebih baik kita batalkan saja kerja sama kita dan saya akan mencari perusahaan lain yang bisa profesional dalam pekerjaannya," ujar Ryan dengan tegas.


Arsenio menghela nafasnya. Dia menatap nanar ruang IGD yang sedang dihuni oleh istrinya saat ini. Kemudian dia kembali menatap Ryan dan berkata,


Ryan terkekeh mendengar perkataan Arsenio. Kemudian dia berkata,


"Bukankah anda dan perusahaan anda sangat profesional dalam bekerja? Jika anda tidak bisa profesional seperti berita yang saya dengar, sudah sepantasnya jika saya membatalkan kerja sama ini."


Sial! Dia mengancam ku! Sepertinya aku memang harus cepat mengerjakannya sekarang agar reputasi kerjaku tidak berubah menjadi buruk di mata perusahaan lain, Arsenio berkata dalam hatinya.


"Baiklah Pak, akan saya selesaikan hari ini juga. Saya permisi dulu," ucap Arsenio sambil menundukkan sedikit kepalanya untuk berpamitan pada Ryan.


Ryan menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan Arsenio. Dia tidak mengatakan apa pun pada Arsenio.


Setelah itu Arsenio meninggalkan tempat tersebut tanpa mengetahui keadaan istrinya saat ini.


Beberapa saat setelah Arsenio meninggalkan tempat itu, dokter yang sedang menangani Laura keluar dari ruang IGD. 

__ADS_1


"Maaf Pak, istri Bapak tidak dalam keadaan baik-baik saja. Bayi yang ada dalam kandungannya tidak bisa diselamatkan. Kami harus segera melakukan tindakan operasi saat ini juga. Silahkan ditandatangani formulir persetujuannya dan mengurus biaya administrasinya," tutur dokter yang menangani Laura di ruang IGD.


"Apa? Bayi? Jadi Laura sedang mengandung?" tanya Ryan yang terlihat sangat kaget saat ini.


"Iya Pak, pasien sedang hamil saat ini. Apa Bapak tidak mengetahuinya? Atau jangan-jangan pasien juga tidak mengetahuinya?" tanya dokter tersebut pada Ryan.


"Benar dok, sepertinya pasien tidak menyadarinya," jawab Ryan disertai helaan nafasnya.


Ryan merasa iba pada keadaan Laura saat ini. Tidak bisa dipungkirinya jika dia sangat peduli pada Laura. Dia tidak pernah berpikir untuk bisa memiliki Laura. Dia hanya merasa kasihan saja pada Laura, sehingga dia selalu membantu dan menjaga Laura tanpa sepengetahuannya.


Dokter tersebut menghela nafasnya karena kasihan melihat keadaan Laura saat ini yang harus berpisah dengan bayinya sebelum sempat diketahui keberadaannya selama ini di perutnya.


"Saya akan segera siapkan operasinya. Sebaiknya Bapak segera mengurus administrasinya sekarang juga agar operasinya bisa segera dilakukan," tutur dokter itu kembali pada Ryan.


"Baiklah dok, saya akan mengurusnya sekarang juga," ujar Ryan sebelum meninggalkan tempat itu menuju tempat administrasi.


Ryan mengurus semua administrasi Laura. Saat ini dia layaknya seorang suami sedang mengurus biaya administrasi perawatan istrinya yang dirawat di rumah sakit.


Laura dipindahkan ke ruang operasi. Dia menjalani operasi tanpa diketahui oleh Arsenio yang merupakan suaminya.


Ryan tidak bisa meninggalkan Laura begitu saja. Tidak bisa dipungkirinya jika dia sangat khawatir dan peduli pada Laura. Saat ini dia berada di depan ruang operasi untuk menunggu Laura yang sedang menjalani operasi di dalam ruangan tersebut.


Tiba-tiba saja ponsel Ryan berdering. Segera diambilnya ponsel yang ada di sakunya.


"Halo, ada apa? Tolong urus semuanya. Saya sedang ada keperluan yang sangat penting saat ini," ucap Ryan pada seseorang yang sedang menghubunginya.


Ternyata yang menghubunginya adalah Rendra, sahabatnya dan juga merangkap sebagai sekretarisnya di kantor.


"Baiklah, setujui saja semuanya meskipun ada kekurangan. Saya tidak mau lagi berhubungan dengan perusahaan itu setelah kerja sama ini berakhir," ujar Ryan pada orang yang sedang berbicara padanya di telepon.


Tiba-tiba saja pintu ruang operasi terbuka. Keluarlah dokter yang menangani operasi Laura. Dia menghampiri Ryan dan berkata,


"Operasinya sudah selesai. Pasien akan segera dipindahkan ke kamar yang sudah dipersiapkan."

__ADS_1


Rendra yang masih belum mengakhiri panggilan teleponnya mendengar perkataan dokter pada Ryan. Dia terkejut dan berkata,


Operasi? Ryan, siapa yang dioperasi? Apa yang sebenarnya terjadi? Ada di mana kamu sekarang? 


__ADS_2