
Arsenio kecewa dengan Alberto yang seolah mempermainkannya. Semua usahanya itu terasa hanya sia-sia saja hingga dia melibatkan istrinya dalam usahanya mendekati dan mengusahakan agar Ryan yang merupakan CEO dari perusahaan RAZ itu mau bekerja sama dengannya.
"Apa aku bisa membantumu?"
Suara seorang perempuan yang sangat familiar di telinga Arsenio mampu menghentikan langkahnya.
Arsenio menatap perempuan tersebut yang sedang tersenyum padanya. Sayangnya senyuman perempuan itu terlihat seolah mengejeknya.
"Apa yang bisa kamu bantu Kessy? Menyingkirlah. Jangan halangi jalanku," ucap Arsenio dengan kesal dan mencoba berjalan melewati Kessy.
Namun, Kessy tetaplah Kessy. Dia tidak akan menyerah sebelum keinginannya tercapai. Dia menghalangi jalan Arsenio sehingga Arsenio tidak bisa melewatinya.
Arsenio menatap tajam padanya. Didorongnya tubuh Kessy agar dia bisa melewatinya.
"Kasar sekali kamu Arsenio! Lihat saja, kamu pasti membutuhkan bantuanku! Kamu pasti akan memohon padaku untuk membantumu!" seru Kessy pada Arsenio yang sudah berjalan melewatinya.
Beruntungnya lantai tersebut sangat sepi karena lantai itu hanya dihuni oleh para petinggi saja, sehingga tidak ada yang tahu apa yang terjadi selama ini, yaitu Kessy yang selalu mencari kesempatan untuk mendekati Arsenio.
Arsenio tidak menanggapinya. Dia hanya melanjutkan langkah kakinya masuk ke dalam ruangannya.
Braaaak!
"Sialan! Kenapa aku harus kembali dibodohi oleh orang lain?" seru Arsenio setelah menggebrak meja kerjanya untuk melampiaskan kemarahannya.
Kedua tangannya mengepal di atas meja yang baru saja dipukulnya. Rasa sakit hatinya kembali dirasanya. Sakit, bahkan dia merasa hatinya sangat sakit sekali.
Dia telah berusaha dengan keras agar bisa memenuhi syarat yang diajukan Alberto padanya, tapi nyatanya janji yang diberikannya pun berubah.
Dan yang paling menyesakkan hatinya, ketika melihat istrinya berada di sisi laki-laki lain hanya demi membantunya untuk memenuhi persyaratan dari Alberto.
Arsenio duduk lemas di kursinya. Kedua tangannya menjambak rambutnya dengan kerasnya untuk menyalurkan emosinya.
Kalau seperti ini, aku merasa perkataan Laura memang benar adanya. Aku terlihat seperti menjual istriku untuk dapat membantuku, Arsenio berkata dalam hatinya.
Tiba-tiba bayangan Laura yang sedang berada di dalam kamar hotel bersama dengan Ryan pun tampak di pelupuk matanya. Bayangan itu terlihat sangat jelas, hingga membuat Arsenio kembali merasakan sakit hatinya.
"Tidak bisa. Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus segera mencari uang agar bisa melunasi semua hutang-hutangku dan membebaskan Laura dari pekerjaannya," ucap Arsenio dengan nafas yang memburu dan tatapan matanya yang sangat tajam seolah sedang bertatap mata dengan Ryan.
__ADS_1
Segeralah dia mengambil berkas-berkasnya dan dengan semangatnya itu dia mengerjakan semua pekerjaannya, berharap agar bisa segera mendapatkan uang dari hasil kerjanya.
Di ruangan Alberto, Kessy meluapkan kekesalannya. Dia meminta Alberto agar lebih menekan Arsenio dan mendekatkan dengannya.
"Aku tidak mau tau Om. Pokoknya Om harus membantuku. Aku harus bisa mendapatkannya," ucap Laura dengan penuh emosi di hadapan Alberto.
Alberto mendekati Kessy yang sedang duduk di sofa. Dia mencoba menenangkan keponakan dari istrinya itu.
Dirangkulnya pundak Kessy dan diusapnya dengan perlahan berharap agar Kessy bisa lebih tenang lagi.
Namun, pandangan mata Alberto tertuju pada tempat lainnya. Rok mini yang dipakai oleh Kessy tersibak ke atas karena duduk dengan kakinya yang menyilang.
Paha putih mulusnya itu membuat pandangan mata Alberto terkunci di sana. Setelah beberapa saat dia tersadar jika Kessy merupakan keponakan istrinya yang sangat manja padanya.
Berdirilah Alberto untuk menjauhi Kessy. Dia kembali duduk di kursi kebesarannya.
"Kessy harus bagaimana Om? Dia selalu menolak ku. Padahal aku sudah melakukan segala cara untuk mendapatkannya. Tapi…," ucapan Kessy menggantung di udara.
Alberto yang tadinya mengalihkan pandangannya pada berkas-berkas di atas mejanya, kini kembali menghadap Kessy yang masih berada di tempatnya.
Alberto menelan ludahnya melihat sesuatu yang terlihat jelas di dalam rok yang tersibak ke atas itu. Dari posisinya duduk saat ini, Alberto bisa melihat apa yang dipakai oleh Kessy untuk menutupi bagian inti miliknya.
Tatapan mata Alberto terkunci di sana. Sesuatu yang dilapisi oleh renda itu membuat miliknya memberontak untuk menginginkannya.
"Om! Om dengar gak sih?" tanya Kessy yang berhasil menyadarkan Alberto dari lamunannya.
"Eh a-apa? Kamu ngomong apa tadi? Om sedang memikirkan sesuatu, jadi maaf jika tidak mendengarkan ucapanmu," jawab Alberto gugup setelah tersadar dari lamunannya.
"Aku ingin berusaha memiliki Arsenio. Tapi… bagaimana caranya bisa membawanya untuk jatuh dalam perangkapku?" tanya Kessy sambil bergerak menurunkan kakinya yang disilangkan.
Mata Alberto semakin terbelalak melihat sesuatu yang menyita perhatiannya itu semakin jelas dilihatnya. Kessy duduk dengan membuka pahanya hingga terliaht jelas apa yang ada di dalamnya. Tanpa sadar dia pun berkata,
"Bagaimana jika tidur bersama?"
Mata Kessy berbinar mendengar ucapan Alberto. Kemudian dia berkata,
"Itu yang Kessy maksud Om. Hanya saja Kessy tidak tau bagaimana mengajaknya. Dia selalu saja menolak ku."
__ADS_1
"Akan Om bantu. Kamu tenang saja dan persiapkan semuanya dengan baik," ucap Alberto sambil menelan ludahnya melihat milik Kessy yang semakin jelas terlihat olehnya seolah memanggil-manggil untuk dijamahnya.
"Benarkah Om?" tanya Kessy dengan sangat antusias.
Alberto tersenyum dan menganggukkan kepalanya untuk menanggapi pertanyaan yang diberikan Kessy padanya.
Seketika senyum Kessy mengembang. Dia beranjak dari duduknya dan berjalan menuju tempat Alberto berada. Dipeluknya tubuh Alberto dengan sangat erat seraya berkata,
"Terima kasih Om. Hanya Om yang selalu mau membantu Kessy. Om bukan Om Kessy yang sebenarnya, tapi Om sangat menyayangi Kessy. Itu yang membuat Kessy juga sangat menyayangi Om."
Alberto mematung, dia tidak bisa melakukan apa pun saat ini. Bahkan untuk berbicara pun seolah lidahnya sangat kelu, sehingga tidak ada kata yang bisa keluar dari mulutnya.
Bagaimana tidak, pelukan Kessy yang sangat erat itu membuat bagian dada Kessy yang kembar dan berukuran besar itu membuat sesuatu di dalam celana Alberto semakin sesak. Dan dadanya pun merasa sangat bergejolak saat ini.
Kessy mengurai pelukannya. Dia menatap mata Alberto seraya berkata,
"Terima kasih Om."
Setelah itu dia mencium pipi Alberto untuk mengiringi ucapan terima kasihnya. Hal itu membuat Alberto semakin menginginkannya. Akan tetapi dia tidak mau berurusan panjang dengan keluarga istrinya. Dia berusaha menahannya sekuat tenaga.
"Tenang saja. Nanti akan Om atur waktunya," ujar Alberto dengan suara tercekat menahan sesuatu dalam celananya.
Alberto segera mengambil ponselnya. Dia menghubungi nomor ponsel Arsenio untuk melancarkan rencananya.
Namun, panggilan teleponnya tidak begitu saja dijawab oleh Arsenio. Dengan tidak sabarnya, Alberto menghubungi Arsenio kembali. Sayangnya panggilannya itu kembali tidak terjawab, seolah diabaikan oleh Arsenio.
Di sisi lain, Arsenio sedang berada di toilet. Dia meninggalkan ponsel miliknya di atas meja kerjanya. Dia sengaja membasuh mukanya agar bayangan Laura yang sedang bersama Ryan di dalam kamar hotel itu tidak hadir kembali membayanginya.
Setibanya dia di dalam ruangannya, Arsenio berjalan cepat dengan langkah kaki lebarnya berusaha untuk bisa segera menggapai ponselnya yang berbunyi dengan nyaringnya.
Sedangkan Alberto, dia sangat kesal hingga di dering terakhirnya, dia mendengar suara Arsenio sedang menyapanya.
Halo, maaf Pak saya baru saja dari–
"Temani saya ke suatu tempat setelah jam pulang kerja," sahut Alberto dengan tegas, seolah tidak ingin dibantah dengan alasan apa pun.
__ADS_1