System Lady Rich

System Lady Rich
Bab 24 : Misi ketujuh


__ADS_3

Perlahan Laura mendekati panel tersebut. Dia membaca apa yang ada pada layar panel tersebut.


'Menggantikan Deborah untuk menjadi perias di lokasi syuting besok di daerah puncak'


Laura menghela nafasnya setelah membaca misi yang diberikan padanya. Kemudian dia berkata,


"Kenapa aku harus kembali ke lokasi syuting lagi? Apa aku harus bertemu kembali dengan sutradara itu? Rasanya malas sekali aku bertemu dengannya."


Kini Laura kembali lesu. Semangat yang tadinya sudah dirasakannya, seketika hilang dihempas oleh misinya.


"Sayang! Apa kamu sudah siap?" seru Arsenio dari arah pintu masuk rumah tersebut.


Seketika Laura tersadar. Dia segera beranjak dari duduknya dan keluar dari kamarnya untuk menyambut suaminya.


"Sudah pulang Mas?" tanya Laura ketika menyambut suaminya yang berjalan masuk dari arah pintu.


Arsenio tersenyum dan mengangguk pada istrinya. Kemudian dia berhenti tepat di depan Laura dan melihatnya dari atas hingga bawah seraya berkata,


"Kamu belum bersiap-siap?" 


Laura tersenyum lebar dan menggelengkan kepalanya menanggapi pertanyaan dari suaminya.


"Baru saja aku mau masuk ke dalam kamar mandi, tapi aku mendengar suara Mas Arsen memanggilku. Jadi…," Laura menggantung ucapannya.


"Jadi kenapa hah? Apa kamu ingin kita mandi bersama seperti waktu itu?" tanya Arsenio sambil mencubit gemas hidung istrinya.


Laura melepaskan tangan suaminya yang masih saja memainkan hidungnya. Setelah itu dia berkata,


"Lebih baik kita mandi sendiri-sendiri Mas, daripada nantinya kita kelamaan di dalam kamar mandi dan akhirnya acara makan malam kita batal nantinya."


Arsenio tertawa mendengar perkataan istrinya. Kemudian dia menganggukkan kepalanya dan berkata,


"Ya sudah, lebih baik kamu mandi terlebih dahulu."


Laura tersenyum dan masuk ke dalam kamarnya untuk menuruti perintah suaminya. Dia mandi terlebih dahulu. Sedangkan Arsenio duduk bersantai di dalam kamarnya sambil melepaskan kancing pada kerah dan lengan kemejanya.


Setelah beberapa saat, Laura keluar dari kamar mandi dan berganti dengan Arsenio yang masuk ke dalam kamar mandi tersebut. Selama suaminya berada di dalam kamar mandi, Laura berganti baju dan merias dirinya.


Ketika sedang merias dirinya, Laura teringat akan misinya yang mengharuskannya untuk menggantikan Deborah besok. Dia kembali menghela nafasnya. Bahkan keputusannya untuk keluar dari pekerjaannya pun belum disampaikannya pada Arsenio.

__ADS_1


"Bagaimana aku menjelaskan pada Mas Arsenio tentang keputusanku untuk resign dari kantor?" gumam Laura disertai helaan nafasnya yang terasa berat.


Laura tertegun di depan cermin memikirkan misinya dan memikirkan bagaimana caranya mengatakan keputusannya pada suaminya.


"Ada apa? Kenapa kamu melamun?" tanya Arsenio ketika keluar dari dalam kamar mandi dan melihat istrinya termenung di depan cermin.


Sontak saja Laura tersadar dari lamunannya. Dia gugup melihat Arsenio yang sudah berdiri tidak jauh darinya dan menatapnya dengan penuh tanda tanya.


"Emmm… tidak. Aku hanya ingat sesuatu," jawab Laura dengan sedikit gugup.


Arsenio berjalan mendekati istrinya. Dia berdiri di belakang istrinya dan menatap istrinya melalui cermin yang ada di depannya seraya berkata,


"Ingat apa?"


Laura menatap cermin yang ada di depannya dan tersenyum pada suaminya. Kemudian dia berkata,


"Pakaian ini pemberianmu pada awal kita menikah. Pada saat itu kamu memberikannya padaku ketika kamu mengajakku untuk dinner di tempat yang sangat indah. Aku tidak bisa melupakan saat itu."


Arsenio memeluk tubuh istrinya dari belakang dan mengecup rambutnya. Kemudian dia berkata,


"Maafkan aku jika selama ini jarang mengajakmu makan malam di luar. Mulai sekarang, aku janji akan menyempatkan waktu untuk kita makan malam bersama di luar."


Laura tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Matanya berkaca-kaca mendengar perkataan suaminya. Selama ini memang itulah yang diharapkan oleh Laura. Dia merindukan kebersamaannya dengan suaminya seperti dulu kala.


Berada di restoran mewah dengan suasana romantis dan hidangan yang mewah dan menggugah selera, membuat hati Laura sangat bahagia. Bahkan dia lupa akan misi yang baru saja diberikan padanya.


"Sayang, aku ada berita bahagia untukmu. Aku dipercaya atasanku untuk menangani proyek penting. Dan besok kita akan mulai syuting," ujar Arsenio dengan raut wajah bahagia.


Laura tersenyum bahagia melihat binar kebahagiaan pada wajah suaminya. Dalam hati dia berkata,


Tidak sia-sia pengorbananku untuk menjadikanmu orang kepercayaan Alberto. 


Makan malam mereka sangat romantis, hingga membuat mereka lupa akan pekerjaan dan yang lainnya. Mereka hanya larut dalam perasaan mereka pada saat ini.


"Aku mau ke toilet dulu Mas," ucap Laura seraya beranjak dari tempat duduknya.


Mereka sudah memakan makanan utama mereka. Kini mereka akan mencicipi dessert yang terlihat sangat indah dan menggiurkan. 


Di dalam toilet, Laura merapikan riasannya setelah menuntaskan hajatnya. Merasa riasannya sudah sempurna, dia keluar dari toilet tersebut untuk kembali ke mejanya.

__ADS_1


Senyum Laura masih saja merekah. Kebahagiaannya itu tidak dapat disembunyikannya. Bahkan ketika dia berjalan keluar dari dalam toilet pun masih saja senyum itu menghiasi bibirnya.


Namun, seketika senyumnya itu pudar saat melihat seorang wanita cantik duduk di kursinya berhadapan dengan Arsenio. Bahkan wanita tersebut terlihat menggoda Arsenio dengan mengusap lembut tangannya.


Mata Laura berkaca-kaca, tangannya mengepal dan dadanya naik turun dengan nafasnya yang memburu melihat wanita itu mengedipkan matanya pada Arsenio.


Tidak hanya itu saja, wanita itu kini berpindah tempat duduk di sebelah Arsenio dan meletakkan kepalanya dengan manja pada lengan Arsenio.


Ingin rasanya Laura menjambak rambut wanita tersebut dan menariknya mengitari seluruh ruangan restoran yang sangat luas itu.


Namun, Laura sadar jika dia harus menyelesaikan apa pun dengan caranya yang elegan.


"Aku akan mencari tau semua tentang wanita itu."


Dengan tatapan matanya yang tajam itu, Laura memperhatikan dan merekamnya baik-baik dalam ingatannya. Dia tidak mau melupakan sedikit pun tentang apa yang dilihatnya saat ini.


Setelah beberapa saat, terlihat Arsenio yang mengusir wanita tersebut agar pergi dari  mejanya. Dia menoleh ke arah toilet. Dan dengan cepatnya Laura bersembunyi agar suaminya tidak dapat mengetahui keberadaannya.


Wanita tersebut terlihat tidak mau pergi dari sana. Tapi dia segera beranjak dari duduknya setelah Arsenio membisikkan sesuatu padanya.


Sepertinya aku harus mencari tau apa yang kamu bisikkan padanya Mas, Laura berkata dalam hatinya disertai dengan amarahnya.


Laura segera keluar dari tempat persembunyiannya setelah wanita tersebut berjalan masuk ke dalam toilet.


Laura tidak segera duduk di kursinya. Dia menatap kursinya yang sempat diduduki oleh wanita tadi. Rasanya dia enggan sekali duduk di tempat yang pernah diduduki wanita lain yang mempunyai hubungan dengan suaminya.


"Kenapa tidak duduk? Duduklah dan nikmati dessert favoritmu ini," ucap Arsenio sambil tersenyum manis pada istrinya.


"Mmm… Mas, maaf, aku akan ke toilet sebentar," tukas Laura pada suaminya.


"Lagi?" tanya Arsenio yang heran mendengar Laura ingin kembali ke toilet.


Laura menganggukkan kepalanya untuk meyakinkan suaminya.


"Apa kamu sakit?" tanya Arsenio yang terlihat khawatir padanya.


"Tidak. Aku akan ke toilet sebentar dan akan segera kembali," jawab Laura dengan cepat.


Setelah itu Laura berjalan dengan cepat menuju ke toilet. Firasatnya mengatakan jika dia harus berada di toilet untuk mencari tahu tentang wanita tersebut yang masih berada di dalam toilet.

__ADS_1


Ketika Laura akan masuk ke dalam toilet, dia mendengar suara dari dalam toilet tersebut,


"Kurang ajar kau Arsenio! Akan aku buat kamu memohon kembali padaku! Aku tidak bisa diperlakukan seperti ini!" 


__ADS_2