System Lady Rich

System Lady Rich
Bab 61 : Harapan kosong


__ADS_3

Laura duduk di hadapan Ryan menikmati makan siang mereka. Dia benar-benar merasa beruntung dan sangat dihargai oleh bosnya itu.


Laura menatap semua hidangan yang ada di hadapannya. Dia tersenyum tipis sambil mengunyah makanannya. Dalam hatinya berkata,


Seandainya suamiku yang memperlakukan aku seperti ini, pasti akan lebih menyenangkan.


Ryan mencuri pandang pada Laura yang ada di hadapannya. Dia menikmati makanannya seolah tidak memperhatikannya.


"Apa kamu suka dengan semua makanan ini Laura?" tanya Ryan setelah menelan makanannya.


Laura mengalihkan pandangannya dari piringnya pada Ryan yang ada di hadapannya. Kemudian dia tersenyum dan berkata,


"Saya sangat menyukainya Pak. Bahkan saya merasa ini semua terlalu mewah untuk saya. Terima kasih Pak untuk semua kebaikan hati Bapak."


Mata Laura berkaca-kaca. Entah mengapa dia merasa terharu dan sangat bahagia mendapatkan perhatian yang sangat diinginkannya dari suaminya.


Ryan merasa iba melihat Laura yang menurutnya sangat menderita hidup bersama dengan Arsenio. Menurut orang yang ditugaskannya untuk menyelidiki tentang Arsenio mengatakan jika Arsenio memanfaatkan istrinya agar bisa melunasi hutang-hutangnya dan memanfaatkan istrinya itu untuk bisa membuat perusahaan RAZ bekerja sama dengannya.


Tidak hanya itu saja. Dia juga mendapatkan banyak informasi tentang Arsenio, sehingga membuat Ryan lebih mudah untuk menolong Laura. Dan tentu saja dia juga mendapatkan laporan tentang kerja keras Laura selama ini sebagai istri Arsenio dan kerja kerasnya dalam bekerja.


"Setelah ini kita kembali ke kantor," tutur Ryan setelah meneguk minumannya.


Laura menatap bingung pada Ryan seolah ada pertanyaan yang ingin disampaikannya.


"Ada apa Laura? Saya tau jika kamu ingin menanyakan sesuatu pada saya," tanya Ryan sambil meneruskan makannya.


Seketika mata Laura terbelalak. Dia memajukan badannya dan menatap Ryan dengan tatapan heran seraya berkata,


"Kok Bapak bisa tau?" 


Ryan terkekeh mendengar pertanyaan dari Laura disertai ekspresinya yang sangat menggemaskan itu. Dia pun berkata,


"Kelihatan dari mata kamu."


Laura pun memundurkan kembali badannya. Dia pun kembali meneruskan makannya.


"Ada apa Laura? Tanyakan saja, tidak usah dipendam," tutur Ryan di sela kunyahan makannya.


"Tidak Pak. Saya hanya bingung. Bukannya tadi Bapak mengatakan jika kita akan meneruskan apa yang akan kita lakukan tadi? Saya hanya bingung, apa yang sebenarnya kita lakukan tadi? Dan sekarang Bapak mengatakan jika setelah ini kita akan kembali ke kantor. Maaf Pak saya bingung," ujar Laura sambil tersenyum sungkan pada Ryan yang sedang menatapnya sambil mendengarkannya.

__ADS_1


Ryan tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Laura. Dia menghentikan makannya dan berkata,


"Lupakan saja perkataanku tadi. Nikmati saja makanannya. Dan semua ini harus habis. Saya tidak mau jika makanan yang saya beli menjadi mubazir."


Mata Laura kembali terbelalak. Dia menatap semua makanan yang ada di hadapannya itu sambil menelan ludahnya. Kemudian dia berkata dengan ragu,


"Apa mungkin saya bisa menghabiskannya Pak?"


Ryan tersenyum dan menganggukkan kepalanya seraya berkata,


"Pasti bisa."


"Baiklah Pak, kita berjuang bersama untuk menghabiskan semua makanan ini," ujar Laura dengan tegas.


"Hah?!" seru Ryan dengan tatapan tidak percaya jika Laura berani memerintahkannya.


Namun, sedetik kemudian dia tersenyum dan kembali meneruskan makanannya. Dia merasa benar-benar terhibur dengan kehadiran Laura yang sudah mengubah hari-hari sepinya menjadi lebih berwarna.


...----------------...


Di dalam mobilnya, Arsenio merasa tidak tenang. Dia senang bisa bekerja sama dengan perusahaan RAZ, akan tetapi dia tidak suka dengan Ryan yang selalu bersama dengan Laura. Terlebih lagi Arsenio tahu jika Ryan menatap kagum pada istrinya.


"Arsenio, kamu gila?! Hentikan! Biar aku saja yang menyetir!" seru Kessy untuk menghentikan kemarahan Arsenio yang sedang melampiaskan kemarahannya.


Arsenio pun menepikan mobilnya dan menghentikannya di tepi jalan. Nafasnya memburu seiring kemarahannya yang menggebu. Dia hanya diam saja tanpa mengatakan apa pun pada Kessy yang sedang menatapnya.


"Kita tukar tempat. Biar aku saja yang menyetir," tutur Kessy sambil membuka sabuk pengamannya.


"Tidak usah. Biar aku saja yang mengemudikannya," sahut Arsenio yang kembali mengemudikan mobilnya.


Kessy menghela nafasnya dan dia kembali memasang sabuk pengamannya. 


"Sudahlah, jangan kamu pikirkan istri kamu yang selingkuh itu. Lebih baik kamu juga bersenang-senang sendiri. Jangan mau diinjak-injak olehnya. Balas dia, agar dia tau jika kamu masih bisa hidup meskipun tanpa dirinya," ujar Kessy sambil duduk dengan melipat kedua tangannya di depan dadanya.


"Diam! Tutup mulutmu atau akan aku turunkan kamu di tengah jalan!" seru Arsenio dengan emosinya mendengar apa yang dikatakan oleh Kessy.


Kessy menyeringai menanggapi kemarahan Arsenio padanya. Dalam hatinya berkata,


Bagus. Kamu marah karena kamu percaya padaku. Kita lihat saja nanti bagaimana kelanjutannya.

__ADS_1


Selama perjalanan menuju kantor, Kessy hanya diam. Dia hanya memainkan ponselnya tanpa mengajak bicara atau pun melihat ke arah Arsenio.


Sesampainya di kantor, Arsenio segera mengerjakan pekerjaannya dan membuat surat perjanjian kerja sama dengan perusahaan RAZ agar dia cepat mendapatkan uang dari Alberto.


Setelah surat perjanjian kerja sama itu selesai dibuat, Arsenio segera menemui Alberto untuk menunjukkan padanya.


Kini Arsenio sudah berada di dalam ruangan Alberto. Dia duduk berhadapan dengan Alberto yang sedang memeriksa surat perjanjian dengan perusahaan RAZ.


Alberto terkekeh membaca surat perjanjian tersebut. Kemudian dia menatap Arsenio yang ada di hadapannya seraya berkata,


"Saya memang tidak salah pilih. Kamu hebat Pak Arsenio. Kamu bisa menaklukan gunung es yang sangat susah ditaklukan oleh orang lain."


Arsenio tersenyum menanggapi pujian dari Alberto. Dia hendak menanyakan tentang uang yang dijanjikan oleh Alberto padanya. Sayangnya ketika bibirnya terbuka untuk menanyakannya, Alberto lebih dulu mengatakan sesuatu padanya.


"Lalu, kapan perjanjian kerja sama ini ditandatangani?" tanya Alberto sambil mengembalikan map yang dibacanya pada Arsenio.


Arsenio menerima map tersebut seraya menjawab pertanyaan Alberto padanya.


"Rencana saya besok Pak. Apa mungkin ada yang perlu ditambahkan Pak?"


"Tidak. Saya percaya padamu. Lakukan saja seperti biasanya kamu melakukan kerja sama dengan perusahaan lainnya," jawab Alberto sambil tersenyum pada Arsenio.


Arsenio ragu-ragu ketika akan beranjak dari duduknya. Dia merasa sungkan pada Alberto ketika akan menanyakan tentang janji Alberto padanya apabila bisa bekerja sama dengan perusahaan RAZ.


Buang rasa sungkan mu itu Arsenio. Tanyakan tentang uang itu agar kamu bisa segera melunasi hutang-hutangmu dan agar istrimu bisa secepatnya berhenti bekerja dari perusahaan itu, Arsenio berkata dalam hatinya untuk meyakinkan dirinya.


"Maaf Pak, mungkin saya lancang menanyakan ini. Tapi saya ingin tau, kapan uang sisa yang Bapak janjikan pada saya bisa diberikan? Saya sangat membutuhkannya Pak," ucap Arsenio ragu dan menatap sungkan pada Alberto.


Alberto tertawa mendengar apa yang ditanyakan Arsenio padanya. Di sela tawanya itu dia berkata,


"Jumlah uang itu sangat besar Pak Arsenio. Saya akan memberikannya ketika kerja sama ini sudah berhasil dan sangat memuaskan."


Deg!


Lalu kapan aku bisa melunasi semua hutang-hutang itu yang semakin berbunga banyak tiap harinya?! seru Arsenio dalam hatinya untuk melampiaskan kemarahannya yang seolah sedang dipermainkan oleh Alberto.


Langkah kaki Arsenio terasa berat keluar dari ruangan Alberto. Dia merasa semua yang dikerjakannya sia-sia. Bahkan harapannya untuk bisa segera keluar dari permasalahannya pun seolah hilang diterpa angin dengan sekejap.


"Apa aku bisa membantumu?"

__ADS_1


__ADS_2