System Lady Rich

System Lady Rich
Bab 77 : Kenyataan yang menyakitkan


__ADS_3

Arsenio mengacuhkan Laura. Dia hanya berjalan melewati istrinya tanpa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh istrinya itu padanya.


"Mas, dari mana saja kamu? Kenapa kamu baru pulang pagi begini? Dan apa ini? Kamu semalam mabuk? Dengan wanita sialan itu? Tidur di mana kamu semalam Mas? Apa jangan-jangan kamu…," Laura bertanya dengan mengikuti di belakang suaminya.


Dia menggantungkan pertanyaannya, dia tidak bisa meneruskan perkataan yang ada di kepalanya saat ini.


Laura tidak bisa menerima jika suaminya benar-benar bermalam dengan Kessy dalam keadaan mabuk. Dia tidak bisa membayangkan jika apa yang ada dalam pikirannya itu benar-benar terjadi.


Arsenio menghentikan langkahnya. Dia menoleh ke belakang, di mana istrinya sedang mengikutinya. Dia menatap tajam istrinya dengan tatapan penuh amarah seraya berkata,


"Kenapa? Apa hanya kamu saja yang boleh menginap di luar rumah dengan laki-laki lain? Bagaimana denganku? Apa aku tidak mempunyai hak yang sama denganmu?"


"Tapi aku punya alasan! Aku tidak menginap untuk bersenang-senang. Aku juga tidak memiliki hubungan lain dengan laki-laki lain, apa lagi berhubungan badan dengan laki-laki lain. Aku hanya bekerja di sana. Bekerja!" seru Laura menekankan kata-katanya agar suaminya itu tidak lagi curiga padanya.


Arsenio menyeringai mendengar perkataan istrinya. Kemudian dia berkata,


"Pekerjaan… pekerjaan… Selalu saja pekerjaan yang menjadi alasanmu. Jangan-jangan pekerjaanmu di rumah bos mu itu untuk pekerjaan lain. Sudahlah, aku muak dengan alasan pekerjaanmu itu."


Arsenio kembali berjalan masuk ke dalam kamarnya. Dan Laura pun masih tidak menyerah. Dia mengikuti suaminya hingga masuk ke dalam kamarnya. 


"Mas, pokoknya aku tidak mau kamu mabuk-mabukan lagi," ucap Laura dengan nada memerintah.


"Aku akan menurutimu jika kamu berhenti dari pekerjaanmu saat ini. Toh aku juga sudah mendapatkan kerja sama itu," sahut Arsenio tidak mau kalah dari istrinya.


"Baik, aku akan berhenti dari pekerjaanku jika kerja sama dengan perusahaan mu sudah selesai. Dan juga jangan lupa, bayarlah hutang-hutangmu di bank. Setelah itu aku akan keluar dari pekerjaanku. Aku juga sudah lelah dengan semua ini," ujar Laura seolah sedang menantang suaminya.


Arsenio melepaskan bajunya di hadapan Laura seperti biasanya. Dia berganti pakaian tanpa menutup-nutupi bagian tubuhnya dari istrinya.


Mata Laura tertuju pada tubuh bagian dada dan leher suaminya. Matanya berkaca-kaca, dadanya bergerak naik turun seiring nafasnya yang tidak beraturan ketika pandangan matanya melihat bercak merah pada dada dan leher suaminya.


Laura tidak bodoh. Dia juga sudah dewasa. Dia sangat mengenal bercak merah itu. Dadanya bergemuruh melihat kenyataan yang terpampang jelas di matanya.


"Tenang saja, aku akan melunasinya hari ini. Dan masalah kerja sama itu, aku akan menyelesaikannya hari ini juga," ucap Arsenio sambil memakai bajunya di hadapan Laura.


Laura marah, dia sangat marah saat ini. Dia merasa tidak akan lagi bisa bersabar. Sayangnya dia teringat akan misinya yang belum selesai. Tanpa mengatakan apa pun, Laura segera meninggalkan Arsenio dan keluar dari kamar tersebut dengan hati yang bergemuruh.


Terlebih lagi ketika dia melihat senyum puas Kessy yang seolah mengejeknya dari dalam mobilnya.


Laura mengemudikan mobilnya meninggalkan halaman rumahnya tanpa menyapa Kessy ketika mobil mereka sedang berpapasan.


Amarah Laura masih saja terasa. Hingga dia merasa sangat frustasi menghadapi suaminya. Tiba-tiba saja perutnya terasa nyeri. Dia merasakan kram pada perutnya.


Bertahan. Dia hanya bisa bertahan saat ini. Dalam hatinya berkata,

__ADS_1


Bertahanlah Laura, kurang sebentar lagi akan sampai di rumah Pak Ryan.


Berbekal dengan niatnya yang kuat itu, Laura bisa mencapai rumah Ryan dengan menahan rasa kram di perutnya yang terasa sangat menyakitkan baginya.


"Ada apa ini? Apa mungkin karena aku terlalu stres dan kecapekan sehingga aku terlambat datang bulan dan merasakan kram seperti ini? Seharusnya aku beristirahat dan tidur di rumah saat ini," ucap Laura lirih dengan menahan sakitnya.


Laura membunyikan klaksonnya agar Ryan keluar dari dalam rumahnya. Tepat sekali dugaan Laura. Ryan keluar dari rumahnya menghampiri Laura yang masih duduk di dalam mobilnya.


"Ada apa Laura, kenapa kamu membunyikan klakson seperti itu? Kenapa kamu tidak masuk ke dalam seperti biasanya?" tanya Ryan dengan wajah datarnya.


"Maaf Pak, saya sedang kram perut. Saya tidak yakin bisa menahannya," jawab Laura sambil meringis kesakitan.


Ryan mengerutkan dahinya. Dia menatap Laura yang sedang meringis kesakitan sambil memegang perutnya disertai keringatnya yang mengalir pada dahi dan pelipisnya.


"Apa perlu aku antarkan ke rumah sakit?" tanya Ryan yang sedang panik saat ini.


Laura menggelengkan kepalanya sambil meringis kesakitan menatap Ryan dan berkata,


"Tidak usah Pak. Sebaiknya saya tidur saja di rumah."


"Baiklah, saya akan mengantarkan kamu pulang sekarang," ucap Ryan sambil membukakan pintu mobil Laura.


Ryan membantu Laura dengan memapahnya untuk berpindah tempat duduk di samping pengemudi.


Setelah beberapa saat, mobil yang dikendarai oleh Ryan memasuki halaman rumah Laura.


Laura semakin meringis kesakitan ketika melihat mobil Kessy yang masih berada di halaman rumahnya.


Dengan perlahan Laura keluar dari mobil tersebut sambil memegang erat perutnya. Dia semakin merasakan rasa sakit yang luar biasa ketika amarahnya kembali saat melihat mobil Kessy yang berada di halaman rumahnya tanpa ada Kessy di dalam mobil tersebut.


Ryan membawakan tas Laura sambil memapahnya masuk ke dalam rumahnya. Langkah kaki mereka berhenti ketika melihat pintu kamar Laura dan Arsenio terbuka.


Terdengar suara lenguhan dari dalam kamar tersebut. Badan Laura yang sedang merasakan sakit di perutnya itu semakin lemas. Kakinya bergetar hebat mendengar suara lenguhan yang diduganya berasal dari mulut wanita yang paling dibencinya. 


Ryan pun tidak kalah terkejutnya dengan Laura ketika mendengar suara lenguhan itu. Dia menatap Laura yang terlihat sangat terpukul dan adanya kilatan amarah dari matanya.


Dengan sekuat tenaganya Laura menghempaskan tangan Ryan yang masih memegang pundaknya dan masuk ke dalam kamar tersebut.


Langkahnya berhenti ketika dia melihat pemandangan yang tidak ingin dilihatnya.


"Apa yang sedang kalian lakukan?!" seru Laura dengan meluapkan semua amarahnya.


Ryan pun masuk ke dalam kamar tersebut. Dia tertegun melihat Kessy yang bagian tubuh atasnya tidak memakai apa-apa sedang berada di atas tubuh Arsenio yang masih berpakaian lengkap. Kedua tangan Araenio sedang dibimbing oleh Kessy untuk memegang erat dan memainkan dua buah benda berharga pada dada Kessy. 

__ADS_1


Arsenio menoleh ke arah pintu kamarnya. Dia terkejut melihat istrinya berdiri tidak jauh darinya dengan untaian air mata yang mengalir di pipinya. Dia bertambah terkejut ketika melihat Ryan sedang berdiri di belakang Laura.


Dengan segera Arsenio menurunkan Kessy dari atas tubuhnya dan menghampiri Laura.


"Sayang, ini tidak seperti yang kamu pikirkan," ucap Arsenio dengan wajah memohon pada Laura.


Laura mengacuhkan suaminya. Dia memandang tajam pada Kessy dan berjalan menghampirinya. Dengan cepatnya Laura mengangkat tangannya untuk menampar Kessy. 


Namun, gerakan tangan Laura bisa dengan mudah diketahui oleh Kessy. Tangan Kessy lebih cepat mendorong tubuh Laura agar menjauh darinya.


Laura tidak bisa menahan berat badannya. Dia terjatuh dengan kerasnya dengan posisi duduk di lantai.


"Auuuchhh…," Laura meringis menahan perutnya yang semakin luar biasa sakitnya. 


"Sayang!" seru Arsenio ketika mengetahui Laura terjatuh di lantai.


Namun, gerakannya kalah cepat dengan Ryan. Dengan sigapnya Ryan melemparkan tas milik Laura dan menolong Laura untuk berdiri.


"Awww… Sakit…," seru Laura kesakitan dengan memegang erat perutnya.


"Cairan merah ini...," celetuk Ryan ketika melihat cairan merah segar mengalir di kaki Laura.


"Apa? Cairan merah? Kenapa bisa ada cairan merah?" tanya Arsenio dengan paniknya sambil memegang tubuh istrinya dengan niat akan menolongnya.


Ryan menatap dingin pada Arsenio seraya berkata,


"Biar aku saja yang menolongnya. Lebih baik kamu selesaikan masalahmu dengan wanita yang tidak punya harga diri itu."


Dengan cepatnya Ryan membopong tubuh Laura keluar dari kamar tersebut dan berjalan cepat menuju mobilnya.


Arsenio menatap nanar punggung Ryan yang berhasil membawa Laura seolah merebut darinya.


"Apa dia sedang datang bulan? Ck! Menjijikkan!" ujar Kessy yang sedang memakai bajunya dan melihat ke arah lantai yang terdapat cairan warna merah milik Laura berceceran di lantai.


Arsenio menjambak kasar rambutnya seraya berkata,


"Sial! Apa yang sebenarnya terjadi?! Kessy, semuanya ini karena kamu!"


"Aku?! Bukankah kamu juga menikmatinya?" tanya Kessy sambil tertawa.


Tanpa mengatakan apa pun, Arsenio segera keluar dari kamar tersebut meninggalkan Kessy.


"Sayang! Kamu ke mana? Tunggu aku!" seru Kessy yang tergesa-gesa merapikan bajunya.

__ADS_1


__ADS_2