
Penampilan Laura malam ini mampu membuat Ryan terhipnotis. Dia terpesona oleh kecantikan Laura yang selama ini diidolakannya.
"Pak… Pak Ryan… Ada apa Pak? Apa ada yang salah dengan penampilan saya?" tanya Laura sambil menggerak-gerakkan tangannya ke kanan dan ke kiri.
"Eh ti-tidak. Saya hanya pangling liat kamu malam ini," jawab Ryan dengan gugup.
Seketika ada semburat merah pada wajah Laura. Tiba-tiba dia merasa malu dipuji oleh seorang Ryan, bos dari perusahaan RAZ, tempat dia bekerja saat ini.
"Maaf Pak, Bu. Bapak Renaldi sudah menunggu di tempat makan malam yang sudah disiapkan," ucap sekretaris Renaldi yang tiba-tiba datang menghampiri mereka.
"Oh iya. Kami sudah siap," tukas Ryan pada sekretaris Renaldi.
Perempuan yang menjadi sekretaris Renaldi itu membimbing jalan Ryan dan Laura menuju tempat yang sudah disiapkan oleh Rendi.
Ryan berjalan di belakang perempuan tersebut bersamaan dengan Laura. Dia salah tingkah berada di dekat Laura saat ini. Dalam hatinya berkata,
Kenapa mulutku bisa keceplosan? Harusnya aku tadi tidak mengatakannya.
Laura merasakan ada yang aneh dengan Ryan. Dan dia pun kini salah tingkah berjalan beriringan dengan Ryan.
"Selamat datang Pak Ryan dan Bu Laura. Bagaimana dengan pakaian yang saya siapkan? Apakah kurang nyaman dipakainya?" ucap Renaldi menyambut Ryan dan Laura.
"Sangat nyaman Pak. Kami sangat berterima kasih sekali dengan semua jamuan Bapak," ujar Ryan sambil tersenyum pada Renaldi.
"Senang sekali melihat pakaian yang saya siapkan bisa pas di tubuh Pak Ryan. Dan tentu saja, Bapak bertambah tampan dan keren memakainya," puji Renaldi sambil tersenyum bangga pada Ryan.
Kemudian dia melihat ke arah Laura dan berkata,
"Bagaimana dengan Bu Laura? Apa suka dengan pakaian yang saya siapkan?"
"Sangat pas sekali Pak. Saya suka. Pintar sekali Bapak memilihnya," puji Laura dengan sangat meyakinkan.
Renaldi terkekeh mendengar pujian dari Laura. Kemudian dia berkata,
"Itulah perlunya perempuan di samping kita. Saya tadi meminta saran pada sekretaris saya. Dan seleranya ternyata bagus juga."
"Kalau orangnya cantik seperti Bu Laura, sudah pasti pakaian apa aja yang dipakainya pasti terlihat bagus Pak," sahut sekretaris Renaldi menanggapi pujian bosnya.
Laura tersipu malu menanggapi pujian dari mereka semua. Dia tidak bisa berkata-kata di hadapan mereka.
Bukan hanya Laura saja yang salah tingkah. Bahkan Ryan pun masih salah tingkah jika berdekatan dengan Laura.
Makan malam itu sangat berkesan bagi Ryan dan Laura. Renaldi menyiapkannya dengan sangat baik malam ini.
Makan malam di dekat pantai ditemani dengan suara deburan ombak dan banyaknya lilin yang mengelilingi mereka menambah keindahan dan keromantisan suasana malam ini.
Setelah makan malam mereka selesai, Renaldi kembali membahas tentang kerja sama mereka. Pembicaraan mereka sama sekali tidak membosankan. Selalu saja ada candaan yang disematkan oleh Renaldi, hingga waktu pun tidak terasa sudah tengah malam.
Renaldi melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Kemudian dia berkata,
"Sudah sangat malam. Lebih baik kita akhiri saja pembicaraan ini. Saya yakin jika Pak Ryan mengerti tanpa harus saya jelaskan."
Renaldi beranjak dari duduknya. Tiba-tiba dia teringat sesuatu dan berkata,
"Ah iya… Jika kalian masih ingin berada di sini, silahkan saja. Di sini Pak Ryan bisa berjalan-jalan menikmati suasana malam di pantai ini."
Seketika Ryan menoleh ke arah Laura. Begitu pula dengan Laura, dia menoleh ke arah Ryan. Tatapan mata mereka saling terkunci sehingga membuat mereka saling menatap.
"Ehemmm… Saya permisi dulu. Selamat malam," ucap Renaldi membuat Ryan dan Laura seketika tersadar.
"Silahkan Pak. Terima kasih atas semuanya," tukas Ryan sambil tersenyum pada Renaldi.
Renaldi tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Setelah itu dia meninggalkan tempat tersebut dengan sekretarisnya.
Kini, di tempat tersebut hanya ada Ryan dan Laura. Mereka berdua merasa canggung dan salah tingkah. Entah apa yang terjadi sehingga mereka berdua bersikap malu-malu dan salah tingkah ketika bersama.
__ADS_1
"Mau jalan-jalan di sini sebentar?" tanya Ryan dengan sedikit gugup pada Laura.
"Emmm… Apa tidak terlalu malam untuk berjalan-jalan Pak?" tanya Laura yang berniat menolak tapi tidak berani mengatakannya.
Ryan melihat sekitar pantai tersebut. Kemudian dia tersenyum dan tangannya menunjuk ke arah bulan seraya berkata,
"Kapan lagi kita bisa menikmati sinar rembulan yang ada di pantai ini?"
Laura mengikuti arah telunjuk Ryan. Dia pun tersenyum melihat keindahan bulan pada malam itu. Kemudian dia berkata,
"Indah sekali."
"Ayo kita menikmatinya selama masih bisa," tutur Ryan sambil tersenyum pada Laura.
Laura pun mengangguk setuju disertai matanya yang berbinar memperlihatkan kebahagiaannya.
Mereka berdua berjalan menyusuri suasana pantai di malam hari yang begitu sunyi dengan suara deburan ombak yang sangat menenangkan.
Ryan dan Laura sangat menikmati indahnya pantai pada malam ini. Mereka berdua duduk di sekitar pantai dengan menatap langit malam yang penuh akan bintang.
Sinar rembulan yang ditemani oleh gemerlap cahaya bintang membuat suasana malam yang semakin indah dan romantis saat itu.
Mereka berdua sama-sama berandai-andai dalam pikirannya. Andai saja mereka berdua berada di tempat ini bersama dengan pasangan masing-masing, pasti akan sangat menyenangkan dan pasti akan sangat berkesan.
Angin malam menerpa kulit mulus Laura yang tidak terbungkus pakaian. Dia mengusap-usap kedua lengannya untuk mengurangi hawa dingin yang menusuk di kulitnya.
Ryan segera melepaskan jas yang dipakainya dan memakaikannya pada Laura seraya berkata,
"Pakailah, agar kamu tidak kedinginan."
Laura menatap Ryan yang juga menatapnya ketika memakaikan jas tersebut pada bahu Laura. Mata mereka berdua kembali beradu.
"Ehmmm… Terima kasih Pak," ucap Laura dengan sedikit gugup.
Ryan pun salah tingkah. Dia melihat ke lain arah dan berkata,
Laura pun menganggukkan kepalanya. Dia segera beranjak dari duduknya seraya berkata,
"Mari Pak kita ke dalam sekarang."
Ryan pun tersenyum dan segera beranjak dari duduknya. Mereka berjalan bersama dan beriringan menuju resort.
Tanpa sengaja Renaldi mengetahui mereka berjalan bersama ketika masuk ke dalam resort tersebut. Dia tersenyum seraya berkata,
"Mereka berdua sangat serasi. Sayang sekali jika mereka tidak bisa bersama."
Laura memberikan jas yang dipakaikan oleh Ryan padanya sebelum mereka masuk ke dalam kamar mereka masing-masing.
"Capek sekali badanku," ucap Laura sambil memijat-mijat kakinya.
Setelah Laura mengganti pakaiannya dengan piyama, dia segera merebahkan badannya di atas ranjang tanpa melihat ponselnya yang sedari tadi tergeletak di meja kamarnya.
Malam itu Laura tertidur dengan nyenyaknya karena merasakan badannya yang terlalu lelah.
Begitu pula dengan Ryan. Tadinya dia tidak bisa memejamkan matanya karena selalu terbayang wajah cantik Laura malam ini. Akan tetapi badan lelahnya itu berhasil membuatnya lelap dalam tidurnya.
...----------------...
Pagi pun menyapa. Laura segera membersihkan badannya karena dia mengingat jika ada pertemuan lanjutan dengan Renaldi pagi ini.
Dengan memakai baju sporty yang diberikan oleh Renaldi kemarin, kini Laura seolah menjelma menjadi seorang gadis yang akan berolahraga pagi.
Tok… tok… tok…
"Laura… Ayo kita berangkat sekarang!"
__ADS_1
Terdengar suara Ryan yang memanggil Laura sambil mengetuk pintu kamar tersebut.
Laura yang sedang memperhatikan penampilannya di depan cermin pun segera menyudahi kegiatannya itu ketika mendengar suara Ryan.
Dengan segera Laura membuka pintu kamarnya. Mereka berdua saling menatap penampilan orang yang ada di hadapannya. Mereka sama-sama terpukau melihat penampilan orang yang ada di hadapannya.
Ryan kembali terpukau melihat penampilan Laura yang bergaya sporty kali ini. Bahkan orang lain akan mengira jika Laura masih gadis saat ini.
Begitu pula dengan Laura. Dia terkejut melihat penampilan Ryan saat ini. Selama dia bekerja dengan bosnya itu, Laura tidak pernah melihat Ryan berpenampilan sporty seperti saat ini. Dan tentunya Ryan terlihat lebih muda dari usianya saat ini.
"Ayo kita berangkat sekarang. Pasti Pak Renaldi sudah menunggu kita," ucap Ryan dengan sedikit gugup.
"Iya Pak, mari," tukas Laura yang juga terlihat gugup seperti Ryan.
Mereka berdua segera berjalan menuju taman resort tersebut untuk menemui Renaldi.
"Selamat pagi Pak Ryan," sapa Renaldi ketika Ryan dan Laura baru saja sampai di tempat itu.
"Pagi Pak. Maaf kami terlambat," tukas Ryan dengan wajah sungkannya.
"Tidak Pak. Bapak tidak terlambat. Hanya saja saya yang terlalu cepat datang ke taman ini," ujar Renaldi sambil terkekeh.
Renaldi memandang Ryan dan Laura dengan tatapan kagumnya. Lagi-lagi dia dibuat kagum oleh bos dan asistennya itu.
"Wow… Kalian benar-benar seperti pasangan remaja yang sedang berolahraga bersama," canda Renaldi sambil terkekeh.
Hal itu membuat Laura dan Ryan menjadi sedikit malu. Mereka saling menatap dan membenarkan dalam hati jika orang yang sedang ditatapnya memang seperti yang dikatakan oleh Renaldi.
"Bapak bisa saja. Mari kita mulai Pak," ujar Ryan untuk mengalihkan pembicaraan Renaldi mengenai dirinya dan Laura.
Mereka pun berjalan bersama sambil membicarakan proyek mereka tentang arena olahraga yang akan dibangun di sana. Tentu saja dengan konsep dari Ryan yang menggunakan konsep unik dan bernuansa alam.
Setelah itu mereka sarapan bersama dan kembali membicarakan proyek mereka sesudahnya. Pekerjaan kali ini sangat membutuhkan banyak waktu karena mencocokkan hasil ide dari Ryan dengan kemauan dari Renaldi.
Tanpa terasa pertemuan kerja sama mereka berakhir seusai makan siang. Renaldi pamit undur diri pada mereka setelah makan siang. Sedangkan Ryan dan Laura akan meninggalkan tempat itu setelah mereka menyelesaikan pekerjaan mereka.
Sore pun menyapa. Ryan dan Laura segera meninggalkan tempat tersebut. Di dalam mobil pun mereka masih saja terpesona akan pemandangan luar yang menyuguhkan indahnya matahari yang sedang terbenam.
Tiba-tiba Laura teringat akan ponselnya yang tidak disentuhnya sejak berada di resort tersebut. Dia segera mengambil ponsel dari tasnya.
Laura menghela nafasnya ketika mengetahui ponselnya dalam keadaan mati. Dalam hati dia berkata,
Aku sibuk sekali sampai melupakan HP ku.
"Laura, tolong lihat schedule saya untuk besok," perintah Ryan sambil mengemudikan mobilnya.
"Maaf Pak, HP saya mati. Apa saya bisa meminjam laptop milik Bapak?" tanya Laura dengan sungkan.
"Ambil saja di kursi belakang," jawab Ryan tanpa menoleh ke arah Laura.
Laura segera memasukkan ke dalam kantong ponsel miliknya. Kemudian dia meletakkan tas miliknya pada kursi yang berada di belakangnya dan dia mengambil laptop milik Ryan.
Laura segera membacakan schedule milik Ryan setelah dia mengakses dokumen miliknya dari laptop Ryan.
Selang beberapa saat, tepatnya hari sudah mulai menjadi gelap, mobil yang mereka tumpangi masuk ke dalam halaman rumah Laura.
Setelah Laura turun dari mobil tersebut, Ryan segera melajukan mobilnya menuju rumahnya.
Dengan cepatnya mobil tersebut melaju hingga rumah Ryan.
Dahi Ryan mengernyit melihat sesuatu yang ada di sebelah tasnya. Dia pun berkata,
"Bukankah ini tas Laura?"
"Bisa-bisanya dia melupakan tasnya," sambung Ryan sambil terkekeh.
__ADS_1
"Apa aku harus mengembalikan tas ini sekarang juga?"