
Dengan santainya Laura membuka pintu rumahnya. Seketika dia tegang karena pintu rumahnya tidak bisa dibuka.
"Ke mana Mas Arsenio pergi? Kenapa di hari liburnya dia tidak berada di rumah? Apa dia benar-benar sedang bersama dengan wanita genit itu?" gerutu Laura sambil menggerakkan tangannya untuk merogoh tasnya.
"Loh, di mana tasku?" ucap Laura panik sambil melihat badannya.
Seketika dia lemas karena mengingat jika tasnya masih berada di dalam mobil Ryan.
"Ck, Laura… Laura… Kamu masih saja ceroboh," gerutu Laura merutuki kebodohannya.
Dengan lemasnya dia berjalan menuju tanaman hias yang berada tidak jauh dari teras rumahnya. Diambilnya kunci cadangan yang sengaja diletakkannya di bawah pot bunga tersebut untuk berjaga-jaga jika mereka berdua kehilangan kunci yang masing-masing mereka pegang.
"Untung saja aku meletakkan kunci di sini," ujar Laura diiringi helaan nafasnya.
Segera dia membuka pintu rumahnya menggunakan kunci tersebut. Dia kembali menghela nafasnya ketika masuk ke dalam rumahnya yang terasa sangat sepi layaknya rumah yang lama tidak berpenghuni.
Dinyalakannya semua lampu di semua ruangan. Dia menatap sekelilingnya yang terasa hampa saat ini.
"Sudahlah, aku lelah. Lebih baik aku membersihkan diri saja sekarang," ujar Laura dengan lemas berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Di lain tempat, Arsenio sedang marah-marah karena tidak bisa menghubungi istrinya sejak kemarin. Bahkan titik lokasi keberadaannya pun tidak berubah. Berkali-kali dia mengecek keberadaan istrinya itu dan tetap saja titik lokasi keberadaannya masih berada di resort yang sama.
Namun, ada secercah rasa lega dalam hatinya ketika mendapati titik keberadaan Laura yang bergerak ke arah pulang.
Sayangnya rasa lega tersebut tidak bertahan lama. Dia harus kembali merasa kecewa karena melihat titik keberadaan istrinya berada di kawasan perumahan elit yang diketahuinya sebagai rumah Ryan.
"Sial! Kenapa Laura tidak pulang? Kenapa dia malah berada di rumah bosnya? Sudah jam berapa ini? Apa dia mau menginap di sana?" tanya Arsenio dengan mata berkabut emosi menatap layar ponselnya.
Pikiran Arsenio semakin kacau setelah dokter mengatakan jika ibunya harus segera dioperasi. Keadaan ibunya yang tidak menentu itu membuat dokter yang menanganinya semakin was-was. Bahkan disaat keadaan lemasnya itu, ibu Arsenio masih saja memaksa untuk bisa melakukan kegiatannya merajut syal yang akan diberikannya pada anaknya.
Arsenio menatap ibunya yang sedang memejamkan matanya dan terbaring lemah di tempat tidur pasien. Tangannya mengacak-acak rambutnya secara frustasi dan berkata,
"Aku harus cepat mencari uang untuk membayar biaya perawatan rumah sakit dan operasi Ibu. Di mana aku harus mencarinya?"
Dipandanginya wajah damai ibunya ketika sedang tertidur. Sekelebat dia teringat pada Laura dan ibunya. Kemudian dia berkata lirih,
"Mungkin ini yang dirasakan oleh Laura waktu itu."
Arsenio merasa bersalah atas sikapnya waktu itu sehingga dia tidak mengetahui saat ibu mertuanya itu meninggal dunia.
__ADS_1
Tanpa terasa Arsenio tertidur dalam posisi duduk di sebelah tempat tidur ibunya dengan kepalanya menempel pada tempat tidur ibunya.
Begitu pula dengan Laura. Dia tertidur di ranjangnya seorang diri ketika menunggu kepulangan suaminya.
Badannya benar-benar terasa lelah akhir-akhir ini. Dia merasa jika kondisi tubuhnya tidak seaktif ketika dia bekerja di dunia entertainment.
Namun, Laura tidak pernah ambil pusing dengan keadaannya. Baginya dia harus bisa secepatnya menjalankan misinya dan bisa mendapatkan semua hadiah uang tersebut untuk membayar hutang-hutang ibunya dan juga Arsenio, suaminya.
...----------------...
Terdengar suara kokok ayam yang disertai terbitnya matahari, layaknya suara alarm yang menandai datangnya pagi hari.
Mata Laura mengerjap secara perlahan terbuka menyesuaikan binar cahaya yang masuk ke dalam retina matanya.
"Sudah pagi," ucap Laura dengan suara seraknya.
Dia menoleh ke arah sampingnya dan tidak menemukan sosok suaminya di sana. Kemudian dia berkata,
"Apa Mas Arsenio tidak pulang semalam?"
Segera disibaknya selimut yang menutupi tubuhnya. Dia beranjak dari tidurnya dan mencari suaminya ke seluruh ruangan yang ada di rumahnya.
Namun, keadaan rumah sama seperti semalam. Sunyi dan sepi dirasanya.
Tiba-tiba dia teringat jika hari ini bukan merupakan hari libur. Dia harus bekerja hari ini.
Dilihatnya jam yang menggantung di dinding. Kemudian dia berkata,
"Sudah jam segini, aku harus segera berangkat bekerja."
Laura segera membersihkan dirinya dan bersiap-siap untuk berangkat bekerja.
Beep… Beep… Beep…
Terdengar suara klakson mobil yang berada di depan rumahnya.
"Siapa sih pagi-pagi begini sudah ribut?" gerutu Laura yang sedang merapikan penampilannya di depan cermin.
Laura segera berlari kecil menuju depan rumahnya untuk melihat mobil tersebut.
__ADS_1
"Bu Laura, saya diperintahkan oleh Pak Ryan untuk menjemput Ibu karena mobil yang biasa digunakan Ibu sedang berada di rumah Pak Ryan," ucap sopir mobil tersebut pada Laura.
"Sebentar Pak, saya ambil tas dulu di dalam," ujar Laura setelah mendengar apa yang dikatakan oleh sopir tersebut.
Laura berjalan cepat menuju kamarnya untuk mengambil tasnya. Sesampainya di dalam kamarnya, dia menghela nafasnya ketika menyadari jika tas yang biasa dibawanya tertinggal di dalam mobil Ryan kemarin malam.
"Ck, bodoh sekali kamu Laura. Sudahlah, aku membawa tas lainnya saja," ujar Laura seraya mengambil tas di lemarinya.
Dengan tergesa-gesa Laura keluar dari kamarnya dan meninggalkan ponselnya di meja yang berada di dekat tempat tidurnya.
Langkah kaki Laura terhenti ketika melihat mobil Arsenio memasuki halaman rumah mereka.
"Semalam ke mana saja Mas sampai tidak pulang ke rumah?" tanya Laura ketika Arsenio keluar dari mobilnya.
"Bukannya kamu juga tidak pulang kemarin?" sahut Arsenio berganti tanya pada istrinya.
Bahkan tadi pagi aku melihat lokasimu masih berada di rumah Ryan, Arsenio berkata dalam hatinya.
Laura mendekati suaminya. Dia menatap mata suaminya dan berkata lirih dengan menekankan setiap katanya,
"Kami sedang meninjau lokasi proyek, sehingga kami harus menginap untuk mengetahui suasana di sana pada pagi hari hingga malam hari, terlebih pada saat high season. Lagi pula aku sudah menghubungimu berkali-kali, tapi tidak bisa. Nanti saja kita bicarakan hal ini. Aku sudah telat. Sopirnya sudah menunggu."
Bohong. Berani sekali kamu berbohong padaku Laura, gerutu Arsenio dalam hatinya.
Setelah mengatakan hal itu, Laura segera berjalan cepat masuk ke dalam mobil yang telah menjemputnya dan meninggalkan Arsenio berdiri mematung melihat kepergiannya.
Arsenio menghela nafasnya melihat kepergian istrinya yang sekali lagi meninggalkannya.
"Astaga… aku lupa membicarakan tentang uang tabungan yang akan aku pinjam untuk biaya perawatan Ibu," ucap Arsenio yang baru saja teringat akan ibunya.
Arsenio melihat jam yang melingkar di tangan kanannya. Kemudian dia berkata,
"Sebaiknya aku segera menyelesaikan kerja sama dengan perusahaan RAZ agar Pak Alberto segera memberikan sisa uang yang dijanjikannya," sambung Arsenio kembali.
Dengan segera dia masuk ke dalam rumahnya dan membersihkan badannya. Setelah itu dia bersiap-siap untuk berangkat bekerja.
Ketika dia memakai dasinya, tiba-tiba saja pandangan mata Arsenio tertuju pada ponsel Laura yang tergeletak di atas meja.
Dengan rasa penasaran, diambilnya ponsel tersebut dan dinyalakannya ponsel tersebut.
__ADS_1
Diletakkannya kembali dengan kasar ponsel tersebut di atas meja tadi seraya berkata,
"Sial! Baterainya habis. Apa karena ini Laura meninggalkan HP nya di rumah? Atau mungkin dia mempunyai HP lain tanpa sepengetahuanku?"