
Arsenio terbelalak melihat bagian dalam mobilnya. Box besar yang bertuliskan PS5 itu membuat bibirnya melengkung ke atas.
"Sayang, ini…," ucap Arsenio dengan tatapan tidak percaya dan menunjuk bagian dalam mobilnya.
Laura menyingkirkan suaminya. Dia mengambil box tersebut dan meletakkannya di jok belakang. Kemudian dia duduk di kursi sebelah pengemudi.
Arsenio yang masih berdiri di pintu mobil Laura seketika terhenyak ketika istrinya itu mengatakan sesuatu padanya.
"Kenapa masih di sini? Aku lapar, cepatlah cari restoran lain," tukas Laura tanpa menoleh ke arah suaminya.
Arsenio segera menutup pintu mobil tersebut dan berjalan memutar untuk masuk ke dalam mobil tersebut.
Setelah duduk di kursi pengemudi, dengan segera dia melajukan mobilnya meninggalkan parkiran restoran tersebut.
Laura hanya duduk dan menghadap lurus ke arah jalanan. Dia enggan berbicara pada suaminya. Hatinya masih sakit mengingat apa yang dilihatnya di restoran tadi.
"Sayang, kita akan makan di mana?" tanya Arsenio sambil sedikit melirik ke arah istrinya.
"Terserah. Perutku sudah sangat lapar karena menunggu suami yang tidak membalas pesan ataupun menjawab panggilan teleponku," jawab Laura dengan sinisnya.
"Apa kamu mengirim pesan dan meneleponku? Maaf, aku tidak tau. Aku belum memeriksanya," sahut Arsenio dengan perasaan bersalah.
Laura menyeringai mendengar perkataan suaminya. Kemudian dia berkata,
"Bagaimana kamu bisa tau Mas jika kamu sedang sibuk dengan perempuan yang sedang menyuguhkan dadanya padamu."
Seketika Arsenio merasa tertohok. Dia benar-benar dalam situasi terpojok sekarang ini.
Gawat jika dia marah lagi. Padahal Laura baru saja memaafkan ku. Jangan sampai dia marah lagi padaku, Arsenio berkata dalam hatinya.
"Sayang, maafkan aku. Kejadiannya tidak seperti yang kamu lihat. Aku bisa menjelaskan semuanya. Tiba-tiba saja Pak Alberto mendatangiku dan mengajakku makan siang bersama keponakannya. Dan aku tidak bisa menolaknya. Memang benar Kessy selalu menempel padaku, tapi aku sudah mencoba menjauhkannya dariku. Tapi aku tidak bisa melakukan lebih dari itu karena Kessy merupakan keponakan dari Pak Alberto. Kamu mengerti posisiku kan?" jelas Arsenio yang terlihat mengiba pada istrinya.
Laura semakin kesal pada suaminya yang tidak bisa tegas meskipun di hadapan atasannya. Dengan kesalnya dia berkata,
"Tapi paling tidak kamu bisa membalas pesanku! Kamu juga bisa menjawab panggilan teleponku! Bilang saja kamu tidak mau diganggu karena dipepet dada perempuan tidak tau diri itu."
Tiba-tiba di hadapan Laura terlihat panel yang selalu dijumpainya ketika memberikan misi padanya.
__ADS_1
Di sana tertulis kata yang menggunakan huruf kapital dengan ukuran yang besar dan berwarna, sehingga Laura bisa dengan jelas membacanya meskipun dari jarak yang jauh.
'WARNING'
Seketika Laura teringat akan misinya yang memintanya untuk memaafkan suaminya. Dia juga teringat akan tambahan misinya untuk mengabulkan keinginan suaminya yaitu menghabiskan malam di tempat yang diinginkan suaminya.
Arsenio meminggirkan mobilnya dan berhenti di sana. Kedua tangannya menggenggam kedua tangan istrinya dan menatap intens mata istrinya dengan tatapan penuh kesungguhan seraya berkata,
"Maafkan aku Sayang. Aku benar-benar tidak tau jika ada pesan atau telepon di HP ku. Aku tidak merasakan apa pun dalam sakuku."
Laura menghela nafasnya. Dia harus kembali mengalah pada suaminya. Dalam hati dia berkata,
Sudahlah Laura, maafkan saja dia dan segera penuhi tugasmu untuk menjalankan misi itu. Setelah semua selesai, kamu bisa memikirkan hatimu.
Laura tersenyum meskipun dia memaksakannya. Matanya sedikit berkaca-kaca mengingat sakit hatinya.
"Apa kita jadi bermalam di suatu tempat?" tanya Laura untuk mengalihkan pembicaraan mereka.
Seketika mata Arsenio berbinar. Dia tidak mengira jika istrinya bisa memaafkannya dengan begitu mudahnya.
"Ayo kita berangkat setelah kita makan siang. Tapi sepertinya aku harus mengambil tas kerjaku yang masih tertinggal di ruanganku."
"Suruh saja Rendi mengantarkan ke restoran tempat kita makan," ucap Laura dengan santainya.
"Kamu pintar Sayang," ujar Arsenio sambil tersenyum senang.
Dia mencium kedua tangan istrinya dan mencium dahinya dengan sangat lembut dan penuh perasaan, hingga Laura merasakan kesungguhan cinta suaminya.
Hati Laura sedikit tenang setelah perlakuan Arsenio padanya. Dia yakin jika suaminya itu tidak berniat untuk berselingkuh darinya. Hanya saja sikap tidak tegasnya pada perempuan di sekitarnya itu membuat Laura menjadi kesal dan marah, karena mereka semua mengambil kesempatan dari sikap Arsenio itu.
Arsenio segera melajukan kembali mobilnya. Dia mengarahkan mobilnya menuju restoran yang berada di sekitar wilayah itu.
Setelah mereka sampai di sebuah restoran dan memesan makanan, Arsenio segera menghubungi Rendi dan memerintahkannya agar membawakan tasnya ke tempat tersebut.
Selang beberapa saat, Rendi datang dengan membawa tas kerja Arsenio. Kedatangan Rendi bertepatan dengan Arsenio dan Laura yang sedang menyantap makan siang mereka.
Arsenio dan Laura meminta Rendi untuk bergabung makan siang dengan mereka, sayangnya Rendi sangat tahu diri. Dia menolak permintaan mereka karena tidak ingin mengganggu acara makan berdua sepasang suami istri itu.
__ADS_1
Dengan segera dia berpamitan untuk kembali ke kantornya. Arsenio pun tidak bisa memaksanya. Dia mengijinkan Rendi kembali ke kantor.
Setelah menghabiskan makan siang mereka, Arsenio segera mengajak Laura untuk pergi ke suatu tempat yang sangat indah untuk mewujudkan keinginannya.
Laura hanya menurut tanpa banyak bertanya pada suaminya. Dia hanya ingin misinya cepat selesai dan bisa kembali pada kehidupannya semula, tanpa terikat oleh misi yang diberikan padanya.
Tiba di lokasi, mata Laura dimanjakan oleh suasana di tempat itu. Suasana alam dan pemandangan yang disuguhkan padanya membuat mood nya semakin membaik.
Deburan ombak serta semilirnya angin membuat Laura terasa hidup kembali, tanpa memikirkan semua permasalahan yang ada di hidupnya.
Arsenio memeluk tubuh istrinya dari belakang. Tangannya memeluk erat pinggang istrinya dari belakang dan mengecup tengkuk istrinya. Kemudian dia berkata,
"Bagaimana Sayang? Indah bukan? Aku yakin, kamu pasti menyukainya."
Pemandangan di balkon resort itu sangatlah indah dan mempesona mata Laura. Dia tersenyum senang dan menganggukkan kepalanya menanggapi pertanyaan yang diberikan suaminya padanya.
"Apa kamu mau jalan-jalan terlebih dahulu? Atau mau beristirahat dahulu?"
Pertanyaan yang diberikan Arsenio pada Laura itu merupakan isyarat bagi Laura. Dia mengerti jika Arsenio menginginkannya saat ini. Terlebih suasana di resort tersebut sangatlah mendukung.
Tanpa berpikir panjang lagi, Laura segera melancarkan aksinya. Tangannya melingkar pada leher suaminya dan dia berjinjit untuk menjangkau bibir suaminya.
Bibir mereka saling bertautan. Mereka berciuman sambil berjalan masuk menuju ranjang. Ciuman itu semakin panas dan menuntut, hingga mereka terbawa oleh suasana.
Sentuhan-sentuhan yang diberikan oleh Laura mampu membangkitkan sesuatu dalam diri Arsenio. Keinginannya untuk melakukan hubungan suami istri itu semakin menggelora.
Mereka saling bergantian memberikan sentuhan sebagai pemanasan. Dan saat itu pun tidak bisa ditunda lagi. Arsenio menyatukan milik mereka disertai dengan perasaan cinta mereka dan berharap agar benih yang ditanamnya akan segera tumbuh menjadi bayi yang sangat mereka harapkan.
"Terima kasih Sayang. Aku sangat mencintaimu," bisik Arsenio di telinga Laura setelah mereka melakukan ritual mereka.
Laura tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dia memejamkan matanya dan mencari tempat ternyaman saat suaminya membawanya dalam dekapannya.
Dia menyandarkan kepalanya di dada suaminya. Tempat terhangat dan ternyaman baginya. Detak jantung suaminya menjadi melodi tersendiri baginya. Dan dia sangat menyukai itu.
Tok… tok… tok…
"Arsenio…! Arsenio…! Buka pintunya!"
__ADS_1