
Laura tidak menyangka jika dia harus memberikan apa yang diinginkan oleh suaminya. Tadinya dia mengira jika misi yang didapatkannya kali ini sangatlah mudah, sayangnya misi saat ini sangat melelahkan untuk hatinya.
Arsenio menatap wajah istrinya setelah membisikinya. Dia ingin mengetahui reaksi istrinya. Kemudian dia berkata,
"Bagaimana? Pasti kamu sangat marah saat ini padaku."
Laura tersenyum getir mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Arsenio padanya. Dalam hatinya dia memang sangat marah sekali mendengar keinginan suaminya, terlebih lagi dia harus mengabulkannya. Hanya saja dia tidak bisa marah saat ini, bahkan dia harus mengabulkan keinginan suaminya demi menjalankan misinya.
"Tidak masalah jika aku bisa memberikannya. Asalkan Mas juga berjanji akan menuruti semua keinginanku," jawab Laura sambil memaksakan senyumnya.
Dahi Arsenio mengkerut, dia merasa aneh dengan istrinya. Dalam hati dia berkata,
Apa maksudnya ini? Tadi dia bertanya padaku apa keinginanku, tapi sekarang dia seolah memaksaku agar mengabulkan semua keinginannya. Sudahlah, masa bodoh dengan semua itu. Aku ingin tau, apa dia mengabulkan keinginanku tadi?
"Apa itu?" tanya Arsenio menyelidik.
"Sekarang masih belum ada. Suatu saat nanti pasti ada. Dan jangan lupa akan janjimu tadi ketika meminta maaf padaku," jawab Laura sambil tersenyum semanis mungkin pada suaminya.
Arsenio mendekatkan wajahnya pada istrinya dan tersenyum padanya. Kemudian dia berkata,
"Tentu saja Sayang. Aku pasti melakukannya."
Arsenio membawa tubuh istrinya dalam pelukannya. Dia memeluk erat tubuh istrinya seolah dia tidak mau kehilangannya.
Setelah itu dia membawa tubuh istrinya berbaring dan tidur dalam dekapannya. Kini dia bisa tidur dengan nyenyak. Istrinya sudah memaafkannya dan dia sudah bisa tenang sekarang.
Lain halnya dengan Laura yang hanya mengikuti alur kehidupannya saja. Dia sudah terbiasa mengalah pada suaminya. Bahkan kini dia sudah tidak mempermasalahkan rasa sakit hatinya karena dia sudah terbiasa sakit hati oleh tingkah dan sikap suaminya yang mungkin saja dalam keadaan sadar atau tidak sadar ketika melakukannya.
Mata Laura pun terpejam untuk mengistirahatkan kembali tubuhnya agar bisa
melalui esok hari ketika menjalankan misinya.
...----------------...
Matahari pagi pun menyapa. Sepasang suami istri itu masih saja berpelukan. Mereka masih menikmati kebersamaan mereka.
__ADS_1
Laura sangat santai sejak dia tidak bekerja. Dia tidak lagi terburu-buru melakukan kegiatan paginya seperti biasanya. Kini dia benar-benar bersantai seolah menikmati hidupnya.
Mata Laura terbuka. Dia melihat wajah suaminya yang masih tertidur di hadapannya. Rasa kagum dan cinta pada suaminya kembali dirasakan Laura. Dia mengingat saat-saat mereka awal menikah. Mirip sekali dengan saat ini. Mereka tidur dengan saling berpelukan dan berhadapan tanpa jarak yang menghalangi mereka.
Namun, ingatan akan semua kesalahan yang dilakukan suaminya hingga saat ini, membuat Laura kembali kecewa dan menahan kekesalannya pada suaminya.
Diangkatnya secara perlahan tangan suaminya yang melingkar di pinggangnya. Kemudian dia mengangkat kaki suaminya yang menimpa kakinya.
Kemudian dia turun dari ranjangnya dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan badannya.
Setelah beberapa saat, dia keluar dari dalam kamar mandi dan membangunkan suaminya. Merasa suaminya sudah berhasil dibangunkan, Laura meninggalkannya untuk membuat sarapan pagi mereka.
"Kita lihat, apa masih ada bahan untuk membuat sarapan pagi ini?" ucap Laura sambil membuka lemari es.
"Sesuai dugaanku. Semua bahan habis tidak tersisa. Bahkan sayuran untuk membuat sandwich pun tidak ada," ujar Laura sambil menyeringai.
Laura melihat sekeliling dapur. Di sana hanya tersisa roti tawar saja. Dia mengambil roti tawar itu dan membawanya menuju meja makan seraya berkata,
"Untung saja masih tersisa roti tawar ini. Lebih baik memakan ini saja daripada tidak sama sekali."
Arsenio keluar dari dalam kamarnya. Dia tersenyum melihat Laura yang sedang mengoleskan selai kacang dan coklat pada roti tawar yang ada di tangannya.
"Pagi," sapa Arsenio ketika akan duduk di kursi yang ada di depan Laura.
Laura sekilas melihat ke arah suaminya. Kemudian dia meneruskan kegiatannya untuk mengolesi rotinya dengan selai seraya tersenyum dan berkata,
"Pagi Mas. Mobilnya akan aku pakai nanti. Aku akan mengantarkan mu berangkat bekerja pagi ini."
Arsenio menatap heran pada istrinya. Dia menerima piring yang berisi roti diberikan oleh istrinya seraya berkata,
"Tumben? Mau ke mana? Bukankah kamu sudah tidak bekerja?"
"Memang aku sudah resign. Aku tidak mau diperbudak oleh siapa pun," jawab Laura di sela kunyahan makannya.
"Bagus. Aku juga tidak terima jika mereka memperbudak mu tidak sesuai dengan aturan," sahut Arsenio sesudah menelan makanannya.
__ADS_1
Tapi tanpa kamu sadari, justru kamulah yang memperbudak ku Mas, Laura berkata dalam hatinya dan tersenyum getir menatap suaminya yang sedang asyik menikmati makanannya.
Setelah sarapan mereka selesai, Laura benar-benar mengantar suaminya bekerja. Dia menurunkan suaminya tepat di depan kantornya, seperti biasanya Arsenio mengantarkannya.
Mobil itu pun melaju meninggalkan kantor Arsenio setelah Laura melihat suaminya masuk ke dalam kantornya.
"Ayo Laura, lakukan misi tambahan mu dengan baik agar misi ini cepat selesai dan kamu segera mendapatkan hadiahnya," ucap Laura sambil mengemudikan mobilnya.
Kini mobil Laura melaju dengan santai membelah jalanan yang sedikit macet karena jam kerja. Dia melajukan mobilnya menuju pusat perbelanjaan terbesar di kota itu.
Tepat seperti pemikiran Laura. Waktu yang dihabiskannya pada saat macet dan jarak yang tidak dekat untuk menuju Mall tersebut membuat Laura datang tepat waktu. Dia sampai di Mall tersebut ketika Mall baru saja dibuka.
Dengan langkah beratnya, dia menuju counter yang menjual konsol game. Di sana menjual semua tipe konsol game, sehingga Laura bisa dengan mudahnya mendapatkan barang yang diinginkan suaminya.
Laura menghela nafasnya ketika memegang konsol game yang didisplay di toko tersebut.
"Kenapa aku harus membelikannya benda ini? Padahal benda ini membuat luka yang terdalam untukku," gumam Laura disertai helaan nafasnya.
Bagaimana Laura tidak membenci benda tersebut jika benda itu mengingatkannya akan kematian ibunya. Terlebih dia mengingat betapa menyebalkannya suaminya saat itu, sehingga dia akan memutuskan untuk bercerai.
Namun, kini dia harus membelikan benda itu sebagai kado ulang tahun suaminya untuk melaksanakan tugas dari misinya.
"Sudahlah, anggap saja ini karmaku ketika merusak miliknya saat itu," gumam Laura kembali yang terdengar sangat pasrah saat ini.
Laura kembali menghela nafasnya ketika menyerahkan kartu debit miliknya untuk membayar benda tersebut di kasir.
Setelah usahaku untuk mendapatkan uang ini, kenapa aku harus membeli barang terkutuk ini demi menyenangkan suamiku? Aku harap hadiahnya akan sepadan dengan uang yang aku keluarkan serta sakit hati yang aku rasakan, Laura berkata dalam hatinya sambil menunggu proses pembayaran yang dilakukan kasir tersebut.
Kini Laura membawa box tersebut setelah membayarnya. Dia menatap nanar pada box yang bertuliskan 'PS5' tersebut. Dia kembali menghela nafasnya sebelum berjalan meninggalkan toko yang menjadi surganya para gamers itu.
Dalam setiap langkahnya itu, Laura merasa kesal mengingat keinginan suaminya yang dibisikkannya semalam.
Aku menginginkan PS5 sebagai ganti PS5 milikku yang kamu hancurkan waktu itu. Dan aku juga menginginkan kita bisa menghabiskan malam kita di tempat yang indah sebagai ganti kegagalan rencana kita di puncak.
Tiba-tiba langkah kaki Laura dihalau oleh seseorang.
__ADS_1
"Hai, apa kamu masih mengingatku?"