
Laura kembali melihat di hadapannya ada sebuah panel yang selalu memberikan misi padanya.
Deborah yang sedang merapikan rambut Laura tetap asyik dengan kegiatannya. Tentu saja Deborah tidak melihat apa yang dilihat oleh Laura. Yang bisa melihat panel tersebut hanya Laura dan hanya dia seorang yang bisa membaca tulisan pada layar panel tersebut.
Apa itu benar-benar misi keenam? Tolong jangan sekarang. Aku sangat lelah sekali, Laura berkata dalam hatinya.
Entah mengapa semangatnya yang tadinya berapi-api kembali melemah. Menjalankan pekerjaan yang menguras waktu serta tenaganya dan menjalankan misi yang sangat membuatnya kewalahan. Dua hal itu sangat melelahkan baginya. Bahkan kadang merasa tidak sanggup dan ingin menyerah.
Namun, di saat dia kembali mengingat hutang-hutang ibunya, saat itu pula dia kembali bersemangat.
"Sudah selesai. Emmm… cantiknya. Kamu memang Laura kebanggaanku. Hanya kamu artis paling cantik yang pernah aku rias," ujar Deborah dengan gaya kemayunya.
Di kursi taman, Arsenio menunggu Laura sembari memainkan ponselnya. Dia terkejut melihat banyaknya panggilan tak terjawab yang tertera pada layar ponselnya. Tidak hanya itu saja, dia juga mendapatkan pesan masuk yang jumlahnya hampir sama dengan panggilan masuk yang tidak terjawab di ponselnya.
Arsenio membuka satu per satu pesan tersebut dan dia menyalahkan dirinya sendiri yang lupa memberi kabar pada rekan-rekannya untuk pulang terlebih dahulu tanpa dirinya.
Karena kelalaiannya itu rekan-rekan setimnya mencarinya untuk mengajaknya pulang bersama.
"Pasti mereka sangat khawatir padaku karena aku tidak membawa mobilku sendiri," ucap Arsenio yang merasa bersalah pada rekan-rekannya.
Setelah itu dia tersenyum malu dan berkata,
"Hanya karena berada di kamar bersama Laura saja bisa membuatku lupa akan pekerjaan dan rekan-rekanku."
Mata Arsenio kini terpanah oleh seseorang. Dia adalah perempuan yang menjadi kekasih hatinya selama ini. Pandangan matanya mengikuti ke mana pun perempuan itu pergi.
"Bagaimana bisa aku tidak terpedaya olehnya jika di dalam kamar dengan perempuan secantik itu," ujar Arsenio sambil terkekeh memuji istrinya.
Dia membalas pesan rekan-rekannya sambil sesekali melihat ke arah istrinya. Ada rasa cemburu pada laki-laki yang kini sedang berperan bersama dengan istrinya.
Laura memang sangat pandai membawa suasana menjadi nyaman dan tidak tegang. Bahkan antara Laura dengan laki-laki yang kini sedang berbincang bersamanya di depan kamera pun terlihat asyik dan tidak canggung sama sekali.
"Ck, dini hari pun dia masih tetap sangat cantik. Kenapa aku bisa melepasnya bekerja sendiri selama ini? Harusnya aku lebih hati-hati agar dia tidak mempunyai kesempatan berdekatan dengan laki-laki lain di luar kegiatan syutingnya," ucap Arsenio yang masih sibuk memperhatikan istrinya.
Arsenio masih setia menunggu istrinya yang sedang syuting selama beberapa jam. Hingga syuting itu berakhir, dia masih duduk di kursi taman dengan pandangan matanya yang tidak pernah lepas dari istrinya.
"Apa kita akan pulang sekarang Mas?" tanya Laura ketika duduk di sebelah Arsenio.
Arsenio tersenyum pada istrinya dan menggelengkan kepalanya seraya berkata,
__ADS_1
"Sebaiknya kita kembali ke kamar saja. Kita beristirahat terlebih dahulu. Lagi pula aku juga tidak membawa mobil."
Laura tersenyum dan menganggukkan kepalanya membenarkan perkataan suaminya. Setelah itu mereka beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamar yang tadi mereka tempati.
Demikian pula dengan kru yang lainnya. Semua memilih beristirahat dahulu di sana sebelum esok hari mereka kembali pulang dan bekerja.
Keesokan paginya, pada saat Laura sedang menunggu suaminya yang masih berada di dalam kamar mandi, dia kembali dihadapkan dengan benda yang memberinya misi.
Panel tersebut tepat berada di hadapannya. Di sana tertera jelas misi yang harus dikerjakannya.
'Membuat atasan suami menjadikannya orang kepercayaan'
"Bagaimana aku bisa melakukan itu? Bahkan atasannya saja aku tidak tau," gumam Laura disertai helaan nafasnya.
Suara pintu kamar mandi yang terbuka membuat Laura menghentikan pikirannya. Dia tersenyum melihat suaminya yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi.
Tiba-tiba terbersit dalam benak Laura untuk mencari tahu tentang atasan suaminya melalui suaminya.
Lebih baik aku tanya padanya saja, Laura berkata dalam hatinya.
Laura beranjak dari duduknya dan mendekati suaminya yang sedang berdiri di depan cermin merapikan bajunya.
Tangan Laura merapikan baju suaminya dan dan berkata,
Arsenio menatap lekat manik mata istrinya seraya berkata,
"Kenapa? Kamu masih ingin kita bersama lebih lama lagi?"
Laura tersenyum tanpa menjawab pertanyaan dari suaminya. Dia bingung untuk memulai bertanya tentang atasan suaminya.
"Sayangnya hari ini aku ada pertemuan dengan atasanku," sambung Arsenio sambil tangannya mengusap lembut pipi istrinya.
Seketika mata Laura berbinar mendengar kata atasan dari mulut suaminya. Dalam hati dia berkata,
Pasti ini ada kaitannya dengan pertemuan kali ini.
"Mmm… Sayang, apa pertemuan kali ini sangat penting?" tanya Laura mencoba mengawali rencananya untuk mencari tahu tentang atasan suaminya.
"Tentu saja. Jarang sekali dia mau bertemu langsung dengan kami. Semoga saja ada berita baik untukku," jawab Arsenio yang masih menatap intens manik mata istrinya.
__ADS_1
Laura tersenyum manis pada suaminya dan berkata,
"Pasti. Kamu pasti akan mendapatkan berita baik darinya."
Arsenio pun tersenyum mendengar ucapan istrinya. Sudah lama mereka tidak seperti saat ini. Banyak sekali hal yang membuat mereka semakin menjauh dan jarang bersama. Semuanya dikarenakan pekerjaan mereka yang menyita hampir semua waktu mereka berdua.
"Mmm… Apa atasan kamu itu tinggal di kota ini?" tanya Laura kembali.
Arsenio menganggukkan kepalanya seraya berkata,
"Iya. Dia tinggal di apartemen XYZ. Memangnya kenapa?"
"Tidak… Aku hanya bertanya saja. Apa dia tinggal bersama dengan keluarganya?" tanya Laura menyelidik.
Dahi Arsenio mengernyit mendengar pertanyaan dari istrinya. Kemudian dia berkata,
"Kenapa kamu menanyakan hal itu?"
Laura kembali tersenyum dan mengusap-usap dada bidang suaminya. Dia membuat pola abstrak di dada bidang suaminya itu. Kemudian dia berkata,
"Aku hanya ingin tau saja. Karena aku tidak ingin jika kita terpisah ketika kamu bekerja di luar kota."
Arsenio tersenyum dan kembali mengusap pipi istrinya seraya berkata,
"Istri dan anaknya tidak ikut karena pekerjaan istrinya ada di kota asalnya. Anaknya pun bersekolah di sana. Jadi dia sendirian tinggal di kota ini. Dan jika aku ditugaskan ke kota lain, aku tidak mau meninggalkanmu sendiri di kota ini. Karena aku takut jika istri cantikku ini akan terjerat oleh laki-laki lain."
Laura tersipu malu dan dia kembali berpikir untuk menanyakan banyak hal pada suaminya dengan tangannya yang masih membuat pola abstrak pada dada suaminya.
"Sayang, jika kamu seperti ini terus, aku tidak yakin bisa menahannya. Apa perlu kita menambah jam inap kita di sini?" tanya Arsenio dengan tatapan mata yang penuh harap pada istrinya.
Sontak saja Laura menghentikan gerakan tangannya. Dia bergerak sedikit menjauh dari suaminya.
"Sebaiknya kita berangkat sekarang. Bukankah Mas Arsen akan ada pertemuan penting? Lagi pula kita belum berganti pakaian di rumah," ujar Laura yang terlihat gugup.
Arsenio terkekeh dan melingkarkan tangannya pada pinggang istrinya serta mengajaknya keluar dari kamar tersebut.
Setelah beberapa saat, mereka akhirnya sampai di rumah. Setelah mengganti pakaiannya, Arsenio terburu-buru berangkat ke kantornya menggunakan taksi yang sudah menunggu di depan rumahnya.
"Aku harus mengikuti Mas Arsen untuk mencari tau atasannya," gumam Laura seraya tangannya bergerak lincah pada layar ponselnya untuk memesan taksi.
__ADS_1
Dari jauh Laura memperhatikan kantor suaminya. Dia membawa tas besar yang berisi perlengkapan yang dirasanya akan dipergunakannya nanti.
"Apa dia atasan Mas Arsen?"