
Demi bisa melakukan misinya, Laura harus menunggu di depan kantor suaminya dengan pakaian penyamarannya. Kini dia memakai celana jeans ripped dengan jaket hoodie oversize yang menutupi kepalanya, serta memakai kacamata hitam untuk melengkapi penyamarannya.
Dengan berbekal tas besar yang berisi perlengkapan menyamarnya itu Laura mengintai atasan suaminya dan menunggunya di tempat yang menurutnya aman.
"Lama dan melelahkan sekali mengintai seperti ini. Menyebalkan sekali rasanya harus menunggu hal yang belum pasti," gumam Laura disertai helaan nafasnya.
Beberapa detik kemudian keluarlah seorang pria yang berpenampilan sangat rapi dengan setelan jasnya.
Pria tersebut keluar dari kantor didampingi oleh Arsenio yang berjalan di sampingnya. Terlihat jelas mereka berbincang sebelum akhirnya pria tersebut masuk ke dalam mobilnya.
"Tidak salah lagi, pasti dia atasan Mas Arsenio. Aku harus mengikutinya," gumam Laura dengan mata yang berbinar.
Pas sekali ada sebuah taksi yang melaju ke arahnya. Laura segera menghentikan taksi tersebut dan menaikinya.
"Tolong ikuti mobil mewah itu Pak," perintah Laura pada sopir taksi tersebut.
Dengan lihainya sopir taksi tersebut bisa mengikuti mobil yang ditunjuk oleh Laura dari jarak yang aman.
Selang beberapa saat, mobil tersebut masuk ke dalam suatu bangunan yang pernah dikunjungi oleh Laura.
Pria yang diduga Laura sebagai atasan suaminya itu turun dari mobilnya dan masuk ke dalam bangunan megah itu.
Laura pun segera keluar dari taksi yang ditumpanginya setelah membayar taksi tersebut.
Dengan berjalan cepat Laura masuk ke dalam bangunan tersebut, berharap agar tidak kehilangan jejaknya.
"Untung saja aku sudah pernah ke sini, jadi aku tau seluk beluk tempat ini," gumam Laura seiring langkah kakinya.
Tempat ini merupakan resort megah yang terkenal dengan lapangan golf nya. Lapangan golf di sana sangat luas dengan pemandangan alam yang sangat indah, sehingga menambah nilai tersendiri dari resort tersebut.
Laura memang pernah memandu acaranya di tempat itu. Tidak heran jika dia mengetahui persis seluk beluk dari resort tersebut.
Langkah kaki Laura dengan cepatnya membawa dirinya menuju ruang penyimpanan pakaian golf yang biasanya tersedia di sana.
Kini Laura sudah berganti pakaian mengenakan pakaian golf. Dia memakai wig pendek berwarna ash brown dengan tahi lalat kecil di bawah matanya. Setelah itu dia mengeluarkan perlengkapan make up yang dibawanya dan merias wajahnya dengan keahliannya yang bisa mengubah wajahnya sedikit berbeda.
"Untung saja aku membawa semua perlengkapan ini. Ternyata semuanya berguna. Dan beruntungnya aku, karena telah mempelajari teknik make up ini dari Deborah. Lumayan juga, ini bisa merubah garis wajahku," gumam Laura yang sedang mengaplikasikan make up pada wajahnya.
__ADS_1
Setelah selesai dengan penyamarannya, Laura memasukkan kembali semua peralatannya ke dalam tas yang dibawanya dan menyimpan tas tersebut di tempat yang menurutnya aman.
Dengan sangat waspada dan hati-hati dia keluar dari tempatnya berganti baju dan berjalan menelusuri semua bagian dari tempat itu untuk mencari pria yang diyakininya sebagai atasan suaminya.
Mata Laura berbinar ketika menemukan sosok pria yang dicarinya. Pria tersebut sudah berganti pakaian dan bersiap dengan stick golf nya berdiri dari tempat duduknya.
Laura dengan gaya jalan lenggak-lenggoknya menghampiri pria tersebut dan berdiri di sebelahnya.
"Maaf Pak, apa boleh saya meminjam salah satu dari stick golf milik Bapak?" tanya Laura dengan sangat sopan dan memberikan senyuman manisnya pada pria tersebut.
Pria tersebut menoleh ke arah Laura yang kini berdiri di sebelahnya. Dia menatap Laura dari atas hingga bawah, seolah menjelajahi tubuh Laura dengan matanya.
Pria tersebut tersenyum pada Laura dan berkata,
"Silahkan pakai yang ini."
Pria tersebut memberikan stick yang dipegangnya pada Laura. Dengan senyuman menawannya, Laura menerima stick tersebut seraya berkata,
"Terima kasih Pak… Mmm… saya harus memanggil apa?"
Pria itu terkekeh mendengar pertanyaan Laura. Kemudian dia berkata,
Laura mengulurkan tangannya pada pria yang memperkenalkan dirinya bernama Alberto itu dan tersenyum sangat manis padanya seraya berkata,
"Nama saya Tiara."
Alberto menyambut uluran tangan Laura dan berkata,
"Nama yang indah, secantik orangnya."
Laura tersenyum menanggapi pujian dari Alberto. Dalam hatinya berkata,
Bagus Laura, dia sudah mulai masuk perangkapmu. Tidak akan ada yang bisa menolak pesona wanita cantik.
"Ayo kita main bersama," ajak Alberto pada Laura untuk berjalan bersamanya menuju course yang akan dimainkan oleh Alberto.
Pria itu mengayun stick golf nya dan berhasil memukul bola golf yang ada di hadapannya. Sayangnya bola tersebut tidak berhasil masuk ke dalam hole dan hanya berjarak beberapa sentimeter saja dari hole yang dituju.
__ADS_1
Laura menahan senyumnya, dalam hati dia berkata,
Sayang sekali Pak, anda gagal keren di hadapan wanita cantik ini.
Kini Laura mengambil alih tempat Alberto. Dia bersiap untuk memukul bola golf yang ada di hadapannya saat ini.
Tepukan tangan dari mereka membuat Laura bangga akan kerja kerasnya dalam berlatih selama ini. Bola golf yang dipukul oleh Laura itu berhasil masuk ke dalam hole sehingga dia mendapatkan poin hole-in-one.
Laura tersenyum lebar, dia bangga bisa mengalahkan Alberto di course tersebut.
"Kamu memang luar biasa," ucap Alberto sambil mengusap punggung Laura.
Laura merasakan maksud lain dari usapan tangan Alberto pada punggungnya. Dia menoleh ke arah Alberto dan benarlah dugaan Laura, Alberto mengedipkan sebelah matanya pada Laura.
Gawat, sepertinya dia benar-benar tertarik padaku. Dan akan sangat gawat sekali jika dia menginginkanku. Aku harus bergerak cepat dan mencari cara untuk menolak keinginannya, Laura berkata dalam hatinya seraya tersenyum manis pada Alberto.
"Ayo kita lanjutkan," ajak Alberto sambil memegang pundak Laura yang menyamar dengan nama Tiara.
Mereka berjalan menuju course selanjutnya dan bermain golf dengan suasana yang menyenangkan.
Alberto terlihat senang dengan kehadiran Tiara bersamanya. Dan dia juga terlihat sangat tertarik pada sosok Tiara.
"Apa kamu tinggal di resort ini?" tanya Alberto pada Tiara ketika duduk beristirahat dengan aneka macam kue dan minuman yang tersaji di meja depan mereka.
Laura yang menyamar menjadi Tiara berpikir dengan cepat. Dia tidak mau jika rencananya gagal begitu saja.
"Rencananya seperti itu," jawab Tiara seraya tangannya mengambil piring yang berisi slice cake red velvet untuk menyamarkan kegugupannya.
"Apa kita bisa bersama malam ini?" tanya Alberto sambil menatap penuh minat pada Tiara.
Uhuuuk… uhuuuk…
Sontak saja Tiara tersedak mendengar pertanyaan dari Alberto. Apa yang diduganya kini benar terjadi.
Apa yang akan aku lakukan sekarang? Aku harus segera mencari cara untuk lebih mendekatinya dan merayunya agar menjadikan Mas Arsenio menjadi orang kepercayaannya, Laura berkata dalam hatinya.
Alberto mendekatkan kursinya pada kursi Tiara dan berbisik di telinga Tiara,
__ADS_1
"Bagaimana? Apa kita bisa bersenang-senang nanti malam?"