
Ryan benar-benar membuktikan keseriusannya. Dia menikahi Laura pada hari yang sama dengan hari pernikahan Arsenio dengan Kessy.
Bukan karena untuk menyaingi mereka, hanya saja Ryan dan Laura enggan menghadiri pesta pernikahan Arsenio dan Kessy yang menjadi sumber luka hati bagi Laura.
Pesta yang begitu mewah dan elegan mampu mengambil perhatian semua orang. Ditambah lagi semua stasiun televisi dan media sosial menayangkan secara langsung pesta pernikahan tersebut. Sungguh anugerah bagi Laura bersuamikan seorang Ryan yang sangat terkenal dalam bidang apa pun.
Malam ini menjadi malam pengantin antara Ryan dan Laura. Di bawah sinar rembulan malam, Laura yang masih memakai gaun pengantinnya sedang berdiri di balkon kamar. Dia memandangi langit malam yang sangat luas dengan bertabur bintang.
Tiba-tiba dia dikagetkan dengan tangan yang melingkar di pinggangnya. Telinganya merasakan hembusan nafas dari seseorang.
"Sedang lihat apa Sayang?" tanya Ryan dengan berbisik di telinga Laura.
Laura sedikit menoleh ke arah samping. Dan wajah mereka berpapasan tanpa jarak. Sontak saja Ryan mengecup sekilas bibir menggoda milik istrinya.
Rona malu tersirat dari wajah Laura. Segera dia kembali melihat ke arah depan untuk merasakan debaran jantungnya yang semakin berdebar kencang.
Ryan meletakkan dagunya pada ceruk leher istrinya. Kemudian dia berkata,
"Pemandangan yang sangat indah dan menenangkan. Sama seperti dirimu istriku."
Wajah Laura semakin memerah. Entah sejak kapan dia merasa malu ketika Ryan memujinya. Dan jantungnya bertambah kencang ketika mendapatkan perlakuan manis dari Ryan. Hembusan nafas Ryan membuat Laura merasakan gelenyar aneh dalam tubuhnya.
"Sayang, kamu pasti capek. Ayo kita tidur," ajak Ryan sambil melepaskan tangannya dari pinggang istrinya.
Laura membalikkan badannya menghadap suaminya yang masih berada di belakangnya. Dia menatap intens manik mata suaminya. Kemudian dia tersenyum manis pada suaminya dan memeluk erat suaminya.
Ryan tersenyum bahagia mendapatkan perlakuan seperti itu dari Laura. Dia mengusap lembut punggung istrinya seraya berkata,
"Ada apa Sayang? Hmmm… Katakan pada suamimu ini."
Laura merenggangkan pelukannya. Dia menatap sungguh-sungguh pada suaminya dan berkata,
"Mari kita lakukan malam pengantin kita Sayang."
Sontak saja Ryan membelalakkan matanya. Kemudian dia berkata dengan gugup,
"Tapi Sayang, kamu–"
"Aku sudah siap. Dan aku tidak mau berbuat dosa karena tidak memberikan hak suamiku," sahut Laura yang mengetahui arah pembicaraan suaminya.
Ryan tersenyum dan mengusap pipi istrinya seraya berkata,
"Aku akan tetap bersabar menunggu kapan pun itu Sayang. Kamu tidak usah terburu-buru jika belum siap. Aku menginginkan kita melakukannya dengan penuh cinta, bukan karena nafsu belaka."
Laura melingkarkan kedua tangannya pada leher Ryan. Dia mengarahkan bibirnya di telinga Ryan dan berbisik padanya,
"Aku mencintaimu suamiku. Aku ingin melakukannya denganmu dan segera mendapatkan buah cinta kita di perutku ini."
Sontak saja Ryan sangat berbunga-bunga mendengar apa yang dikatakan oleh Laura. Dia segera menggendong Laura masuk ke dalam kamar mereka dan merebahkan tubuh istrinya itu pada ranjang mereka yang sudah dihias dengan banyak bunga bertaburan di atasnya.
Perlahan Ryan memperlakukan Laura dengan penuh cinta. Semua sentuhannya dan ciuman yang diberikan olehnya mampu membuat Laura mabuk kepayang. Hingga akhirnya malam itu benar-benar menjadi malam pengantin mereka.
Kamar itu tak lagi sunyi, terdengar lenguhan dan desisan dari Laura dan Ryan yang sedang dimabuk cinta. Mereka bersungguh-sungguh untuk mendapatkan buah hati penerus perusahaan RAZ.
Bahkan kamar yang tertata indah dengan hiasan banyak bunga itu, kini menjadi kusut dan tidak beraturan. Mereka berdua tidur saling memeluk setelah selesai melakukan ritual mereka.
...----------------...
__ADS_1
Kini Arsenio dibuat iri pada mantan istri dan suaminya. Arsenio merasakan sakit hati dan kecewa ketika mendengar kabar pernikahan mantan istrinya dengan Ryan yang merupakan CEO dari perusahaan RAZ. Apalagi pernikahan itu diadakan dengan sangat luar biasa mewahnya.
Dia hanya bisa diam dan meratapi nasibnya. Semua yang dialaminya kini menjadi pelajaran penting dalam hidupnya. Yang bisa dilakukannya hanya melihat kebahagiaan mantan istrinya beserta dengan suaminya.
Banyak wajah Laura dan Ryan yang berseliweran di media cetak dan online tentang kehidupan pernikahannya. Bahkan foto yang diambil secara diam-diam pun memperlihatkan kebahagiaan Laura dan Ryan saat ini.
Malam ini Arsenio sedang lembur di kantornya. Dia menyuruh Kessy untuk pulang terlebih dahulu agar bisa beristirahat, mengingat perutnya yang semakin membesar.
"Sepertinya aku harus segera meminta tanda tangan pada Pak Alberto," ucap Arsenio sambil menata beberapa kertas yang berserakan di atas mejanya.
Dia melihat jam yang melingkar di tangan kanannya dan berkata,
"Sudah jam segini, pasti Pak Alberto berada di apartemennya. Sebaiknya aku langsung ke sana saja."
Arsenio segera melajukan mobilnya menuju apartemen Alberto. Tiba di depan pintu apartemen Alberto, dia membunyikan bel yang ada di pintu tersebut.
Namun, sudah berkali-kali bel itu dibunyikan, tidak ada tanda-tanda seseorang membukanya. Diambilnya ponsel dari saku celananya dan segera dihubunginya nomor ponsel Alberto.
Sudah berkali-kali dia menghubunginya dan semua panggilan telepon itu hanya menjadi panggilan tak terjawab.
"Ke mana Pak Alberto jam segini? Apa dia sedang makan di luar? Lebih baik aku letakkan berkas-berkas ini di dalam saja. Nanti akan aku tinggalkan pesan untuk segera menandatangani semua ini," tukas Arsenio sambil mengingat-ingat sandi pintu apartemen tersebut.
Arsenio memang sering diajak oleh Kessy untuk menyerahkan berkas-berkas penting ke apartemen Alberto. Kessy tidak pernah membunyikan bel, dia selalu membuka pintu itu sendiri dengan menggunakan sandi yang sudah diingatnya di luar kepala.
Arsenio sedikit heran melihat Kessy yang sangat hafal dengan sandi pintu Alberto dan masuk tanpa permisi ke dalam apartemen tersebut. Hanya saja keheranan itu sirna ketika melihat Alberto tidak pernah marah pada Kessy yang sudah lancang masuk ke dalam apartemennya. Arsenio berpikir jika itu dikarenakan hubungan Kessy dan Alberto sebagai om dan keponakan.
Arsenio mencoba memasukkan sandi yang diingatnya. Dalam sekali percobaan saja pintu itu berhasil dibukanya.
Bibir Arsenio melengkung ke atas melihat kerja kerasnya membuahkan hasil. Dia segera masuk ke dalam apartemen tersebut dan meletakkan map yang berisi berkas-berkas itu di atas meja ruang tamu.
Matanya terbelalak melihat dua orang yang sangat dikenalnya sedang melakukan hubungan suami istri tanpa menutup pintu kamar tersebut.
"Sayang, kamu nikmat sekali. Aku yakin jika anak ini adalah anakku. Usia kandunganmu sesuai dengan pertama kali kita berhubungan pada malam itu. Benar bukan?" tanya Alberto di sela lenguhan dan nafasnya yang menggebu-gebu.
"Kamu sangat pintar. Apa kamu akan bertanggung jawab dengan membiayai semua kebutuhannya hingga dia dewasa?" tanya Kessy kembali di sela gerakannya yang sedang menggoyangkan tubuhnya di atas tubuh Alberto.
"Tentu saja. Dia anakku meskipun namanya mengikuti nama Arsenio. Kamu dan anakmu tetap menjadi milikku Sayang," ujar Alberto sambil mengeram menikmati goyangan dari Kessy.
Selang beberapa saat, mereka berdua melenguh ketika akan mengeluarkan cairan kenikmatan mereka.
"Apa ini?! Apa yang sedang kalian lakukan?!" teriak Arsenio dari depan pintu kamar tersebut.
Kessy dan Alberto yang sudah merasakan berada di titik kenikmatan mereka, tentu saja mereka tidak mau melepaskannya.
Lenguhan mereka berdua menghiasi kamar tersebut dengan disaksikan secara langsung oleh Arsenio.
"Sialan! Kalian berdua sama-sama bajingan! Kessy, aku menceraikanmu. Bayi dalam kandungan itu bukan anakku!" seru Arsenio dengan sangat emosi.
Setelah itu dia keluar dari apartemen tersebut dengan emosi dan amarah yang merajai hatinya.
Amarah dan emosinya itu dilampiaskannya pada jalanan. Bayangan akan dirinya yang melihat secara langsung Kessy dengan Alberto membuatnya semakin marah. Tiba-tiba dia teringat akan Laura yang melihatnya berada di bawah tubuh Kessy saat itu. Air matanya menetes menyertai hatinya yang sangat sakit sekali saat ini dan dia pun berkata,
"Maafkan aku Laura. Maaf… Aku memang laki-laki bodoh. Maafkan aku…."
Braaak!
Mobil Arsenio menabrak pohon yang berada di pembatas jalan. Banyak cairan merah yang keluar dari kepalanya.
__ADS_1
"Maafkan aku Laura," ucap Arsenio terbata-bata.
Dan saat itu juga Arsenio memejamkan matanya untuk yang terakhir kalinya tanpa mendapatkan pertolongan dari siapa pun.
Alberto melarang Kessy untuk pulang menyusul Arsenio. Menurutnya percuma jika Kessy mengejar Arsenio yang sedang dalam keadaan marah. Dia mengkhawatirkan Kessy dan bayi dalam kandungannya.
Dan Kessy pun menurutinya. Menurutnya juga sangat percuma jika menemui Arsenio dalam keadaan seperti itu.
Keesokan harinya terdapat berita tentang kecelakaan Arsenio. Kessy dan Alberto segera bergegas menuju rumah sakit yang diberitakan.
Sedangkan Laura, dia merasa sedikit kaget melihat berita tersebut. Beruntungnya dia mempunyai suami yang sangat sayang dan cinta padanya. Ryan menenangkannya dan berjanji akan mengantarkannya untuk menghadiri pemakaman mantan suami istrinya.
Ryan benar-benar menepati janjinya. Kini dia bersama dengan Laura menghadiri pemakaman Arsenio. Tampak di sana Kessy yang sedang berakting menangis didampingi oleh Alberto.
Setelah pemakaman selesai, Ryan segera mengajak Laura untuk pulang ke rumah mereka. Dia tidak ingin Laura bertemu dengan Kessy yang dengan bisanya itu mampu membuat hati Laura menjadi sakit.
...----------------...
Hari pun berlalu dengan cepat. Kini Laura sedang mendapatkan berita yang bahagia. Tubuhnya yang lemah beberapa hari itu membuatnya teringat akan kehamilannya saat mengandung anak Arsenio.
"Sayang, aku merasa tidak enak badan. Aku ingin periksa ke dokter sekarang. Boleh ya?" tanya Laura pada suaminya yang sedang fokus pada pekerjaannya.
Laura memang tidak berhenti menjadi asisten pribadi Ryan karena bosnya yang juga menjadi suaminya itu selalu menginginkan untuk berada di sisi istrinya. Laura pun tidak merasa keberatan. Dia sangat senang berada di sisi suaminya dan membantu pekerjaan suaminya.
Seketika Ryan beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri Laura seraya berkata,
"Kamu sakit Sayang? Sakit apa? Sejak kapan? Kenapa kamu tidak duduk atau tidur di kamar saja?"
Laura melihat kamar yang sengaja dibuatkan Ryan untuk dirinya dalam ruangan kantornya. Dia tersenyum dan berkata,
"Aku hanya ingin memastikan sesuatu saja. Apa boleh Sayang?"
"Memastikan sesuatu? Apa itu?" tanya Ryan sambil mengernyitkan dahinya.
"Rahasia. Nanti juga kamu pasti akan tau," jawab Laura sambil tersenyum.
"Tunggu sebentar. Aku akan mengambil kunci mobil dulu," ucap Ryan sambil berjalan cepat menuju meja kerjanya.
Laura tersenyum bahagia melihat suaminya yang sangat perhatian dan mencintainya. Dia bersyukur pada Tuhan yang telah memberikan Ryan sebagai suaminya, setelah dia mengalami banyak penderitaan dan kesedihan.
Dengan sangat hati-hati Ryan menggandeng pinggul istrinya dan berjalan bersamanya menuju parkiran mobilnya.
Selang beberapa menit, mereka sampai di sebuah rumah sakit besar dan mewah. Laura mendaftarkan dirinya pada sebuah dokter spesialis yang ada di rumah sakit tersebut.
Tanpa proses mengantri, nama Laura pun disebut. Laura bersama dengan Ryan masuk ke dalam ruangan dokter tersebut. Dia dipersilahkan berbaring pada bed yang telah dipersiapkan dengan disertai beberapa alat yang ada di sebelahnya.
"Selamat Pak, istri Bapak sedang mengandung. Usia kehamilannya sekarang ini sudah menginjak empat minggu. Usia kehamilannya saat ini masih sangat rentan. Mohon Ibu dan Bapak sangat berhati-hati sekali menjaga kandungannya," tutur seorang dokter wanita yang ternyata dokter SpOG.
Seketika senyum bahagia menghiasi wajah Ryan dan Laura. Mereka sangat bersyukur karena segera diberikan anugerah dari buah cinta mereka.
"Sayang, ini anak kita. Aku sangat mencintaimu," ucap Ryan dengan penuh bahagia sambil mengusap lembut perut istrinya.
Laura tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dia tidak bisa berkata-kata. Hanya matanya yang berkaca-kaca menunjukkan kebahagiaannya saat ini.
Sepasang suami istri itu kini sudah memiliki kehidupan bahagia mereka. Mereka sangat bersyukur atas anugerah dan semua yang mereka miliki saat ini. Laura dan Ryan kini hidup bahagia dengan keluarga baru mereka.
...TAMAT...
__ADS_1