System Lady Rich

System Lady Rich
Bab 15 : Penyelamatan


__ADS_3

Selama perjalanannya dari toilet menuju ke ruangan makannya, Laura tidak menemukan hal yang janggal sekalipun.


Namun, dia masih harus waspada. Dia juga tidak bisa tenang begitu saja tanpa mengetahui siapa yang akan membahayakan suaminya dan bahaya apa yang akan terjadi pada suaminya.


"Hufffttt… sepertinya aku harus kembali ke ruangan itu. Sudah terlalu lama aku meninggalkan mereka. Pasti mereka mencari ku," ucap Laura disertai helaan nafasnya mengiringi langkah kakinya menuju ruangannya.


Ketika melewati ruangan Arsenio dia menoleh ke arah ruangan tersebut. Tidak ada seorang pun yang keluar masuk ruangan tersebut. Hanya terdengar suara tawa dari dalam ruangan itu.


Namun, ketika Laura melangkahkan kakinya untuk menuju ruangannya, dia mendengar suara wanita dari dalam ruangan tersebut.


Tiba-tiba saja perasaannya menjadi cemas. Dia takut jika kejadian di pesta tempo hari akan terulang kembali.


Bagaimana caranya aku bisa menyelamatkannya? Apa aku harus menyamar sebagai waiter lagi, agar bisa mengetahuinya? Tapi percuma saja, ruangan ini privat, tidak diperbolehkan waiter ataupun waitress berada di dalam sana. Lalu aku harus bagaimana? Laura bertanya-tanya dalam hatinya dengan tatapan matanya yang masih saja tertuju pada ruangan suaminya.


Tiba-tiba ruangan Laura makan dengan teman setimnya terbuka. Terlihat sosok laki-laki yang menjadi asisten sutradara keluar dari ruangan tersebut.


Laura yang masih berkecamuk dengan pikirannya menjadi tertegun memandang pintu ruangan Arsenio. 


"Laura, kenapa berdiri di situ? Kenapa tidak masuk? Mereka semua menunggumu. Kamu satu-satunya wanita di tim kita, sudah seharusnya kamu menuangkan minuman pada semuanya, terutama sutradara kita," ucap Dani yang menjadi asisten sutradara Anto.


Laura kikuk, dia merasa seperti sedang tertangkap ketika melakukan sesuatu. Tanpa berkata-kata, dia pun berjalan masuk ke dalam ruangannya.


Semua mata tertuju pada Laura ketika dia masuk ke dalam ruangan tersebut. Melihat semua mata mengarah padanya, Laura pun berkata,


"Maaf, saya tadi kesasar ketika ke toilet."


Setelah mengatakan itu, Laura segera kembali ke tempatnya. Dia meneruskan kembali memakan makanan yang ada di piringnya.


Rasanya dia enggan memakan kembali makanan yang sudah ditinggalkannya beberapa menit yang lalu.


Namun, dia tidak memiliki alasan untuk tidak memakannya. Dengan terpaksa dia berusaha menelan makanan tersebut di tengah rasa cemasnya pada suaminya.


Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka dari ruangan sebelahnya. Sontak saja Laura menghentikan makannya dan beranjak dari duduknya.

__ADS_1


"Maaf, sepertinya saya harus kembali ke toilet," ucap Laura dengan terburu-buru.


Dia segera berjalan keluar ruangan tersebut tanpa menunggu jawaban dari orang yang ada di dalam sana.


Terlambat, tidak ada orang yang berada di luar ruangan mereka. Tapi dia tidak bisa begitu saja menyerah. Laura segera berjalan dengan pelan dan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan bunyi dari langkah kakinya.


Untung saja aku tidak memakai high heels saat ini. Jika tidak, pasti akan terdengar suara berisik dari sepatuku, Laura berkata dalam hatinya disertai helaan nafas leganya.


Mata Laura masih mencari seseorang yang ada di sekitar sana. Telinganya pun turut bekerja sama untuk mendengarkan apa saja yang ada di sana.


"Sepertinya ini saat yang tepat untuk kita membuat rencana yang kedua setelah rencana yang pertama tadi gagal."


Tiba-tiba terdengar lirih suara seorang laki-laki di sekitar jalanan yang sedang dilewati oleh Laura.


Laura memasang telinganya baik-baik dan mendekati sumber suara. Dengan sangat hati-hati sekali dia berjalan mengendap-endap untuk melihat dan mendengar lebih jelas lagi suara tersebut.


"Baiklah. Sepertinya memang kita harus bekerja sama dengan Rena untuk menyingkirkan Arsenio," tukas laki-laki lain yang sedang berbicara berdua dengan laki-laki tadi.


"Tapi jangan sampai Rena tau tujuan kita. Biar saja dia tau jika kita membantunya untuk mendapatkan Arsenio dan mendongkrak karirnya," sahut laki-laki pertama tadi.


Laki-laki pertama itu pun ikut terkekeh mendengar ucapan temannya. Kemudian laki-laki pertama itu mengambil sesuatu dari kantongnya dan memberikannya pada laki-laki kedua yang ada di hadapannya seraya berkata,


"Campurkan ini dalam minumannya. Dan pastikan dia meminumnya."


Laki-laki kedua itu mengambil botol vial kaca yang berisi serbuk dari tangan laki-laki pertama. Dia menyeringai dan memasukkannya ke dalam saku celananya.


"Serahkan padaku. Lebih baik kamu masuk terlebih dahulu dan mengalihkan perhatiannya agar aku bisa mencampur minumannya," ucap laki-laki kedua itu dengan penuh percaya diri.


Mata Laura terbelalak mendengar dan melihat apa yang terjadi. Tangannya menutup mulutnya agar tidak menimbulkan suara karena terkejut melihat semua itu.


Laura bisa melihat dan mendengar semuanya dengan jelas. Dia bersembunyi di balik tembok yang tidak jauh dari mereka berada.


Dalam keadaan panik itu Laura berkata dalam hatinya,

__ADS_1


Aku harus mencari cara untuk bisa menyelamatkan Mas Arsenio. Tapi bagaimana caranya? Berpikirlah Laura… berpikir! 


Seketika ide terlintas di benak Laura. Dia segera merapikan pakaiannya dan melepas ikatan rambutnya agar rambutnya bisa terurai dengan indahnya.


Setelah laki-laki pertama itu pergi meninggalkan laki-laki kedua yang masih berada di tempat tersebut, saat itu juga Laura keluar dari tempat persembunyiannya.


Laura berjalan dengan cara yang sangat menggoda di hadapan laki-laki tersebut. Dia mengedipkan sebelah matanya agar laki-laki tersebut tergoda padanya.


"Apa kita boleh berkenalan?" tanya Laura pada laki-laki tersebut yang tidak kenal dengan Laura.


Laki-laki tersebut memang dari tim lain yang tidak mengenali Laura sebagai istri Arsenio. 


"Sepertinya wajah kamu tidak asing. Apa mungkin kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya pria tersebut pada Laura dengan tatapan penuh minat.


Laura meletakkan kedua tangannya pada kerah baju laki-laki tersebut dan sedikit menariknya agar mendekat padanya.


Kini tubuh mereka hampir tidak berjarak. Laura tersenyum menggoda dan berkata,


"Mungkin saja. Semuanya bisa saja terjadi."


Tatapan mereka beradu. Laura menahan perhatian laki-laki tersebut dengan matanya dan senyumannya.


Tangan kanan Laura masih menarik kerah baju laki-laki tersebut. Sedangkan tangan kirinya mengusap lembut dada laki-laki itu dan bergerak semakin ke bawah seolah menjelajahi bagian tubuhnya.


Ternyata tujuan tangan Laura adalah saku celana laki-laki itu yang di dalamnya terdapat botol vial kaca yang menjadi incarannya.


Dengan lihainya tangan Laura berhasil mengambil botol tersebut dari dalam saku celana laki-laki itu.


Rayuan Laura berhasil. Bahkan laki-laki itu terpanah oleh kecantikan Laura dan terbuai oleh sentuhan lembut dari tangannya.


Tangan Laura bergerak lincah sehingga laki-laki tersebut tidak menyadari jika kini botol tersebut telah berada di tangan Laura.


Tanpa sepengetahuan Laura dan laki-laki tersebut, ada sepasang mata yang melihat mereka saat ini. Sepasang mata itu mengenali Laura dan laki-laki tersebut.

__ADS_1


Apa yang sedang mereka lakukan?


__ADS_2