System Lady Rich

System Lady Rich
Bab 17 : Waspada


__ADS_3

Dahi Arsenio berkerut melihat Ferdian menyodorkan segelas minuman padanya.


Arsenio merasa heran dengan sikap baik Ferdian yang menjadi ketua tim lain dalam proyek tersebut.


Arsenio tidak begitu saja menerima gelas yang disodorkan oleh Ferdian padanya. Dia berpikir sejenak akan menerima atau tidak gelas tersebut.


Ferdian kembali menggerakkan tangannya lebih dekat di hadapan Arsenio agar Arsenio mau menerimanya.


Semua pasang mata melihat ke arahnya. Dalam hati dia berkata,


Aneh. Kenapa Ferdian tiba-tiba baik padaku? Tapi jika tidak aku terima gelas ini, pasti semua orang akan bertanya-tanya alasanku menolaknya.


Tangan Arsenio pun bergerak untuk mengambil gelas tersebut. Terlihat sekali dia ragu-ragu pada saat menerimanya.


Ferdian tersenyum ketika Arsenio menerima gelas tersebut. Kemudian dia berkata,


"Minumlah. Sungguh kehormatan untuk tim kami jika anda menghabiskan minuman itu."


Semua pasang mata yang ada di ruangan tersebut masih saja memperhatikannya. Dia tidak bisa menolak lagi. Dalam hatinya berdoa agar tidak terjadi apa-apa padanya setelah meminum minuman tersebut.


Laki-laki si pemberi minuman yang menjadi asisten Ferdian itu berharap agar Ferdian tidak mengetahui apa yang terjadi. Dia tersenyum dengan percaya diri agar Ferdian tidak curiga padanya.


Arsenio meneguk sedikit minuman tersebut. Dia merasa tidak nyaman dengan senyuman Ferdian dan asistennya yang melihat ke arahnya.


Namun, gurauan dan obrolan semua orang di dalam ruangan tersebut membuatnya sedikit lupa akan kekhawatirannya.


Setelah beberapa saat, Ferdian mulai cemas. Dia menatap asistennya dan bertanya melalui matanya. 


Si asisten tahu apa yang ditanyakan oleh Ferdian padanya. Dia bergerak mendekati Ferdian dan berbisik padanya.


"Saya tidak tau apa yang terjadi. Tapi sepertinya tidak ada reaksi apa pun padanya."


Ferdian menatap tajam pada asistennya. Kemudian dia berbalas bisik padanya.


"Apa kamu yakin obat itu sudah kamu campur ke dalam minumannya?"


Laki-laki yang menjadi asistennya pun mengangguk dengan yakin. Dalam hatinya berkata,


Maaf saya berbohong. Obat itu hilang, entah ke mana. Apa mungkin jatuh dari saku ku ketika berada di toilet tadi? Semoga saja dia tidak tau jika aku berbohong.

__ADS_1


Rena sudah melancarkan aksinya. Dia duduk mendekati Arsenio dan selalu menempel padanya. Bahkan berkali-kali Arsenio sedikit menjauh darinya, sayangnya Rena tidak mau menyerah. Dia tetap saja mendekati Arsenio dan berusaha selalu menempel padanya.


Ferdian menatap kesal pada Arsenio yang masih saja tidak bereaksi apa-apa setelah meneguk minuman yang diberikan olehnya. Bahkan sudah hampir satu jam berlalu, Arsenio masih tetap saja dalam keadaan sama seperti sebelumnya.


Di ruangan yang berbeda, Laura kembali menyantap makanannya dan menuangkan minuman beralkohol pada semua orang yang menginginkan untuk dituangkan olehnya.


Begitulah keadaannya. Sebagai seorang presenter variety show yang sudah berumur kepala tiga, dia harus menjaga hubungan baik dengan semua rekan kerjanya. Terutama sutradara dan semua atasannya. 


Dia harus menuruti semua perintah mereka agar tetap tampil di acara tersebut. Meskipun selama ini dia tidak pernah melakukan kesalahan, dia harus tetap waspada dan harus meyakinkan semua orang bahwa dia masih pantas berada di posisinya saat ini.


Hingga detik ini Laura berjuang untuk melakukan semua keahliannya dalam memandu acara tersebut. Jika memang tidak bisa, dia pasti akan belajar dan berusaha agar bisa melakukannya. Dan tidak akan memberi kesan buruk pada acara yang dipandunya.


Seperti perintah sutradaranya hari ini. Dia dituntut agar bisa melakukan dance ala girlband yang akan menjadi bintang tamu mereka. Dan Laura pun berusaha untuk bisa melakukannya dengan berlatih pada koreografer handal yang dikenalnya.


"Kita harus menginap di sini malam ini. Perusahaan sudah memesan kamar untuk kita semua. Kalian atur kamarnya dan bagi seperti biasanya," tutur Anto setelah meneguk minumannya.


Laura membelalakkan matanya mendengar perkataan sutradaranya. Dia tidak menyangka jika akan ada kejutan lain di harinya yang sangat melelahkan ini.


"Maaf Pak, apa tidak bisa jika saya pulang saja?" tanya Laura dengan sedikit sungkan pada sutradaranya.


Anto menatap Laura dengan wajah datarnya seraya berkata,


"Bukan begitu Pak, hanya saja saya–"


"Jika kamu tidak berada di sini, lalu siapa yang akan memandu acaranya? Kita akan melakukan syuting dini hari. Apa perlu saya yang akan menjadi presenternya karena presenter utamanya sedang tidur di rumah?" sahut Anto yang seolah menyindir Laura.


Laura menundukkan kepalanya dan memperlihatkan penyesalannya seraya berkata,


"Maaf. Saya kira tidak ada jadwal syuting di sini."


Anto berdehem untuk menanggapi permintaan maaf dari Laura. Kemudian dia berkata,


"Untuk yang mau beristirahat, silahkan beristirahat sekarang. Gunakan waktu sebaik mungkin untuk beristirahat sebelum aktifitas padat kita nanti."


Laura pun beranjak dari duduknya. Dia keluar dari ruangan tersebut dengan beberapa rekannya yang ingin beristirahat dalam kamar mereka. Ada pula yang masih berada dalam ruangan tersebut untuk menghabiskan minuman mereka bersama.


Di luar ruangannya, Laura berdiri dan sibuk dengan ponselnya. Laura menghubungi suaminya untuk memberi kabar bahwa dia harus menginap di resort yang ada di tempat itu.


Arsenio tidak nyaman ketika akan menerima telpon dari Laura. Rena masih saja menempel padanya. Bahkan dia melihat ponsel Arsenio ketika akan menjawab telepon yang berasal dari Laura.

__ADS_1


Rena semakin mengeratkan tangannya pada lengan Arsenio ketika dia mengetahui istrinya sedang menghubunginya.


Arsenio menghempaskan tangan Rena dan dia segera beranjak dari duduknya untuk keluar dari ruangan tersebut agar bisa menjawab panggilan telepon dari istrinya.


Namun, Rena masih tetap saja tidak mau melepaskannya. Bahkan dia ikut beranjak dari duduknya dan bermaksud mengikuti Arsenio.


Sayangnya itu tidak bisa terjadi. Arsenio segera menghentikan gerakannya.


"Stop! Jangan ikuti aku!" ucap Arsenio dengan tegas sambil mengarahkan telapak tangannya yang terbuka ke arah Rena untuk menghentikannya.


Rena pun duduk kembali. Dia merasa malu jika tetap mengikuti Arsenio. Dia hanya bisa menggerutu dalam hatinya.


Arsenio berjalan keluar dari ruangannya. Dia melihat istrinya yang sedang menunggunya tidak jauh dari depan ruangannya.


Dia menghampiri istrinya dan bertanya ketika sudah berada di depannya.


"Ada apa? Apa sudah waktunya pulang?" 


Laura menghela nafasnya yang terdengar begitu lelah. Kemudian dia berkata,


"Aku harus bermalam di sini. Dini hari nanti akan ada syuting di daerah sini."


Arsenio mengernyitkan dahinya. Tatapan matanya seperti menaruh curiga pada istrinya. Kemudian dia berkata,


"Ya sudah. Aku akan menginap di sini bersamamu."


Arsenio merasa aneh pada reaksi istrinya saat ini. Mata Laura berbinar mendengar perkataan suaminya yang mengatakan akan menginap di tempat itu bersama dirinya malam ini.


Kedua tangan Laura menarik kedua tangan suaminya sambil berkata,


"Aku memang akan mengajakmu untuk menginap di sini. Ayo kita ke kamar sekarang. Badanku sudah sangat lelah sekali."


Tanpa berpikir panjang, Arsenio mengikuti istrinya. Dia menatap tangan istrinya yang menggandengnya saat ini. Dia merasa aneh karena masih memikirkan perkataan Rendi tentang Laura yang bersama dengan asisten Ferdian.


Jika memang benar apa yang dikatakan oleh Rendi, lalu kenapa Laura mengajakku menginap di kamarnya? Apa dia hanya bersandiwara? Aku harus mencari tau sekarang. Aku akan mengawasi tiap gerak-gerik Laura di tempat ini, Arsenio berkata dalam hatinya.


Asisten Ferdian keluar dari ruangan tersebut hendak ke toilet untuk mencari botol obat yang akan dicampurkan pada minuman Arsenio. Disusul dengan Rena yang juga mengatakan untuk ke toilet setelah laki-laki tersebut keluar dari ruangan itu.


"Sebenarnya di mana dia berada? Kenapa dia tidak ada di mana pun?" tanya Rena pada laki-laki tersebut.

__ADS_1


__ADS_2