
"Pekerjaan di hari libur? Bukankah weekend waktunya beristirahat? Mengapa mereka berdua bekerja? Apa ini hanya rekayasa mereka saja?"
Pertanyaan-pertanyaan itu ditanyakan Arsenio setelah Laura meninggalkan rumah untuk berangkat bekerja.
Lagi-lagi dia hanya seorang diri di rumah itu. Bahkan di hari libur mereka, istrinya pun meninggalkannya untuk bekerja.
"Sebaiknya aku harus tetap mengawasinya," ucap Arsenio untuk meyakinkan hatinya.
Terpaksa dia kembali ke dalam rumahnya dengan perasaan hampa ditinggal istrinya saat berada di rumah pada hari liburnya.
Sedangkan Laura, dia tidak memikirkan apa pun saat ini, bahkan kondisi tubuhnya yang teramat lelah pun diabaikannya hanya demi pekerjaannya.
Dia tidak mengabaikan Arsenio. Dia tahu jika suaminya itu sedang ingin bersamanya saat ini. Hanya saja dia mencoba untuk mengabaikannya. Laura berpikir jika pekerjaannya juga demi membantu suaminya. Dia pun malas untuk menjelaskannya, karena sudah pasti suaminya itu akan banyak meminta tuntutan yang lebih lagi untuk dirinya.
"Masa bodoh dengan apa yang dia pikirkan. Aku capek bekerja juga demi untuk membantunya," gerutu Laura sambil mengemudikan mobilnya.
Selang beberapa saat kemudian, Laura sudah sampai di rumah Ryan. Seperti biasanya Ryan menunggunya untuk sarapan bersamanya. Ryan sudah mempersiapkan makanan untuknya agar Laura tidak bisa menolaknya.
Tanpa pikir panjang lagi Laura pun duduk di hadapan Ryan dan menyantap makanan yang telah dipersiapkan di meja tersebut.
Ryan tersenyum melihat Laura yang makan dengan lahapnya. Dalam beberapa hari ini memang Ryan sengaja memaksa Laura untuk menemaninya makan karena dia melihat wajah Laura yang teramat lelah.
Dia tidak bisa melakukan hal yang lebih dari sekedar memberinya makanan yang lezat dan bergizi karena Ryan sadar jika Laura merupakan istri dari laki-laki lain. Jalan satu-satunya untuk menjaga kesehatan Laura adalah dengan memberinya makan.
Setelah mereka selesai sarapan, Laura membantu Ryan untuk memeriksa berkas-berkas kerja sama dengan perusahaan Starlight karena sebentar lagi mereka akan mengadakan pertemuan kembali dengan Renaldi, CEO dari perusahaan Starlight yang telah bertemu dengan mereka tempo hari.
"Sudah selesai semua Laura?" tanya Ryan sambil menata berkas-berkas yang ada di tangannya.
"Sudah Pak. Apa kita akan berangkat sekarang?" tanya Laura sambil menatap bosnya yang sedang memperhatikannya.
Ryan melihat jam yang melingkar di tangan kanannya. Kemudian dia berkata,
"Sebentar lagi kita akan berangkat. Periksa kembali semua yang akan kita bawa. Jangan sampai ada yang tertinggal."
__ADS_1
Laura menganggukkan kepalanya seraya menjawab,
"Baik Pak. Saya akan memeriksanya kembali."
Di sisi lain Arsenio masih merasa kesal pada Laura yang hampir tiap hari tidak mempunyai waktu untuk bersama dengannya. Kini dia mengawasi istrinya itu menggunakan alat pelacak yang dihubungkan pada ponselnya.
"Sudah aku duga. Dia berada di rumah bosnya itu. Kenapa dia harus menyuruh Laura untuk selalu mengantar jemput dia? Bukannya dia punya sopir? Sepertinya ada yang aneh," gerutu Arsenio ketika melihat titik lokasi keberadaan istrinya pada layar ponselnya.
Lama berselang dia menatap layar ponselnya itu, sayangnya titik keberadaan istrinya selama beberapa jam masih berada di rumah Ryan. Hal itu membuat Arsenio bertambah geram.
Dia masih saja melihat layar ponselnya tanpa mau terlewatkan sedikit pun apabila titik lokasi itu berubah.
Mata Arsenio mengikuti titik keberadaan istrinya itu yang mulai bergerak meninggalkan perumahan elite tersebut.
Namun, setelah beberapa saat, Titik yang menyatakan keberadaan istrinya itu berhenti. Dadanya bergemuruh, tangannya mengepal, giginya bergemeletuk dan nafasnya tidak beraturan ketika melihat titik tersebut berhenti di sebuah hotel bintang lima yang tidak asing baginya.
Hotel tersebut adalah hotel mewah yang mempertemukan dirinya dengan istrinya untuk menjalin kerja sama perusahaan mereka.
"Sialan! Kenapa mereka selalu datang ke hotel ini?! Apa yang sebenarnya mereka lakukan di sana?! Apa mereka selalu berada di kamar VVIP itu?!"
Tiba-tiba dia teringat akan pekerjaan mereka. Dihirupnya nafas dalam-dalam dan dihempaskannya perlahan selama berulang kali agar bisa menenangkannya.
"Ok. Mungkin mereka benar-benar bekerja. Aku tidak boleh ceroboh dalam bertindak. Jika tidak, kerja sama yang susah payah aku peroleh akan menjadi taruhannya. Akan aku pantau mereka dari sini," ucap Arsenio kembali.
Selama berjam-jam Arsenio masih betah memantau keberadaan istrinya. Dia menghabiskan banyak cemilan dan soft drink untuk menemani kegiatannya itu.
Setelah beberapa jam kemudian, titik keberadaan Laura kembali bergerak. Jantung Arsenio berdebar seolah sedang menanti lotre undian yang sedang berlangsung. Sayangnya jantungnya berdebar bukan karena undian, jantungnya berdebar ketika berharap-harap cemas melihat titik tersebut sedang bergerak.
Arsenio berharap jika istrinya akan kembali ke kantor atau kembali pulang setelah ini. Dan tentu saja dia cemas jika nantinya harapannya itu tidak sesuai dengan kenyataan.
Dan kini harapannya itu benar-benar pupus. Titik keberadaan istrinya mengarah jauh ke luar kota. Rasa marah itu kembali hadir dalam dirinya.
Braaak!
__ADS_1
Suara itu berasal dari meja yang digebrak oleh tangan Arsenio dengan diliputi rasa amarah yang begitu kuat.
Bagaimana tidak, kini dia melihat titik keberadaan istrinya itu berada di salah satu resort mewah yang dikelilingi oleh pantai dan berada di luar kota.
"Sialan! Mengapa mereka sekarang ada di tempat itu?! Apa yang mereka lakukan di sana?!"
Pertanyaan-pertanyaan itu kembali dipertanyakan oleh Arsenio yang diliputi oleh kemarahannya, serta diiringi dengan tangannya yang kembali menggebrak meja.
"Pekerjaan apa ini? Kenapa mereka selalu berada di tempat yang meragukan kepercayaanku pada Laura?"
Lagi-lagi Arsenio hanya bisa bertanya tanpa bisa mengetahui jawabannya. Dengan segera dia mengambil ponselnya dan menghubungi nomor istrinya.
Matanya sudah berkabut emosi dan amarah pun sudah merajai hatinya. Dia tidak peduli lagi dengan kemarahan Laura nantinya ketika menerima teleponnya.
Sudah berulang kali panggilan telepon itu berdering, sayangnya tidak ada jawaban dari Laura. Hal ini pula yang selama beberapa hari ini selalu membuat Arsenio menjadi marah.
Arsenio melempar ponsel yang digunakannya untuk menghubungi istrinya ke arah sofa. Dijambaknya rambutnya dengan kedua tangannya sambil duduk di sofa tersebut. Kemudian dia berkata,
"Kenapa dia selalu saja tidak mengangkat teleponnya? Apa dia memang tidak mau diganggu? Sialan! Dianggap apa aku ini?!"
Beberapa saat dia larut dalam amarahnya. Tiba-tiba dia berdiri dari duduknya. Dengan tatapan penuh amarahnya dia berkata,
"Akan aku selesaikan sekarang juga."
Arsenio segera mengambil dompetnya dan kunci mobilnya dari dalam kamarnya. Kemudian dia meninggalkan rumahnya dengan rasa emosi dan amarah yang bergemuruh dalam dadanya.
Ketika berada di tengah jalan, dia dikagetkan dengan suara dering telepon yang berasal dari ponselnya.
Segera ditepikan mobilnya itu dan berhenti tepat di tepi jalan. Diambilnya ponsel dari dalam sakunya berharap istrinya yang sedang menghubunginya.
Namun, seketika harapannya itu lenyap saat melihat bukan nama istrinya yang tertera di sana, melainkan nama rumah sakit yang sedang merawat ibunya.
"Halo, ada perlu ap–"
__ADS_1
"Apa?! Saya akan segera ke sana sekarang juga."