System Lady Rich

System Lady Rich
Bab 28 : Pembelaan


__ADS_3

Arsenio berjalan menuju ke arah parkiran mobilnya. Dia melewati tenda yang digunakan untuk make up dan berganti pakaian.


"Aaawww… aaawww…."


Tiba-tiba terdengar suara jeritan dari tenda yang digunakan untuk make up dan berganti pakaian tersebut.


Sontak saja Arsenio melupakan telepon dari istrinya dan berjalan masuk ke dalam tenda tersebut. Ternyata di sana terdapat Rena yang sudah berganti pakaian sedang menggaruk-garuk badannya.


Mas… mas Arsen, ada apa? Apa yang terjadi? tanya Laura panik dari telepon.


Sayangnya Arsenio tidak menjawabnya. Karena paniknya, Arsenio tidak mematikan ponselnya. Dia hanya membawanya berjalan masuk ke dalam tenda.


Laura yang mempunyai firasat buruk, seketika menekan tombol perekam dan dia berlari kecil menuju tempat Arsenio berada.


"Ada apa?" tanya Arsenio heran melihat Rena yang sedang sibuk menggaruk garuk badannya.


"Tolong aku Pak. Tiba-tiba badanku gatal semua. Tolong lepaskan resletingku ini. Buruan Pak, aku sudah tidak tahan," ucap Rena yang terlihat panik sambil menggaruk-garuk badannya.


Mendengar ada suara Rena dalam telepon itu, Laura dengan segera berlari menuju tenda tersebut.


Sial, jika aku tau akan begini akhirnya, aku tidak akan menaburkan bedak itu tadi, Laura menggerutu dalam hatinya sambil berlari menuju tenda.


Melihat Rena yang benar-benar merasa sangat gatal, sontak saja Arsenio bergegas membuka resleting Rena. 


Tampak di sana punggung mulus Rena yang terbuka hingga di atas pantatnya. Tidak dipungkiri jika Arsenio tertegun dan meneguk ludahnya melihat punggung mulus Rena.


"Tolong garukkan Pak. Aku sudah tidak tahan lagi," ucap Rena sambil menggaruk-garuk badannya.


Tangan Arsenio pun bergerak menggaruk punggung Rena. Dia lupa jika sedang ditunggu oleh istrinya.


Laura yang masih mendengarkan dari telepon bertambah geram dan marah pada Rena. Dia juga sangat kecewa pada suaminya yang bisa begitu saja mau melakukan apa yang diperintahkan oleh Rena padanya. Terlebih menyentuh tubuhnya.


"Aaaahhh… iya yang itu. Aaahhh… enak sekali Pak… Aaahhh…," suara lenguhan Rena mengundang pikiran buruk bagi orang yang mendengarnya.


Arsenio masih sibuk menggaruk punggung Rena. Sedangkan Rena membungkuk untuk menggaruk bagian pahanya.

__ADS_1


Kurang ajar! Apa yang mereka lakukan sekarang?! Laura memaki Rena dan Arsenio dalam hatinya.


Laura masih saja mendengarkan dari teleponnya sambil berlari menuju tenda.


Kini dia sudah berada di depan tenda tersebut. Matanya terbelalak dan tangan kirinya menutup mulutnya karena kaget melihat apa yang sedang dilakukan oleh Arsenio dan Rena.


Rena dengan dress yang punggungnya terbuka sedang digaruk lembut oleh Arsenio. Sedangkan kaki kiri Rena berada di atas kursi dengan rok yang tersibak dan dia membungkuk untuk menggaruk bagian pahanya.


Laura sangat marah melihat suaminya yang seolah menikmati kulit tubuh Rena. Matanya tidak lepas dari punggung Rena dan sekilas dia sering melihat ke arah paha Rena.


"Bagaimana sekarang? Apa sudah cukup?" tanya Arsenio yang kali ini tidak menggaruknya, dia mengusap lembut punggung Rena karena takut kulit mulusnya akan terkelupas jika dia menggaruknya terlalu lama.


"Aaaahhh… enak sekali Pak… Terus Pak… Aaahhh….," suara lenguhan Rena membuat Laura sadar jika dia tertegun menyaksikan mereka saat ini.


Mulut Laura sudah terbuka. Dia sudah bersiap untuk mengatakan sesuatu. Tapi sebelum kata-kata keluar dari mulutnya, ada seseorang yang menyelanya.


"Apa yang kalian lakukan?!" 


Terdengar suara seruan seorang laki-laki dari pintu tenda tersebut.


"Tidak, kami tidak melakukan apa-apa. Rena hanya meminta tolong padaku. Badannya gatal dan dia memintaku untuk menggarukkan punggungnya," tutur Arsenio dengan gugup untuk membela dirinya.


Arsenio terlihat sangat gugup seolah tertangkap basah sedang melakukan sesuatu. Terlebih dia terkejut dengan kehadiran Laura di sana yang sedang menatapnya dengan tatapan kecewa.


"Tidak mungkin. Aku mendengar semuanya. Wanita ini juga mendengarnya, bahkan dia juga melihatnya. Apalagi dia berada di sini lebih lama dariku," sahut manajer Rena sambil menunjuk Laura.


Arsenio bertambah gugup setelah mendengar jika istrinya sudah lama berada di sana dan melihat semuanya. Dia memandang Laura dengan tatapan memohon. 


"Benar, kami tidak melakukan apa-apa. Saya berani bersumpah. Tanyakan saja pada Rena apa yang sebenarnya terjadi," tukas Arsenio kembali membela dirinya.


"Ada apa ini? Kenapa ribut sekali?" tanya Rendi yang tiba-tiba masuk ke dalam tenda tersebut.


Manajer Rena menceritakan apa yang didengarnya. Lenguhan Rena itu membuat orang lain yang mendengarnya salah paham. Manajer Rena juga menceritakan apa yang dilihatnya. Dalam posisi Rena dan Arsenio seperti tadi, manajer tersebut melihatnya dari belakang mereka, sehingga apa yang dipikirkannya berbeda dengan apa yang sebenarnya terjadi.


Rena tersenyum dan bersorak dalam hatinya. Dia tidak mengira jika kejadian yang tanpa disengaja itu bisa membuat Arsenio melakukan apa yang selama ini telah direncanakan olehnya dan manajernya.

__ADS_1


Selama ini usahaku selalu gagal. Dan sekarang tidak usah susah payah aku melakukannya, keberuntungan telah berpihak padaku, Rena berkata dalam hatinya.


Laura tidak bisa berkata-kata. Kemarahan dan kekecewaannya pada suaminya begitu besar, hingga dia tidak ingin mengatakan apa pun pada suaminya. Dia hanya menatap suaminya dengan tatapan yang penuh dengan kemarahan dan kekecewaan.


Bodoh sekali kamu Laura! Lihatlah akibatnya! Laura menyalahkan dirinya sendiri dalam hatinya, tapi dia juga sangat marah dan kecewa pada suaminya.


Arsenio menatap Laura dengan tatapan mengiba. Dalam hatinya saat ini, dia merutuki kebodohannya yang bisa terjebak dalam situasi seperti ini.


"Rena, cepat katakan pada mereka apa yang terjadi," perintah Arsenio dengan tegas pada Rena.


"Katakan apa Pak? Bapak menyentuh dan mengusap kulit saya? Sepertinya Bapak sangat menikmatinya. Saya merasakannya Pak," ucap Rena sambil mengusap-usap tangannya dan lehernya.


"Apa kamu bilang? Kamu keterlaluan! Kamu memfitnah saya! Kamu yang meminta tolong pada saya untuk menggaruk punggungmu!" seru Arsenio dengan kemarahannya yang terlihat jelas di wajahnya.


"Cukup Pak. Sebaiknya Bapak tidak mengelak lagi. Saya melihat sendiri dengan mata kepala saya sendiri. Bahkan tangan Bapak masuk ke dalam bajunya dan menyentuh area berharga milik Rena," ucap manajer Rena yang berniat semakin menyudutkan Arsenio.


Semua orang yang kini berkumpul di dalam tenda itu terkejut mendengar perkataan dari manajer Rena. Mereka menatap Arsenio seolah sedang menghakiminya.


Tiba-tiba Laura melihat panel yang memberinya misi sedang memperlihatkan tulisan dengan huruf kapital dan menyala terang sehingga dapat dibaca Laura dengan mudahnya.


'WARNING!'


Seketika Laura teringat akan misinya untuk membantu suaminya menyelesaikan kesalahpahaman.


Laura berusaha keras meredakan emosi dan kemarahannya. Dia tidak bisa berpikir dalam keadaan marah. Dia berusaha untuk mendinginkan kepalanya agar tidak terbawa emosinya dan bisa menolong suaminya.


"Tidak! Saya tidak menyentuh apa pun? Saya hanya menggaruk punggungnya. Tidak lebih dari itu! Jangan fitnah saya yang berlebihan!" seru Arsenio dengan emosinya.


Manajer Rena menyeringai mendengar pembelaan diri dari Arsenio. Kemudian dia berkata,


"Tidak mungkin jika hanya dengan menggaruk punggungnya saja Rena bisa melenguh seperti tadi. Saya sudah dewasa. Saya bukan anak kecil yang tidak bisa membedakan suara lenguhan kenikmatan seperti tadi."


"Cukup! Suami saya tidak melakukan apa yang dituduhkan orang ini padanya!" seru Laura membela suaminya.


"Apa maksudmu?! Bukankah kamu telah melihat semuanya? Bahkan kamu sangat terkejut saat melihatnya," sahut manajer Rena sambil menyeringai pada Laura.

__ADS_1


"Ini! Saya punya ini!" seru Laura dengan menatap tajam pada manajer Rena.


__ADS_2