System Lady Rich

System Lady Rich
Bab 56 : Titik lokasi yang membuat emosi


__ADS_3

Panggilan telepon Arsenio pada istrinya berulang kali tidak dijawab. Bahkan panggilan telepon itu sudah mencapai puluhan kali dan hanya menjadi panggilan tidak terjawab.


Puluhan pesan pun sudah dikirimkannya. Dan tetap saja tidak ada balasan dari Laura. 


"Ke mana dia? Kenapa teleponku dari tadi pagi tidak diangkat? Kenapa pesan-pesanku juga tidak dibalas?" 


Semua pertanyaan-pertanyaan itu keluar dari bibir Arsenio yang merasa frustasi pada keadaannya saat ini.


"Apa yang ku harapkan dari pesanku? Dibalas? Bahkan dibaca pun tidak," ucap Arsenio sambil menyeringai menatap layar ponselnya.


Malam ini dia hanya bisa menunggu. Sama seperti malam sebelumnya. Rasa kesepian, kesal dan marah kini dirasakannya. Dia tidak tenang menunggu istrinya yang tidak ada kabar sama sekali.


Arsenio beranjak dari duduknya, setelah itu dia berjalan mondar-mandir seolah menantikan sesuatu. Lelah berdiri, dia duduk kembali. Begitulah seterusnya hingga dia menyerah.


Dia duduk di ruang tamu dengan berbekal ponsel di tangannya. Dihubunginya kembali nomor ponsel istrinya. Sayangnya masih sama seperti sebelumnya. Panggilan itu kembali tidak terjawab.


"Ke mana kamu Laura?" gerutu Arsenio dengan penuh kemarahan.


Tiba-tiba dia teringat akan alat pelacak yang diletakkan pada tas istrinya. Dengan segera dia melacak keberadaan istrinya itu menggunakan ponselnya.


Matanya terbelalak melihat titik lokasi keberadaan istrinya saat ini. Dadanya bernafas naik turun melihat lokasi tersebut tidak berada di kantor RAZ. Titik lokasi itu menunjukkan bahwa Laura saat ini berada di wilayah perumahan elite yang terkenal sangat mewah dan hanya orang terpandang saja yang bertempat tinggal di wilayah tersebut.


"Apa mungkin dia berada di rumah bosnya? Rumah ini… Daerah rumah ini… tidak mungkin orang biasa yang tinggal di daerah itu," ucap Arsenio dengan menatap layar ponsel itu dengan tatapan tidak percaya.


"Apa ini berarti Laura berada di rumah bosnya? Apa yang kamu lakukan Laura?!" seru Arsenio dengan menekankan suaranya karena berusaha menahan amarahnya.


Selang beberapa detik kemudian, terdengar suara deru mobil masuk ke halaman rumahnya. Arsenio bergegas berdiri di dekat jendela kaca. Dia menyibak tirai jendela untuk melihatnya.


Benar saja, mobil mewah milik Ryan yang dikendarai oleh Laura selama beberapa hari ini, masuk ke dalam halaman rumahnya. Tidak lama setelah itu keluarlah Laura dari dalam mobil tersebut.


Arsenio bernafas lega melihat istrinya pulang dalam keadaan baik-baik saja. Dia kembali duduk di sofa ruang tamu dan menunggu istrinya masuk ke dalam rumah.


"Baru pulang?" tanya Arsenio setelah Laura menutup pintu rumahnya.

__ADS_1


Laura menoleh ke arah sumber suara. Dia terkejut melihat suaminya yang duduk di sofa ruang tamu. Kemudian dia berkata,


"Tumben Mas Arsen sudah pulang?"


"Sudah sejak tadi aku menunggumu untuk makan malam bersama. Dari mana saja kamu? Kenapa pulang sampai jam segini?" tanya Arsenio memberondong istrinya dengan banyak pertanyaan seolah tidak sabar mendengar apa yang ingin diketahuinya.


Laura menghela nafasnya. Sebenarnya dia sangat malas meladeni semua pertanyaan dari suaminya itu. Dia lelah dan butuh mengistirahatkan badannya. 


Namun, mau tidak mau dia harus menjawabnya. Karena dia tahu jika Arsenio tidak akan diam saja jika pertanyaannya tidak dijawab sama sekali oleh istrinya.


"Aku pulang dari bekerja," jawab Laura dengan malas. 


Kemudian dia berjalan dengan langkah malasnya menuju kamarnya. Akan tetapi, hanya beberapa langkah saja, langkah kakinya terhenti setelah mendengar ucapan suaminya.


"Bekerja di rumah bosmu?" tanya Arsenio seolah menyindirnya.


Seketika Laura memutar badannya menghadap suaminya. Dia mengernyitkan dahinya dan berkata,


"Bagaimana Mas bisa tau jika aku sedang di rumah Pak Ryan?" 


"Jadi benar rumah di kawasan elit itu rumah Ryan, bosmu itu? Kamu sadar apa yang kamu lakukan? Kamu seorang istri, tapi malam-malam seperti ini berada di rumah lelaki lain. Apa yang kamu lakukan di sana?"


Laura menyeringai. Dia melangkah mendekati suaminya dan berhadapan dengan jarak yang sangat dekat dengannya seolah sedang menantangnya. Kemudian dia berkata,


"Justru aku seorang istri yang berbakti pada suaminya. Istri yang kamu hina ini sedang berjuang untuk pekerjaan suaminya. Dan asal kamu tau saja Mas, jika memang pikiranmu seperti itu, sama saja kamu sedang menjual istrimu!"


Seketika tangan Arsenio melayang ke arah wajah istrinya. Akan tetapi dia segera menghentikannya ketika melihat Laura memejamkan matanya.


Beberapa detik dirasa tidak terjadi apa-apa, Laura pun membuka matanya. 


"Kenapa berhenti? Kenapa tidak diteruskan?" tanya Laura dengan mata yang berkaca-kaca.


Arsenio memegang kedua tangan Laura meskipun istrinya itu berusaha melepaskan tangannya. Dia memegang erat tangan istrinya dan berkata,

__ADS_1


"Maaf, maafkan aku. Aku hanya khawatir padamu."


Laura berusaha keras untuk melepaskan tangannya dari tangan suaminya. Dia mengerahkan seluruh tenaganya untuk melepaskannya. Sayangnya tenaganya tidak sebanding dengan tenaga suaminya. 


Dia menatap tajam pada mata suaminya dengan mata yang berkaca-kaca seraya berkata,


"Jika memang benar kamu khawatir padaku, harusnya kamu tidak memperlakukan aku seperti ini."


 "Maaf Sayang… maafkan aku. Kamu pasti tau jika aku sangat cemburu melihatmu bersama dengan bosmu itu," ucap Arsenio lirih berharap istrinya tidak mendengarnya.


Laura menyeringai mendengar perkataan suaminya. Kemudian dia berkata,


"Lalu apa yang harus aku lakukan? Sedangkan suamiku sendiri yang menyuruhku untuk mendekati bosku."


"Maaf. Maafkan aku. Cepat pengaruhi dia untuk bekerja sama dengan perusahaan tempatku bekerja, agar kamu bisa cepat resign dari tempat itu. Tapi aku mohon… jangan lakukan hal yang membuat aku menjadi marah," pinta Arsenio dengan tatapan memohonnya.


"Gampang sekali kamu berbicara Mas. Semua ucapanmu itu seolah kamu telah menjual ku padanya," ujar Laura dengan suara yang bergetar dan matanya yang berkaca-kaca itu meneteskan air matanya.


Dengan segera Arsenio memeluk tubuh istrinya dan berkata,


"Tidak Sayang. Aku mencintaimu. Jika aku berniat seperti itu, aku tidak akan marah apabila kamu terlambat pulang karena bersama dengannya. Aku mohon jangan salah sangka. Tolong bantu aku agar kita bisa kembali hidup nyaman seperti sebelumnya."


Laura tidak membalas pelukan suaminya. Dia hanya pasrah dalam pelukan suaminya. Dan air matanya menetes tanpa diiringi suara isakan tangisnya.


Merasa pelukannya tidak berbalas dan istrinya hanya diam saja, Arsenio mengurai pelukannya serta menatap wajah istrinya.


Laura segera menjauhkan tubuhnya dari suaminya seraya berkata,


"Jangan khawatir. Aku akan membantumu agar kerja sama itu bisa terjadi. Tapi… jangan lupakan janjimu."


Setelah mengatakan semua itu, Laura berjalan masuk ke dalam kamarnya. Dia berdiri di belakang pintu dan bersandar pada pintu tersebut. Diredamnya suara tangisannya dengan menggunakan telapak tangannya yang diiringi deraian air matanya.


Air mata itu sudah tidak bisa dibendung lagi. Setelah beberapa saat, dia mengusap kasar air matanya yang dengan kurang ajarnya keluar tak terkendali.

__ADS_1


"Kenapa aku jadi secengeng ini? Aku lelah Tuhan… Tolong bantu aku agar semuanya bisa cepat selesai."


__ADS_2