System Lady Rich

System Lady Rich
Bab 23 : Keberanian


__ADS_3

Tiara tidak menoleh ke belakang, di mana Alberto berada. Dia hanya mengacungkan jempolnya sambil berjalan keluar dari pintu kamar tersebut.


Tiara menyeringai sambil berjalan cepat menuju tempatnya menyembunyikan tas yang berisi perlengkapannya.


Di dalam toilet, dia segera mengganti bajunya dan meletakkan baju tersebut di dalam kantong plastik dan dimasukkan ke dalam keranjang sampah.


Setelah itu dia menghapus seluruh make up yang menutupi wajah aslinya.


Laura mencuci mukanya di wastafel setelah menghapus bersih make up yang telah dipakainya. Dia bercermin dan menatap lekat wajahnya seraya berkata,


"Selamat tinggal Tiara."


Setelah itu dia bergegas membawa tas perlengkapannya keluar dari toilet. Dengan langkah cepatnya itu dia menuju taksi yang sudah menunggunya di luar resort.


"Untung aku sempat memesan taksi pada saat di toilet tadi," gumam Laura ketika melihat taksi pesanannya sudah menunggunya.


Di dalam taksi tersebut Laura segera mengambil ponsel miliknya dan mengaktifkan ponsel tersebut.


Dia kembali meradang ketika melihat beberapa pesan yang dikirimkan oleh Deborah padanya. Bahkan Deborah juga berkali-kali menelponnya dan semua itu hanya menjadi panggilan tak terjawab.


Dalam pesannya, Deborah mengatakan bahwa Laura akan digantikan oleh presenter muda yang menurut Deborah tidak berkualitas. Dia mengatakan jika presenter yang baru itu hanya menjual tampangnya saja, tidak seperti Laura yang memang berbakat dan pintar dalam hal apa pun.


Kurang ajar! Berani sekali mereka menggantikan aku setelah semua yang aku lakukan untuk acara itu selama ini, Laura berkata dalam hatinya.


Siapa pun pasti akan merasa dikhianati jika diperlakukan seperti itu oleh orang yang tidak menghargai jerih payah kita selama ini untuk mereka.


Tiba-tiba terdengar suara notifikasi pesan dari ponsel Laura. Dengan segera dibukanya pesan tersebut, berharap jika dia akan mendapatkan berita baik agar bisa memperbaiki mood nya yang rusak.


Perlahan bibirnya melengkung ke atas. Bahkan matanya pun berbinar melihat layar ponselnya.


"Dua puluh empat juta rupiah?" gumam Laura seolah tidak percaya.


Dia tersenyum bahagia melihat upayanya dihargai oleh orang lain.


Paling tidak, masih ada yang menghargai hasil kerja kerasku, Laura berkata dalam hatinya.

__ADS_1


Kini, Laura mendapatkan kembali rasa percaya dirinya. Dengan menerima reward dari hasil kerja kerasnya menjalankan misi yang diberikan untuknya, dia merasa kembali menjadi Laura yang sangat percaya diri dan bisa melakukan apa pun.


Taksi yang dinaiki oleh Laura berhenti di depan bangunan yang menjulang tinggi dengan tulisan nama televisi swasta di mana Laura telah bekerja di sana selama sepuluh tahun.


Dengan langkah penuh percaya dirinya, Laura masuk ke dalam kantornya untuk mencari Anto selaku sutradara dari acara yang dipandunya.


Laura segera menghampiri Anto ketika melihat sutradaranya itu sedang melihat hasil pengambilan gambar yang dilakukannya.


"Kapan kita akan syuting Pak?" tanya Laura pada Anto ketika sudah berada di dekatnya.


Sontak saja Anto terkejut mendapati Laura yang sudah ada di dekatnya saat ini. Anto mengalihkan pandangannya pada Dani yang berada di sebelahnya dan menatapnya dengan tatapan kesal.


"Sudah saya sampaikan tadi Pak," bisik Dani di telinga Anto.


Anto menghela nafasnya melihat Laura yang menatapnya dengan sangat percaya diri. Bahkan dia sekarang ini berdiri di hadapan Anto sambil menyeringai dan kedua tangannya berada di dalam saku celananya.


"Laura, seperti yang dikatakan oleh Dani, kamu akan digantikan oleh–"


"Bagaimana jika saya tidak mau?" sahut Laura dengan cepatnya menyela ucapan Anto.


Laura merubah posisi berdirinya dan dia menatap tegas pada Anto seraya berkata,


"Baiklah, saya akan mengundurkan diri dengan terhormat!"


Sontak saja Anto dan Dani kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Laura. 


Melihat ekspresi kaget Anto dan Dani membuat Laura menjadi bahagia. Laura berjalan meninggalkan mereka yang masih terkejut mendengar keputusan dari Laura.


"Laura, kamu masih jadi presenter. Tapi untuk usia yang ditentukan," seru Anto yang mencoba menghentikan langkah Laura.


Namun, Laura tetap saja berjalan. Dia tidak mau mengalah lagi. Dia kini merasa bangga telah meninggalkan mereka yang selama ini sudah seenaknya saja padanya.


"Keputusanku sudah bulat. Aku sudah tidak mau lagi mengalah pada kalian. Lebih baik aku fokus pada misi yang diberikan padaku saja," gumam Laura seiring langkah kakinya keluar dari kantornya.


Di dalam sana, Anto marah pada Dani. Dia menyalahkan Dani yang tidak bisa menghentikan keinginan Laura untuk resign dari pekerjaannya.

__ADS_1


"Bodoh kamu! Harusnya kamu bisa menenangkannya dan merayunya agar tetap bertahan bersama kita dalam acara ini. Tidak mungkin dia mau memandu acara dengan bintang tamu yang usianya jauh diatasnya. Bisa-bisa kacau acara kita jika dipandu olehnya," ujar Anto dengan kesal pada Dani yang membicarakan presenter baru mereka.


Dani hanya diam saja menerima makian yang diberikan oleh Anto padanya. Dia hanya berkata dalam hatinya,


Nasib… nasib… selalu saja aku yang disalahkan. Sebenarnya dia sudah tau jika presenter baru itu tidak bisa dibandingkan dengan Laura, tapi kenapa dia tetap memakainya. Sekarang dia menyalahkan ku. Apa yang sebenarnya terjadi sehingga dia lebih memilih presenter baru itu?


Anto berjalan mondar-mandir sambil berpikir. Dia tidak bisa melepaskan Laura begitu saja karena Laura sangat patuh dan berbakat.


Sedangkan Laura, dia merasa lega dan lebih bebas setelah mengatakan keputusannya untuk meninggalkan pekerjaan yang sudah lama sekali digelutinya. Bahkan namanya besar dari acara tersebut.


"Sudahlah Laura, kamu bisa bekerja di tempat lain yang lebih menghargai kerja kerasmu. Dan mereka pasti akan sangat menyesal telah berlaku seperti ini padamu," gumam Laura dengan penuh kebencian.


Laura kembali ke rumahnya dengan perasaan yang bercampur aduk. Rasa senang dan bangga pada dirinya sendiri karena mampu menyelesaikan misinya dan berani mengatakan bahwa dirinya mengundurkan diri di depan sutradaranya.


Namun, ada rasa sedih di hatinya saat ini. Sedih karena meninggalkan acara dan orang-orang yang selama ini selalu bekerja bersamanya.


Tidak terasa air mata Laura menetes di pipinya. Air mata itu bercampur antara air mata kebahagiaan dan air mata kesedihan, sesuai dengan apa yang dirasakan oleh Laura saat ini.


Tiba-tiba saja ada suara notifikasi pesan yang membuatnya tersadar. Diraihnya ponsel yang ada di sebelahnya dan dibacanya.


Bibir Laura melengkung ke atas tatkala membaca pesan dari suaminya yang mengajaknya untuk makan malam bersama di tempat yang spesial.


Hati Laura sedikit terobati karena kesedihannya itu telah sedikit digantikan oleh rasa senangnya dengan perlakuan manis dari suaminya.


Dengan segera Laura menyiapkan baju dan tas yang akan digunakannya untuk makan malam bersama dengan suaminya. Dia mencoba beberapa pakaian dan melihatnya di cermin besar yang ada dalam kamarnya. 


Setelah sibuk memilih dari beberapa koleksi pakaiannya, Laura sudah menentukan pakaian yang akan dipakainya nanti.


Laura tersenyum melihat pakaian yang telah menjadi pilihannya untuk digunakannya nanti malam. Dia mengingat jika pakaian tersebut merupakan pemberian dari suaminya pada awal mereka menikah.


Namun, sesaat kemudian senyumnya memudar ketika melihat hal yang tidak asing baginya. 


Panel mengambang itu hadir kembali di depannya. Dia menghela nafasnya lesu mengingat acara makan malamnya bersama Arsenio. Dia takut jika acara tersebut gagal karena misi yang didapatkannya.


"Apa itu misi ketujuh?" gumam Laura yang hanya melihat benda itu tanpa mau membacanya. 

__ADS_1


__ADS_2