
Arsenio merasa bersalah pada Laura. Apalagi dia melihat jika istrinya kini seperti sedang kecewa dan marah padanya.
Arsenio sesekali melirik Laura yang duduk di sampingnya. Setelah itu dia kembali fokus pada kemudinya seraya berkata,
"Sayang, aku ingin mengaku padamu."
Seketika Laura menoleh ke arah suaminya yang masih fokus pada kemudinya. Lalu dia berkata,
"Apa?"
Mobil tersebut dipinggirkan oleh Arsenio di tepi jalan. Dia menghela nafasnya sejenak, kemudian dia berkata,
"Maaf, aku tadi memang sedikit tergoda ketika membantu Rena membuka resleting bajunya."
Mata Laura berkaca-kaca dan bibirnya bergetar menahan tangisnya. Wajahnya menoleh ke arah lainnya seolah tidak mau melihat wajah suaminya.
Tangan Arsenio memegang kedua tangan istrinya dan menatap istrinya dengan tatapan memohon seraya berkata,
"Maafkan aku Sayang. Aku hanya sedikit terbuai karena ingat akan saat-saat kamu meminta bantuanku untuk melepaskan resleting bajumu."
Laura kembali melihat ke arah suaminya. Dengan mata yang berkaca-kaca dia menatap suaminya dan berkata,
"Jika kamu mengingat istrimu ini, kamu tidak akan tergoda oleh perempuan mana pun. Meskipun perempuan itu lebih cantik dan lebih seksi dari istrimu ini."
Arsenio membawa kedua tangan Laura di depan wajahnya dan menciumi kedua tangan istrinya itu.
"Maaf Sayang, maafkan aku. Tidak benar jika dia lebih cantik dan lebih seksi daripada kamu. Hanya kamu perempuan yang paling cantik dan paling seksi di antara perempuan yang aku temui. Hanya kamu yang aku cintai," ucap Arsenio dengan tatapan memohon pada istrinya.
Dengan sekuat tenaganya Laura menarik kedua tangannya dari genggaman tangan suaminya. Dia menatap suaminya dengan tatapan penuh kekecewaan dan mata yang berkaca-kaca.
"Rasanya susah untuk mempercayai perkataanmu Mas," tukas Laura dengan suara yang bergetar.
"Sayang… aku mohon maafkan aku. Aku berjanji tidak akan tergoda perempuan lain. Aku akan–"
__ADS_1
"Aku akan pegang janjimu Mas. Tapi aku mohon, kita pulang sekarang. Aku lelah dan ingin beristirahat," sahut Laura dengan tegas.
Arsenio menatap nanar istrinya yang terlihat belum percaya padanya. Dia menghela nafasnya yang terdengar sangat berat.
Namun, dia tidak bisa lagi menjelaskan pada istrinya. Tanpa pengakuannya pun Laura tetap curiga dan kecewa padanya. Hingga Arsenio memutuskan untuk mengaku pada istrinya bahwa dia sempat sedikit tergoda pada saat membantu Rena tadi.
Akhirnya Arsenio kembali melajukan mobilnya menuju rumahnya. Suasana dalam mobil itu terasa hening. Laura hanya menatap ke arah luar jendela kacanya. Dia benar-benar menghindari bertatap mata dengan suaminya yang sedang mengemudikan mobilnya.
Beberapa saat kemudian, mobil itu masuk ke dalam halaman rumah mereka. Laura segera keluar dari mobilnya ketika kunci pintu mobil sudah dibuka oleh Arsenio.
Arsenio kembali menghela nafasnya melihat istrinya yang tidak lagi bersikap manis padanya seperti sebelumnya.
Arsenio mengambil barang-barang miliknya di bagasi mobilnya dan membawa tas perlengkapan make up milik istrinya. Dia melihat masih ada tas lain dan sepatu milik Laura. Dia tidak menurunkannya karena sudah menjadi kebiasaan Laura yang selalu menyediakan barang keperluannya di dalam mobil.
Dia membuka pintu kamarnya dengan ragu-ragu. Dia takut jika pintu kamar itu kembali terkunci dari dalam seperti waktu itu.
Namun, seketika senyumnya merekah ketika pintu kamar itu bisa terbuka saat dia membukanya.
Masuklah Arsenio ke dalam kamarnya. Dia meletakkan barang-barang yang dibawanya dari bagasi mobil tadi ke dalam kamarnya.
Sepertinya aku harus merayunya agar hubungan kami bisa kembali seperti semula.
"Sayang… ini barang-barang kamu diletakkan di mana?" tanya Arsenio yang masih membawa barang-barang di tangannya sambil melihat ke arah istrinya.
Laura tak bergeming. Dia masih saja memejamkan matanya dan tidak menjawab pertanyaan suaminya.
Arsenio menghela nafasnya. Dia kesal pada dirinya sendiri yang bisa dengan gampangnya terpedaya oleh Rena.
Dia meletakkan barang-barang yang dibawanya di dekat sofa yang ada dalam kamarnya. Dengan langkah beratnya itu dia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan badannya.
Di dalam kamar mandi, Arsenio teringat akan kebodohannya tadi. Dia mengguyur kepalanya dengan air shower berharap agar kebodohannya itu tidak akan kembali lagi. Dia sudah memiliki Laura yang sangat dicintainya dan tentu saja menurutnya lebih dari perempuan yang lainnya.
Arsenio berdiri di depan cermin yang ada di dalam kamar mandi tersebut. Dia menatap dirinya sendiri dan kembali teringat akan kejadian tadi ketika bersama dengan Rena. Tangan Arsenio bergerak memukuli kepalanya seraya berkata,
__ADS_1
"Bodoh… bodoh… bodoh sekali kau Arsenio! Kenapa kamu bisa melakukan itu?"
Dia merutuki kebodohannya yang membuat dirinya dalam posisi sulit saat ini. Bahkan dia menjadi bahan omongan di lokasi syuting hanya karena kesalahpahaman tersebut.
"Sekarang bagaimana aku harus mengembalikan kepercayaan Laura padaku?" gumam Arsenio di depan cermin dengan frustasi.
"Huuufffttt… entah bagaimana caranya, aku harus bisa memperbaiki hubungan kami. Aku tidak mau kehilangan dirinya hanya karena tindakan bodohku ini," sambung Arsenio kembali meyakinkan dirinya.
Setelah itu dia keluar dari kamar mandi dengan menggunakan pakaian santainya. Kini dia merasa bingung. Dalam hatinya berkata,
Aku sangat lapar sekali. Pasti Laura juga merasa sangat lapar saat ini. Apa aku mengajaknya makan di luar saja ya? Tapi, bagaimana jika dia tambah marah sama aku?
Tiba-tiba perut Arsenio berbunyi. Dia memegang perutnya dan melihat istrinya yang masih saja berada di dalam selimutnya.
Dengan memberanikan dirinya, Arsenio mendekati istrinya dan berjongkok di hadapannya seraya berkata dengan sangat lembut dan hati-hati sekali,
"Sayang, kita makan di luar yuk. Aku sangat lapar sekali. Pasti kamu juga sangat lapar. Kita makan di tempat favorit kamu ya."
Laura tidak juga membuka matanya. Dia bergerak menghadap ke arah sebaliknya. Kini Arsenio hanya bisa melihat punggung istrinya.
Kenapa lagi-lagi aku berhadapan dengan punggung? Gara-gara punggung, Laura jadi marah seperti ini padaku, Arsenio berkata dalam hatinya.
Dia masih tidak menyerah. Apalagi dia mengingat saat istrinya tersenyum ketika melihat layar ponselnya. Dia takut jika istrinya mempunyai teman laki-laki yang bisa membuatnya tersenyum selain dirinya.
Arsenio berpindah tempat. Kini dia berada di depan Laura. Dengan gerakan cepatnya dia memeluk tubuh istrinya dan menguncinya agar istrinya itu tidak bisa lepas dari pelukannya.
Laura memberontak. Dia masih enggan bersama dengan suaminya. Dia masih merasa kecewa dan marah pada suaminya.
Namun, sekuat apa pun Laura mencoba melepaskan dirinya dari pelukan Arsenio, maka suaminya itu semakin kuat memeluknya.
Dan akhirnya Laura menyerah. Dia tidak lagi berusaha melepaskan dirinya dari pelukan suaminya. Dia mencoba mencari cara agar bisa menghukum suaminya dengan caranya sendiri.
Laura membuka matanya. Dia menatap intens manik mata suaminya yang sedari tadi menatapnya meskipun matanya masih terpejam. Kemudian dia berkata,
__ADS_1
"Aku mau meminta sesuatu."