System Lady Rich

System Lady Rich
Bab 31 : Perintah istri


__ADS_3

Laura mempunyai keinginannya saat ini. Dia ingin menghukum suaminya dengan caranya sendiri.


"Aku mau meminta sesuatu," ucap Laura dengan menatap intens manik mata suaminya.


"Tentu saja. Katakan apa yang kamu inginkan?" tukas Arsenio dengan senyumnya yang mengembang.


"Aku ingin kamu memasak untukku," ujar Laura dengan tegas.


Seketika mata Arsenio terbelalak. Dia terkejut atas permintaan dari istrinya. Kemudian dia berkata,


"A-apa? Memasak? Tapi Sayang aku tidak bisa me–"


"Jika tidak mau juga tidak masalah. Aku ingin tau saja seberapa keras usahamu untuk meminta maaf padaku," sahut Laura diiringi dengan seringainya.


Seketika badan Arsenio lemas. Dia memang ingin sekali dimaafkan oleh istrinya agar hubungan mereka bisa kembali seperti semula.


"Baiklah, akan aku coba," ucap Arsenio dengan menatap istrinya dengan tatapan mengiba.


Laura kembali memejamkan matanya setelah mendengar perkataan suaminya. Dia enggan membantunya untuk memasak. Semua itu dilakukannya untuk menghukum suaminya.


Langkah kaki Arsenio terasa berat berjalan menuju dapur. Dia menghela nafas melihat dapur yang seolah menertawakannya.


Dikumpulkannya semua bahan makanan yang ada di dalam lemari es dan diletakkannya di atas meja dapur.


"Harus aku apakan semua ini?" ucap Arsenio sambil melihat semua bahan makanan tersebut diiringi dengan helaan nafasnya.


Kemudian pandangan matanya beralih menatap alat penanak nasi. Dia tidak tahu bagaimana cara menggunakan alat yang bernama magic com tersebut. Dia kembali menghela nafasnya dan berkata,


"Lalu bagaimana caranya aku memasak nasi?"


Dia mencari-cari resep masakan melalui ponselnya. Sayangnya dari begitu banyaknya resep yang tertera di layar ponselnya, tidak ada satu pun yang bisa dilakukannya.


Arsenio mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. Dia benar-benar merasa seperti orang bodoh yang tidak bisa berbuat apa-apa.


"Lebih baik aku coba saja berbicara lagi pada Laura. Siapa tau dia sudah berubah pikiran," gumam Arsenio sambil berjalan menuju kamarnya.


Perlahan dia membuka pintu kamarnya. Langkah kakinya sangat pelan dan hati-hati menuju ranjang.


"Sayang… kita delivery saja ya. Aku tidak yakin jika masakanku bisa diterima oleh perutmu. Aku tidak mau kamu sakit karena memakan masakanku yang belum tentu bisa dimakan. Jadi… lebih baik aku de–"

__ADS_1


Perkataan Arsenio tidak dapat dilanjutkannya karena tiba-tiba Laura sudah duduk dan menatapnya dengan tatapan kesalnya.


"Apa masih kurang jelas permintaanku tadi?"


Seketika bibir Arsenio mengatup. Dia kini mirip seperti seorang bocah yang sedang dimarahi oleh ibunya.


Gawat, daripada dia marah lagi, lebih baik aku kembali ke dapur saja, Arsenio berkata dalam hatinya.


Dengan segera dia keluar dari kamar tersebut dan berjalan menuju dapur.


Laura menatap suaminya diiringi dengan helaan nafasnya yang terdengar sangat berat. Kemudian dia kembali merebahkan tubuhnya serta memejamkan matanya kembali untuk meneruskan tidurnya.


Namun, tiba-tiba saja dia membuka matanya dan kembali duduk seraya berkata,


"Sepertinya aku harus melihatnya. Siapa tau dia benar-benar memesan makanan dari luar sana."


Dengan segera Laura menyibak selimutnya dan turun dari ranjangnya. Dia berjalan dengan malas menuju dapur.


Arsenio menoleh ke arah Laura yang sedang berjalan menuju ke arahnya.


"Loh, Sayang, kenapa bangun? Apa kamu sudah kelaparan? Maaf, aku masih belum selesai memasak. Aku tidak terbiasa memasak, jadi… ya maklumi saja jika perlu waktu yang lama untuk menyelesaikannya," ucap Arsenio mencoba merayu istrinya.


Merasa diabaikan oleh istrinya, Arsenio kembali dengan aktivitas memasaknya. Kali ini Arsenio sibuk dengan beberapa sayuran. Sedari tadi dia hanya memotong-motong sayuran dengan menyaksikan tutorial memasak.


Dia benar-benar tidak puas dengan hasil potongan sayurnya yang tidak sesuai dengan contohnya. Bahkan ukurannya sangat besar dan terlalu tebal.


Terlihat sekali dari wajah Arsenio jika sekarang ini dia sangat frustasi. Laura hanya menyaksikan tanpa berkomentar apa pun.


Karena merasa bosan terlalu lama menunggu suaminya yang tak kunjung selesai memasak, Laura meninggalkan tempat duduknya dan dia berpindah duduk di sofa untuk menonton televisi.


"Sudah lama sekali aku tidak merasa santai seperti ini," ucap Laura yang sedang tiduran di sofa sambil menonton tayangan televisi.


Tiba-tiba dia ingin memakan pizza ketika ada tayangan iklan pizza di televisi. Dengan segera dia mengambil ponselnya dan memesan dua large pan pizza dengan berbeda toping, serta soft drink dan smoothies mangga.


Setelah memesannya, Laura kembali menonton acara kartun yang sedang ditayangkan di televisi. Bahkan Laura tertawa lepas saat ini. Dia merasa sangat terhibur melihat acara kartun tersebut.


Arsenio tersenyum ketika mendengar tawa istrinya. Dia sedikit merasa lega karena setidaknya suasana hati istrinya sudah tidak seperti tadi.


Namun, dia menghela nafasnya melihat hasil masakannya yang tidak sesuai dengan ekspektasinya. Bahkan dia sendiri tidak berani untuk mencicipinya.

__ADS_1


"Sayang… aku sudah selesai memasak, tapi aku tidak yakin dengan rasanya," seru Arsenio dari arah dapur.


Laura mendengar seruan suaminya. Dia menyeringai seraya berkata,


"Mari kita lihat, seberapa keras usahanya."


Dia menghampiri suaminya yang masih berada di dapur. Laura berdecak kagum melihat keadaan dapurnya saat ini.


"Bagus sekali Mas. Kamu mengacaukan dapurku," ujar Laura sambil menyeringai dan meletakkan kedua tangannya di depan dadanya.


Arsenio menatap sekeliling dapur. Dia menghela nafasnya melihat kekacauan yang disebabkan olehnya.


"Maaf Sayang, aku akan membereskannya nanti," ucap Arsenio yang terlihat sangat menyesal.


"Ini masakanku. Apa kita akan makan sekarang?" tanya Arsenio dengan ragu pada istrinya.


Ding dong! Ding dong! Ding dong!


Terdengar suara bel rumah yang dibunyikan dari luar.


"Cepatlah buka pintunya," perintah Laura pada suaminya.


Arsenio segera berjalan menuju pintu. Sedangkan Laura berjalan meninggalkan dapur tanpa melihat masakan hasil kerja keras suaminya. Dia duduk kembali di sofa sambil menonton tayangan televisi.


"Sayang, ini ada yang mengirim pizza atas nama kamu. Apa benar kamu yang memesannya?" tanya Arsenio sambil membawa dua box besar pizza dan kantong plastik berlogo resto pizza tersebut yang berisi minuman.


"Iya benar. Tolong letakkan di sini dan bayarlah semuanya. Karena aku belum membayarnya," jawab Laura sambil menunjuk meja yang ada di hadapannya.


Sontak saja Arsenio terlihat kaget mendengar jawaban dari istrinya. Bahkan dia menggerutu dalam hatinya.


Maunya apa sih, tadi minta dimasakin. Setelah usaha kerasku hingga mengacaukan dapur, dia malah tidak mau makan dan memesan makanan dari luar. Pintar sekali kamu menghukum ku Laura.


Arsenio segera meletakkan semua makanan dan minuman itu di atas meja yang ada di hadapan Laura. Kemudian dia berjalan masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil dompetnya dan membayar bill yang diberikan kurir delivery makanan tersebut padanya.


Arsenio berjalan menuju dapur. Dia melewati istrinya begitu saja tanpa berkata apa pun dan tanpa menoleh padanya.


"Mau ke mana Mas?" tanya Laura yang sedang membuka box pizza.


Arsenio menghentikan langkahnya. Dalam hatinya berkata,

__ADS_1


Mau apalagi dia?


__ADS_2