
"Sayang, aku–"
"Pergi! Pergi!" seru Laura dengan histeris dan tangisannya yang sangat menyayat hati.
Mendengar tangisan Laura yang histeris dan menyayat hatinya, Ryan segera mendekati Arsenio dan berkata,
"Sebaiknya anda pergi dari sini. Tidak baik untuk Laura jika dia menangis seperti ini. Lebih baik kalian bicarakan besok setelah Laura sudah tenang."
Dengan berat hati Arsenio meninggalkan ruangan tersebut. Dia menatap istrinya dengan perasaan bersalah dan tatapan yang menyatakan permohonan maafnya. Bahkan langkahnya sangat berat untuk keluar dari ruangan tersebut.
Dia ingin memeluk istrinya dan memohon ampun padanya. Sayangnya dia tidak bisa melakukannya saat ini.
Dengan langkah percaya dirinya Kessy tersenyum pada Laura dan berjalan mengikuti Arsenio keluar dari ruangan tersebut.
Laura menangis tersedu-sedu meskipun suaminya telah keluar dari kamar tersebut. Dia merasa sakit hati atas kehilangan bayi yang ada dalam kandungannya. Terlebih lagi bayangan perselingkuhan suaminya bersama dengan Kessy yang mereka lakukan di dalam kamar mereka membuatnya lebih terluka lagi.
"Laura, berhentilah menangis. Tidak bagus untuk keadaanmu saat ini. Jika kamu memang sudah tidak tahan, lepaskanlah agar tidak menyakiti dirimu sendiri. Dan jika kamu ingin membalas dendam, balas dendam lah dengan cara yang elegan," tutur Ryan pada Laura yang sedang mendengarkannya di sela isakan tangisnya.
Laura diam memikirkan penuturan dari Ryan. Dalam hatinya berkata,
Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Pak Ryan, aku harus melepaskannya jika aku sudah tidak bisa menahan rasa sakit ini lagi. Tapi aku harus menyelesaikan misiku agar aku bisa lepas darinya.
Tiba-tiba sesuatu terlintas di benaknya. Dia menatap Ryan dengan ragu-ragu. Akan tetapi, apa yang sedang dibutuhkannya lebih mendesak. Dengan ragu-ragu dan rasa takutnya Laura berkata,
"Pak, apa saya bisa meminjam uang dari Bapak atau perusahaan?"
"Pinjam uang?" tanya Ryan dengan dahinya uang mengernyit.
"I-iya Pak. Saya… saya ingin meminjam uang dalam jumlah yang banyak. Tidak peduli saya akan bekerja di perusahaan dalam waktu yang sangat lama untuk bisa membayarnya. Saya hanya ingin supaya bisa dengan cepat menebus rumah itu dan merubah nama kepemilikan rumah itu menjadi rumah saya," jawab Laura dengan suara yang tercekat dan bibirnya yang bergetar menahan tangisnya.
Ryan duduk menyamping di tempat tidur Laura dan menatap intens padanya. Kemudian dia berkata,
__ADS_1
"Hutang? Rumah? Sebenarnya ada apa?"
Sebenarnya Ryan sudah mengetahui semuanya dari orang yang ditugaskan olehnya untuk mencari tahu tentang Laura dan Arsenio. Dari apa yang diketahuinya itu dia semakin iba dan simpati pada Laura.
Laura mengusap sisa-sisa air matanya yang dengan sekuat tenaga ditahannya. Kemudian dia menghirup udara dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan. Setelah merasa agak tenang, dia pun menjawab pertanyaan yang diberikan Ryan padanya.
"Suami saya mempunyai hutang di sebuah bank dalam jumlah yang besar dan dia memberikan sertifikat rumah kami pada pihak bank sebagai jaminan hutangnya. Sayangnya dia masih belum bisa membayarnya. Sekarang saya ingin bisa menebus rumah itu kembali dan mengalihkan kepemilikan rumah itu menjadi milik saya agar jika kami berpisah kelak, rumah itu akan menjadi milik saya, sesuai dengan perjanjian kami waktu itu."
Tanpa sadar tangan Ryan mengusap lembut air mata yang menetes di pipi Laura ketika menceritakan sebagian permasalahan yang sedang dihadapinya.
"Saya sudah tidak kuat Pak. Saya mohon, bantu saya agar lepas dari penderitaan yang sudah lama saya pertahankan," ucap Laura dengan bibir yang bergetar dan matanya berkaca-kaca menatap Ryan yang juga sedang menatapnya.
"Berapa jumlah uang yang harus kamu bayarkan di bank?" tanya Ryan dengan serius ketika menatap intens manik mata Laura.
"Apa itu artinya Bapak mau meminjamkan saya uang untuk menebus rumah itu?" tanya Laura dengan meneteskan air mata kebahagiaannya.
Ryan tersenyum dan menganggukkan kepalanya seraya berkata,
"Benarkah Pak?" tanya Laura kembali seolah tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Benar. Dan saya akan membantumu untuk mengurus yang lainnya jika memang kamu membutuhkan bantuan saya. Mungkin saja masalah perceraian misalnya," jawab Ryan sambil terkekeh agar Laura tidak lagi bersedih.
Laura tersenyum tipis mendengar kata perceraian. Kemudian dia berkata,
"Cerai. Sebenarnya sudah sejak lama saya ingin mengatakan itu. Hanya saja ada situasi yang mengharuskan saya agar bisa mempertahankan rumah tangga kami. Sayangnya semakin ke sini saya merasa usaha dan pengorbanan saya terasa sangat sia-sia. Mungkin dengan keguguran ini menjadi suatu pertanda jika saya sudah mulai lelah. Itu berarti saya harus menyerah dan melepaskan semuanya untuk memulai hidup baru yang mungkin saja merupakan awal dari kebahagiaan saya."
Ryan tersenyum mendengar perkataan Laura yang masih saja bersikap optimis seperti Laura yang dikenalnya.
"Apa hanya itu saja yang perlu saya bantu untuk mengurusnya?" tanya Ryan kembali.
Laura tersenyum dalam wajah sayu yang menggambarkan kesedihannya. Dia menganggukkan kepalanya dan berkata,
__ADS_1
"Iya Pak. Saya mohon bantu saya."
"Baik. Akan saya bantu. Jika ada lagi yang perlu bantuan saya, jangan sungkan-sungkan memintanya, karena kamu orang yang sangat berharga bagi saya," ujar Ryan sambil merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya.
Perkataan Ryan itu mampu membuat Laura menjadi lebih baik. Dia mendengar bahwa dirinya sangat berharga, itulah yang ingin didengarnya dari mulut suaminya. Sayangnya dia mendengar kalimat itu dari orang lain, bukan dari suaminya.
"Terima kasih Pak. Dan saya minta maaf jika saya tidak mengatakan bahwa dia suami saya ketika Bapak memutuskan untuk bekerja sama dengannya," ucap Laura dengan penuh penyesalan.
"Tenang saja Laura, saya sudah tau itu semua. Saya akan mengurus semuanya. Sebaiknya kamu fokus saja dengan masa pemulihan kamu agar bisa cepat sembuh dan bisa membalas perbuatan mereka padamu," tutur Ryan sambil tersenyum manis padanya.
Ryan menghubungi seseorang dari ponselnya dan mengatakan apa yang menjadi keinginan Laura pada orang yang ditugaskan Ryan untuk mengurusnya.
Laura menghela nafasnya dan dia berkata dalam hatinya,
Mungkin ini sudah saatnya aku harus menyelesaikan semuanya. Aku akan mengakhiri ini semua dan memulai hidup baruku tanpa beban seperti yang aku rasakan selama ini.
...----------------...
Di dalam mobil Kessy, saat ini Arsenio merasa sangat frustasi. Dia menjambak rambutnya dan memukul-mukul kepalanya sebagai wujud penyesalan dirinya.
"Dasar bodoh… bodoh… bodoh…! Gara-gara kamu anak yang selama ini kamu harapkan meninggal tanpa kamu ketahui kehadirannya. Bodoh… bodoh kau Arsenio…! Mungkin karena inilah dia bersedih dan meninggalkan kami," ucap Arsenio di sela isakan tangisnya mengiringi penyesalannya.
"Sudahlah jangan bersedih Sayang. Jika kamu menginginkan kehadiran anak, aku bisa memberikannya untukmu. Aku tidak seperti istrimu yang sangat sulit hamil itu," sahut Kessy sambil mengusap lembut lengan Arsenio yang duduk di sampingnya.
Tiba-tiba saja terdengar suara dering telepon dari ponsel Arsenio. Segera dia mengambil ponsel dari sakunya.
"Rumah sakit?" celetuk Arsenio ketika melihat nomor rumah sakit yang biasa menghubunginya untuk memberitahukan keadaan ibunya.
Tanpa menunggu lama, dengan segera dia mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Halo," sapa Arsenio ketika mengangkat telepon tersebut.
__ADS_1
"Ada apa dengan ibu saya?" tanya Arsenio dengan paniknya.