
Selang empat minggu, Arsenio dikejutkan oleh kabar dari seseorang.
"Sayang… aku sedang mengandung," ujar Kessy sambil mengulurkan tangannya di hadapan Arsenio.
Arsenio terperangah melihat benda yang diberikan oleh Kessy padanya. Dia tidak mengambil benda tersebut. Dia hanya memperhatikan benda yang bernama test pack itu memperlihatkan dengan jelas dua garis pada alat tersebut.
"Lalu?" tanya Arsenio dengan tenangnya.
Tampak terlihat Arsenio tidak tertarik sama sekali dengan apa yang disampaikan oleh Kessy padanya. Dia lebih memilih melakukan apa yang sedang dilakukannya saat ini.
"Sayang, bagaimana sih kamu ini? Yang ada dalam kandunganku ini anak kamu. Jangan pura-pura tidak tau," ujar Kessy dengan kesal disertai dengan gaya merajuknya.
Arsenio yang sedang membersihkan halaman rumah ibunya itu sedari tadi hanya mengacuhkan Kessy saja. Dia sedang sibuk membersihkan halaman rumah ibunya yang dipenuhi dengan beberapa barang bekas hasil dari ibunya selama ini. Kumpulan barang-barang bekas itu mengingatkan Arsenio kembali akan penyakit demensia ibunya yang sering sekali membawa barang-barang bekas pulang ke rumahnya.
Sejak keluar dari rumah sakit saat itu, Arsenio tinggal di rumah ibunya dan tentu saja kehidupannya berubah sangat drastis. Dia tidak lagi memiliki Laura sebagai istrinya yang biasanya selalu meladeni semua keinginannya. Kini dia harus bisa meladeni dirinya sendiri.
Penampilan Arsenio kini tidak seperti masih berstatuskan suami Laura. Penampilannya kini terkesan lusuh dan berantakan. Hanya Kessy yang setiap hari ada bersamanya meskipun kehadirannya tidak selalu mendapatkan sambutan baik dari Arsenio.
Arsenio menghentikan apa yang sedang dilakukannya saat ini. Dia menatap Kessy dengan tatapan datar dan berkata,
"Maaf, aku tidak tertarik dengan leluconmu."
Kessy menarik tangan Arsenio dengan sangat kesal dan berkata,
"Ini anakmu Sayang. Kamu harus bertanggung jawab! Nikahi aku. Aku tidak mau melahirkan anak tanpa seorang suami."
Arsenio menghela nafasnya. Dia menatap intens manik mata Kessy. Kemudian dia berkata,
"Apa kamu yakin itu anakku?"
"Apa maksudmu? Bukankah kita melakukannya malam itu? Apa kamu melupakan hal itu?" tanya Kessy disertai kekesalannya.
Arsenio mengernyitkan dahinya. Dia menatap Kessy dengan tatapan merendahkannya dan berkata,
"Bukannya kamu sering melakukannya dengan orang lain?"
Kessy menarik kedua tangan Arsenio seraya berkata,
"Tidak. Aku tidak pernah melakukan itu dengan orang lain. Sejak aku melakukan itu denganmu, aku tidak pernah mempunyai hubungan dengan laki-laki mana pun. Apa kamu tega membunuh bayi yang tidak berdosa ini?"
__ADS_1
Arsenio menatap wajah Kessy dengan penuh keraguan. Setelah itu dia mengalihkan perhatiannya pada kegiatannya kembali, membersihkan halaman rumah ibunya dari barang-barang bekas yang sudah sejak lama berada di sana.
Kessy terlihat sangat marah saat ini. Selama hidupnya, dia tidak pernah diabaikan sama sekali oleh siapa pun. Dan hanya Arsenio yang berani mengabaikannya dan menolaknya setiap dia menginginkannya.
Kessy mengambil sesuatu dari tas miliknya. Dia mendekati Arsenio dan berkata,
"Aku akan mengakhiri hidupku jika kamu tidak mau mengakuinya dan menikahiku!"
Sontak saja Arsenio menoleh ke arahnya. Dia terkejut melihat pisau lipat yang diletakkan oleh Kessy di atas pergelangan tangannya untuk mengancamnya.
"Apa kau sudah gila?!" tanya Arsenio yang terkejut tapi mencoba untuk tenang.
"Aku tidak peduli. Aku hanya tidak ingin malu di hadapan orang-orang. Dan tentunya kedua orang tuaku juga akan sangat marah jika mengetahui laki-laki yang tidur bersamaku tidak mau bertanggung jawab atas kehamilanku," sahut Kessy dengan mata yang berkaca-kaca.
"Tapi kenapa harus aku?" tanya Arsenio disertai helaan nafasnya.
Kessy melangkah mendekati Arsenio dan lebih mengeratkan pisau tersebut pada kulitnya, sehingga ada goresan tipis disertai sedikit cairan warna merah yang terdapat pada pergelangan tangannya.
Melihat kenekatan Kessy, sontak saja Arsenio panik dan berkata,
"Baiklah! Aku setuju. Tapi jangan lakukan itu. Buang pisau itu jauh-jauh."
"Terima kasih Sayang. Ayo kita temui orang tuaku dan kita lakukan pernikahan ini secepatnya," tutur Kessy yang terdengar sangat bahagia.
Tidak ada lagi yang bisa dilakukan oleh Arsenio. Dia merasa hidupnya sudah hancur saat sidang memutuskan perceraiannya dengan Laura. Terbersit keinginan untuk rujuk dengan mantan istrinya itu. Akan tetapi dia harus bisa menjadi lebih sukses dari keadaannya yang sekarang agar bisa dengan percaya dirinya meminta mantan istrinya itu kembali padanya.
Namun, keinginannya itu sia-sia. Kini keadaan mengharuskannya menikahi Kessy untuk bertanggung jawab pada kehamilannya.
Saat itu juga Kessy mengajak Arsenio menemui kedua orang tuanya. Tentu saja kedua orang tua Kessy menyetujui pernikahan mereka agar tidak mempermalukan nama baik keluarga mereka.
Dengan cepatnya Kessy telah merencanakan semuanya. Undangan, tempat diadakannya pesta pernikahan mereka dan sebagainya telah diatur olehnya. Dan pernikahan mereka akan diadakan minggu depan dengan pesta yang meriah.
Sejak saat itu Arsenio berwajah dingin layaknya orang yang tidak memiliki hati. Di tempat kerjanya dia menjadi lebih tegas dari pada biasanya. Bahkan saat ini dia tidak bisa mentolerir kesalahan kecil apa pun yang dilakukan oleh bawahannya.
...----------------...
Siang itu, Kessy berkunjung ke perusahaan RAZ. Dia sengaja datang ke kantor Ryan untuk bertemu dengan Laura. Dengan sangat percaya diri dia memberikan undangan pernikahannya pada Laura.
Kini Kessy duduk di sofa yang berada di dalam ruangan kantor Ryan. Di berhadapan dengan Ryan dan Laura yang duduk bersebelahan.
__ADS_1
"Apa ini?" tanya Laura ketika Kessy mengulurkan undangan pernikahannya bersama dengan Arsenio.
Kessy tersenyum dan meletakkan undangan tersebut di meja yang ada di hadapan mereka karena Laura tidak kunjung menerimanya.
"Baca saja. Dan kami sangat menginginkan kedatanganmu dalam acara itu," ucap Kessy sambil tersenyum manis.
Ryan menyeringai. Dia dan Laura bukan orang bodoh yang tidak mengetahui undangan pernikahan tersebut meskipun hanya melihatnya saja. Dia mengambil undangan tersebut dan membacanya.
"Wow… Selamat atas pernikahan kalian. Akhirnya kalian menikah juga. Tapi sayang sekali sepertinya kami tidak akan bisa hadir dalam pesta pernikahan kalian," ujar Ryan sambil tersenyum bahagia.
Laura hanya memperhatikan dan mendengarkan saja percakapan antara Ryan dan Kessy. Dia merasakan sakit pada hatinya mengetahui kabar pernikahan mantan suaminya bersama dengan selingkuhannya.
"Kenapa? Apa kamu masih belum move on Laura?" tanya Kessy seolah mengejek Laura.
Ryan tertawa mendengar pertanyaan Kessy pada Laura. Dia memandang Laura yang enggan menanggapi ucapan Kessy.
"Bukankah anda sudah tau jika Laura yang menggugat cerai mantan suaminya? Itu berarti mantan suaminya itu tidak lagi ada dalam hatinya sejak saat itu," ujar Ryan di sela tawanya.
"Lalu kenapa kalian berdua tidak bisa datang?" tanya Kessy sambil menyeringai.
Ryan mengambil tangan Laura dan berkata,
"Sayangnya pada hari yang sama, kami juga mengadakan pesta pernikahan. Dan kami sengaja tidak mengundang kalian berdua agar tidak merusak pesta pernikahan kami."
Seketika Kessy membelalakkan matanya mendengar perkataan dari Ryan. Sedetik kemudian dia tersenyum lebar dan berkata,
"Wah… Saya ucapkan selamat untuk kalian berdua. Harusnya kalian tidak perlu khawatir jika Arsenio akan mengacaukan pesta pernikahan kalian karena aku sedang mengandung anaknya. Dia sangat bahagia karena seperti yang kalian ketahui, Arsenio sangat menginginkan kehadiran anak selama ini. Dan kini dia mendapatkannya dariku."
Laura menyeringai. Dia menatap tidak suka pada Kessy dan berkata,
"Asal kamu tau saja. Aku mengalami keguguran karena ulahmu. Jadi jangan berbangga diri sebelum kamu bisa dengan selamat melahirkan bayi yang tidak berdosa itu meskipun kehadirannya berawal dari perselingkuhan."
Perkataan Laura membuat Kessy sangat marah. Dia beranjak dari duduknya dan berkata,
"Saya permisi dulu. Dan saya tunggu undangan pernikahan kalian. Jangan sampai saya mengira jika pernikahan itu hanyalah bualan kalian saja."
Setelah mengatakan hal itu, Kessy pergi meninggalkan ruangan tersebut dengan sedikit kesal pada Laura dan Ryan yang bisa dengan mudahnya menanggapi kesombongannya.
"Maaf Pak, mengapa Bapak mengatakan kebohongan itu pada Kessy?" tanya Laura sambil menatap Ryan yang juga sedang menatapnya.
__ADS_1