System Lady Rich

System Lady Rich
Bab 29 : Menelan kekecewaan


__ADS_3

Laura mengangkat ponselnya di hadapan semua orang. Dia menatap tajam pada manajer Rena dan berseru,


"Ini! Saya punya ini!"


Manajer Rena mengerutkan dahinya. Dia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Laura.


"Apa maksudmu?" tanya manajer Rena sambil menyeringai pada Laura.


Laura mengutak-atik ponselnya, setelah itu dia kembali mengangkat ponselnya ke atas sambil menyeringai.


Semua orang yang berada di sana mendengar baik-baik suara rekaman yang diputar oleh Laura dari ponselnya.


Seketika mereka terbelalak mendengar suara Rena dan Arsenio yang terdengar sangat jelas pada rekaman tersebut.


Tak terkecuali Arsenio dan juga Rena yang terkejut mendengar suara rekaman tersebut. Mereka tidak menyangka jika Laura merekam pembicaraan mereka berdua.


Rena menatap Laura dengan penuh emosi. Dalam hatinya dia menyumpahi Laura yang akan mengacaukan semuanya.


Sedangkan Arsenio, dia menatap istrinya sambil tersenyum seolah berterima kasih padanya.


"Tidak mungkin. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri," manajer Rena masih saja mengelak rekaman tersebut.


Laura menyeringai mendengar perkataan dari manajer Rena. Dia melipat kedua tangannya di depan dada dan berjalan ke arah manajer Rena serta menatapnya dengan tatapan yang seolah sedang mengejeknya. Kemudian dia berkata,


"Apa kamu pikir saya merekayasa suara rekaman tadi?"


"Saya tidak bilang begitu. Tapi kemungkinan itu bisa saja terjadi," jawab manajer Rena sambil tersenyum licik pada Laura.


Laura kembali melangkah maju sehingga hanya berjarak berapa sentimeter saja dengan manajer Rena. Dia menatapnya dengan dagu yang terangkat dan berkata,


"Kamu pikir saya punya waktu untuk merekayasa semua ini? Bukannya kamu tau jika saya sedari tadi berada di sini dan menyaksikan semua ini lebih awal daripada kamu? Dengan mata kepala saya sendiri, saya menyaksikan semuanya. Dan dari sinilah saya tau jika perempuan ini bukan hanya pandai berakting, ternyata dia juga pandai merayu menggunakan tubuhnya."


Sontak saja tangan manajer Rena terangkat. Dia hendak menampar Laura. Sayangnya gerakannya itu bisa dilihat oleh Arsenio, sehingga dengan cepatnya dia bisa menghalaunya.


Tangan Arsenio menangkap dan menahan tangan manajer Rena agar tidak bisa menyentuh Laura.


"Jangan coba-coba kamu menyentuh istriku!" seru Arsenio dengan tegas dan menatapnya dengan tatapan penuh kemarahan.

__ADS_1


Laura tersenyum senang dengan sikap yang ditunjukkan oleh Arsenio ketika membelanya. Dia merasa tidak sia-sia membela suaminya meskipun hatinya terasa kecewa padanya.


Rena berjalan maju mendekati mereka. Dia mencoba untuk kembali menggoda Arsenio dengan memperlihatkan punggungnya di hadapan Arsenio dan berkata,


"Tolong tutup kembali resletingnya Pak."


Arsenio menghempaskan tangan manajer Rena dengan kerasnya seraya berkata,


"Minta tolong saja pada manajer mu ini. Ke mana saja dia sedari tadi hingga dia tidak menolong mu? Seandainya dia selalu ada di sisimu, pasti kamu tidak berteriak meminta tolong pada orang lain. Dan aku juga tidak akan menolong mu, sehingga tidak ada kesalahpahaman seperti ini."


Rena segera membalikkan badannya dan menatap sedih pada Arsenio seraya berkata,


"Setelah Bapak merasakan kelembutan kulitku, apa sekarang Bapak akan menyalahkan ku? Padahal Bapak kan sangat menikmatinya tadi."


"Tutup mulut kamu! Jangan gunakan mulut kamu yang kotor itu untuk memfitnah saya! Jaga sikap kamu jika masih ingin bekerja sama dengan saya!" tutur Arsenio dengan tegas dan menatap Rena dengan tatapan mengancam.


Setelah mengatakan itu, Arsenio menggandeng Laura untuk meninggalkan tenda tersebut.


Laura hanya diam saja ketika Arsenio menggandengnya dan berjalan cepat menuju mobilnya.


Setelah Arsenio membuka pintu mobilnya, Laura segera memasukkan tas perlengkapan make up nya dan tas belanja yang berisi pakaiannya untuk menyamar tadi.


Di dalam mobil, Arsenio duduk tanpa menyalakan mesin mobilnya. Dia ingin meredakan amarahnya sehingga lebih tenang lagi ketika mengemudikan mobilnya.


Laura pun terdiam. Dia juga tidak mengatakan apa pun saat ini. Dia masih ingin menunggu suaminya untuk menjelaskan padanya.


Di dalam mobil itu suasana menjadi sangat sunyi. Hingga beberapa saat, Arsenio menghadap ke arah istrinya dan berkata,


"Sayang, maafkan aku. Dan terima kasih atas pembelaanmu."


Laura tidak bergeming dengan ucapan terima kasih dan permintaan maaf dari suaminya. Dia masih tetap menatap ke arah depan jalanan seraya berkata,


"Aku kecewa padamu."


Sontak saja Arsenio mendekatkan dirinya pada istrinya dan memegang kedua tangannya seraya berkata,


"Maafkan aku. Aku hanya dijebak olehnya. Dan kamu tau sendiri jika aku hanya membantunya untuk menggaruk punggungnya saja."

__ADS_1


Laura menyeringai mendengar pembelaan diri dari suaminya. Dia masih saja menatap ke arah depannya, tanpa mau menoleh ataupun melihat ke arah suaminya.


"Dijebak? Laki-laki mana pun tidak akan bisa terjebak jika memang dia setia dan memiliki iman yang kuat. Bahkan kamu sangat menikmatinya meskipun merasa dijebak," ujar Laura sambil menyeringai.


Seketika Arsenio merasa sangat bersalah dan merasa sangat rendah di mata istrinya. Dia menciumi kedua tangan Laura yang berada dalam genggamannya. Kemudian dia berkata,


"Maafkan aku Sayang. Maaf. Mungkin kamu melihatnya seperti aku sangat menikmatinya, tapi sebenarnya tidak seperti itu. Aku hanya ingin menolongnya saja. Aku mohon, percayalah padaku."


Laura melepaskan tangannya dari genggaman tangan Arsenio. Dia menghela nafasnya untuk meredakan sesak yang ada di dalam hatinya ketika suaminya mengatakan kembali peristiwa tadi. Dia juga membayangkan peristiwa itu jika terjadi lebih jauh lagi.


Omong kosong kamu Mas. Aku melihatnya dan aku tau apa yang sedang terjadi. Aku benar-benar kecewa padamu, Laura berkata dalam hatinya.


Gawat. Aku harus bagaimana untuk menenangkannya. Laura sangat mengerikan jika dia sedang marah, Arsenio berkata dalam hatinya.


"Sudahlah. Lebih baik kita pulang saja. Aku sudah tidak mood berada di sini," perintah Laura pada suaminya tanpa menoleh padanya.


Arsenio menatap istrinya yang terlihat sedang mengiba padanya. Dia benar-benar tidak ingin membuat Laura marah padanya.


Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk saat ini. Dia hanya bisa menuruti semua keinginan istrinya dan berharap agar istrinya tidak marah lagi padanya.


Arsenio melajukan mobilnya dengan sangat santai dan hati-hati. Dia berharap agar dalam waktu yang lama menuju rumahnya itu, Laura bisa berubah pikiran dan mau menginap di sana.


Pemandangan alam yang indah dan suhu udara yang dingin itu membuat Arsenio sangat ingin menginap di sana bersama istrinya. Dia ingin mereka berdua bisa meluangkan waktunya untuk menginap di tempat yang bisa indah seperti di sana.


Tiba-tiba Laura merasakan getaran dari ponselnya. Dia segera mengambil ponsel tersebut dan ingin segera melihatnya.


Seketika bibir Laura melengkung ke atas tatkala melihat pesan tersebut.


Sepuluh juta rupiah. Pantas didapatkan dengan menelan kekecewaan, Laura berkata dalam hatinya.


Arsenio sesekali melirik Laura yang duduk di sampingnya. Dalam hatinya dia berkata,


Kenapa dia tersenyum ketika melihat ponselnya? Apa dia sedang membaca pesan? Siapa yang mengirim pesan padanya sehingga bisa membuatnya tersenyum?


Setelah itu dia kembali fokus pada kemudinya seraya berkata,


"Sayang, aku ingin mengaku padamu."

__ADS_1


__ADS_2