
Arsenio segera memutar balik kemudinya. Dia membatalkan keinginannya untuk menghampiri istrinya. Kini dia melajukan mobilnya menuju rumah sakit tempat dirawatnya ibunya.
Pikiran Arsenio kini bercabang. Dia memikirkan ibu dan juga istrinya. Sayangnya dia tidak bisa memilih keduanya. Ada ibunya yang keadaannya lebih membutuhkannya.
Sepanjang perjalanan, Arsenio tidak bisa berhenti memikirkan istrinya. Bayangan akan istrinya bersama dengan bosnya di dalam kamar hotel mewah itu selalu mengganggunya.
"Sial! Sial! Sial!" seru Arsenio sambil mengemudikan mobilnya.
Dia benar-benar marah saat ini. Seharusnya saat ini dia bisa menghampiri istrinya dan membawanya pulang, sayangnya itu tidak bisa dilakukannya.
Dalam keadaan emosinya itu Arsenio mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hingga hanya dalam beberapa menit saja dia sudah sampai di rumah sakit tersebut.
Dengan langkah tergesa-gesanya dan setengah berlari, Arsenio masuk ke dalam rumah sakit tersebut dan segera menemui ibunya. Tampak di sana ada dokter dan perawat yang sedang memeriksanya.
"Ada apa sebenarnya dengan ibu saya dok?" tanya Arsenio dengan nafas yang terengah-engah karena berlari menuju kamar perawatan ibunya.
Dokter menoleh ke arah Arsenio. Kemudian dia menyudahi pemeriksaannya dan berkata,
"Bisa kita bicara sebentar Pak?"
"Baik dok," jawab Arsenio sambil menganggukkan kepalanya.
Dia berjalan mengikuti dokter tersebut di belakangnya. Masuklah mereka ke dalam ruangan yang bertuliskan nama dokter tersebut.
"Silahkan duduk Pak," ucap dokter tersebut mempersilahkan Arsenio duduk di kursi yang ada di depannya.
"Terima kasih dok," ucap Arsenio sambil duduk di kursi tersebut.
Dokter tersebut menatap Arsenio yang duduk di hadapannya. Tampak dari sorot matanya sangat serius menatap Arsenio. Kemudian dia berkata,
"Menurut hasil pemeriksaan, ibu anda perlu segera dioperasi. Jika Bapak setuju, silahkan urus pembayaran untuk perawatan yang sebelumnya terlebih dahulu agar bisa dilakukan operasi setelahnya."
Seketika Arsenio terbelalak mendengar penjelasan dari dokter tersebut. Dia baru ingat jika biaya perawatan ibunya selama ini belum dibayarnya.
"Baik dok, akan saya urus pembayarannya. Dan jika memang harus dilakukan operasinya, lakukan saja dok," ucap Arsenio dengan sangat yakin pada dokter tersebut.
__ADS_1
Setelah itu Arsenio pergi ke bagian administrasi untuk melakukan pembayaran perawatan ibunya.
"Totalnya dua puluh lima juta Pak. Mau dibayar sekalian sekarang atau separuh dahulu? Kebetulan rumah sakit ini mempunyai program untuk meringankan pembayaran dengan dua kali pembayaran," jelas bagian administrasi tersebut pada Arsenio.
Seketika mata Arsenio terbelalak mendengar jumlah yang diberikan pihak rumah sakit padanya.
"A-apa? Dua puluh lima juta?" tanya Arsenio seolah tidak percaya pada pendengarannya.
"Iya Pak, benar. Total semua biaya perawatannya hingga hari ini senilai dua puluh lima juta rupiah. Untuk biaya besok dan selanjutnya masih belum bisa dipastikan. Bagaimana Pak mau bayar semuanya sekarang?" jelas bagian administrasi tersebut pada Arsenio.
Badan Arsenio lemas. Dia tidak bisa berpikir saat ini. Semua uang yang dimilikinya saat ini tidak sebanyak itu. Semua uangnya telah terkuras habis untuk mencicil sebagian hutangnya di bank.
Tiba-tiba dia teringat akan tabungan untuk anak mereka kelak. Dia segera beranjak dari duduknya seraya berkata,
"Nanti saya kembali lagi. Permisi."
Dengan langkah lebarnya Arsenio segera berjalan menuju parkiran mobilnya. Akan tetapi langkahnya itu tiba-tiba terhenti ketika akan mendekati mobilnya.
"Aku lupa jika buku tabungan dan kartu atm nya ada pada Laura. Jika aku memintanya pasti dia akan marah karena… ini akan mengingatkannya pada kematian ibunya," ucap Arsenio lirih disertai helaan nafasnya.
Tangannya menjambak rambutnya memperlihatkan betapa frustasinya dirinya saat ini. Kemudian dia berkata,
"Tuhan… apa yang harus aku lakukan?"
Dia melihat mobilnya yang masih terparkir tidak jauh dari tempatnya berada. Kemudian dia berkata,
"Jika aku menjual mobil itu, pasti Laura marah. Jika aku gadaikan mobil itu, hutangku semakin bertambah. Bagaimana ini?"
Arsenio kembali menghela nafasnya yang terasa sangat berat. Dia tidak bisa berpikir lagi. Kepalanya terasa penuh oleh masalah yang datang silih berganti.
"Apa aku harus bicara baik-baik pada Laura agar dia bisa memberikan tabungan itu untuk biaya rumah sakit Ibu? Dia pasti menyetujuinya karena Ibu adalah mertuanya," ucap Arsenio dengan mata yang berbinar.
Namun, seketika binar pada matanya lenyap tatkala dia mengingat kematian ibu mertuanya.
"Tapi ibunya meninggal karena tidak ada biaya untuk operasi saat itu. Apa mungkin dia mau mengijinkannya? Tidak… tidak mungkin dia mau mengijinkannya karena pada saat itu saja dia tidak menyentuh sama sekali tabungan itu ketika ibunya butuh uang untuk biaya operasi," sambung Arsenio dengan suara lemahnya karena kecewa pada keadaannya.
__ADS_1
"Bagaimanapun caranya aku harus mencari uang untuk membayarnya. Pasti akan ada jalan," ucap Arsenio kembali.
Tiba-tiba terdengar suara dering telepon dari ponsel Arsenio. Segera dia mengambil ponsel dari saku celananya. Ternyata dokter yang menangani ibunya meminta bertemu kembali dengannya.
Tanpa berpikir panjang lagi, Arsenio segera beranjak dari duduknya menuju ruangan dokter tersebut.
Kini Arsenio duduk kembali di kursi yang ada di hadapan dokter tersebut. Dokter itu menatap serius pada Arsenio dan berkata,
"Bagaimana Pak, apa sudah diselesaikan pembayarannya? Jika sudah, saya akan membuatkan jadwal operasi untuk ibu anda secepatnya."
Arsenio semakin merasa tertekan saat ini. Dia juga merasa serba salah untuk mengambil keputusan. Di hadapan dokter tersebut, Arsenio menghela nafasnya yang terasa sesak di dadanya. Kemudian dia berkata,
"Saya usahakan besok untuk membayarnya dok. Untuk operasinya, jika memang sangat dibutuhkan, tolong operasi saja secepatnya."
"Baiklah Pak, akan saya jadwalkan. Besok jika biaya perawatannya sudah dibayar, operasinya akan saya lakukan saat itu juga. Maaf, saya tidak bisa membantu banyak, karena ini sudah menjadi kebijakan dari rumah sakit ini," tutur dokter tersebut sambil menatap iba pada Arsenio.
"Terima kasih dok, akan saya usahakan besok untuk membayarnya. Saya permisi dulu sekarang," ucap Arsenio sambil beranjak dari duduknya.
Keluar dari ruangan dokter tersebut, Arsenio berjalan lemas menuju kamar inap ibunya. Dia mendekati ibunya dan duduk di kursi dekat tempat tidurnya.
Dibelainya dengan perlahan rambut ibunya yang hampir dipenuhi dengan uban itu. Air matanya menetes mengingat tangisan istrinya ketika ibunya meninggal dunia tanpa sepengetahuannya.
Ini semua salahku. Bahkan apa yang terjadi pada diriku sendiri juga karena salahku. Aku memang laki-laki yang kurang perhatian pada istri dan keluarga. Pantas saja Laura marah besar padaku, Arsenio berkata dalam hatinya.
Tiba-tiba mata ibunya perlahan terbuka. Dia tersenyum pada putranya dan berkata,
"Kamu sudah datang Nak? Temani Ibu di sini ya, Ibu kesepian."
Arsenio menganggukkan kepalanya menuruti keinginan ibunya.
Namun, saat itu juga dia teringat dengan istrinya. Segera diambil ponselnya dari saku celananya untuk melihat kembali keberadaan istrinya.
Arsenio membelalakkan ketika melihat ponselnya. Kemudian dia berkata dalam hatinya,
Sial! Kenapa HP ini tidak mau nyala?
__ADS_1