System Lady Rich

System Lady Rich
Bab 45 : Pertemuan


__ADS_3

Kessy yang sedang duduk di atas meja kerja Arsenio, menyilangkan kakinya hingga terlihat dengan jelas bagian pahanya yang tersibak hingga ke atas. Kemudian dia tersenyum dan berkata,


"Saat ini aku masih belum memiliki keinginan. Lebih baik kita berusaha untuk melakukan pekerjaan kita dengan baik."


"Pekerjaan kita? Apa maksudmu?" tanya Arsenio dengan menatap curiga pada Kessy.


Kessy kembali mendekatkan badannya sehingga wajahnya berada tepat di depan wajah Arsenio. Dia menatap intens mata Arsenio dan tersenyum padanya, seraya berkata,


"Kamu lupa jika Pak Alberto menugaskan aku untuk membantumu dalam bekerja?"


Seketika Arsenio teringat jika Alberto menempatkan Kessy untuk membantunya dalam bekerja.


"Aku tidak lupa," ucap Arsenio sambil beranjak dari duduknya.


Kessy pun beranjak dari meja yang didudukinya. Pandangan matanya mengikuti Arsenio yang sedang berjalan meninggalkan tempatnya. Kemudian dia berkata,


"Kamu mau ke mana?"


Arsenio menoleh ke arah Kessy dan berkata,


"Aku sedang ada urusan. Urus saja urusanmu. Jangan menungguku di sini. Aku akan mengunci ruangan ini."


Seketika Kessy berjalan keluar dari ruangan tersebut. Dia menunggu Arsenio yang sedang mengunci ruangannya.


"Kenapa belum pergi?" tanya Arsenio dengan wajah datarnya.


Kessy memperlihatkan cek kosong yang dibawanya tadi dan berkata,


"Aku akan membawanya kembali. Hubungi aku jika kamu membutuhkannya."


Arsenio merasa sangat malu dan terhina saat ini. Dia meninggalkan Kessy yang terlihat sedang menggodanya. Bahkan dia mengikuti Arsenio saat ini.


Arsenio yang mengerti jika dia sedang diikuti oleh Kessy, dia segera berbelok arah dan masuk ke dalam toilet pria.


Kessy merasa kesal pada Arsenio yang sudah lama menunggunya di depan toilet tersebut. Akhirnya dia pergi dari tempat itu sambil menggerutu kesal,


"Kita lihat saja nanti. Apa yang akan terjadi."


Setelah mengetahui Kessy sudah tidak lagi berada di depan pintu tersebut, Arsenio segera keluar dari dalam toilet.


Sejenak dia merasa lega karena sudah bisa menghindari Kessy untuk saat ini. Entah bagaimana nantinya, dia juga belum tahu apa saja yang akan dilakukan Kessy ketika mereka bekerja bersama.


Segera dia menuju parkiran mobilnya untuk pergi ke suatu tempat.

__ADS_1


Setelah beberapa saat, sampailah Arsenio di tempat yang ditujunya. Ditatapnya bangunan tersebut dengan helaan nafasnya yang mengisyaratkan kekesalan.


Bangunan yang ada di hadapannya itu merupakan bangunan yang membuat hidupnya kini dalam kesulitan.


Masuklah Arsenio ke dalam bangunan tersebut. Dia secara langsung menemui pihak yang bertanggung jawab penuh akan pinjaman customer bank tersebut.


Arsenio tidak mau berurusan dengan teller ataupun customer service untuk membayar pinjamannya. Dia tidak ingin salah langkah lagi karena kepercayaannya pada mereka. 


Kini dia berhadapan langsung dengan pihak yang menangani dan bertanggung jawab penuh atas semua pinjaman customer bank tersebut. Dia membayarkan sepuluh persen dari total pinjamannya saat ini.


"Masih kurang segini banyaknya? Aku harus mencari ke mana uang sebanyak ini?" ucap Arsenio disertai helaan nafasnya.


Setelah melihat nominal sisa hutangnya di dalam mobilnya, Arsenio segera melajukan mobil tersebut menuju kantornya.


Kessy menunggu Arsenio di ruangan Alberto. Dia ingin mengajak Arsenio untuk makan siang dengannya.


"Kessy, kenapa kamu ingin sekali mendekati Arsenio? Kamu tau kan jika dia sudah menikah?" tanya Alberto yang sedang makan siang di ruangannya bersama dengan Kessy.


"Seperti yang Om ketahui, dia mantan pacarku. Dan sekarang ini aku ingin kembali padanya," jawab Kessy dengan santainya.


Alberto menghentikan makannya. Dia menatap keponakannya dengan rasa penasarannya seraya berkata,


"Kenapa harus? Kamu cantik dan Om yakin jika bukan hanya Arsenio saja laki-laki yang ada dalam hidupmu."


Alberto terkekeh mendengar apa yang dikatakan oleh keponakan dari istrinya. Memang Kessy bukan keponakannya sendiri, tapi Kessy sangat dekat dengannya dibandingkan dengan istrinya yang merupakan tante dari Kessy.


Sedangkan Arsenio, dia melewatkan makan siangnya dan hanya menikmati sepotong sandwich di dalam mobilnya pada saat perjalanan menuju kantornya.


Sore harinya, Arsenio bersiap untuk bertemu dengan pihak yang ingin bekerjasama dengan perusahaannya. Dia menyiapkan semuanya dengan teliti karena dia tidak ingin kerjasama itu gagal begitu saja.


Arsenio memang selalu serius dan sungguh-sungguh dalam pekerjaannya. Karena itulah Alberto percaya padanya.


Tiba-tiba pintu ruangan Arsenio terbuka. Sontak saja Arsenio menoleh ke arah pintu tersebut. Dia menghela nafasnya melihat orang yang membuka pintu ruangannya.


"Ada apa lagi? Bukannya aku sudah bilang, jangan lagi mengganggu–"


"Aku akan menemanimu untuk pertemuan ini," sahut Kessy sambil berjalan mendekati Arsenio yang sedang menyiapkan berkas-berkas di mejanya.


"Pertemuan ini? Pertemuan dengan perusahaan–"


"Iya. Pak Alberto mengutus ku untuk bekerja denganmu mulai saat ini," sahut Kessy dengan senyumnya yang mengembang.


Arsenio menatap tidak percaya pada Kessy. Dan dia berkata dalam hatinya,

__ADS_1


Sial! Aku harap dia tidak akan mengacaukan semuanya. 


"Tenang saja Sayang, aku tidak akan mengacaukan pertemuan ini. Aku akan membantumu agar mereka bisa bekerja sama dengan kita," ucap Kessy yang seolah tahu akan arti tatapan mata Arsenio padanya.


"Aku pegang ucapanmu. Dan jangan sampai membuatku kecewa padamu," ujar Arsenio sambil kembali menyiapkan berkas-berkas yang akan dibawanya.


Kessy berjalan mendekati Arsenio. Tangannya mengusap dada Arsenio dengan lembut dan berkata,


"Apa kamu tidak percaya padaku?"


Arsenio menyingkirkan tangan Kessy dari dadanya seraya berkata,


"Jaga sikapmu jika masih ingin tetap bekerja bersamaku."


Kessy tertawa mendengar ancaman yang diberikan Arsenio padanya. Dia merasa jika sikap Arsenio yang setia masih saja melekat di dirinya.


"Kamu masih tetap sama seperti dulu Sayang. Aku suka sikapmu yang setia pada pasanganmu itu," ucap Kessy di sela tawanya.


Arsenio menatap Kessy dan menyeringai padanya. Kemudian dia berkata,


"Benarkah? Bukannya kamu tidak suka denganku karena aku terlalu setia, sehingga melarang mu untuk berselingkuh dengan laki-laki lain?"


Kessy menghentikan tawanya. Dia mendekati Arsenio dan melingkarkan kedua tangannya pada leher Arsenio seraya berkata,


"Itu dulu, sebelum aku menyesali kepergianmu dari sisiku. Sekarang aku sudah berubah. Dan aku menginginkan untuk kembali padamu."


Arsenio menghempaskan kedua tangan Kessy seraya berkata dengan tegas,


"Jangan harap. Aku sangat mencintai istriku. Dan aku tidak akan mengkhianatinya."


"Kita lihat saja nanti Sayang. Karena setiap orang, lambat laun pasti akan berubah. Tidak terkecuali perasaan yang ada dalam hatimu ini," tukas Kessy sambil menyeringai dan menunjuk dada Arsenio.


Arsenio kembali menghempaskan tangan Kessy yang berada di dadanya. Kemudian dia mengambil tas dan berkas-berkas yang ada di mejanya seraya berkata,


"Sudahlah. Hentikan omong kosong ini. Kita berangkat sekarang."


Kessy pun mengikuti dengan susah payah langkah lebar Arsenio agar bisa berjalan di sisinya. Semua orang di kantor tersebut melihat ke arah mereka ketika berpapasan dengan mereka berdua.


Bagaimana tidak, Kessy melingkarkan tangannya pada lengan Arsenio ketika berjalan di sisinya. Dia tetap saja melakukannya meskipun Arsenio sudah melarangnya.


Tiba di tempat yang dituju, Arsenio dan Kessy masuk ke dalam tempat tersebut. Mereka bertemu dengan pihak dari perusahaan yang akan bekerja sama dengan mereka. 


Mata Arsenio terbelalak ketika melihat seseorang yang sangat dikenalnya. Dalam hatinya berkata,

__ADS_1


Sedang apa mereka di sini?


__ADS_2