
Kessy tersenyum mendengar pertanyaan yang diberikan oleh Arsenio padanya. Dia memang tidak mempersiapkan obat seperti yang waktu itu, akan tetapi dia yakin jika Arsenio akan ada dalam genggamannya untuk malam ini.
Mobil Kessy melaju dengan kecepatan sedang agar Arsenio tidak merasakan pusing akibat mabuknya.
Selang beberapa saat mobil tersebut masuk ke dalam sebuah gedung apartemen mewah yang tidak asing bagi penglihatan Arsenio.
"Bukannya ini… apartemen…," ucap Arsenio sedikit meracau.
"Ini apartemenku. Kita beristirahat dulu di sini. Setelah itu aku akan mengantarkanmu pulang," sahut Kessy dengan suara menggodanya di telinga Arsenio.
Arsenio turun dari mobil dan berjalan dengan dipapah oleh Kessy menuju apartemennya yang terletak di lantai empat.
Di dalam lift Arsenio yang terlihat sangat kacau dan sangat mabuk itu meracau tentang Laura.
Dia menyandarkan Kessy pada dinding lift dan mengunci tubuhnya dengan kedua tangannya yang berada di sisi kanan dan kiri sehingga Kessy tidak bisa pergi ke mana pun. Dalam penglihatannya, Kessy adalah Laura saat ini,
"Laura Sayang… Apa yang kamu lakukan di resort bersama dengan si Ryan sialan itu? Kenapa kalian menginap di sana? Apa yang kalian lakukan sebenarnya? Mengapa kamu bilang padaku jika kalian sedang bekerja di sana padahal waktu itu hari libur? Apa yang kalian lakukan hah?!"
Kessy terkesiap mendengar rancauan keluh kesah Arsenio pada istrinya. Dia menahan senyumnya dan dalam hatinya berkata,
Jadi akhir pekan Laura menginap di resort bersama dengan bosnya? Hebat sekali dia.
Setelah pintu lift terbuka, Kessy segera memapah kembali tubuh Arsenio menuju apartemen miliknya.
Dibukanya pintu apartemen tersebut dan dibawanya masuk tubuh Arsenio yang sempoyongan menuju kamarnya.
Direbahkannya tubuh Arsenio pada ranjang miliknya.
"Tidurlah dulu di kamar ini. Aku yakin jika istrimu akan marah padamu jika melihatmu sedang mabuk seperti saat ini," ujar Kessy sambil membuka kancing kemeja Arsenio.
"Laura memang tidak menyukaiku saat mabuk. Dia tidak mengerti jika aku mabuk untuk menghilangkan stres," ucap Arsenio sambil terkekeh dengan suara mabuknya.
Kessy mengungkung tubuh Arsenio yang terbaring di atas ranjang. Dia menatap mata Arsenio yang masih setengah sadar dan berkata,
"Aku Kessy, tidak akan melarang kamu untuk mabuk. Aku akan menemanimu untuk minum dan bersenang-senang Sayang."
Arsenio tersenyum dan menganggukkan kepalanya menanggapi perkataan Kessy. Dia masih setengah sadar dan dia merasakan gelenyar aneh pada tubuhnya ketika Kessy menyentuh bagian inti tubuhnya yang membuatnya mengeram dan ingin merasakan lebih dari sekedar itu.
Kessy tersenyum menggoda Arsenio. Dia meraup bibir Arsenio dan tangannya membuka satu persatu kain yang melekat pada tubuh Arsenio.
Gayung pun bersambut. Arsenio membalas ciuman Kessy yang sangat panas dan menuntut itu dengan tindakan yang serupa. Ciuman mereka pun saling berbalas hingga membuat mereka menginginkan lebih dari sekedar ciuman saja.
__ADS_1
Arsenio yang merasa sangat terpacu, kini merasa tidak sabaran untuk membuka baju yang digunakan oleh Kessy. Disobeknya baju minim yang melekat dengan sangat pas di tubuh Kessy itu.
Dia memainkan aset bagian dada Kessy dengan sangat bringas seolah tidak sabar untuk menikmatinya. Bahkan bagian tubuh Kessy yang lain pun tidak lepas dari tangannya.
Kessy pun tidak mau menganggur. Dia membalikkan keadaan dengan memanjakan tubuh Arsenio melalui sentuhan-sentuhannya hingga membuat Arsenio melenguh merasakan kenikmatan yang diciptakan oleh sentuhan tangan dan lidah Kessy padanya.
Malam itu pun menjadi malam panas bagi Arsenio dan Kessy. Mereka saling membuai dan merasakan nikmat apa yang mereka lakukan saat ini.
"Bagaimana Sayang, apa kamu menyukainya?" tanya Kessy dengan suara yang tercekat sambil menggerakkan tubuhnya yang berada di atas tubuh Arsenio.
"Kamu sungguh nikmat Kessy. Aku menyukainya," jawab Arsenio disertai lenguhan dari bibirnya.
Kessy tersenyum puas mendengar namanya disebut oleh Arsenio. Dia senang karena Arsenio menyadari jika yang sedang bersamanya saat ini adalah dirinya, bukan Laura, istrinya.
Arsenio membalikkan keadaan. Kini Kessy berada dalam kungkungannya. Dia menghentakkan badannya lebih cepat sehingga Kessy melenguh dan membuat Arsenio lebih bersemangat.
Hentakkan tubuh Arsenio yang sangat cepat itu membuat mereka berdua menyemburkan cairan milik mereka secara bersamaan.
Tubuh Arsenio terbaring lemas di ranjang. Kessy memeluknya setelah memakaikan selimut pada tubuh mereka berdua yang masih tidak memakai apa pun.
Malam itu Arsenio benar-benar bersenang-senang dengan Kessy. Dia ingin membalas istrinya yang menurutnya selalu bersenang-senang dengan bosnya.
Hati Laura sedikit merasa lega karena misi tambahan yang diberikan padanya telah sukses dilakukannya.
"Semangat Laura, satu persatu misi akan selesai kamu kerjakan. Tinggal menyelesaikan misi untuk membayar hutang-hutang Mas Arsenio yang ada di bank saja," ucap Laura dengan senyuman tipisnya.
Setelah membersihkan badannya, Laura segera memakai piyamanya dan menunggu suaminya di ruang tengah. Dia duduk di sofa dengan ditemani tayangan televisi yang menyajikan film box office saat itu.
Merasa sudah bosan dan mengantuk, Laura melihat jam yang tergantung pada dinding.
"Sudah jam dua belas lebih lima puluh tujuh menit. Ke mana sebenarnya Mas Arsenio pergi?" gerutu Laura disertai helaan nafasnya.
Direbahkannya tubuh lelahnya itu pada sofa sambil melihat film yang sedang ditayangkan di televisi. Tanpa sadar mata Laura pun terpejam. Kini dia tertidur ditemani dengan suara dari televisi yang masih menyala.
Setelah beberapa saat, Laura merasakan tubuhnya sangat sakit dan tidak nyaman. Dia terbangun dan duduk menghadap televisi yang masih setia menyala menemaninya sejak tadi.
Dia menghela nafasnya yang merasa kesal ketika melihat jarum jam dinding yang menunjukkan jam tiga lebih sepuluh menit.
"Sepertinya dia tidak pulang. Lebih baik aku tidur di kamar saja," ucap Laura sambil mematikan televisinya.
Dengan perasaan kesalnya Laura berjalan masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang besar yang hanya ditempatinya seorang diri.
__ADS_1
Pagi pun menyapa. Mata Arsenio perlahan terbuka dan dia tertegun melihat wajah Kessy berada sangat dekat di hadapannya. Bahkan hembusan nafas Kessy dapat dirasakannya dengan jelas.
Arsenio melihat bahu Kessy yang terbuka dan tubuhnya hanya ditutupi dengan selimut. Kemudian dia melihat ke arah tubuhnya.
Tangannya membuka sedikit selimut yang menutupi tubuh mereka. Dia terkesiap melihat tubuh mereka yang tidak memakai apa pun saat ini.
Dia baru ingat jika permainan hebat yang dilakukannya kemarin malam itu bersama dengan Kessy yang saat ini sedang memeluknya dengan matanya yang masih terpejam.
Sepertinya aku memang membutuhkan pelampiasan saat ini. Benar kata Kessy, aku juga bisa bersenang-senang di luar rumah untuk membalas perbuatan Laura, Arsenio berkata dalam hatinya.
Arsenio melepaskan pelukan Kessy dan beranjak dari ranjang untuk membersihkan dirinya.
"Kamu sudah bangun Sayang?" tanya Kessy yang terbangun karena merasakan pergerakan dari Arsenio.
"Aku akan mandi terlebih dahulu," jawab Arsenio sambil berjalan menuju kamar mandi tanpa menggunakan apa pun pada tubuhnya.
"Kita mandi sama-sama," sahut Kessy dengan sangat antusias.
Arsenio menghentikan langkahnya dan berkata,
"Kita sudah telat Kessy. Lebih baik kita mandi sendiri-sendiri."
"Akan lebih cepat jika kita mandi bersama untuk mempersingkat waktu," ujar Kessy yang masih mempertahankan keinginannya.
"Aku tidak yakin kita akan bisa mandi dengan cepat jika berada di dalam kamar mandi berdua," tukas Arsenio menolak keinginan Kessy.
Kemudian dia masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintunya.
Setelah beberapa saat, dia keluar dengan menggunakan bathrobe dan segera mengganti bajunya setelah Kessy masuk ke dalam kamar mandi.
Arsenio menunggu Kessy di ruang makan sambil meminum orange jus yang diambilnya dari lemari es.
"Ayo Sayang kita berangkat. Aku akan mengantar ke rumahmu untuk berganti pakaian terlebih dahulu. Setelah itu kita berangkat ke kantor," tutur Kessy setelah meminum orange jus milik Arsenio.
Tidak ada pilihan lain, mobil Arsenio masih berada di kantor. Mereka berdua segera berangkat menuju rumah Arsenio.
Saat itu pas sekali dengan Laura yang akan berangkat bekerja. Mobil Arsenio masuk ke dalam halaman rumahnya.
Laura yang akan masuk ke dalam mobilnya merasa kesal. Dia menahan amarahnya melihat Arsenio keluar dari mobil asing. Dan lebih kesalnya lagi, di dalam mobil tersebut terlihat Kessy yang sedang tersenyum meledeknya.
"Dari mana saja kamu Mas? Kenapa kamu semalam tidak pulang? Apa yang kamu lakukan bersama dengan perempuan sialan itu?"
__ADS_1