System Lady Rich

System Lady Rich
Bab 43 : Rencana Ryan


__ADS_3

Pertanyaan Ryan yang menanyakan pada Laura tentang bisa atau tidaknya dia mengemudikan mobil membuat Laura berpikir dia akan dijadikan sopir oleh Ryan.


Namun, dia tidak bisa mengelaknya. Dia harus bisa mengambil hati Ryan agar bosnya itu menyukai cara kerjanya dan juga agar dia bisa meyakinkan Ryan untuk bekerja sama dengan perusahaan tempat Arsenio bekerja.


"Saya bisa mengemudikan mobil Pak," jawab Laura dengan tegas.


Ryan tersenyum dan mengambil kunci dalam lacinya. Kemudian dia menyerahkannya pada Laura seraya berkata, 


"Bawa mobil ini untukmu berangkat dan pulang kerja."


Seketika mata Laura terbelalak. Sungguh dia tidak menyangka jika Ryan akan memberikannya sebuah mobil sebagai fasilitasnya dalam bekerja.


"Maaf Pak, ini untuk apa?" tanya Laura dengan gugup.


"Apa ucapan saya masih belum jelas juga?" tanya Ryan dengan tegas sambil menatap Laura dan mengulurkan tangannya untuk menyerahkan kunci mobil tersebut pada Laura.


Dengan cepatnya tangan Laura mengambil kunci mobil tersebut dan menyimpannya ke dalam sakunya.


"Sore ini saya ada pertemuan. Nanti kamu harus ikut saya bersama dengan Rendra. Jika ada yang kamu tidak tau, tanyakan saja pada Rendra," tutur Ryan sambil membuka map yang ada di mejanya.


"Baik Pak," ucap Laura sambil menundukkan sedikit kepalanya.


"Ya sudah, cepatlah kembali bekerja," sahut Ryan tanpa melihat ke arah Laura.


Laura bengong, dia bingung harus berada di mana saat ini. Di dalam ruangan Ryan ada sebuah meja kerja yang sudah tertata rapi, tapi Laura tidak berani duduk di tempat itu karena takut jika tempat itu bukanlah untuknya.


Ryan mendongakkan kepalanya melihat ke arah Laura yang masih berdiri di depannya. Kemudian dia berkata,


"Kenapa masih berdiri di sini?" 


"Emmm… itu Pak, maaf, tempat saya di mana ya Pak?" tanya Laura dengan ragu-ragu.


Ryan yang sedang menatap Laura seketika tersenyum mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Laura padanya. Kemudian dia menunjuk meja yang berada di depannya dan tidak jauh jaraknya dari mejanya seraya berkata,


"Itu mejamu."

__ADS_1


Laura mengikuti arah telunjuk Ryan. Dia tersenyum lega mengetahui jika tempat yang sedari tadi digadang-gadangnya sebagai tempatnya itu, ternyata benar adanya.


Dengan segera Laura menempati tempat yang telah disediakan untuknya. Dengan cekatannya dia mengerjakan apa yang telah disiapkan di meja tersebut.


Ryan melirik ke arah Laura. Dia tersenyum melihat Laura yang sedang serius mengerjakan pekerjaannya.


Sepertinya aku tidak salah pilih, Ryan berkata dalam hatinya.


Baru kali ini dia berbagi ruang kerja bersama dengan perempuan. Tapi anehnya dia tidak merasa terganggu sama sekali dengan adanya Laura di dalam ruangan kerjanya.


Waktu berlalu dengan sangat cepat. Kini tiba saatnya mereka beristirahat untuk makan siang.


Sebagai asisten pribadi Ryan, Laura berkewajiban mengingatkan segalanya pada Ryan ketika berada di kantor.


Laura berjalan mendekati meja Ryan. Dia merasa ragu ketika hendak mengingatkan Ryan untuk makan siang, karena kini Ryan sedang fokus pada pekerjaannya.


"Emmm… Pak, maaf, sekarang sudah waktunya makan siang. Apa Bapak mau makan di luar?" tanya Laura dengan ragu-ragu.


Ryan menghentikan pekerjaannya. Dia mendongakkan kepalanya untuk menatap Laura yang berdiri di hadapannya. Kemudian dia berkata,


"Kamu mengajak saya makan di luar?" 


Seketika Ryan terkekeh melihat ekspresi Laura dan mendengar perkataannya. Dia merasa terhibur dengan menggoda Laura yang selalu gugup menjawabnya.


Laura merasa aneh dan terkejut melihat Ryan yang terkenal berwajah datar, cuek dan juga selalu serius, kini tertawa di hadapannya. Dia tersenyum melihat Ryan yang masih saja terkekeh. Kemudian dia berkata,


"Ternyata Bapak bisa tertawa juga. Gitu dong Pak, tertawa. Bapak harus sering-sering tertawa agar tidak cepat tua Pak."


Seketika tawa Ryan reda. Dia kembali mengerjakan pekerjaannya seraya berkata,


"Pesankan makanan di tempat biasanya. Pesan juga untukmu karena kita akan makan di dalam ruangan ini."


Hah?! Di tempat biasanya? Di mana itu? Tolong deh Pak Ryan yang terhormat, kalau memberi perintah itu kasihlah bekal. Entah itu bekal tempatnya, makanan apa yang harus saya pesan atau juga tentang yang lainnya, agar asisten pribadimu ini bisa dengan cepat menyiapkan semuanya, gerutu Laura dalam hatinya.


"Baik Pak," ucap Laura menanggapi perkataan Ryan.

__ADS_1


Dia berjalan keluar dari ruangan tersebut dan masuk ke dalam ruangan Rendra untuk menanyakan tentang makanan yang menjadi favorit Ryan dan restoran yang menjadi tempat biasanya Ryan memesannya.


Rendra memberi tahukan pada Laura tentang apa saja yang menjadi kebiasaan Ryan. Dan tentu saja yang terpenting bahwa Rendra memberikan restoran yang biasanya dipesan oleh Ryan.


Rendra memesankan makanan tersebut melalui telepon yang ada di kantornya. Dia tersenyum bangga karena bisa membantu Laura yang menurutnya masih harus diberikan contoh olehnya.


"Mmm… Maaf Pak Rendra, Pak Ryan menyuruh saya memesan dua porsi," ucap Laura dengan ragu-ragu.


Seketika dahi Rendra mengerut. Dia tidak bisa mencerna yang lainnya. Dalam hatinya dia berkata,


Selama ini Ryan hanya makan sendiri di ruangannya. Dan sekarang dia memesan dua porsi. Apa artinya ini?


"Dua porsi? Untuk apa?" tanya Rendra yang terlihat sangat penasaran.


"Kata Pak Ryan untuk saya," jawab Laura  dengan polosnya.


Seketika Rendra merasakan hal yang aneh. Beberapa tahun mereka selalu bersama, dan seorang Ryan Arion Syahreza yang tidak pernah mengajaknya makan bersama di dalam ruangannya, kini memutuskan untuk makan berdua dengan Laura, asisten pribadinya.


Dia menatap Laura dan memperhatikannya dari atas hingga bawah layaknya orang yang sedang menilai penampilan seseorang. Kemudian dia tersenyum dan berkata,


"Sepertinya firasatku benar."


Laura merasa risih dengan Rendra yang melihatnya dengan tatapan yang tidak biasa. Apa lagi dia mengatakan sesuatu hal yang tidak dimengerti olehnya.


"Maksud Bapak apa?" tanya Laura pada Rendra yang masih tersenyum penuh arti.


Rendra kembali mengerjakan pekerjaannya seraya berkata,


"Tidak. Tidak ada apa-apa. Kembalilah ke ruangan Pak Ryan. Pasti dia sedang menunggumu sekarang. Dan untuk makan siangnya, tidak perlu khawatir. Sebentar lagi pasti ada yang mengirimnya ke ruangan Pak Ryan. Tunggu saja di dalam sana."


Laura mengernyitkan dahinya. Dia merasa aneh dengan situasi saat ini. Tapi segera ditepisnya perasaannya itu. Dia tidak mau memikirkan hal-hal yang hanya memperumit pikirannya.


"Baik Pak, terima kasih. Saya permisi dulu," ucap Laura seraya menundukkan sedikit kepalanya.


Setelah itu dia keluar dari ruangan tersebut dan berjalan kembali menuju ruangan Ryan.

__ADS_1


Rendra terkekeh melihat Laura yang sudah keluar dari ruangannya. Dia kembali menghubungi restoran tersebut dan menambahkan pesanannya, sesuai dengan permintaan Ryan. Kemudian dia berkata,


"Ryan… Ryan… apa rencanamu yang sebenarnya?"


__ADS_2