
Seorang laki-laki yang berpakaian rapi dengan setelan jasnya menghampiri Ryan yang sedang berbicara dengan Rendra.
*Maaf Pak jika saya mengganggu pembicaraan Bapak. Saya hanya sedang buru-buru karena Bapak Ryan sudah menunggu saya," ujar laki-laki tersebut.
Ryan menatap Rendra seolah bertanya padanya tentang orang yang kini sedang berdiri di hadapan di hadapan mereka.
"Maaf, siapa anda?" tanya Rendra untuk menggantikan Ryan bertanya padanya.
Laki-laki tersebut mengulurkan tangannya dan berkata,
"Saya Fajar dari Bank ABX."
Ryan segera menjabat tangan laki-laki tersebut dan berkata,
"Saya Ryan. Mari ikut saya masuk ke dalam ruangan itu."
Rendra hendak bergerak mengikuti mereka untuk masuk ke dalam kamar inap Laura, sayangnya Ryan menghentikannya.
"Sebaiknya kamu segera kembali ke kantor."
Rendra menghela nafasnya. Dia tidak bisa menolak perintah Ryan meskipun hubungan mereka bukan hanya sekedar bos dengan bawahannya saja.
"Nanti akan aku ceritakan," bisik Ryan di telinga Rendra ketika dia mengetahui tatapan kekecewaan Rendra padanya.
Seketika bibir Rendra melengkung ke atas. Dia menepuk lengan Ryan seraya berkata,
"Baiklah, akan aku tunggu. Sekarang aku akan kembali ke kantor."
Setelah kepergian Rendra dari tempat itu, Ryan mengajak Fajar, sebagai perwakilan dari bank ABX untuk masuk ke dalam kamar tersebut menemui Laura.
Di dalam ruangan tersebut Ryan mengatakan bahwa Laura sedang terkena musibah dan kartu-kartunya hilang. Oleh sebab itu dia menginginkan pemblokiran pada kartu yang lama dan ingin membuat kartu yang baru.
Fajar pun segera membantu Laura memproses semuanya. Setelah proses selesai, Fajar membantu Laura untuk mengakses rekening tabungannya pada mobile banking yang ada di ponsel baru Laura.
Setelah beberapa saat, ada pihak bank lainnya yang datang untuk urusan yang sama. Fajar yang kebetulan sudah selesai urusannya segera berpamitan meninggalkan ruangan tersebut.
__ADS_1
Pihak bank yang lain pun melakukan hal yang sama dengan Fajar. Mereka sengaja membawa kartu debit baru beserta dengan mesin edc untuk mengaktifkan kartu tersebut. Semua itu berkat Rendra yang mengatakan semua keinginan Ryan secara detail, sehingga saat itu juga semua kartu debit baru bisa berada di tangan Laura.
"Terima kasih Pak atas semua bantuan Bapak. Semuanya tidak akan bisa secepat ini teratasi jika bukan karena bantuan Bapak," ujar Laura sambil tersenyum manis pada Ryan.
"Ini memang sudah menjadi tugas saya sebagai bos kamu. Bukan hanya kamu saja yang bisa selalu menolong saya, bahkan saya juga bisa menolong mu Laura," tutur Ryan yang bermaksud tidak membuat Laura sungkan padanya.
"Tetap saja Pak, semua bantuan Bapak tidak sebanding dengan pekerjaan saya selama ini. Saya… mmm.. saya berterima kasih sekali pada Bapak," tukas Laura dengan wajah malu dan sungkannya.
"Sudah saya bilang Laura. Jangan kamu pikirkan hal itu. Saya hanya menginginkan kamu fokus dengan masa pemulihan kesehatan kamu. Dan untuk perceraian kamu… Apa kamu benar-benar akan melakukannya?" tanya Ryan dengan sedikit ragu.
Laura menghela nafasnya yang terdengar sangat berat. Akan tetapi dia sudah berniat untuk melakukan perceraian itu. Dengan berat hati dia pun berkata,
"Saya bersungguh-sungguh Pak. Saya sudah lelah dan tidak bisa lagi bertahan di sampingnya. Tekad saya sudah bulat untuk bercerai dengannya."
Ada secercah kebahagiaan dalam dada Ryan. Dia tidak mengelak akan hal itu. Akan tetapi dia tidak bisa mengatakannya untuk saat ini.
"Baiklah, saya akan membantumu. Sebenarnya saya sudah memerintahkan pada pengacara saya untuk membuatkan surat perceraian untukmu dan suamimu. Sepertinya sekarang sudah jadi. Apa kamu ingin melihatnya?" tanya Ryan pada Laura.
Laura tersenyum lebar dengan binar mata kebahagiaannya yang tersirat pada wajahnya. Dia pun berkata,
"Bisakah saya melihatnya sekarang Pak?Saya ingin segera lepas dari penderitaan yang selama ini saya rasakan."
Laura membelalakkan matanya mendengar apa yang dibicarakan oleh Ryan saat ini. Dalam keadaan yang masih terkejut itu Laura berkata,
"Secepat itukah proses balik namanya Pak?"
Ryan tersenyum dan menganggukkan kepalanya seraya berkata,
"Seperti yang kamu dengar. Semuanya sudah beres hanya dalam beberapa jam saja. Karena itulah, jangan sungkan meminta bantuan saya agar semua masalahmu bisa cepat selesai dan kamu tidak usah memikirkan hal itu lagi."
"Terima kasih Pak. Entah siapa yang akan membantu saya jika tidak ada Bapak. Dan semua ini bisa berjalan dengan baik karena bantuan dari Bapak. Saya benar-benar berterima kasih Pak atas semua yang Bapak lakukan untuk membantu saya," ucap Laura dengan sungguh-sungguh dan tatapan matanya pada Ryan memancarkan perasaan bahagianya.
Ryan tersenyum dan duduk di sofa yang ada di dalam ruangan tersebut. Laura merasa sungkan dengan keberadaan Ryan yang setia menunggunya layaknya seorang suami sedang menunggui istrinya yang sedang sakit. Hingga terkadang Laura salah tingkah jika mereka sama-sama diam dan tidak ada bahan untuk obrolan mereka.
Tiba-tiba ponsel Laura yang sedang dibawanya berdering. Terlihat pada layar ponsel tersebut nama Ryan tanpa embel-embel bos dan perusahaan yang menyertai jabatannya, seperti Laura memberikan nama pada ponsel lamanya.
__ADS_1
Laura melihat ke arah Ryan yang juga sedang menatapnya dan tersenyum padanya.
"Itu nomor saya. Jika butuh apa-apa kamu tinggal menghubungiku saja," ucap Ryan sambil menunjukkan ponselnya.
Laura tersenyum dan menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan bosnya itu. Kemudian dia berkata,
"Apa Bapak tidak pulang? Tidur di rumah sakit pasti tidak nyaman. Lagi pula saya bisa menjaga diri saya sendiri Pak."
"Kamu mengusir saya?" tanya Ryan tanpa menjawab pertanyaan Laura.
"Tidak. Tidak Pak. Mana saya berani usir Bapak. Saya hanya tidak mau Bapak lelah karena menunggu bawahan seperti saya," sahut Laura dengan cepatnya.
Ryan terkekeh mendengar ucapan Laura. Kemudian dia berkata,
"Di rumah pun saya sendiri. Lebih baik di sini ada kamu yang bisa berbagi cerita dengan saya. Lagi pula sebentar lagi kamu akan keluar dari rumah sakit ini. Dan tugas saya sebagai penolongmu akan berakhir pada saat itu."
Laura tersenyum mendengar perkataan Ryan. Dia menganggukkan kepalanya untuk membenarkan sebutan Ryan pada dirinya sendiri seraya berkata,
"Bapak memang benar-benar penolong saya."
Tiba-tiba Laura teringat akan saldo di rekeningnya. Dia segera mengecek mobile banking nya untuk memastikan uang hadiah misi dan bonusnya.
Matanya berbinar dan bibirnya melengkung ke atas melihat saldo di rekeningnya benar-benar bertambah. Dalam hatinya berkata,
Semuanya sudah selesai. Aku sudah terbebas dari ikatan sistem itu. Aku akan melepaskan semuanya dan mencoba mencari kebahagiaan hidupku sendiri.
"Laura, ada apa? Apa ada masalah?" tanya Ryan yang sedari tadi memperhatikannya dari tempatnya berada.
Laura terperangah, dia salah tingkah seperti sedang ketahuan melakukan sesuatu.
"Ti-tidak Pak. Hanya saja sedang memikirkan sesuatu," jawab Laura dengan gugupnya.
"Apa tentang tempat tinggal? Saya sudah memikirkannya. Bagaimana jika kamu tinggal di–"
Krieeet…!
__ADS_1
Pintu kamar tersebut terbuka dan menampakkan seseorang yang sangat familiar berjalan ke arahnya. Dengan mata yang berkaca-kaca dan suara yang bergetar orang tersebut berkata,
"Laura…."