
"Perutku lapar sekali," ucap Laura sambil memegang perutnya yang telah berbunyi, memberontak untuk meminta makan.
Laura mengambil ponsel dari dalam tasnya. Dia menghela nafasnya, kesal terlihat di wajahnya. Pesan yang dikirim untuk suaminya tidak dibalas. Bahkan pesan tersebut tidak dibaca oleh suaminya.
"Apa kamu sesibuk itu Mas, sampai-sampai tidak sempat membaca pesanku?" Laura bermonolog sambil melihat layar ponselnya.
Dia kembali menghela nafasnya sambil meletakkan kembali ponsel tersebut ke dalam tasnya.
Pandangan matanya kini beralih melihat ke sekelilingnya. Rasa kesepian itu kembali menderanya. Taman yang tadinya sepi dan sunyi itu mulai didatangi pengunjung.
Banyak pengunjung yang berpasangan datang ke taman tersebut. Ada juga yang bersama anak mereka. Laura tersenyum getir melihat mereka. Nyatanya kehidupannya tidak seindah mereka. Dia pun merasa tetap sendiri meskipun pernikahannya sudah berjalan lima tahun.
"Sebaiknya aku membeli makan siang saja. Percuma aku menunggu Mas Arsenio untuk mengajaknya makan siang jika pesanku saja tidak dibacanya," gerutu Laura disertai helaan nafasnya.
Dia pun meninggalkan taman tersebut menggunakan mobilnya menuju restoran terdekat dari taman itu.
Entah mengapa perasaan Laura tiba-tiba terasa tidak nyaman. Terasa seperti enggan untuk masuk ke dalam restoran tersebut.
Namun, Laura menganggapnya sebagai efek dari rasa laparnya saja. Dia turun dari mobilnya dan segera masuk ke dalam restoran tersebut.
Tiba-tiba langkahnya terhenti. Matanya terbelalak melihat Arsenio duduk dengan Kessy. Bahkan tangan Kessy tidak lepas bergelayut manja pada langan Arsenio.
Sontak saja dengan kemarahan yang menggebu-gebu membuat kaki Laura melangkah untuk mendekati mereka.
Namun, seketika langkah kakinya berhenti ketika melihat orang yang duduk di hadapan Arsenio dan Kessy.
"Pak Alberto?" gumam Laura ketika melihat orang yang ada di hadapan suaminya.
Seketika Laura duduk tidak jauh dari mereka. Dia duduk membelakangi mereka agar tidak diketahui oleh mereka.
Seorang waitress mendekatinya dan memberikan buku menu padanya. Laura mengatakan padanya untuk meninggalkan buku menu tersebut di mejanya. Dan dia juga mengatakan pada waitress tersebut jika dia akan memesan makanan setelah temannya datang.
Waitress tersebut pun menganggukkan kepalanya dan meninggalkan Laura bersama buku menu tersebut.
Laura membuka buku menu tersebut dan berpura-pura sibuk dengan ponselnya. Dia mendengarkan semua pembicaraan mereka bertiga.
__ADS_1
Pembicaraan apa ini? Semua pembicaraan mereka tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Dan kenapa Kessy bisa ada bersama mereka? Apa karena itu Mas Arsenio tidak membaca pesanku? Kurang ajar! Awas saja kamu Mas, Laura menggerutu dalam hatinya.
Laura kembali mengirim pesan pada suaminya. Dia mengaktifkan kamera depannya dan mengarahkannya pada meja suaminya. Dia mengawasi apa yang terjadi di meja tersebut dari layar ponselnya.
Namun, Arsenio tidak juga mengambil ponselnya. Dia tetap sibuk berbicara dengan Alberto dan Kessy.
Bahkan dia menghubungi Arsenio untuk memastikan keberadaannya sekarang ini. Sayangnya panggilan teleponnya itu hanya menjadi panggilan tidak terjawab.
Gigi atas dan bawahnya mengerat menahan amarahnya ketika melihat Kessy semakin menempel pada Arsenio. Bahkan bagian dadanya ditempelkan pada lengan Arsenio.
Ternyata begini kelakuanmu Mas. Kamu sudah berjanji padaku semalam. Dan ternyata semua itu hanya omong kosong, Laura berkata dalam hatinya dengan mata yang berkaca-kaca.
Hatinya merasa sangat sakit melihat suaminya bermesraan dengan perempuan lain. Terlebih lagi perempuan tersebut pernah memiliki hubungan dengannya.
Apa ini yang kamu bisikkan padanya saat di restoran malam itu? Apa kamu mengajaknya bertemu di tempat lain? Jahat kamu Mas! Laura kembali berkata dalam hatinya dengan pandangan matanya yang masih melihat pada layar ponselnya.
Terlihat Arsenio menoleh melihat ke arah dada Kessy yang menempel pada lengannya. Kessy tersenyum manis pada Arsenio dan dia lebih menempelkan dan menekankan bagian dadanya pada lengan Arsenio.
Alberto tersenyum ketika mengikuti arah pandang Arsenio. Dia mengerti jika kehadirannya di sana mengganggu mereka.
Melihat Alberto yang beranjak dari duduknya, seketika Laura menarik dan mematikan ponselnya. Dia tidak mau jika kehadirannya diketahui oleh Alberto, meskipun dia yakin jika Alberto tidak akan mengenalinya.
Dengan segera Laura beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati meja suaminya.
"Sedang apa kalian di sini?"
Suara Laura membuat Arsenio dan Kessy menoleh ke arahnya.
"Sa-Sayang," celetuk Arsenio gugup dengan matanya yang terbelalak melihat istrinya sudah berdiri di hadapannya.
Kessy menyeringai melihat Laura yang terlihat sangat marah pada mereka berdua. Dia lebih mengeratkan tangannya pada lengan Arsenio sehingga bagian dadanya melekat dengan eratnya di lengan Arsenio.
Laura menyeringai melihat tingkah rendahan Kessy yang merendahkan dirinya sendiri. Bahkan dia ingin meludahi wajah perempuan itu dan mempermalukannya di hadapan semua orang.
Namun, pikirannya masih sangat waras. Laura masih bisa mengendalikan emosi dan kemarahannya. Dia tidak mau menjadi perempuan yang merendahkan dirinya sendiri dan ber-image jelek di hadapan semua orang.
__ADS_1
"Mau makan siang denganku apa dengan perempuan tidak tau diri ini?" tanya Laura dengan santainya disertai seringaiannya.
Seketika Arsenio menghempaskan tangan Kessy yang dengan sekuat tenaganya menahan Arsenio. Sayangnya tenaga Kessy tidak sebanding dengan tenaga Arsenio. Tangan Kessy dihempasnya dengan kasar. Kemudian dia beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri istrinya.
Arsenio lebih memilih istrinya dibandingkan dengan Kessy yang hanya berstatus sebagai mantan pacarnya saja. Selain itu dia mengingat perkataan Kessy yang mengatakan bahwa Laura telah membeli PS5 untuk laki-laki yang dicintainya. Dan Arsenio yakin jika yang dimaksud oleh Laura adalah dirinya.
Arsenio melingkarkan tangannya pada pinggang Laura. Dengan cepatnya dia mengajak Laura meninggalkan tempat itu.
Kessy menatap mereka berdua dengan penuh amarah. Dia tidak bisa mencegahnya karena akan malu jika dia berulah di tempat itu yang kebetulan sudah ramai pengunjung di jam makan siang.
Laura hanya menurut saja, dia berjalan bersama dengan suaminya keluar dari restoran tersebut.
Apalagi Laura juga harus menghindari Alberto yang juga berada di tempat itu. Dengan langkah cepatnya, dia pun berjalan menyesuaikan langkah lebar suaminya.
Sepertinya dia terburu-buru sekali. Apa dia memang menghindari Kessy dan Pak Alberto? Atau mungkin takut jika aku mengamuk di sana? Laura bertanya-tanya dalam hatinya ketika berjalan menuju mobilnya.
"Mana kunci mobilnya?" tanya Arsenio sambil menengadahkan tangannya pada Laura.
Laura menyerahkan kunci mobilnya seraya berkata,
"Kenapa bisa bersama dengan dia?"
Arsenio menghela nafasnya. Dia terlihat sangat frustasi berada dalam situasi seperti ini.
"Kami tidak sendiri. Kami bersama dengan Pak Alberto. Dan beliau mengajakku untuk makan bersamanya. Aku tidak bisa menolaknya. Kamu tau kan bagaimana posisiku?" ucap Arsenio dengan tatapan mengiba pada istrinya.
"Lalu, apa hubungannya dengan perempuan rendahan itu?" tanya Laura yang masih belum bisa menerima penjelasan suaminya.
Arsenio kembali menghela nafasnya. Dia terlihat gugup dan panik saat itu. Kemudian dia berkata,
"Nanti aku jelaskan di tempat lain. Kita pergi dulu dari tempat ini."
Arsenio membukakan pintu mobil untuk istrinya. Matanya terbelalak ketika membuka pintu mobil tersebut. Kemudian dia berkata,
"Sayang, ini…."
__ADS_1