System Lady Rich

System Lady Rich
Bab 13 : Misi kelima


__ADS_3

Laura bergerak satu langkah untuk mendekati panel tersebut. Dia membaca misi yang diberikan padanya.


Tertera tulisan pada layar panel tersebut.


'Melarang suami untuk menaiki mobil'


Dahi Laura mengernyit membaca misinya kali ini. Dia memikirkan apa yang sedang terjadi pada suaminya sehingga dia harus kembali menyelamatkannya.


Apa yang terjadi padanya? Kenapa aku harus melarangnya menaiki mobil? Apa jangan-jangan seperti waktu itu, ada yang ingin mencelakakannya, Laura berkata dalam hatinya.


Memikirkan hal itu, Laura segera berjalan menuju tasnya untuk mengambil ponselnya. Untung saja pada saat itu koreografer yang mengajari Laura memberikan waktu istirahat padanya, sehingga dia bisa menghubungi suaminya.


"Halo, Mas Arsen sedang di mana?" tanya Laura melalui telepon pada suaminya.


Aku sedang berada di kantor sekarang. Ada apa? Apa kamu akan datang kemari? Sebaiknya tidak usah, karena sebentar lagi aku akan ada pertemuan di luar dengan pihak perusahaan pemilik produk yang akan kami iklankan, jawab Arsenio yang sedang membaca berkas-berkas di mejanya.


"Mas tunggu aku di sana. Jangan ke mana-mana dulu sebelum aku datang," sahut Laura dengan terburu-buru.


Tapi aku–


"Jangan membantah Mas. Pokoknya Mas harus tetap di sana sampai aku datang," sela Laura sambil bergegas membawa tas yang berisi pakaiannya.


Arsenio tidak bisa mengatakan sesuatu pada istrinya karena Laura sudah mengakhiri panggilan teleponnya.


Laura keluar dari studio tersebut tanpa berpamitan pada pelatihnya yang seorang koreografer tari ternama.


Dia bergegas menuju kantor suaminya menggunakan taksi yang kebetulan berada di depan studio tari tersebut.


Entah kebetulan atau bagaimana, Laura merasa semua yang terjadi sudah menjadi skenario yang harus dijalaninya. 


Namun, dia tidak ambil pusing karena dia merasa terbantu dengan semuanya.


Setelah beberapa saat, taksi tersebut berhenti tepat di depan kantor Arsenio. Laura segera berlari keluar taksi tersebut setelah membayarnya.


Suara derap kaki Laura menandakan dirinya sedang terburu-buru saat ini. Tanpa bertanya pada siapa pun, dia segera menuju ruangan suaminya.


Sayangnya, nafasnya terengah-engah saat ini. Dia kehabisan tenaganya karena aktivitasnya yang begitu padat.


Laura berhenti sejenak dengan badan membungkuk dan kedua tangannya memegangi lututnya.

__ADS_1


Nafasnya yang terengah-engah itu lama kelamaan sedikit mereda. Dia mengatur pernafasannya dan akan kembali berjalan menuju ruangan suaminya.


"Cepat lakukan sebelum dia pergi dari sini dengan membawa mobilnya," ucap seorang laki-laki pada rekannya ketika sedang berjalan melewati Laura.


Seketika Laura menghentikan keinginannya untuk meninggalkan tempat itu. Entah mengapa dia ingin sekali mendengarkan percakapan mereka. 


Apa mereka yang akan mencelakai Mas Arsen? Aku harus mengikuti mereka, Laura berkata dalam hatinya.


Dengan sangat hati-hati Laura mengikuti mereka dengan jarak yang aman. Dia merekam semua yang dilakukan oleh kedua orang itu dengan menggunakan ponselnya.


Laura bertambah yakin jika merekalah yang akan mencelakakan suaminya ketika kedua orang tersebut sudah berada di dekat mobil Arsenio.


Laura masih saja merekam apa yang mereka lakukan dengan ponselnya. Dia kini tahu jika kedua orang tersebut akan menyabotase mobil Arsenio. 


Sepertinya mereka benar-benar akan mencelakakan Mas Arsenio. Aku harus melakukan apa pun agar Mas Arsenio tidak bisa menggunakan mobil itu, batin Laura sambil memperhatikan kedua orang tersebut.


Tiba-tiba saja ponsel Laura bergetar, membuat Laura yang sedang membawanya terkejut sehingga menjatuhkan ponselnya.


Sontak saja kedua orang tersebut menoleh ke arah suara yang berasal dari ponsel Laura yang terjatuh di lantai parkiran tersebut.


Laura segera berjongkok dan bersembunyi di balik mobil yang ada di depannya. Jantungnya berdetak dengan sangat cepat karena merasa panik dan takut jika orang-orang tersebut menangkapnya.


Namun, kini dia merasa lega karena kedua orang tersebut berjalan menjauhinya.


Kini dia tersenyum lega tatkala melihat kaki kedua orang tersebut berjalan meninggalkan parkiran.


Ponsel Laura kembali bergetar. Ternyata sedari tadi yang menghubunginya adalah koreografer yang sedang melatihnya. Segera diangkat panggilan telepon tersebut dan dia menyatakan permintaan maaf padanya karena pergi tanpa berpamitan padanya. 


Laura segera berjalan menghampiri mobil Arsenio. Dia berjalan mondar-mandir di sebelah mobil suaminya sambil memikirkan cara agar suaminya tidak memakai mobil tersebut.


Tiba-tiba matanya berbinar karena teringat akan sesuatu. Matanya menelusuri parkiran tersebut seolah mencari sesuatu.


Namun, wajahnya berubah lesu ketika dia tidak mendapatkan apa pun di sana. Sedetik kemudian wajahnya kembali menegang. 


Dia mengobrak-abrik isi tasnya untuk mencari sesuatu. Matanya kembali berbinar setelah mendapatkan sesuatu dari dalam tasnya.


"Semoga barang ini berguna," gumam Laura sambil mengeluarkan cutter dari dalam tasnya.


Laura segera mengarahkan cutter tersebut pada ban mobil milik Arsenio. Dia berusaha keras merobek ban tersebut agar terlihat dengan jelas bahwa ban tersebut bocor, sehingga Arsenio tidak memakai mobil tersebut.

__ADS_1


Keringat yang menetes di pelipis Laura menandakan betapa keras perjuangannya untuk bisa merobek ban mobil yang keras itu menggunakan cutter.


Setelah beberapa saat, ponselnya kembali bergetar. Laura menghentikan kegiatannya untuk mengambil nafas dan melihat panggilan yang masuk pada ponselnya saat ini.


Laura duduk di lantai dekat mobil Arsenio. Diusapnya keringat yang menetes di dahi dan pelipisnya.


Dia menjawab panggilan telepon dari suaminya itu sambil kembali berusaha merobek ban tersebut.


"Halo Mas, tunggu sebentar. Aku akan sampai di kantormu," ucap Laura mengawali percakapan mereka di telepon.


Sayang, aku akan berangkat sekarang. Lebih baik kita bertemu di rumah saja nanti, tukas Arsenio yang terdengar terburu-buru.


"Tunggu! Tunggu aku sebentar lagi. Aku akan ke sana. Tunggu sebentar," sahut Laura dengan tergesa-gesa dan berusaha lebih kuat lagi untuk merobek ban tersebut.


Laura mengakhiri panggilan telepon tersebut dan bernafas lega setelah melihat ban mobil milik Arsenio sudah robek dan terlihat dengan jelas.


Laura segera mengusap keringat yang kembali membasahi wajahnya. Dia tersenyum lega melihat usaha kerasnya yang sedari tadi menyita tenaganya.


Segera dia berdiri dan berjalan untuk menemui suaminya. Dengan perasaan lega membuat langkah kakinya menjadi ringan.


"Sayang, kenapa ada di sini?" tanya Arsenio yang terkejut melihat Laura ada di parkiran.


"Emmm… tadi aku sengaja lewat sini karena aku takut kamu sudah berada di parkiran," jawab Laura gugup dan tersenyum kaku pada suaminya.


Arsenio mendekati istrinya dan merangkul pundaknya seraya berkata,


"Sedari tadi aku menunggumu. Dan sekarang aku sudah tidak bisa menunda lagi keberangkatanku. Mereka pasti sudah menungguku."


"Karena aku sudah bertemu denganmu, kamu sudah bisa berangkat sekarang," ucap Laura sambil tersenyum dan menarik tangan suaminya untuk menuju mobilnya.


Arsenio tersenyum pada istrinya. Dia sudah tidak mempermasalahkan tentang kejadian di rumah sakit, tapi dia lupa belum menanyakan tentang kehadiran Laura di pesta pada malam itu. Kesibukan mereka dengan pekerjaan mereka membuat pasangan suami istri itu jarang untuk berkomunikasi.


Tiba-tiba Laura menarik tangan Arsenio saat suaminya itu akan membuka pintu mobilnya.


"Ada apa?" tanya Arsenio pada istrinya dengan mengernyitkan dahinya.


"Lihat itu Mas. Sepertinya kamu tidak bisa memakai mobil ini sekarang," ucap Laura sambil menunjuk ban mobil yang terlihat robek dengan ukuran yang sangat besar.


Arsenio menghela nafasnya. Kemudian dia berkata,

__ADS_1


"Siapa yang berani melakukan ini?"


 


__ADS_2