
Langkah kaki Laura terhenti karena dihalau oleh seseorang. Dia melihat malas pada orang tersebut. Seorang wanita yang tidak asing baginya meskipun baru satu kali bertemu dengannya.
"Hai, apa kamu masih mengingatku?" sapa wanita tersebut pada Laura dengan menyuguhkan senyumannya yang dibuat semanis mungkin.
Laura tampak berpikir. Dia menyeringai seraya berkata,
"Maaf, tapi saya tidak ingat. Apa kita pernah bertemu?"
Seketika senyuman wanita tersebut lenyap. Dia menatap kesal pada Laura dan mengulurkan tangannya seraya berkata,
"Aku Kessy, mantan pacar Arsenio. Kita pernah bertemu di restoran malam itu."
Dada Laura bergemuruh mendengar wanita yang mengaku bernama Kessy itu mengingatkannya kembali akan statusnya sebagai mantan pacar Arsenio. Dalam hatinya berkata,
Padahal aku hanya berpura-pura saja tidak mengenalnya, ternyata dia lebih licik dariku. Apa hebatnya menjadi mantan pacar? Bukankah lebih hebat menjadi istri?
Laura membalas senyum Kessy, tapi dia tidak ingin mengulurkan tangannya untuk menjabat tangannya.
Alih-laih menjabat tangan Kessy, Laura memperlihatkan box PS5 yang ditunjukkan oleh Laura dengan mengangkat box tersebut menggunakan kedua tangannya untuk menunjukkan pada Kessy bahwa dia tidak bisa menjabat tangannya.
Kessy menyeringai melihat Laura yang terlihat tidak mau berjabat tangan padanya. Dalam hati dia berkata,
Padahal tadi dia hanya membawanya dengan satu tangan, sekarang dia membawanya dengan kedua tangannya. Padahal dia juga bisa meletakkan benda itu terlebih dahulu agar bisa menjabat tanganku, tapi dia tidak melakukannya. Sepertinya dia tidak mau berjabat tangan denganku. Lihat saja, apa yang aku lakukan nanti.
"Maaf, aku pergi dulu. Suamiku sudah menunggu ku," ucap Laura sambil tersenyum manis pada Kessy yang masih berdiri di hadapannya.
"Pintar sekali kamu merayu Arsenio dengan memberikannya benda itu," tukas Kessy sambil menyeringai melepas kepergian Laura yang berjalan melewatinya.
Laura menghentikan langkahnya. Dia membalikkan badannya menghadap Kessy dan berkata,
"Kamu pikir ini untuk siapa? Aku membeli ini untuk laki-laki yang aku cintai."
Setelah mengatakan itu, Laura segera pergi meninggalkan Kessy yang masih tercengang mendengar perkataannya.
Laura tersenyum penuh kemenangan ketika berjalan meninggalkan Kessy. Dia sangat puas melihat wajah Kessy yang tercengang karenanya.
Sedangkan Kessy, dia menyeringai setelah sadar dari tercengangnya. Kemudian dia berkata,
"Aku akan mengatakannya pada Arsenio. Lihat saja nanti."
__ADS_1
Diambilnya ponsel dari tas miliknya dan dia sibuk mengutak-atik ponsel tersebut. Setelah beberapa saat, dia tersenyum puas dan berkata,
"Kita lihat saja, bagaimana caraku bekerja."
Di dalam mobilnya, Laura memberi kabar pada suaminya. Dia mengajak suaminya untuk melakukan perjalanan ke puncak.
"Aku harus mempercepat semuanya agar bisa cepat selesai," gumam Laura sambil mengirim pesan pada suaminya.
Kemudian dia menoleh ke arah samping. Di sana dia melihat box yang bertuliskan PS5 itu di kursi sampingnya.
"Aku bisa mendapatkan uang ku kembali ketika misiku telah selesai sebagai ganti dari uang yang aku gunakan untuk membeli barang itu," gumam Laura kembali disertai helaan nafasnya.
Setelah itu dia mengendarai mobilnya seorang diri. Dia berbelok ke taman untuk sekedar bersantai di sana sambil menunggu balasan pesan dari suaminya.
Laura melihat ponselnya yang tidak ada pesan dari suaminya. Dengan sedikit kesal dia berkata,
"Mungkin dia sedang sibuk sekarang."
Dia kembali menyibukkan dirinya dengan memberikan makanan pada ikan yang ada di kolam taman tersebut. Kesendiriannya kini mulai terasa. Tidak ada anak atau suami yang menemaninya membuat Laura selama ini menyibukkan dirinya dengan bekerja.
Di kantornya, Arsenio sedang sibuk menanggapi ucapan selamat ulang tahun dari semua orang. Dia memesan banyak makanan untuk mereka semua sebagai perayaan ulang tahunnya dan ucapan terima kasih atas ucapan ulang tahun yang mereka berikan padanya.
Tiba-tiba Alberto mendatanginya dengan memperkenalkan seseorang pada Arsenio.
Mata Arsenio terbelalak melihat sosok wanita yang berdiri di sebelah Alberto. Wanita itu tersenyum manis dan mengedipkan sebelah matanya pada Arsenio.
"Untuk apa Pak? Sepertinya saya tidak membutuhkannya," ucap Arsenio dengan kikuk.
"Jangan begitu Pak. Saya yakin anda sangat membutuhkannya. Kalian berdua sangat hebat. Saya yakin kerja kalian berdua sangat bagus jika bersama," tutur Alberto sambil menepuk pundak Arsenio.
Kessy, keponakan dari Alberto itu berpindah tempat. Kini dia sudah berada di dekat Arsenio sambil melingkarkan tangannya pada lengan Arsenio dan bergelayut manja padanya, seraya berkata,
"Tenang saja Om, kami pasti akan menjadi pasangan yang bisa Om banggakan. Kami berdua sudah kenal dekat, jadi Om tidak perlu khawatir lagi."
Semua orang melihat ke arah mereka. Perhatian mereka semua tertuju pada Arsenio dan Kessy yang terlihat begitu mesra.
"Sepertinya memang saya tidak perlu khawatir," tukas Alberto sambil terkekeh.
Arsenio merasa tidak nyaman saat ini. Semua pasang mata mengarah padanya. Dia mencoba melepaskan tangan Kessy yang sedang bergelayut manja padanya. Tapi dia sungkan pada Alberto yang masih berada di depannya.
__ADS_1
"Ramai sekali, sepertinya sedang ada perayaan," ucap Alberto sambil melihat sekitar.
"Pak Arsenio sedang berulang tahun Pak," celetuk Rendi yang berada tidak jauh dari Arsenio.
"Wah… kebetulan sekali. Bagaimana kalau kita bertiga makan di luar untuk merayakan ulang tahun Pak Arsenio?" tanya Alberto pada Arsenio dan Kessy.
"Setuju Om. Ayo kita berangkat sekarang, mumpung lagi jam makan siang," sahut Kessy dengan sangat antusias.
Arsenio tidak bisa menolak. Dia hanya bisa pasrah dengan keadaannya saat ini.
Mereka bertiga berjalan keluar dari ruangan tersebut dengan Kessy yang masih menggandeng mesra tangan Arsenio. Dia tersenyum senang karena rencananya berhasil tanpa harus bersusah payah. Dia juga tidak mau begitu saja melepaskan gandengan tangannya pada tangan Arsenio.
Tiba-tiba Arsenio ingat jika dia tidak membawa mobil. Pada saat itu juga dia berkata,
"Maaf Pak, saya tidak membawa mobil saya hari ini."
Alberto menoleh ke arah Arsenio yang sedang berjalan di sampingnya. Kemudian dia berkata,
"Tidak masalah, kita bertiga naik mobil saya saja."
"Kessy juga bawa kok Om. Lebih baik Kessy dan Arsenio naik mobil Kessy saja Om," sahut Kessy yang masih bergelayut manja pada tangan Arsenio.
"Tidak baik jika kita hanya berdua saja. Lebih baik bersama Pak Alberto saja," tukas Arsenio menanggapi ucapan Kessy.
Kessy mendekatkan bibirnya pada telinga Arsenio dan berbisik padanya,
"Jangan khawatirkan istrimu. Lebih baik kita bersenang-senang saja. Aku baru saja bertemu dengannya. Dia membeli PS5 di Mall. Dan dia mengatakan padaku akan memberikan barang itu untuk laki-laki yang dicintainya. Dan aku yakin itu bukan kamu, karena dia tidak menyebut namamu. Aku akan memberikan hadiah yang lebih berharga untukmu. Tenang saja."
Alberto tersenyum melihat Kessy yang terlihat sangat senang bersama dengan Arsenio. Dia hanya berusaha menyenangkan keponakannya itu dengan mengabulkan permintaannya.
Mereka bertiga benar-benar berangkat menggunakan mobil Alberto. Arsenio akan duduk di depan, sebelah sopir. Sayangnya Kessy tidak mau lepas darinya. Dia menarik paksa Arsenio untuk duduk di kursi belakang.
Alberto terkekeh melihat tingkah keponakannya. Dia duduk di kursi depan bersama sopirnya demi mengalah pada keponakannya yang duduk dengan mesra di kursi belakang bersama dengan Arsenio.
Sesampainya di restoran yang dituju, Kessy duduk berdampingan dengan Arsenio. Sedangkan Alberto duduk di depan mereka berdua.
Tanpa mereka ketahui, ada sepasang mata yang memperhatikan mereka. Orang tersebut menatap kesal dengan amarahnya yang meluap-luap melihatnya.
"Apa yang sedang mereka lakukan?" gumam orang tersebut dengan penuh kemarahan.
__ADS_1