System Lady Rich

System Lady Rich
Bab 82 : Rencana balas dendam


__ADS_3

Hari pun berganti. Pagi ini jenazah ibu Arsenio telah bersiap untuk di makamkan. Dari semalam, Arsenio tidak bisa menghubungi Laura. Bahkan pesannya pun hingga pagi ini belum dibaca oleh Laura.


Ingin rasanya dia menjemput istrinya itu untuk menemaninya mengantar kepergian ibunya yang terakhir kalinya.


Namun, dia sadar jika keadaan Laura saat ini masih belum bisa diajaknya keluar dari rumah sakit. Terlebih lagi Laura saat ini sedang marah padanya.


Siang itu pemakaman ibu Arsenio dilakukan tanpa kehadiran menantunya. Dan yang menemani Arsenio siang itu pada saat pemakaman berlangsung adalah Kessy.


...----------------...


Di lain tempat, orang suruhan Ryan sudah berhasil menyelesaikan masalah hutang piutang Arsenio dengan bank. Dia telah memperoleh kembali sertifikat rumah yang beratasnamakan Arsenio.


Mereka pun dengan segera mengurus perubahan nama kepemilikan rumah tersebut atas nama Laura, yang merupakan istri sah dari Arsenio.


Semua bisa dengan mudah mereka lakukan tanpa harus meminta persetujuan dari Arsenio. 


Ryan tidak pernah meninggalkan Laura. Dia layaknya seorang suami setia dan sangat mencintai istrinya yang sedang dirawat di rumah sakit.


Ketika Ryan berada di kamar mandi, tiba-tiba Laura dikejutkan dengan benda yang sudah beberapa hari tidak dijumpainya. Panel yang memberikan misi padanya itu, kini kembali tampak di depan Laura.


Pada layar panel tersebut tertulis jika Laura berhasil menjalankan misi terakhirnya, yaitu membayarkan hutang suaminya. Dan untuk misi tambahannya yaitu membuat Ryan mempercayakan kerja sama perusahaannya dengan Arsenio pun telah berhasil dilakukannya. Maka misi Laura untuk mempertahankan rumah tangganya sudah berhasil dilakukannya. 


Tertera dengan huruf kapital yang begitu besar pada layar tersebut,


MISSION COMPLETE


Mata Laura berkaca-kaca melihat tulisan tersebut. Dia bahagia karena usahanya yang tidak mudah itu bisa diselesaikannya meskipun banyak sekali rasa sakit hati yang dirasakannya untuk mengorbankan waktu, tenaga, hati dan perasaannya selama menjalankan misi tersebut.


Pada layar panel tersebut pun dijelaskan jika semua tugas Laura sudah selesai dan berhasil mendapatkan hadiah uang sebesar yang ditentukan yaitu total keseluruhan dua ratus juta. Selain itu Laura mendapatkan bonus senilai dua ratus miliar karena berhasil melakukan semua misinya dengan baik. Dan yang terpenting adalah sistem pengikatan telah dihapus dari Laura. Kini dia sudah tidak terikat kembali oleh sistem tersebut.


Laura mencari ponselnya di semua tempat. Dari kemarin dia melupakan benda yang selalu menemaninya itu. Dia mencari di bawah bantal dan juga pada laci nakasnya.


"Ada apa Laura? Apa kamu sedang mencari sesuatu?" tanya Ryan yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi.


Laura menoleh ke arah Ryan yang sedang berjalan ke arahnya. Kemudian dia berkata,


"Apa Bapak melihat HP saya? Saya melupakannya sejak berada di rumah sakit ini."

__ADS_1


Ryan mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan dari Laura. Jujur saja dia juga tidak menyadari hal itu.


Namun, beberapa detik kemudian dia mengingatnya. Dan dia pun berkata,


"Sepertinya tas dan HP mu tertinggal di rumahmu saat aku menolong mu waktu itu. Maafkan saya Laura, saya panik dan meletakkan tas itu di kamarmu."


Laura tersenyum tipis diiringi dengan helaan nafasnya. Kemudian dia berkata,


"Sepertinya sekarang saya harus mengambil dompet dan HP saya di rumah Pak."


"Apa tidak bisa menunggu besok saja ketika kamu keluar dari rumah sakit ini?" tanya Ryan dengan sungguh-sungguh.


Laura kembali tersenyum tipis. Kemudian dia berkata,


"Saya akan mengajukan gugatan cerai pada suami saya Pak. Di dompet saya itu ada semua kartu keuangan saya Pak. Saya mohon agar saya bisa mengambilnya."


"Kamu serius akan bercerai dengan suamimu?" tanya Ryan dengan sungguh-sungguh. 


Laura menganggukkan kepalanya seraya berkata,


"Saya yakin Pak. Saya sudah tidak kuat lagi memperjuangkan rumah tangga ini sendirian. Lagi pula kalimat cerai ini harusnya saya ucapkan beberapa bulan yang lalu. Dan akhirnya, kata ini sekarang bisa saya ucapkan dengan sangat yakin."


Sejenak Laura memikirkan semuanya. Dan dia berpikiran yang sama dengan Ryan. Dia harus meninggalkan semua kenangan lamanya dan bangkit kembali dengan harapan yang baru.


"Jika memang itu semua bisa dilakukan, saya akan sangat berterima kasih sekali pada Bapak," ucap Laura sambil tersenyum manis pada Ryan.


Melihat senyuman Laura padanya, membuat Ryan merasakan getaran lain dalam dadanya.


Ayolah Ryan, jangan merasakan perasaan seperti itu. Dia masih berstatuskan istri orang, Ryan memperingatkan dirinya sendiri dalam hatinya.


Ryan segera menghubungi Rendra untuk membelikannya sebuah ponsel beserta nomornya dan juga menghubungi pihak bank yang diberitahukan Laura agar datang ke rumah sakit untuk mengurus kartu-kartu debit Laura yang hilang.


Rendra merasa heran dan tidak mengerti dengan situasi saat ini, tetapi dia tidak bertanya pada Ryan sekarang ini. Untuk saat ini dia akan melakukan sesuai dengan keinginan Ryan, akan tetapi setelah itu Ryan akan menagih cerita padanya.


Hanya beberapa saat saja Rendra datang secara langsung membawakan ponsel keluaran terbaru dari brand ternama beserta dengan nomor cantik yang diinginkan oleh Ryan.


Tok… tok… tok…

__ADS_1


Pintu kamar inap Laura diketuk oleh seseorang dari luar kamar tersebut.


"Masuk!" ucap Ryan dari dalam ruangan tersebut.


Masuklah Rendra dengan membawa goody bags yang berisi ponsel pesanan Ryan.


"Laura, kenapa kamu bisa berada di rumah sakit? Kamu sakit apa?" tanya Rendra ketika masuk ke dalam kamar tersebut.


Laura tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Kemudian dia menjawab,


"Saya baik-baik saja Pak. Hanya kelelahan saja. Sebentar lagi juga akan keluar dari rumah sakit."


Ryan berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri Rendra seraya berkata,


"Kita bicara di luar. Biarkan Laura beristirahat sekarang."


Tidak ada yang bisa membantah perintah Ryan. Rendra pun mengikuti Ryan untuk berbicara di luar.


"Mana HP yang aku suruh beli tadi?" tanya Ryan sambil menengadahkan tangannya pada Rendra.


Rendra pun segera memberikan goody bags yang dibawanya pada Ryan seraya berkata,


"Ini HP yang sudah diisi dengan nomor baru, sesuai dengan keinginanmu."


Ryan tersenyum kala menerima goody bags tersebut. Dia melihat isi dalam goody bags tersebut dan berkata,


"Kembalilah ke kantor dan urus keperluan kantor untuk sementara waktu. Jika ada yang membuatmu ragu, segera hubungi aku."


Rendra menghela nafasnya melihat Ryan yang seolah tidak peduli dengan kantornya. Baru kali ini dia melihat Ryan yang seperti itu. Dia pun bertanya padanya.


"Ryan, sebenarnya apa yang terjadi sehingga kamu betah sekali berada di sini? Aku tidak melihat Ryan yang biasanya. Bisakah aku mendengar alasannya? Apa yang sebenarnya terjadi padamu tanpa sepengetahuanku kawan?" 


Ryan menghela nafasnya yang terasa ragu untuk menceritakan semuanya pada Rendra. Dia menoleh ke arah pintu kamar inap Laura. Kemudian dia berkata,


"Sebenarnya Laura–"


"Maaf Pak, apa Bapak yang bernama Ryan Arion Syahreza?" 

__ADS_1


Tiba-tiba ada suara yang menghentikan perbincangan antara Ryan dan Rendra. 


__ADS_2