
Laura terkejut mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Ryan padanya. Lagi-lagi dia merasa jika kali ini saatnya dia menjalankan rencananya untuk mempengaruhi bosnya itu agar mau bekerja sama dengan perusahaan tempat Arsenio bekerja.
Namun, lagi-lagi Laura tidak mau tergesa-gesa dan terlihat memaksakan pendapatnya.
Dia tetap berusaha untuk menjalankan misinya dengan santai agar tidak terlihat oleh Ryan.
"Saya tidak berani memberikan pendapat Pak. Mungkin jika ide, saya bisa bantu. Tapi jika memilih perusahaan mana yang bekerja sama dengan perusahaan ini, saya benar-benar tidak berani Pak. Saya takut jika nantinya tidak sesuai dengan keinginan Bapak," tutur Laura yang terlihat sangat menghormati Ryan sebagai bosnya.
Ryan tersenyum mendengar penuturan Laura. Dia menatap Laura dan berkata,
"Saya hanya ingin tau saja pendapatmu. Dan belum tentu juga saya mengikuti pendapatmu. Masalah seperti ini harus saya pikirkan dengan baik. Sekarang… coba kamu berikan pendapatmu pada saya. Jangan sungkan."
Laura menatap mata Ryan dengan penuh arti. Dia menghela nafasnya seolah ragu akan apa yang hendak dikatakannya.
"Saya merekomendasikan perusahaan Surya Indah Pak. Mereka sering mengerjakan iklan dengan hasil yang sangat memuaskan. Maaf jika pendapat saya kurang berkenan di hati Bapak," ucap Laura tanpa keraguan sedikit pun.
Namun, Ryan menangkap keraguan pada mata Laura. Dia merasa ragu dan takut dengan apa yang dikatakannya.
Ryan masih saja menatap mata Laura. Dia tersenyum dan berkata,
"Sepertinya kamu sangat tau sekali tentang mereka."
Sontak saja mata Laura terbelalak. Dengan gugup dia berkata,
"Maaf Pak, saya hanya berbicara sesuai dengan informasi yang saya terima saja."
Ryan terkekeh melihat reaksi Laura saat ini. Dengan tatapan matanya yang masih menatap mata Laura, dia berkata,
"Akan saya lihat terlebih dahulu."
"Baik Pak," tukas Laura sambil tersenyum dan beranjak dari tempatnya.
"Laura, apa kamu tau siapa yang bisa saya percaya di perusahaan Surya Indah untuk mengerjakan proyek ini?" tanya Ryan pada Laura yang sedang berjalan menuju meja kerjanya.
__ADS_1
Seketika langkah kaki Laura terhenti. Dia memutar badannya untuk menghadap ke arah Ryan kembali. Kemudian dia berkata,
"Arsenio Xavier. Dia yang menjadi andalan di perusahaan Surya Indah saat ini. Setiap proyek yang dikerjakannya selalu mendapat apresiasi dari perusahaan yang bekerja sama dengannya."
Ryan mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar jawaban dari Laura. Dia menatap Laura dan tersenyum padanya seraya berkata,
"Baiklah. Akan saya pertimbangkan."
Laura kembali menuju meja kerjanya. Dia menghela nafasnya ketika duduk di kursinya. Hal itu tidak lepas dari pandangan mata Ryan. Dia tersenyum tipis melihatnya.
Tangan Ryan meraih ponsel yang tergeletak di atas mejanya. Jari lentiknya bergerak lincah mengirim pesan pada seseorang. Bibirnya melengkung ke atas melihat pesannya yang sudah terkirim pada seseorang. Dalam hatinya berkata,
Sebentar lagi pasti akan lebih menarik.
Beberapa menit kemudian, ponsel Ryan bergetar. Dia melihat layar ponselnya menyala dan memperlihatkan ada sebuah pesan yang diterimanya.
Dengan segera Ryan mengambil ponsel tersebut dan membaca pesan yang baru saja diterimanya.
Dia menyunggingkan senyumnya membaca pesan tersebut. Semua data Arsenio ada padanya. Bahkan dia mendapatkan lebih dari sekedar data pribadi Arsenio dari orang kepercayaannya.
"Laura, mulai saat ini kamu antar jemput saya ketika bekerja. Dan ke mana pun saya berada saat bekerja, kamu harus menemani saya," perintah Ryan dari tempat duduknya saat ini pada Laura yang juga sedang duduk di tempatnya.
Seketika Laura menoleh ketika namanya dipanggil oleh Ryan. Dia merasa sedikit aneh pada perintah yang didapatnya. Akan tetapi dia sadar jika posisinya saat ini sebagai asisten pribadi Ryan yang harus siap kapan saja saat bosnya itu membutuhkannya.
"Baik Pak, saya mengerti," ucap Laura sambil tersenyum pada Ryan.
Setelah itu mereka kembali mengerjakan pekerjaannya masing-masing.
Menjelang makan siang, Ryan memutuskan sesuatu. Dia menyudahi pekerjaannya dan menata rapi map yang ada di atas mejanya.
Kini matanya beralih menatap Laura yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Kemudian dia berkata,
"Laura, tolong kamu hubungi pihak dari perusahaan Surya Indah untuk mengirimkan Pak Arsenio makan siang bersama dengan kita di hotel kemarin."
__ADS_1
Seketika Laura menoleh ke arah Ryan dan terlihat terkejut mendengar perintah dari bosnya.
"A-apa berarti Bapak mau bekerja sama dengan mereka?" tanya Laura yang sedikit gugup karena rasa kagetnya.
Ryan tersenyum mendengar pertanyaan dari Laura. Kemudian dia berkata,
"Kita lihat saja nanti. Jika memang mereka bisa meyakinkan saya, mengapa tidak?"
Laura menghela nafasnya dengan menyunggingkan senyuman tipis di bibirnya. Dia merasa sedikit lega karena tidak terlalu sulit untuk meyakinkan Ryan untuk bekerja sama dengan suaminya. Tidak seperti yang dikatakan oleh suaminya kala itu.
Namun, Laura tidak tahu jika rumor yang beredar tentang ketatnya seleksi Ryan dalam bekerja sama dengan perusahaan mana pun benar adanya. Dia tidak tahu jika rencana yang menginginkan bantuannya untuk membujuk Arsenio agar bisa bekerja sama dengannya, sudah diketahuinya.
"Baik Pak, akan saya kabari mereka," ujar Laura yang terlihat bahagia.
Jam makan siang pun tiba. Kini Laura menemani Ryan untuk bertemu dengan Arsenio di hotel mewah bintang lima yang menjadi tempat bertemunya suami istri itu secara tidak sengaja dan mengakibatkan kesalahpahaman pada mereka berdua karena sedang bersama partner kerjanya masing-masing.
Arsenio bersama dengan Kessy menemui Ryan di hotel tersebut. Mereka berdua kaget ketika tiba di hotel tersebut dan diarahkan oleh pihak hotel untuk mengikutinya menuju kamar VVIP di hotel tersebut.
Kini Kessy dan Arsenio sudah berada di dalam kamar hotel VVIP tersebut. Mereka berhadapan dengan Ryan yang duduk bersebelahan dengan Laura.
Arsenio menatap Laura yang terlihat sangat cantik berdampingan dengan bosnya. Dalam hatinya berkata,
Cantik sekali kamu Laura. Kenapa kamu harus berada di sisi orang itu? Tapi bagaimanapun aku harus berterima kasih padamu. Semua kerja sama ini bisa terjadi karena mu Sayang.
Laura mengerti jika suaminya itu sedang menatapnya. Akan tetapi dia mencoba mengacuhkannya. Apa lagi dengan kehadiran Kessy di samping Arsenio yang terlihat menggoda dengan pakaiannya saat ini.
Namun, Kessy tidak tahu jika Ryan sama sekali tidak pernah mempan dengan jebakan seperti itu. Dia meraih kesuksesannya saat ini karena ketekunannya dan kejujurannya dalam bekerja. Dan tentu saja karena kerja keras serta kepintaran Ryan dalam menjalankan bisnisnya.
Kessy duduk dengan menyilangkan kakinya, sehingga rok mini yang dipakainya tersibak ke atas, memperlihatkan sebagian pahanya dan sesuatu di dalam sana pun sedikit terlihat.
Laura menyunggingkan senyumnya dan menggelengkan kepalanya melihat Kessy yang tidak henti-hentinya menggoda semua laki-laki di sekitarnya menggunakan tubuhnya.
Kesal, marah dan khawatir pasti ada di dalam hati Laura. Akan tetapi untuk saat ini Laura mencoba tidak memikirkannya meskipun terkadang pikiran itu terlintas dengan sendirinya di kepalanya.
__ADS_1
Dia sudah bertekad untuk mengutamakan misinya dan membayar hutang-hutang suaminya serta ibunya. Setelah semua itu selesai, dia akan memikirkan hatinya. Meskipun apa yang dirasanya sangat menyakitkan hatinya. Dia hanya butuh bertahan hingga waktu pun menjawabnya.
"Bagaimana Pak, apa anda tertarik dengan penawaran dari kami?" tanya Arsenio dengan harap-harap cemas pada Ryan.