System Lady Rich

System Lady Rich
Bab 8 : Pesta


__ADS_3

Laura menjelaskan pada Arsenio bahwa dia sedang ada pekerjaan yang harus diselesaikannya. Sayangnya Arsenio tidak begitu saja percaya padanya.


Dia menaruh curiga pada istrinya. Tapi dia tidak mau menjadikan kecurigaannya itu semakin berlarut. Dia mencoba percaya pada istrinya meskipun dalam hatinya dia tidak yakin.


Pagi itu Arsenio pulang sendiri tanpa istrinya. Ternyata syuting Laura diperpanjang beberapa jam lagi. Sedangkan Arsenio beberapa jam lagi harus hadir di kantor untuk turut serta menjadi juri dalam audisi bintang iklan produk yang menjadi proyeknya saat ini.


Laura harus pulang bersama timnya seperti pada saat mereka berangkat tadi. Dalam perjalanan pulangnya, Laura memikirkan bagaimana caranya agar dia tidak bertemu dengan suaminya dalam acara tersebut.


Selang beberapa saat, akhirnya Laura tiba di rumahnya.


"Huffftttt… capek sekali badanku. Rasanya aku harus beristirahat sebentar sebelum aku berangkat ke tempat itu," gumam Laura sambil meliukkan badannya untuk merenggangkan otot-ototnya.


Dia berjalan sambil memperhatikan sekelilingnya. Ternyata semuanya masih sama seperti pada saat ditinggalkannya.


"Apa dia tidak pulang?" gumam Laura yang matanya masih menelisik di setiap bagian ruangan rumahnya.


"Sepertinya dia langsung menuju kantornya. Sudahlah, lebih baik aku mengistirahatkan badanku terlebih dahulu," ucap Laura yang berjalan masuk ke dalam kamarnya.


Dia mengaktifkan alarmnya agar tidak terlambat untuk menjalankan misinya.


Jam pun berlalu, kini hari sudah semakin sore, Laura sedang mempersiapkan dirinya dengan membawa beberapa baju dan peralatan untuk menyamarnya.


Terdengar suara deru mobil yang memasuki halaman rumahnya. Laura bergegas mengamankan tas yang akan dibawanya nanti untuk menjalankan misinya.


Derap langkah Arsenio terdengar jelas di indera pendengaran Laura. Dia segera keluar dari kamarnya untuk menyambut suaminya.


"Sudah pulang Mas?" tanya Laura sambil tersenyum menyambut suaminya.


Arsenio membalas senyuman istrinya dan menganggukkan kepalanya seraya berjalan menghampiri istrinya.


"Jam berapa kamu pulang?" tanya Arsenio setelah mencium dahi istrinya.


"Sudah sejak siang tadi Mas," jawab Laura sambil tersenyum manis pada suaminya.


Laura berjalan beriringan dengan suaminya dan berkata,


"Tumben Mas Arsen sudah pulang jam segini?"


Arsenio menoleh pada istrinya yang ada di sampingnya seraya berkata,


"Kamu lupa nanti aku akan ada acara pesta di perusahaan yang ku ceritakan kemarin?"


Laura tersenyum kaku pada suaminya dan berkata,


"Maaf, aku lupa."

__ADS_1


Arsenio memegang kedua tangan istrinya dan menatap lekat manik matanya seraya berkata,


"Ikutlah bersamaku malam ini. Aku mohon."


Laura mengalihkan pandangannya dengan menatap ke lain arah. Kemudian dia berkata,


"Maafkan aku. Aku… tidak bisa."


Arsenio menghela nafasnya. Dia melepaskan tangan istrinya. Kecewa, dia merasa sangat kecewa saat ini.


Dia berjalan masuk ke dalam kamarnya tanpa berkata apa pun pada istrinya. 


Laura memandang suaminya dengan tatapan nanar. Dia mengerti jika suaminya kini kecewa padanya.


Namun, dia tidak bisa melakukan apa-apa. Baginya saat ini yang terpenting adalah menjalankan misinya agar hutang-hutang ibunya bisa cepat terbayarkan.


Laura mengambil nafasnya dan menggeleng-gelengkan kepalanya seraya berkata dalam hati,


Cukup Laura, kamu harus mengabaikan dulu perasaanmu. Sekarang yang terpenting adalah menjalankan misi yang sudah diberikan untukmu.


Laura memandang ke arah jam yang tergantung di dinding. Dia menghembuskan nafasnya ketika melihat jarum jam tersebut sudah menunjukkan angka lima dan dua belas.


Aku harus segera berangkat sekarang, Laura berkata dalam hatinya.


Dengan segera dia berjalan masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil tasnya.


Aman… sepertinya aku harus mengambil tas itu sekarang. Mumpung dia sedang di dalam kamar mandi, Laura berkata dalam hatinya.


Laura melangkah masuk ke dalam kamarnya dan dia segera mengambil tas yang disembunyikannya tadi.


Dengan perlahan-lahan dia melangkah agar tidak terdengar oleh suaminya. Selangkah demi selangkah dilakukannya dengan sangat hati-hati sambil memeluk tas miliknya menuju pintu kamar tersebut.


"Mau ke mana?" 


Tiba-tiba terdengar suara Arsenio yang berhasil mengagetkan Laura sehingga membuat langkah kakinya terhenti.


Perlahan Laura menoleh ke belakang. Dia terpaksa tersenyum pada suaminya dan berkata,


"Sebentar lagi aku harus berangkat Mas."


Arsenio mengernyitkan dahinya mendengar jawaban dari istrinya. Pandangan matanya tertuju pada tas yang sedang dipeluk oleh istrinya.


"Apa itu?" tanya Arsenio sambil menunjuk tas yang dipeluk oleh istrinya.


"Mmm… ini… ini tas perlengkapan yang akan aku bawa untuk bekerja nanti," jawab Laura yang tiba-tiba gugup menjawab pertanyaan suaminya.

__ADS_1


Arsenio menatap curiga pada istrinya dan berkata,


"Kenapa membawa tas besar? Kenapa tidak membawa tas kerja saja? Apa kamu tidak akan pulang malam ini?"


Laura menghela nafasnya. Dia menjinjing tas yang tadinya dipeluknya. Dia berusaha menguatkan hatinya. Setelah itu berkata,


"Ini perlengkapanku yang berisi baju dan sebagainya untuk acara di luar. Tapi acaranya tidak lama. Dan aku akan pulang meskipun agak telat."


Arsenio menghela nafasnya dan menatap istrinya seolah dia keberatan. Tentu saja dia keberatan, dia sangat ingin mengajak istrinya ke acara pesta itu dan memperkenalkan serta memamerkan istrinya yang cantik dan berbakat itu pada semua orang.


Laura mendekati suaminya dan mencium pipi suaminya. Setelah itu dia berkata,


"Maaf. Aku berangkat dulu."


Setelah mengatakan itu, dia bergegas keluar dari kamarnya dan berangkat ke tempat pesta tersebut.


Arsenio tersenyum melihat tingkah istrinya yang seperti dulu. Kekecewaannya dan kecurigaannya sedikit terobati karena ciuman pipi yang diberikan Laura padanya.


Selang beberapa saat, kini Laura sudah berada di pesta tersebut. Pesta tersebut begitu mewah karena diadakan di suatu hotel berbintang lima. 


Laura memesan kamar hotel untuk memperlancar rencananya. Setelah dia meletakkan tasnya dalam kamarnya, dia segera menuju pesta tersebut dengan menggunakan baju khas pelayan laki-laki.


Dia melihat penampilannya di depan cermin. Wajah polos tanpa make up dengan tompel di pipinya, serta pakaian putih dan celana hitam, serta memakai wig cepak model rambut laki-laki menjadi penampilan penyamarannya kali ini.


"Ayo Laura, lakukan yang terbaik agar misi ini bisa cepat selesai dan kamu mendapatkan uangnya," ucap Laura menyemangati dirinya di depan cermin.


Kini Laura sudah berada di pesta tersebut. Dia mengikuti waiter untuk mengambil perlengkapan yang bisa meyakinkan orang yang melihatnya bahwa dirinya benar-benar seorang waiter di pesta tersebut.


Dia melihat beberapa rompi dan dasi kupu-kupu yang tergeletak di tempat ganti para waiter.


Laura menengok ke kiri dan kanan, setelah dirasa aman, dia segera mengambil rompi dan dasi kupu-kupu tersebut dan memakainya. 


Dengan rasa percaya diri Laura keluar dari ruang ganti tersebut dan segera ikut membantu untuk persiapan pesta tersebut.


Dia melihat Arsenio sudah hadir di sana dan sedang mengobrol dengan rekan-rekannya. Laura berusaha agar dia tidak berpapasan dengan suaminya.


Dia melihat ada seorang wanita yang tinggi semampai selalu mendekati Arsenio dan melingkarkan tangannya di lengan Arsenio. Matanya selalu mengawasi gerak-gerik wanita tersebut dan suaminya.


"Awas saja jika kamu bermain api dengannya Mas," gumam Laura dengan penuh kekesalan.


Tiba-tiba saja di hadapan Laura terdapat panel mengambang yang biasanya memberikan misi untuknya.


Di sana tertulis bahwa Laura harus menyelamatkan suaminya agar tidak masuk dalam jebakan orang yang mempunyai niat buruk padanya.


Di sana juga tertulis jika Laura akan mendapatkan bonus senilai empat kali lipat dari hadiah yang didapatkan untuk sekali misinya.

__ADS_1


Laura tertegun membaca misi tersebut. Hingga dia tersadar ketika seorang waitress menyenggolnya dan meminta maaf padanya. Laura bertambah kaget ketika waitress tersebut melewati panel mengambang yang masih terlihat jelas oleh Laura.


"Mas Arsen dijebak? Bagaimana caraku menyelamatkannya?" gumam Laura yang masih memperhatikan suaminya dari tempatnya berdiri saat ini.


__ADS_2