
Laura merasakan bahwa misi yang diberikan padanya semakin sulit. Tidak hanya itu saja, dia merasa beban hidupnya semakin bertambah berat.
Bertahan, itulah yang hanya bisa dilakukan oleh Laura sekarang ini. Dia hanya bisa bertahan dan berusaha keras untuk bisa menghadapinya.
'Membantu suami agar mendapatkan kepercayaan dari CEO perusahaan RAZ untuk bisa bekerja sama dengan perusahaannya'
Tiba-tiba badan Laura lemas seolah tidak bertulang. Dia tidak mengira jika ada misi tambahan yang akan diberikan padanya.
Apa lagi misi yang diberikan saat ini ada hubungannya dengan tempat kerjanya.
"Apa aku harus senang karena misi yang diberikan padaku sama dengan tempatku bekerja? Tapi, bagaimana jika justru misi ini bisa membuatku kehilangan pekerjaanku? Aku harus mencari cara agar misi ini bisa aku jalankan dan juga agar pekerjaanku tetap aman," ucap Laura sambil memikirkan apa saja yang akan dilakukannya nanti.
Malam harinya, Arsenio pulang tepat waktu. Dia tidak bekerja lembur hari ini karena ingin memikirkan bagaimana caranya untuk mendekati CEO dari perusahaan RAZ.
"Mas, mulai besok aku akan bekerja," ucap Laura pada saat mereka berada di meja makan.
Arsenio menghentikan makannya. Dia memandang istrinya dan berkata,
"Maafkan aku Sayang. Karena keteledoran dan kebodohanku, kamu jadi kembali bekerja. Tapi tenang saja, aku sudah mendapatkan uang untuk membayarnya."
Dahi Laura mengernyit mendengar perkataan suaminya. Dia menatap curiga pada suaminya seraya berkata,
"Dari mana uang itu Mas?"
Arsenio segera meletakkan sendok dan garpunya. Dia memegang tangan istrinya dan berkata,
"Tenang saja Sayang, kali ini aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi. Pak Alberto meminjamkan uang padaku dengan syarat aku harus membuat perusahaan RAZ bekerja sama dengan perusahaan kami."
Deg!
Uhuk… uhuk…
Tiba-tiba saja Laura terkejut, hingga dia tersedak makanan yang sedang dimakannya.
Arsenio segera memberikan segelas air putih yang ada di meja tersebut.
"Ini, minumlah Sayang," ucap Arsenio sambil memberikan segelas air putih pada Laura.
Laura segera menerima gelas tersebut dan meminumnya. Kemudian dia berkata,
"Memangnya ada apa dengan perusahaan RAZ?"
Arsenio menghela nafasnya. Dia terbayang akan kesulitannya untuk meyakinkan CEO dari perusahaan RAZ untuk bekerja sama dengannya.
__ADS_1
"Selama ini perusahaan tempat aku bekerja tidak pernah bekerja sama dengannya. Dan perusahaan RAZ terkenal sangat selektif dalam memilih perusahaan yang akan bekerja sama dengan mereka. Aku tidak yakin jika bisa meyakinkan CEO dari perusahaan RAZ untuk bekerja sama dengan kami," jawab Arsenio diiringi dengan helaan nafasnya.
Seketika Laura bertambah lemas. Dia merasa jika misinya akan bertambah sulit. Dalam hatinya berkata,
Memang benar dia fansku. Tapi dia juga bosku. Dan dia sendiri mengatakan jika tidak akan main-main dalam pekerjaan. Aku rasa ini akan sangat sulit buatku. Lalu, apa yang harus aku lakukan Tuhan…
"Sayang, kok bengong? Sudah, kamu tidak perlu khawatir. Aku akan berusaha menyelesaikan semuanya," tutur Arsenio sambil tersenyum pada Laura.
Laura pun membalas senyum pada suaminya. Sayangnya senyuman Laura tidak tulus. Senyuman ini terlihat terpaksa dan terasa getir.
"Lalu, di mana kamu akan bekerja besok?" tanya Arsenio dengan rasa ingin tahunya.
"Emmm… aku… aku bekerja di perusahaan RAZ," jawab Laura dengan hati-hati.
"A-apa? Perusahaan RAZ?" tanya Arsenio yang terlihat tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
Laura menganggukkan kepalanya dan berkata,
"Iya. Aku bekerja di sana mulai besok."
Seketika bibir Arsenio melengkung ke atas. Dia sedikit merasakan angin segar dalam kesulitan yang dihadapinya.
"Benarkah?" tanya Arsenio kembali untuk memastikannya.
"Benar Mas, mulai besok aku bekerja di perusahaan RAZ. Dan sepertinya aku harus berhati-hati agar tidak kehilangan pekerjaanku."
Arsenio memajukan badannya seolah ingin mendengarkan lebih jelas lagi, seraya berkata,
"Kamu bekerja sebagai apa?"
"Asisten pribadi Ryan Arion Syahreza," jawab Laura sambil mengaduk-aduk makanannya.
Dengan cepatnya Arsenio memegang tangan istrinya dan berkata,
"Sayang, itu sangat bagus sekali. Kamu menjadi asisten pribadi dari CEO perusahaan RAZ. Aku harap kamu bisa membantuku."
Laura menatap suaminya. Melihat ekspresi senang suaminya, dia sejenak berpikir. Kemudian dia berkata,
"Aku pasti akan membantumu. Tapi, aku menginginkan sesuatu."
"Apa pun itu Sayang. Lagi pula aku sudah berjanji padamu akan mengabulkan semua keinginanmu," ujar Arsenio dengan senyum lebarnya.
Laura menatap serius pada suaminya dan berkata,
__ADS_1
"Jika hutang-hutang Mas sudah lunas dan sertifikat rumah ini sudah kembali, aku mau rumah ini diatasnamakan menjadi namaku."
Seketika senyum Arsenio memudar. Dia menatap intens manik mata istrinya seraya berkata,
"Kenapa? Apa kamu ingin meninggalkanku?"
Laura menghela nafasnya. Dia terkekeh mendengar pertanyaan suaminya.
"Jika ingin meninggalkanmu, kenapa tidak sekarang saja aku melakukannya Mas? Aku hanya tidak ingin Mas melakukan kesalahan yang sama lagi jika rumah ini atas nama Mas Arsen," jawab Laura di sela kekehannya.
Arsenio kembali tersenyum dan memegang erat tangan istrinya seraya berkata,
"Baiklah Sayang. Apa pun itu akan aku lakukan. Aku sudah berjanji padamu. Dan aku harus memenuhi janjiku itu."
Laura tersenyum dan menganggukkan kepalanya sebagai isyarat bahwa dia percaya pada suaminya.
...----------------...
Keesokan harinya, Arsenio mengantarkan Laura untuk bekerja. Dia menurunkan Laura tepat di depan gedung kantor RAZ.
Gedung yang besar dan menjulang tinggi itu membuat Arsenio menjadi takjub dan bersyukur karena istrinya bisa bekerja di sana dan juga tentunya bisa membantunya untuk melakukan pekerjaannya.
Ternyata di belakang mobil Arsenio, ada sebuah mobil yang juga berhenti tepat di depan pintu masuk kantor tersebut.
Namun, pemilik mobil tersebut tidak kunjung turun dari mobilnya hingga mobil Arsenio meninggalkan tempat itu.
Di dalam mobil tersebut duduklah seorang petinggi dari perusahaan RAZ, Ryan Arion Syahreza. Dia melihat Laura yang turun dari mobil suaminya dan dia memperhatikan hingga mobil suami Laura hilang dari hadapannya.
Setelah itu Ryan turun dari mobilnya dan masuk ke dalam kantornya dengan disambut oleh Rendra dan yang lainnya.
Sedangkan Laura, seperti yang diperintahkan oleh Ryan, dia sudah terlebih dahulu masuk ke dalam ruangan kantor Ryan tanpa menunggunya di depan pintu seperti yang lainnya.
Masuk ke dalam kantornya, Rendra tersenyum melihat Laura yang sudah siap menyambut kedatangan Ryan di dalam ruangannya.
Sayangnya Rendra harus segera keluar dari ruangan tersebut setelah Ryan menyuruhnya untuk kembali ke ruangannya.
Kini, tinggallah Laura bersama dengan Ryan berada di dalam ruangan tersebut. Sejenak suasana ruangan itu menjadi canggung. Selama ini Ryan tidak pernah menempatkan perempuan dalam ruangannya. Dan baru kali ini dia mempercayai Laura sebagai asisten pribadinya.
"Maaf Pak, apa yang harus saya kerjakan sekarang?" tanya Laura dengan sangat hati-hati pada Ryan.
Ryan menatap serius pada Laura. Kemudian dia berkata,
"Laura, apa kamu bisa mengemudikan mobil?"
__ADS_1