
Sesuai dengan perintah dari Ryan, Laura selalu berangkat lebih pagi dari bosnya itu. Dia tidak mau kesempatannya bekerja di sana hilang begitu saja karena keterlambatannya.
Bagaimana dia tidak was-was dan takut akan kehilangan pekerjaannya, Ryan, bosnya itu selalu datang tepat waktu. Bahkan sering sekali dia beberapa menit sebelum jam kedatangannya yang biasanya.
Laura merasa jika hidupnya seakan berlari setiap waktu. Dia merasa selalu berjuang dan kadang ada rasa lelah yang menyertainya.
Namun, semua itu harus dilaluinya. Dia harus tetap berjuang hingga tujuannya tercapai.
"Pagi Pak," sapa Laura ketika Ryan masuk ke dalam ruangannya.
Ryan memberikan senyum manisnya pada Laura yang sedang menyambutnya. Tanpa berkata-kata, Ryan segera duduk di kursinya dan mengerjakan pekerjaannya.
Sedangkan Laura, dia segera keluar dari ruangan tersebut tanpa menunggu perintah dari Ryan untuk membuatkannya kopi sesuai dengan seleranya.
Ryan memang tipe laki-laki yang cuek dan tidak banyak berucap. Sehingga Laura harus lebih peka padanya. Dan beruntungnya, sejak awal Laura membuatkannya kopi, rasa kopi tersebut sesuai dengan selera Ryan, sehingga Laura tidak perlu mencari tahu tentang selera kopi bosnya itu.
Di saat Laura sedang berada di pantry, ponsel yang ada di meja kerjanya berbunyi. Ryan menatap meja kerja Laura seolah mencari tahu sumber bunyi tersebut.
Karena merasa terganggu, Ryan segera menghampiri meja kerja Laura. Dia menatap layar ponsel Laura yang sedang berdering dan layarnya menyala, sehingga memperlihatkan nama Arsenio sebagai suaminya pada layar ponsel tersebut.
Merasa penasaran, tanpa sadar tangan Ryan bergerak mengambil ponsel tersebut dan menjawab panggilan dari Arsenio.
Sayang, bagaimana tentang kerja sama itu? Apa sudah ada titik terang?
Terdengar suara Arsenio yang bertanya tentang sesuatu tanpa menyapa terlebih dahulu.
Dahi Ryan mengkerut. Dalam hati dia berkata,
Kerja sama? Kerja sama apa?
Apa kamu sudah mengatakannya pada Bosmu tentang kerja sama perusahaan tempat aku bekerja dengan perusahaan tempat kamu bekerja? Jika bisa, tolong percepat ya Sayang. Aku mengandalkan mu.
Perkataan Arsenio itu membuat Ryan mengerti akan apa yang terjadi. Segera Ryan mengakhiri panggilan telepon tersebut dan dia segera kembali duduk di kursinya.
Dia tidak menyangka jika tindakannya yang tanpa berpikir panjang itu membuatnya tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Hanya selang beberapa detik saja Laura masuk ke dalam ruangan tersebut dengan membawa secangkir kopi untuk Ryan.
Laura meletakkan kopi yang dibawanya itu di atas meja dan tersenyum pada Ryan seraya berkata,
__ADS_1
"Silahkan Pak kopinya."
Ryan menatap Laura dan menganggukkan kepalanya dan berkata,
"Terima kasih."
Laura berjalan kembali ke mejanya. Ryan masih saja menatap Laura dengan pikirannya yang penuh dengan pertanyaan.
Tiba-tiba ponsel Laura kembali berdering. Laura terperanjat kaget mendengar dering ponselnya yang sedang dalam keadaan menyala di atas mejanya. Dia segera mengambil ponsel tersebut dan segera mematikan panggilan telepon itu.
Dengan wajah takutnya dia menghadap ke arah Ryan yang juga sedang menatapnya. Kemudian dia berkata,
"Maaf Pak, saya lupa mematikan suaranya."
Tanpa mengatakan apa pun Ryan kembali mengalihkan pandangannya pada kertas-kertas yang ada di hadapannya.
Setelah itu Laura segera mengubah setelan ponselnya menjadi senyap. Bahkan dia menyetelnya tanpa bergetar agar Ryan tidak terganggu.
Ryan tersenyum tipis melihat Laura yang tidak menjawab panggilan telepon tersebut. Dalam hatinya berkata,
Aku tidak percaya jika Laura memiliki niat seperti itu padaku dan perusahaan ini. Jika dia memang berniat seperti itu, maka sudah sejak awal dia mendekatiku.
Akan aku cari tau yang sebenarnya.
Waktu pun berlalu. Ryan benar-benar fokus pada pekerjaannya. Apa lagi dia baru saja melakukan kerja sama dengan perusahaan Starlight. Dia tidak mau menunda-nunda pekerjaannya, sehingga dia memutuskan untuk makan siang di dalam ruangannya.
Seperti biasanya, Laura menyiapkan makan siang Ryan. Dan dia pun makan bersama dengan bosnya itu di dalam ruangan tersebut.
Setelah waktu yang begitu cepatnya berlalu, Ryan melihat jam yang melingkar di tangan kanannya. Kemudian dia menutup map yang ada di hadapannya seraya berkata,
"Laura, antarkan saya pulang. Sopir saya sedang berhalangan."
Sontak saja mata Laura terbelalak. Dia merasa aneh dengan perintah Ryan kali ini. Tapi dia tidak bisa bertanya atau pun menolak. Dia hanya bisa menuruti semua perintah bosnya itu.
Setelah Ryan menata rapi semua yang ada di mejanya, dia segera beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu.
Dengan tergesa-gesa Laura mengikuti Ryan. Mereka berjalan beriringan masuk ke dalam lift yang dikhususkan hanya untuk para petinggi perusahaan itu saja. Dan setelah keluar dari lift tersebut pun mereka berjalan beriringan menuju parkiran mobil yang digunakan Laura.
Kini mereka berdua berada di dalam mobil milik Ryan yang setiap hari dibawa oleh Laura.
__ADS_1
Laura yang berada di kursi pengemudi dan sedang memegang kemudi, melirik ke arah sampingnya, di mana Ryan sedang duduk di kursi penumpang di sebelahnya.
Kenapa dia duduk di sini? Kenapa tidak duduk di belakang? Lagian kalau dia ingin duduk di depan, kenapa tidak dia saja yang menyetir? Kalau seperti ini, aku pasti akan gugup mengemudikan mobil ini, Laura berkata dalam hatinya.
Ryan mengerti jika Laura sedang meliriknya. Dia hanya masa bodoh saja dan menyandarkan kepalanya pada kursi, serta memejamkan matanya seraya berkata,
"Jangan pedulikan saya. Santai saja dan jangan mengebut. Saya masih ingin hidup."
Sontak saja Laura segera menjalankan mobil itu. Dia merutuki kebodohannya dan berkata dalam hatinya,
Sepertinya dia tahu apa yang ada dalam pikiranku. Dan pasti dia tahu jika aku sedang meliriknya.
Dengan sangat hati-hati sekali Laura melajukan mobilnya menuju alamat yang diberikan oleh Ryan padanya.
Mobil tersebut berhenti tepat di depan bangunan yang sangat besar dan terlihat sangat mewah dengan pagar tinggi yang dijaga oleh beberapa petugas keamanan yang ada di dalam pos keamanan di depan rumah tersebut.
"Pak, maaf, apa benar ini rumah yang sesuai dengan alamat tadi?" tanya Laura dengan ragu-ragu karena melihat Ryan yang masih memejamkan matanya.
Mata Ryan pun terbuka. Dia segera melepaskan sabuk pengamannya dan tangannya menekan klakson pada mobil tersebut.
Tampak dua orang satpam yang berjaga di pos keamanan berlari tergesa-gesa membukakan pintu pagar untuk mereka.
"Masukkan mobilnya," perintah Ryan sambil kembali duduk dengan nyaman di kursinya.
Dengan segera Laura memasukkan mobil tersebut ke dalam halaman rumah itu. Dia memandang takjub bangunan rumah yang ada di hadapannya. Bahkan halaman rumah tersebut lebih dari sekedar luas baginya.
"Ikut saya masuk ke dalam," perintah Ryan sambil membuka pintu mobilnya.
Terlihat wajah bingung Laura saat ini. Akan tetapi dia sadar jika harus menuruti semua perintah bosnya.
Dengan segera Laura turun dari mobilnya dan berjalan masuk rumah mewah tersebut mengikuti Ryan.
Ryan menghentikan langkahnya ketika berada di ruang tamu. Dia menghadap ke belakang di mana Laura berdiri di belakangnya. Kemudian dia menatap Laura dan berkata,
"Kita makan malam sekarang."
Seketika Laura membelalakkan matanya. Dia merasa jika terlalu berlebihan jika makan malam berdua di rumah bosnya. Berbeda dengan makan di luar yang beralasan dengan pekerjaan.
"A-apa? Makan malam?" celetuk Laura dengan ekspresi kagetnya.
__ADS_1