
Malam ini Laura bersama dengan suaminya menghabiskan malam bersama mereka di tempat yang disewa Arsenio untuk menginap.
Laura memang tidak mempunyai manajer. Dia tidak lagi menggunakan jasa manajer setelah ditipu oleh managernya. Banyak sekali penghasilan Laura yang tidak masuk ke rekening Laura. Tanpa sepengetahuan Laura, selama beberapa tahun uang jerih payah Laura itu masuk ke dalam rekening manajernya.
Sejak itulah dia tidak menggunakan jasa manajer lagi. Dan dia merasa lebih nyaman, tidak ada lagi yang mengaturnya. Seperti saat ini, ketika dia menghilang dari lokasi syutingnya dan bermalam dengan suaminya di dekat lokasi syutingnya berada.
Ketika mereka selesai melakukan ritualnya, Arsenio memeluk erat tubuh istrinya seolah tidak mau kehilangannya.
Laura yang kelelahan, kini tertidur dalam pelukan suaminya. Dia merasa nyaman dalam dekapan suaminya.
Sudah lama dia tidak merasakannya semenjak mereka berdua sangat sibuk dengan pekerjaan mereka. Tuntutan pekerjaan mereka berdua membuat mereka sering tidak berjumpa. Bahkan komunikasi mereka kebanyakan melalui telepon dan pesan yang mereka kirimkan hanya untuk sekedar bertanya.
Tiba-tiba terdengar suara notifikasi pesan yang beberapa kali diabaikannya. Beberapa detik setelah notifikasi pesan terakhir berbunyi, terdengarlah suara dering telepon yang berasal dari ponsel milik Laura.
Dengan mata yang masih berat untuk dibuka, Laura mencoba meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja di dekat tempat tidurnya.
"Halo," sapa Laura dengan suara seraknya dan mata yang masih terpejam.
Laura, kamu ada di mana? Aku mencari mu sedari tadi. Sebentar lagi kita disuruh Pak Sutradara berkumpul untuk melakukan kegiatan malam, terdengar suara panik Deborah dari seberang sana.
Seketika mata Laura terbuka. Dengan sisa tenaganya yang masih terasa berat untuk beranjak dari tempat tidur, dia terburu-buru untuk bangun dan memakai bajunya.
Arsenio membuka matanya perlahan ketika merasakan ada pergerakan dari istrinya.
"Sayang, ada apa? Apa ada yang terjadi?" tanya Arsenio sambil mengusap-usap matanya agar bisa terbuka lebih lebar lagi.
"Maaf Mas, sepertinya aku harus kembali sekarang. Mereka mencari ku karena kami akan segera syuting untuk kegiatan malam," jawab Laura sambil memakai bajunya.
Sontak saja Arsenio ikut beranjak dari tempat tidur dan memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai.
"Tunggu, aku akan antar kamu kembali ke sana," ujar Arsenio sembari tangannya sibuk memakai pakaiannya.
Laura yang sudah selesai memakai pakaiannya, kini dia merapikan rambut dan penampilannya seraya berkata,
"Tapi Mas, sebenarnya tadi aku beralasan lain ketika mengantarkan makan siang padamu."
Arsenio mengernyitkan dahinya mendengar perkataan istrinya. Kemudian dia berkata,
"Alasan apa?"
Laura menghadap suaminya dan menatapnya dengan tatapan menyesal. Dia mengatakan alasan apa yang diberikannya pada orang-orang yang ada di lokasi syuting ketika siang tadi dia meninggalkan lokasi tersebut.
Arsenio tersenyum dan berjalan mendekati istrinya. Tangannya mengusap lembut pipi istrinya seraya berkata,
"Biar aku saja yang menjelaskannya pada mereka."
__ADS_1
Cuuup!
Bibir Arsenio mendarat tepat pada bibir Laura, hanya menciumnya sekilas saja. Kemudian dia menggandeng tangan istrinya dan berkata,
"Ayo kita pergi."
Laura pun mengikuti suaminya untuk berjalan masuk ke dalam mobilnya. Laura menatap tangan suaminya yang sedang menggandeng erat tangannya.
Bibirnya melengkung ke atas mengingat masa-masa hubungan awal percintaan mereka.
Kala itu mereka bertemu di lokasi syuting yang sama. Ketidaksengajaan itu membuat mereka berkenalan dan semakin dekat sehingga membawa mereka pada hubungan pernikahan.
Seperti masa indah mereka, Arsenio turun terlebih dahulu dan membukakan pintu untuk istrinya. Malam ini benar-benar mengubah kembali hubungan mereka yang tadinya hambar menjadi manis kembali.
Di tempat lokasi tersebut sudah banyak kru yang bersiap-siap untuk melakukan syuting kembali. Terlihat juga di sana Anto, sang sutradara yang mengatur jalannya syuting saat ini.
Dengan berjalan bergandengan tangan, Arsenio dan Laura mendatangi mereka.
"Selamat malam semuanya," sapa Arsenio pada semuanya.
Semua orang mengalihkan perhatiannya pada Arsenio dan Laura yang berdiri tidak jauh dari mereka.
"Loh, bukannya anda sedang berada di rumah sakit?" tanya Anto dengan dahi yang mengernyit.
"Maaf Pak atas kejadian tadi siang. Sebenarnya ada kesalahpahaman antara informasi yang didapatkan oleh Laura tadi. Yang ada di rumah sakit sebenarnya orang lain, bukan saya. Dan karena paniknya, Laura tidak memastikannya terlebih dahulu. Maafkan kami atas kejadian ini."
Anto menyeringai sambil menggelengkan kepalanya melihat Laura yang merasa bersalah padanya. Kemudian dia berkata,
"Lain kali kamu harus memastikannya terlebih dahulu. Sekarang kamu bersiap-siaplah. Beberapa menit lagi kita akan segera mulai."
Laura memandang suaminya dan melepaskan tangan suaminya yang sedang tersenyum seraya menganggukkan kepalanya padanya.
Arsenio menunggu istrinya di tempat yang tidak jauh darinya. Di sana dia melihat pemandangan yang tidak asing dengan apa yang dilakukannya sehari-hari.
Di dalam tenda miliknya, Laura sedang mengganti pakaiannya. Tiba-tiba dia kembali melihat panel mengambang yang sudah tidak asing dilihatnya.
"Misi ketiga?" gumam Laura yang sedang membaca dengan cermat misi yang diberikan untuknya.
"Menjadi pelayan dalam acara peluncuran produk yang diiklankan oleh Arsenio. Dan bonus tambahan akan diberikan dua kali lipat jika berhasil tidak diketahui olehnya."
Laura menghela nafasnya ketika membaca misi ketiga yang diberikan untuknya. Kemudian dia berkata,
"Bagaimana aku bisa melakukannya tanpa sepengetahuannya?"
"Laura…! Laura…! Syuting akan segera dimulai. Cepatlah keluar!" seru Deborah dari luar tenda tersebut.
__ADS_1
Laura segera berdiri dan menghembuskan nafasnya seraya melatih senyumnya sebelum dia keluar dari tenda.
Dia pun segera keluar dari tenda tersebut dengan senyumnya yang mengembang di bibirnya.
Laura menjalani proses syuting tersebut dengan lancar. Dia berusaha sangat keras untuk bisa mengimbangi artis yang hadir sebagai bintang tamu dalam acaranya kali ini dan dia berusaha sangat keras untuk melakukan semua yang diperintahkan sutradara padanya.
Arsenio tersenyum melihat kegigihan istrinya dalam berperan dan memandu acara. Dia teringat akan kekagumannya pada sosok Laura ketika dia melihatnya untuk pertama kalinya.
Rasa itu kembali hadir. Kini dia merasakan bahwa hubungan mereka akhir-akhir ini tidak seperti dulu lagi. Dalam hati dia berkata,
Aku akan berusaha mengembalikan kebahagiaan kita seperti waktu itu.
Setelah Laura selesai melakukan bagiannya, dia berjalan menuju kursinya untuk menunggu gilirannya kembali.
Melihat istrinya sedang duduk sendiri, Arsenio segera mendatanginya untuk menemaninya.
"Sepertinya sudah sangat lama sekali aku tidak melihatmu melakukan ini," ucap Arsenio yang sudah duduk di kursi sebelah Laura.
Laura tersenyum getir mendengar perkataan suaminya. Kemudian dia berkata,
"Semuanya sudah berubah. Bahkan sikap dan hubungan kita juga berubah."
Tiba-tiba saja terdengar suara notifikasi pesan dari ponsel Arsenio. Dengan segera dia mengambilnya dan membaca pesan tersebut.
"Maaf jika hubungan kita tidak seperti dulu. Aku ingin memperbaikinya agar kita bisa seperti dulu lagi. Aku harap kamu pun mau melakukannya," tutur Arsenio yang menatap lekat manik mata istrinya.
Laura tersenyum dan menganggukkan kepalanya untuk menyetujui perkataan suaminya.
"Besok malam aku harus menghadiri pesta perusahaan yang sedang aku iklankan untuk acara peluncuran produk mereka. Kamu harus ikut denganku. Aku tidak mau jika dikatakan tidak memiliki istri karena menghadiri pesta seorang diri," tukas Arsenio sambil memegang kedua tangan istrinya.
Deg!
Ini benar-benar terjadi. Aku kira dia tidak akan mengajakku. Bagaimana ini? Apa yang harus aku katakan padanya? Laura berkata dalam hatinya.
"Sayang. Besok malam kamu harus tampil secantik mungkin. Aku ingin kamu menjadi wanita tercantik di–"
"Maaf, sepertinya aku tidak bisa. Mungkin lain kali aku bisa menemanimu datang ke pesta seperti itu," sahut Laura menyela ucapan suaminya.
"Ayolah Sayang… katanya kamu setuju untuk mengembalikan hubungan kita seperti dulu lagi," pinta Arsenio yang berusaha membujuk istrinya agar mau datang ke pesta bersamanya.
"Maaf… aku tidak bisa," ucap Laura dengan tatapan yang penuh dengan penyesalan.
Arsenio menatap penuh tanya pada istrinya seraya berkata,
"Kenapa? Kenapa tidak bisa?"
__ADS_1